QIRRERA LOVE YOU

QIRRERA LOVE YOU
PINDAH HOTEL


__ADS_3

Sepanjang corridor Hotel Dheo terus ngomel memarahiku, tentu dia dan orang tuanya malu terhadap tingkahku. Mereka konglomerat berdarah ningrat, tentu sangat menjaga image.


"Kamu kenapa ngomel, kemanapun aku pergi itu urusanku. Kamu hanya calon jodohku belum menjadi suamiku." sahutku membuat dia tambah kesal.


"Omonganmu selalu bikin sesak nafas, kapan kamu mengerti bahwa aku mencintaimu."


"Kapan-kapan." sahutku enteng sambil mataku memandang Andre yang dikawal Om Yoga, Natalia dan Tante Dilla datang dari depan, aku yakin Andre mau diajak pulang ke Bali.


"Ikat tangannya supaya perempuan ini tidak liar, jangan sampai tubuhnya dibakar hidup-hidup." kata Natalia ketika kami berpapasan.


Darahku naik ke otak mendengar kata-kata Natalia, seketika tanganku menarik Andre dan memeluknya. Bibirku mendarat mesra membuat Andre terkesima dan membalasnya sesat. Setelah itu aku mendorong tubuh Andre ke Natalia.


"Terimalah sisaku hahaha....." kataku sinis dan cepat berlalu. Aku tidak menggubris caci maki mereka. Dasar banci!!. gerutuku.


"Kamu gila." bentak Dheo marah.


"Ya...apa pedulimu, enyah kamu dari hadapanku." sahutku berhenti berjalan. Mataku dingin menatap Dheo. Aku benci kemunafikan!!.


Dheo diam dan meneruskan perjalanan. Dia menjaga sikap karena kami sudah berada di Hotel. Aku sungguh tidak peduli dengan sikapnya, saat ini aku cemburu bercampur marah karena sikap Andre yang banci. Persetan dengan Andre, aku akan menutup pintu hatiku untuk manusia itu.


Aku naik lift dengan mulut terkunci, kebetulan hanya aku berdua di dalam lift, jadi Dheo leluasa menceramahiku. Ingin aku menutup mulut Dheo memakai lakban supaya berhenti mengoceh. Aku bukanlah gadis lembut yang lebay, Dheo belum tahu sifat asliku sehingga dia masih curiga kepadaku.


Dheo ikut masuk ketika aku membuka pintu kamar Hotel. Aku langsung ke mini Bar dan mengambil sebotol Red Wine dan gelas bertangkai.


"Apa kamu mau mabuk, melihat Andre dibawa calon istrinya. Kamu rupanya cemburu berat." ujar Dheo sinis.


"Aku ingin mabuk supaya bisa melupakan perlakuan kalian yang hina kepadaku." sahutku menuangkan setengah gelas wine ke gelasku. Perlahan aku memutar gelas, aroma wine menerobos masuk ke hidungku.


Sebenarnya aku bukan peminum, atau pemabuk, hidupku sangat sehat selama ini. Aku khusus membayar ahli gizi untuk asupan yang aku makan setiap hari. aku sengaja minum wine supaya aku cepat ngantuk dan bisa langsung tidur. Lelah lahir bathin.

__ADS_1


Dheo membiarkan aku menyesapkan minuman itu sedikit demi sedikit. Seolah dia sengaja menunggu aku mabuk. Ketika badanku oleng Dheo dengan cepat menyangga tubuhku dan menggendongku ke kamar.


*****


Matahari pagi sinarnya membias masuk ke kamarku. Aku menggeliat bangun dengan rasa kaget yang luar biasa. Perasaan marah memenuhi otakku ketika aku menyadari diriku dalam keadaan polos. Tidak satupun pakaian melekat di tubuhku.


Aku turun dari tempat tidur sambil memeriksa seprei. Astaga...aku melihat bercak merah di seprei, tidak salah lagi itu darah. Mataku melihat sekeliling ruangan, berharap ada Dheo.


Tapi dia tidak kelihatan batang hidungnya. Dia pasti telah memperkosaku. pikirku. Tega sekali dia melakukan itu padaku. Seperti bunyi pepatah Sudah jatuh tertimpa tangga lagi.


Dengan langkah gontai aku menuju kamar mandi. Tanpa terasa air mata bergulir dari pipiku. Rasa benciku membara kepada Dheo. Air mataku kembali membanjir mengingat aku sudah tidak gadis lagi. Aku berteriak tidak karuan. Air shower tidak membuat aku tenang, aku malah semakin sedih.


