
Ruang kerjaku sudah jadi, aku menatanya dengan rapi. Tidak lupa aku memberi imbalan lebih kepada Maimunah dan Bibik. Mereka bekerja penuh semangat.
"Nona sangat baik, trimakasih atas barang-barangnya." kata Maimunah sambil menghapus keringat. Dia begitu senang ketika aku memberi TV flat.
"Saya juga bertrimakasih Nona, walaupun tidak dapat TV seperti Maimunah, saya bersyukur dapat berbagai macam barang." Bibik menimpali.
Kami mendadak terdiam tatkala sosok Dheo terlihat, dia langsung masuk keruang kerjaku dan duduk di sofa. Wajahnya suram.
"Nona saya turun dulu...." kata Bibik hampir bersamaan.
"Ya Bik, silahkan."
"Mama mau bicara denganmu, dia begitu sedih mendapat kenyataan ini. Aku harap kamu mengerti dan jangan membebani pikiran Mama debgan ucspanmu."
"Semua orang tua begitu, aku dari dulu berusaha bertingkah laku baik, menghindar dari dunia malam. Sayang sekali cobaan selalu datang silih berganti." sahutku.
"Aku bersalah kepada Mama, alangkah bodohnya aku." kata Dheo menunduk.
"Kamu turunlah makan. Seharusnya aku yang terluka karena aku korban dari ulahmu, tapi aku tidak mau terpuruk masa depanku masih panjang." kataku berusaha tegar. Marahku sudah agak reda, kata "kau" sudah aku hilangkan dari mulutku.
"Kita akan makan bersama, aku ingin memastikan kalau kamu mau menerima Vidio Call dari Mama."
"Ini masalah kita, tidak ada hubungan dengan Mamamu. Aku pasti akan menerimanya jangan khawatir."
Saat Tante Thesa Vidio Call, aku terpaku melihat Tante Thesa di tempat tidur, dia terlihat lemah dan pucat. Punggungnya bersandar di kepala ranjang dengan dua bantal yang menyangga.
"Hallo sayank....." sapa Tante Thesa tersenyum tipis.
Terbesit dalam ingatanku sewaktu dia memukul aku dengan barbar. Waktu itu dia sangat kuat dan sadis.
"Hallo Tante miss you, aku tetap mencintai Tante walaupun hubunganku dengan Dheo seperti adik kakak. Kami bisa beradaptasi dan menunjukkan bahwa kami sudah dewasa, tanpa berantem dan dendam." sahutku mengunci pembicaraan Tante Thesa sebelum dia ngoceh lebih banyak.
Dia terdiam sesat, aku berusaha tetap tersenyum tanpa beban. Actingku nyaris sempurna. Aku menunjukan bahwa aku fine-fine saja.
"Qi..kapan kamu pulang ke Bali?"
"Belum tahu Tante, aku masih betah disini. Mungkin aku akan berkolaborasi dengan Crazy Rich disini untuk diajak mendirikan beberapa proyek. Atau memilih Batubara sebagai pijakan terakhir."
__ADS_1
"Kamu hebat sayank....Tante mohon supaya kamu bisa memaafkan Dheo. Semoga kalian berjodoh."
"Tante harus banyak istirahat, jangan banyak pikiran. Hidup itu kalau tidak ada cobaan tidak seru Tante, semoga cobaan itu cepat berlalu dan kita semua bahagia."
"Trimakasih sayank, kamu sangat baik. Tante sekarang agak lega melihat kamu baik-baik saja."
"I did three things today; miss you, miss you, and miss you more." sahutku sambil jariku membentuk gambar hati. Tante Thesa tersenyum dan memberi aku kiss bye berulang-ulang.
Aku mengakhiri Vidio Call dan kembali ke kehidupan nyata.
"Actingmu sungguh sempurna, semua orang pasti tertipu. Hanya aku yang tahu bagaimana isi hatimu."
"Kamu tidak tahu isi hatiku atau apapun tentang aku, kamu hanya tahu Anisa dan kebiasaannya. Dan akupun begitu, aku tidak tahu tentang kamu, dan memang sengaja tidak mau tahu. You loser!!"
"Maafkan aku, Mama pasti sedih, aku ingin membahagiakannya tapi....."
"Membahagiakan orang tua tidak harus dengan uang..... aku malas menjabarkan karena teori dan praktek kadang tidak sejalan. Aku tidak mau mengajari bebek berenang....." sahutku sinis.
Aku yakin kupingnya budek mendengar ocehanku yang selalu menyindirnya dan melihat tingkahku soq tegar. Dia tidak tahu betapa remuk hatiku, untung ada musuhku yang selalu melantunkan tilawah dengan suara indah, hatiku bisa berdamai sedikit.
