
Dalam keheningan malam ini aku duduk termangu di Taman buatan Andre. Perasaan sedih yang mendalam membuat jiwaku terasa hampa. Aku tidak menyesal pernah mencintai Andre atau mengenal orang tuanya, yang aku sesalkan kenapa diriku tidak bisa move on. Bayangan Andre selalu memenuhi jiwaku.
Detik demi detik, jarum jam terus berputar tidak kenal lelah. Begitupun kehidupanku berjalan tenang dan mengalir seperti biasa Aku berusaha meredam kemarahanku dan membuang sedih dengan cara menyibukan diri di Hotel.
Sebagai Owner aku merasa sukses di dalam mengelola Hotel. Semua anak buah loyal kepadaku, aku juga loyal kepada anak buah. Sepanjang pengamatanku Hotel yang aku kelola grafiknya terus meningkat. Kamar sampai sold out sehingga Hotel keluargaku juga kecipratan tamu.
"Nona, malam semakin larut dan udara bertambah dingin, tidurlah besok Nona bekerja. Bibik merasa sedih kalau Nona sakit." kata Bik Inah datang menghampiriku.
"Ya Bik....." sahutku menghapus air mata yang sempat mengalir membasahi pipi. Harusnya aku tidak perlu setiap hari menangis, karena penderitaanku tidak sepahit orang yang ada dikolong jembatan.
Tidak terasa sudah jam sebelas malam, aku menghempaskan tubuhku ke ranjang. Semoga hari ini aku bisa tidur nyenyak tanpa mimpi buruk. bathinku.
"Dreettt....dreettt...dreett...."
Suara ponselku yang terus menerus berbunyi membuat mataku kembali terbuka. Rupanya kak Maya.
"Malam kak....."
"Qi...kakak minta tolong besok temanin kakak pergi melayat."
"Siapa yang meninggal kak?"
"Pak made...bekas Scurity yang pernah bekerja denganmu."
"Ohh....." aku terhenyak. Pak Made yang membohongiku, yang mengatakan Andre anaknya.
"Okay kak, aku akan jemput kakak besok."
"Thank You adikku yang cantik. Love you."
Aku turun dari tempat tidur, ke ruangan sebelah. Di sini pakaianku berjejer rapi. Ruangan ini khusus untuk pakaian, sepatu dan segala aksesoris. Semacam Dressing station, tempat fitting. Aku mencari baju kebaya warna hitam dan kain.
Pukul.04.30 wita, aku menggeliat dari tempat tidurku. Badan ini terasa letih. Aku beranjak ke kamar mandi. Rutinitas yang harus dilaksanakan. Mandi, sembahyang dan setelah itu sarapan.
"Bibik, aku mau melayat. Kalau ada Cleaning Servise dari Hotel, tolong antar dia ke atas. Pintunya tidak di kunci." pesanku. Bik Inah mengangguk.
"Nona sarapan dulu sedikit saja, setelah itu baru berangkat." sahut Bik Surti menarik kursi dan menyuruh aku duduk.
"Siapa yang membuat sarapan Bik?" tanyaku ketika melihat Sandwich dan Juss kesukaanku.
"Siapa lagi kalau bukan Bibik, kita sudah diajarkan oleh Tuan Andre caranya."
__ADS_1
"Aku tidak percaya...ini seperti buatan Andre." sahutku sambil mengambil garpu dan pisau. Aku memotong Sandwichnya dan mulai memasukan ke mulut.
"Bik...ini sepertinya buatan Andre." kataku menoleh ke samping, ternyata Bibik sudah lenyap dari sampingku. Dasar bibik penipu, aku hafal buatan Andre. Tapi Andre tidak mungkin kesini, dia sudah tunangan. bathinku.
Aku melupakan siapa yang membuat sarapan, karena kak Maya sudah menelponku. Dengan tergesa-gesa aku keluar menuju garasi. Hari ini aku akan naik mobil Lamborghini Huracan dengan kak Maya. Setelah melayat aku berencana mengajak kakak ke Boutique, untuk mengambil pesanan bajuku.
Bibik kembali muncul dan mengekor dibelakangku, mungkin dia ingin mengucapkan sesuatu, tapi aku keburu naik ke mobil. Dia cuma menatapku dan tersenyum. Aku menurunkan kaca mobil dan berucap,
"Bibik love you......"
Wajah tua itu mengangguk, garis wajahnya terlihat nyata. Aku sayang sama Bibik, terbayang wajah kedua mamaku yang berada di Los Angeles dan satunya lagi terkapar sakit.
Aku memacu mobilku dengan tenang menembus jalan bay pass. Udara terasa semakin panas. Beberapa lagu dari playlist mobilku menghibur perjalananku pagi ini. Ingatanku kembali kepada Andre dan yang lainnya, aku berusaha menepis rasa sedih yang terkadang menusuk hati.
Kak Maya sudah menungguku di depan pintu utama rumah kak Leon. Tanpa merasa bersalah aku memarkir mobilku sembarangan, dan turun dengan tersenyum. Aku langsung memeluk kak Maya.
"Maaf kak aku agak telat." kataku manja.
"Idihhh...cari muka, mana kakak bisa maafin." canda kak Maya.
"Kalau gitu aku pulang." ancamku sambil menarik tangan kak Maya ke dalam. Ksmi berdua tertawa.
"Kakak juga ikut?" kataku ketika melihat kak Selvy dan kak Leon memakai pakaian adat. Aku memandang mereka dengan kagum. Mereka sangat berkharisma dan perfect banget.
