QIRRERA LOVE YOU

QIRRERA LOVE YOU
JIWAKU TERGUNCANG


__ADS_3

Hidupku bergulir bahagia, aku merasa ini anugrah. Sebuah awal yang bagus, dimana aku dan Andre sudah menjadi sepasang kekasih. Kami saling mencintai, aku tidak peduli status sosialnya. Yang aku inginkan dia menyayangiku, mencintaiku. Dia tempat aku mencurahkan beban hidupku yang terlalu berat.


"Andre, aku ingin tahu asalmu dari mana, rumahmu dimana dan keluargamu siapa." tanyaku suatu hari. Seperti biasanya dia hanya melengos dan diam.


"Aku jadi curiga padamu, jangan-jangan kamu seorang residivis atau suami orang yang ngumpet di rumahku." kataku menatapnya sambil tersenyum.


"Bisa jadi tebakanmu benar." sahutnya enteng. Dia kembali fokus memberi makan ikan Koi.


"Dari aura wajahmu aku tidak melihat kamu seorang residivis, malah aku melihat wajah seorang laki-laki play boy." kataku bercanda.


"Seratus untuk kamu, apa kamu tidak melihat bahwa korbanku ada didepanku sekarang?"


"Aku bukan korbanmu, tapi aku calon istrimu." sahutku memeluknya.


Begitulah hari-hari bahagia yang aku lewati bersama Andre. Penuh canda dan kasih sayang. Kami merasa cocok satu sama lain, tapi sepanjang ini dia banyak mengalah padaku, karena aku sering cemburu tanpa alasan.


Sifatku tidaklah selembut salju, aku keras disiplin dan cemburuan. Aku tidak takut kepada siapapun sepanjang aku benar dan aku orangnya tidak senang dibohongi, karena aku sendiri selalu terus terang apa yang aku lakukan. Yang utama aku bisa menjaga diriku, tidak terlindas dengan pergaulan bebas.


Kini sudah tiga bulan aku menjalin hubungan serius dengan Andre. Akhir-akhir ini aku merasa sikap Andre mulai berubah. Dia diam-diam pergi dari rumah, dulu aku tidak pernah mempermasalahkan dia mau kemana, yang penting tugasnya selesai. Sekarang aku sering memantau dia, kenyataannya dia sering pergi disaat aku tidak di rumah. Where you go?


Hari ini aku bersiap-siap pulang lebih awal, aku ingin menyelidiki kepergian Andre.


"Qi..kemana buru-buru?" tiba-tiba kak Maya menghadangku.


"Maaf kak, aku melamun. Kenapa kakak menghadangku?"


"Kakak cuma ingin tahu siapa pacarmu saat ini?"


"Bukankah kakak suka memata-matai setiap gerak gerikku, berarti kakak sudah tahu siapa pacarku." sahutku.


Perasaanku tidak enak, aku takut kak Maya tahu kalau saat ini aku berpacaran dengan seorang scurity. Kak Maya memandangku dengan tersenyum. Dia pasti melihat aku gugup. Ada perasaan bersalah kalau aku tidak terus terang.

__ADS_1


"Kak...aku sudah punya pacar, tapi dia itu seorang scurity." kataku pelan. Terlihat wajah kak Maya berubah, tapi dia cepat tersenyum.


"Qirre, kakak tidak menghalangi kamu pacaran dengan siapapun yang penting kamu bisa menjaga diri, jangan sampai go too far. Ingat kita ini keturunan ninggrat, kamu gadis cantik yang sangat sempurna dan kaya. Jangan karena tampangnya ganteng atau dia kaya kamu terpesona, hati-hati dengan cowok zaman sekarang."


"Aku sudah memikirkan semuanya, tapi aku tidak bisa berpaling darinya. Aku sangat mencintainya."


"Benarkah itu? baru kali ini kakak mendengar kamu jatuh cinta." kak Maya tertawa.


"Itu kenyataannya." jawabku tersenyum miring.


"Lakukanlah sepanjang kamu senang, tapi berhentilah jika cinta membuat hidupmu sengsara."


Aku tidak menjawab, aku merasa cinta yang menyusup di hatiku bersamaan dengan kecemasan, cemburu dan rasa sakit yang menggoda. Jadi tidak sepenuhnya cinta itu membuat aku enjoy. Sesungguhnya aku merasa diperbudak oleh cinta.


Aku memacu mobilku dengan kecepatan sedang, perkataan kak Maya ada benarnya, kenapa harus menyiksa diri disaat cinta membuat merana. Bukankah lebih baik hidup sendiri?. Aku menarik nafas panjang dan membuangnya kasar. Aku mengambil ponsel dan menghubungi Andre.


"Sayank..kamu ada dimana?" tanyaku mrncoba mencaritahu keberadaannya.


"Ngapain kamu disana?" tanyaku. Andre tidak menjawab dia memutuskan pembicaraan sepihak. Aku menjadi curiga, dan mencari keberadaannya lewat ponselku. Tidak sulit menemukanya, dia berada di Jalan Arjuna. Aku memacu mobilku kesana. Sebuah bengkel besar dengan logo "Quality Workshop Supercar" terpampang di depan. Aku menghentikan mobilku tidak jauh dari bengkel, aku menunggu.