Jangan salah sangka padaku, aku cuma kangen suaranya, tidak mungkinlah aku kangen orangnya. Dia khan musuhku....
"Aku harus makan banyak untuk menjaga staminaku, aku juga merasa kesehatanku merosot tajam selama pacaran denganmu banyak nutrisi terkuras, jiwaku mengalami krisis kepercayaan dan yang paling parah otakku menjadi slow respon terhadap penipuan yang terselubung."
"Makan yang banyak supaya kamu kuat menyindirku." sahutnya menatapku.
"Dan kuat juga menendangmu sampai Bali." samberku tidak mau kalah.
Akhirnya dia diam malas meladeniku, mungkin juga dia merasa bersalah. Aku cuek dan tidak mau dekat lagi dengannya. Habis makan aku langsung menuju kamarku dan mengunci pintu. Aku mau beristirahat.
Ponselku semuanya sudah off, di depan pintu sudah tergantung "DO NOT DISTURB" akrilik kuning. Orang secanggih Dheo pasti maklum dan tidak mau menggangguku, kecuali dia punya otak udang.
Aku berdoa supaya bisa cepat tidur, hari ini cukup melelahkan dan menguras tenaga. Kalau tidak bisa tidur mungkin harus doping, misalnya dengan minum Red Wine atau Sake. Tapi disini tidak ada minol seperti di Hotel. Mini Bar ku cuma berisi minuman ringan, air mineral kemasan dan susu. Hidup sehat!!.
****
Bed Cover itu aku lempar kesudut ranjang dan jatuh teronggok. Aku cepat membuka pintu kamar. Dadaku bergemuruh kacau, suara orang bertengkar serta jeritan Bibik membuat aku panik.
__ADS_1
"Hee...apa-apaan kalian. Kenapa kamu memukulnya." bentakku kepada Semeru yang mengayunkan tangannya ke wajah Dheo.
Aku cepat menyambut ayunan tangan itu dengan tendangan kaki kiriku. Dia menarik tangannya dan berkelit. Matanya tajam menatapku dengan sinis. Aku tambah mendelik.
"Tanyakan kepada brondongmu kenapa dia melempari rumahku batu." katanya dengan suara tinggi sambil berkacak pinggang.
Brondong?? kesannya aku tante girang yang kesepian, dasar ngaco. Untuk sementara aku simpan hinaannya, akan aku muntahin lahar itu di lain waktu. Tunggu saja Semeru, one by one.
Aku lalu menoleh kepada Dheo seraya mendekatinya. Bau alkohol menusuk hidungku. Dheo sudah teler dan badannya bersandar di sofa. Aku bertanya dalam hati darimana dia mendapat miras?.
Baru aku sadari dia anak konglomerat yang sangat gampang mengantongi Jack Daniels dengan botol pipih kecil. Dia berarti sudah tahu yang akan terjadi antara aku dengan dirinya, makanya dia membawa miras.
Tapi aku mengabaikan masalah Dheo yang mabuk di depan Semeru. Aku berharap Semeru tidak mengerti bahwa Dheo mabuk.
"Semua orang kamu tuduh melempar batu kerumahmu dasar sirik. Apa kamu tidak punya kerjaan lain yang lebih mulia, kecuali mengintip batu yang jatuh kerumahmu." ucapku berbalik menghadap Semeru, aku tahu Dheo dalam keadaan mabuk.
"Ini buktinya! kamu kira kerikil biru ini turun dari langit."
Astaga.. aku jadi kehilangan akal. Cuma satu kerikil dia mau memukul Dheo, dasar tidak waras.
"Emang ada barang yang rusak sampai kamu ngamuk tidak keruan, aku jadi curiga jangan-jangan ini pemerasan model baru."
"Lihat saja kerumahku apa yang rusak, aku menuntut ganti rugi, kalau tidak, aku akan memanggil seratus Semeru untuk meringkusmu."
"Cihh ..modus, dasar mata duitan." kataku setengah teriak.
"Apa kamu bilang? jangan disamakan aku dengan berondongmu yang pemabuk itu."
Aku jadi kaget ternyata dia tahu Dheo mabuk. Bisa jadi dia dulu juga berandalan tanpa tempat tinggal.
"Maimunah, tolong jaga Tuan aku mau pergi ke sebelah." perintahku kepada Maimunah yang sedari tadi ketakukan berdiri dipojok dengan Bibik.
"Siap Nona."
Aku melangkah dengan hati dongkol diikuti Semeru ke rumahnya. Bau kotoran ayam menyambut kedatanganku. Suara ayam jantan saling bersahutan menandakan Matahari sudah muncul dari ufuk Timur.
*****
__ADS_1