"Benar!! mereka selama ini menganggap Qirrera sebagai anak haram yang najis, sekarang kita tunjukin bahwa dia sudah menjadi Crazy Rich." sahut kak Maya.
"Kalian banyak mengkhayal." sahutku melangkah ke kamar Mama.
Aku rasa pikiran atau sikap seorang individu pasti begitu, ingin menunjukan ke akuannya. Aku tidak menyalahkannya juga.
Aku mendekat ke ranjang Mama, Air mataku hampir jatuh melihat kondisi Mama yang semakin kurus. Matanya tetap terpejam. Selang dari hidung ke lambung tetap terpasang. Selang infus juga masih terpasang. Aku kadang menyayangkan kebijakan kakakku yang menahan Mama di rumah, kenapa tidak dicariin rumah sakit yang bagus?.
Kami banyak uang rasanya aku tidak tega melihat kondisi Mama. Kalau aku sendiri yang punya Mama, pasti dia sudah kuajak ke Singapore.
"Qi..tinggalin Mama kita akan berangkat, ingat siapin cek untuk sumbangan." kata kak Leon menghampiriku.
"Ya kak.. " aku mencium pipi Mama dengan sejuta kasih, aku sangat sayang Mama. Hatiku berat meninggalkan Mama.
"Aku semobil dengan siapa kak?" tanyaku ketika sampai di mobil.
"Kita membawa mobil satu-satu." sahut kak Maya enteng.
__ADS_1
"Kenapa begitu, bangku mobil ada dua, lebih baik kita satu mobil berdua." sahutku sambil memakai kaca mata hitam.
"Buka mobilmu, di bangku sebelah ada paketan, kita membawa hantaran untuk yang menunggu di kuburan." sahut kak Selvy sambil membuka mobilnya.
Dalam hati kecilku aku malu, seolah kami pamer kekayaan. Aku takut takabur, karena semua milikku berkat kemurahan Tuhan. Semoga Tuhan memaafkan kami. bathinku
Kami mulai keluar dari rumah kak Leon, aku memacu mobilku dengan kecepatan sedang. Mobil Lamborghini kami berbaris berempat, dengan warna yang berbeda. Tidak begitu lama kami sudah memasuki jalan menuju kuburan. Dari jalan raya mencari kuburan jauhnya sekitar satu kilo meter.
Jslan mau ke kuburan sangat ramai, mungkin banyak orang meninggal. Aku memperlambat laju mobil. Sudah terlihat mobil pelayat berbaris perlahan menuju kuburan.
Banyak juga orang berjalan kaki, karena mereka tidak membawa hantaran. Mobilku ada paling depan di antara mobil kakakku. Semua mata memandang ketika barisan mobil kami melaju dan berhenti di tempat parkir.
Aku turun dari mobil, kami disambut oleh panitia bagian komsumsi dan Istri Pak Wayan beserta anaknya.
"Kami turut berduka cita Ibu." kataku diikuti oleh ketiga kakakku.
"Trimakasih banyak Nona, Tuan, Nyonya Maya dan Nyonya Selvy."
"Kami anak-anak Nyonya Capela menyerahkan hantaran sesuai permintaan Ibu. Tolong ambil dari mobil." kata kak Leon lalu membuka ke empat pintu mobil.
"Trimakasih Tuan." kata ketua Panitia sopan.
"Selamat datang untuk keluarga Nyonya Capela, kami panitia komsumsi yang mewakili keluarga Pak Wayan sangat berterimakasih." kata ketua panitia.
Aku diam-diam mengedarkan pandangan keliling, semua mata warga Wansa yang berada di bagian samping kuburan tertuju kepada kami. Aku juga melihat kehaduran Om Sugama dan keluarga, Bu Dilla sekeluarga.
Dadaku berdesir melihat Andre memandangku, untung aku memakai kaca mata hitam. Andre kulihat kurus dan sedikit kucel. Aku tidak mau berharap lebih dari Andre, aku harus cuek.
Tanganku kemudian di tarik kak Maya, diajak duduk di kursi plastik yang telah disiapkan oleh panitia. Kami duduk di kursi pertama, tapi kami di tarik oleh panitia dan dipersilahkan duduk di sofa yang ada di depan.
Kemudian tetua adat yang dulu mendepakku dari warga, datang mendekat. Dia berdiri di depanku mencakupkan kedua tangannya berbentuk namaste. Aku cepat berdiri serta mengangguk hormat.
"Nona Qirrera...kami dari panitia warga Wansa dengan rendah hati meminta sedikit sumbangan kepada Nona, pembangunan yang telah di program seharusnya sudah selesai bulan Agustus ini, sayang sekali pemborong meninggalkan proyek ini karena kurangnya dana yang masuk. Kami betul-betul kewalahan." katanya memohon.
Aku kira dia akan mengusirku, ternyata dia minta sumbangan. Aku lama terdiam, rasa sakit yang pernah tetua torehkan dihatiku masih membekas. Aku membuka kaca mataku dan menoleh kepada kakak Leon. Menurut aturan hanya kak Leon yang masih punya tanggung jawab kepada warga. Kak Leon berdiri dan menghampiri kami.
"Ada apa tetua? apa adik saya bermasalah atau dia membuat anda marah?"
"Maaf Tuan Leon, Nona Qirrera tidak punya masalah. Saya sebagai tetua sangat lancang meminta sumbangan kepada Nona Qirrera, saya betul-betul merasa bersalah, maafkan saya atas kejadian yang lalu. Sebagai tetua saya minta maaf."
"Tidak apa-apa tetua, kami anak-anak Nyonya Capela memaklumi tindakan tetua dan warga yang ikut waktu itu." sahut kak Leon tenang.
__ADS_1
****