Selesai mandi aku duduk lesu di depan meja rias. Dadaku bergemuruh melihat jejak drakula di sekujur tubuhku. Dheo telah memberi tanda kiss mark yang rapi. Manusia setan, dasar drakula!!. teriakku kesal.


Aku sudah memikirkan pembalasan yang menyakitkan untuk Dheo. Pertama aku akan menendangnya sampai tulangnya remuk. Kedua aku tidak mau dinikahkan walaupun aku hamil. Ketiga.... belum aku pikirkan karena ponselku keburu bergetar.


"Yank ...aku pulang duluan, karena aku takut kamu mengamuk." itu bunyi WA dari Dheo. Tidak lupa dia mengirim foto kami yang saling berpelukan. Dan beberapa fotoku yang vulgar.


Brengsek!! gerutuku melempar ponselku ke kasur. Aku kembali ke kamar mandi mencari pembalut wanita. Untunglah tersedia, rupanya aku mengalami datang bulan. Aku jadi ragu, darah di seprei karena datang bulan atau kena....


Dengan tangan gemetar aku mencoba menghubunginya, ternyata Dheo sengaja mematikan data selulernya. Dia tidak mengangkat ponselnya ketika aku mencoba meneleponnya, aku betul-betul merasa di pencundangi.


Apa yang harus aku lakukan? pulang ke Bali atau menetap disini. Jujur aku merasa tidak nyaman kalau pulang ke Bali. Aku benci dengan mereka. Apalagi dengan Dheo, kenapa dia menghilang setelah melakukan sesuatu. Dasar pengecut.


Hari ini aku memilih chek out dari Hotel. Aku mencari Hotel lain demi menenangkan diri untuk sementara waktu. Pilihanku jatuh kepada Swiss Bellhotel dijalan Sudirman.


Dandananku sudah seperti ninja saja layaknya, semua ketutup. Aku tidak ingin ada masalah dengan penduduk disini. Dalam artian aku berusaha tidak menjadi bahan lirikan.


Aku memilih pergi dengan naik Taxi karena aku merasa kurang sehat. Biasanya kalau aku pergi ke pulau lain aku senang berjalan kaki untuk lebih mengenal kulinernya atau Masyarakatnya. Disini aku tidak mood, pikiranku sedang galau.

__ADS_1


"Nona sudah sampai." suara sopir Taxi mengagetkanku.


"Oh ya...trimakasih Pak." sahutku memberi selembar uang ratusan.


"Ambilah sisanya Pak." kataku menolak kembalian.


"Timakasih Non...." katanya tersenyum senang. Aku turun dari Taxi menuju lobby.


"Selamat siang Nona apa bisa dibantu?" kata seorang F.O ramah kepadaku.


"Aku mencari satu kamar double bed." sahutku. Mereka menyodorkan list kamar dengan harga dan fasilitas. Aku langsung chek in setelah memilih kamar eksekutif.


"Silahkan Nona ikut dengan kami." kata concierge itu mendahuluiku.


Aku ragu untuk melanjutkan menginap disini. Kak Maya pasti menungguku di Bali. Mungkin juga Dheo atau warga lain menunggu sosokku datang. Tidak ada keberanian untuk menemui kak Maya, aku merasa gagal menjaga diri.


"Ini kamar Nona, silahkan beristirahat, bila anda butuh bantuan kami, call me. 007."


"Trimakasih." sahutku pendek.


Keinginan untuk menenangkan diri kesini makah menunai masalah beruntun. Ibaratnya aku jatuh tertimpa tangga lagi. Masalah yang aku hadapi membuat mood ku hitang.


Aku meraih ponselku untuk menghubungi kak Maya, bagaimanapun keadaanku disini aku harus cerita.


"Kak....." tulisku. Aku mulai grogi untuk melanjutkan tulisanku.


"Cepatlah pulang, semua tindakan pasti ada resikonya. Aku sebagai kakakmu pasti selalu membelamu asal kamu berada dipihak yang benar. Tapi kalau kamu berbuat salah aku pertama kali menendangmu darpi tumah."


"Tapi kak semua itu tidak benar...." balasku mulai meragukan pikiran kakakku. Aku jadi tidak enak hati. Apakah cerita tentang kejadianku dipelintir sama Natalia supaya kakak membenciku?.

__ADS_1


****


__ADS_2