Akhirnya mataku nanar melihat Andre keluar dengan seorang gadis cantik dan gadis itu menuju mobil Mc Larren merah mirip punyaku. Dia begitu mesra dengan Andre, walaupun aku melihat sikap Andre biasa saja. Ku rasa Andre melihat mobilku tapi dia sibuk meladeni gadis itu bicara. Pakaian Andre juga berbeda, dia memakai dasi seperti boss.


Aku mengambil gambar mereka, aku masih berharap bahwa semua itu hanya praduga yang belum tentu benar. Tidak urung disudut mataku bergulir air bening menyentuh pipiku. Gadis itu pergi setelah memberi kecupan manis dipipi Andre. Aku mencoba menahan diri dan melewati Andre serta mengikuti gadis itu. Aku melihat Andre menatap mobilku tanpa reaksi.


Mobil gadis di depanku berbelok ke perumahan Drupadi dan masuk kesebuah rumah nomer 102. Rumahnya aku lihat biasa saja, lantai dua. Aku akhirnya melanjutkan perjalananku menuju pulang.


Sampai di rumah aku langsung naik ke kamar, aku cuma mengangguk ketika Bibik menyuruh aku makan. Aku berharap ada penjelasan dari Andre dan dia seharusnya menghubungiku, tapi semua yang aku harapkan tidak terjadi.


Dada ini terasa sesak, air mataku telah menganak sungai. Sedih!!. Aku harus bagaimana? melabraknya atau diam saja. Aku mandi dan berusaha menenangkan diri. Aku tidak boleh kelihatan rapuh atau cengengesan di depan Andre. Apapun hasil dari penglihatanku tadi, aku akan menerima hasilnya dengan legowo.


"Sayank...keluarlah kita makan malam." suara Andre terdengar diluar setelah pukul. sembilan belas tiga puluh menit. Sudah malam. pikirku. Aku beringsut bangun dan membuka pintu. Dia menatapku sekilas.

__ADS_1


"Kamu sudah pulang?" aku berusaha tenang, tapi tetap suaraku terdengar parau.


"Mari turun." dia mau menggandengku tapi aku cepat menepisnya secara halus.


Aku melihat kedua Bibik sibuk menyiapkan makan malam kami. Seolah Bibik tahu apa yang terjadi. Mereka diam saja, yang biasanya ngoceh tidak karuan. Aku diam menunggu reaksi Andre atas sikapku yang dingin.


"Makan yank, aku akan bercerita sehabis kita makan." kata Andre menatap bola mataku. .


Aku makan apa yang disiapkan oleh Andre seolah tidak peduli akan kehadirannya. Dia terus memandangku dan aku acuh. Tapi aku perlu tahu, sampai dimana kejujurannya sebelum aku menyelidiki lebih jauh tentang dirinya.


Malam merangkak perlahan, kami sudah selesai makan, Andre mengajak aku duduk di Gazebo. Sungguh hati ini sangat sakit ketika dia mulai bercerita.


"Dia adalah jodohku, namanya Natalia. Dia sepupu jauh, tapi masih semarga. Tahun lalu kami hampir menikah, namun ada kendala. Sempat hubungan persaudaraan kami putus, mereka kembali mendekatiku. Umurku hampir 28 tahun sekarang sudah pantas menikah." katanya membuka percakapan.


"Menikahlah dengannya sesuai persetujuan keluargamu. Tidak baik melawan orang tua, restu orang tua adalah awal dari kebahagiaan." sahutku tenang.


Mungkin dia tidak mengira jawabanku begitu sehingga dia lama diam. Kulirik matanya berkaca-kaca.


"Apa kamu tidak mencintaiku?" tanyanya emosi.


"Kamulah laki-laki dalam hidupku, aku sangat mencintaimu melebihi diriku sendiri. Setiap hembusan nafasku terselip namamu. Kita harus waras, memakai akal sehat. Perkawinan satu kali seumur hidup, jadi kuharap kamu lebih bijaksana."


"Aku tidak menyangka kamu akan berkata begini. Bicaramu sok bijaksana. Kalau itu kamu inginkan aku akan lakukan." sahutnya berdiri dan pergi.


Aku merasa jiwaku melayang, tanpa terasa air mataku jatuh. Ternyata aku tidak mampu mengkhianati hatiku. Aku sangat mencintainya. Kuresapi sakit ini sampai dadaku sesak. Ya Tuhan...berilah kekuatan untukku. bisikku dalam hati.


Perlahan aku naik ke kamar. Sampai di kamar aku langsung menumpahkan semua kesedihanku, aku menangis terus. Haruskah aku memecatnya? yang pertama aku lakukan memblokir nomernya dari ponselku.


Aku merasa selama ini dia tidak terus terang, berapa kali aku bertanya. Sekarang baru dia buka setelah mataku melihat sendiri perlakuannya. Itu yang membuat aku lebih sakit hati. Aku paling benci dibohongi. Ketika aku melihatnya dia diam tidak ingin menghampiri mobilku, malah sibuk dengan gadis itu.


Aku harus membuangnya dari ingatanku. Sekali bohong dia akan terus bohong. Aku juga tidak begitu menelan mentah-mentah ceritanya. Bisa saja dia juga senang sama gadis itu. Ntahlah...

__ADS_1


****


__ADS_2