QIRRERA LOVE YOU

QIRRERA LOVE YOU
CINTAKU SELUAS SAMUDRA


__ADS_3

Ini hari kedua Dheo berada di rumahku, Mamanya selalu menghubungiku. Bertanya keadaanku, berharap secepatnya menikah. Katanya dia sudah ingin menimang cucu. Aku menjawab sekenanya, dan aku sering menyinggung bahwa aku alergi menikah. Rupanya Tante There kurang tanggap, dia terus memaksaku.


Sebenarnya aku belum bisa melupakan Andre. Cintaku seluas samudara, tidak terbatas. Seandainya cinta bisa berbelok secepat laju mobil, mungkin aku merasa senang bisa terbebas dari Andre. Sayang sekali nama Andre sudah terpatri dihatiku.


Bangun pagi dan beraktivitas seperti biasanya, itu sudah rutin kulakukan. Ketika keluar dari kamar aku melirik kamar Dheo, belum terbuka. Aku yakin penghuninya masih tidur.


Anak orang kaya biasa bangun semau gue, sedangkan aku sudah biasa di didik oleh Mama Evelyn dan kebetulan aku hidup di asrama sepanjang sekolah sampai kuliah. Aku menjadi sosok mandiri dan harus bangun pagi sebelum Matahari terbit. Aku wajib sembahyang, breakfast dan melakukan aktivitas.


Aku buru-buru turun menemui Bibik, sudah pukul. 08.00 wita aku akan berangkat ke Hotel, pekerjaan telah menantiku.


"Bibik......" panggilku mencari Bibik di dapur.


"Ada apa Non....." tanya Bibik buru-buru menemuiku.


"Aku mau berangkat kerja, Bibik sudah membuat sarapan untuk Tuan Dheo?"


"Tuan sudah sarapan Nona, malah tadi dia berpesan supaya Nona menunggunya di Hotel, soalnya Tuan Dheo mau datang untuk makan siang."


Tebakanku tidak benar, Dheo bisa bangun pagi. Atau dia sengaja mencari muka, supaya aku tertarik padanya. Semasih nama Andre terselip dihatiku, tidak akan ada cowok lain yang bisa mengguncang jiwaku.


Pagi ini jalanan sedikit macet, aku memacu mobilku dengan kecepatan sedang. Biasanya sebelum aku berangkat kerja Andre sudah memeriksa mobilku, memanaskan mesinnya. Aku terima beres. Andre menunjukkan cintanya dengan tingkah lakunya, akupun begitu. Sesekali kami berucap mesra.


Air mataku tergenang mengingat Andre, tadi malam Dheo mengirim rekaman suara antara dia dan Andre. Aku mendengar suara Andre seperti putus asa, dia pasrah dan menyerahkan aku ke Dheo. Sekarang sudah jelas, aku harus bisa melupakan Andre dan berpindah hati ke Dheo. Mampukah aku?


Lirik lagu Battle Scars dari Guy Sebastian mengalun sedih, lagu itu mampu menerjang jiwaku yang merana. Aku resapi lirik lagu itu sambil sesenggukan. Air mata merambah kepipi menbasahi bajuku.


Ini lagu lama aku senang mendengarnya, seolah lagu ini mewakili perasaanku.


I wish I never looked, I wish I never touched.


I wish that I could stop loving you so much.


Tidak terasa aku sudah sampai di Hotelku, tapi aku urung masuk ke dalam. Mobilku mundur dan melaju ke jalan raya. Scurityku pasti heran melihat tingkahku.


Tujuanku sekarang adalah Bandara. Aku ingin keluar daerah untuk membuang sedih tapi aku belum tahu tujuan. Haruskah aku ke jawa, kalimantan atau Sumatra?.


Mobil masuk ke Bandara Ngurah Rai, aku memarkir mobil di tempat biasa. Dengan perasaan hampa aku menghapus sisa-sisa air mataku dan memoles wajahku kembali secara natural.


Setelah merasa tenang aku turun dari mobil dan melangkah ke bagian ticketing. Aku termangu sesat ketika ditanya mau kemana.

__ADS_1


"Good morning miss, please order tickets according to your destination." ucap staff ticket ramah.


"Aku mau ke Sumatra " sahutku sepontan. Aku kaget sendiri memilih Sumatra. Kenapa harus Sumatra?


Seusai dikasi ticket oleh staff ticketing aku langsung boarding pass, sebelum ketempat keberangkatan aku terlebih dahulu singgah di stand Boutiqe untuk membeli beberapa pakaian tertutup untuk jaga-jaga, siapa tahu tidak boleh memakai pakaian seronok di sana. pikirku.


****


Turun dari Pesawat aku sudah memakai pakaian Bali yang tertutup panjang sampai menutupi kaki. Rambutku yang panjang aku kuncir kuda. Aku merasa geli sendiri berpakaian seperti ini.


"Kamu mau kemana cantik?" nafasku terasa terhenti mendengar sapaan seorang lelaki. Andre!!. Aku terpaku, dadaku bergemuruh tidak karuan.


"Kenapa sayank? kamu seperti anak kecil ketahuan mencuri." sambung Andre memegang tanganku.


Tiba-tiba saja air mataku jatuh, aku tidak mampu menahannya. Apakah aku salah ketika aku memeluk Andre menumpahkan sebagaian galauku.


"Kenapa kamu ada disini? aku takut Dheo tahu keberadaanku." kataku di antara isak tangis.


"Berhentilah menangis, malu dilihat orang. Pakaianmu sungguh bagus, ternyata kamu sangat cantik berpakaian tertutup."


Aku menghapus air mataku berusaha tenang. Tentu aku tidak boleh cengeng dan terbawa situasi. Andre seminggu lagi akan menikah dan aku sudah dijodohkan dengan Dheo, tidak pantas rasanya aku berpelukan dengan calon suami orang.


"Aku salah, seharusnya aku tidak memelukmu. Kamu sebentar lagi akan menikah dan aku sudah memiliki Dheo. Jadi tidak sepantasnya kita bersama lagi. Aku heran kenapa kamu ada disini?"


"Karena aku membuntutimu, aku tidak menyangka kamu kesini. Apa tujuanmu kesini?"


"Aku iseng saja, mungkin aku mau invest disini kalau disini menjanjikan. Tidak ada salahnya aku jauh membuang jenuh." sahutku. Andre tersenyum, wajah gantengnya membuat aku terpesona.


"Aku tidak percaya kamu membuntutiku, bukankah semua alat sadap sudah dibuang?"


"Percayalah, semua sudah aku buang. Tidak ada gunanya lagi. Kamu sudah menjadi milik orang lain."


"Baguslah, ternyata kamu mengerti. Kita akan selalu berteman dan saling bantu." kataku berusaha tersenyum, walaupun dalam hatiku menjerit sakit.


"Ya kita teman." sahut Andre menatapku. Tidak ada senyuman dibibirnya, aku tahu hati Andre juga sedih.


"Aku mau mencari penginapan, aku mohon kamu jangan ikuti aku." kataku tegas.


"Tidak mungkin aku mengikutimu. Aku kesini ada bisnis juga, rencananya aku juga menginap di Hotel yang sama denganmu."

__ADS_1


"Kita tidak usah bertemu lagi, aku duluan jalan." sahutku lelah.


Aku capek membahas tentang isi hatiku yang kini dalam derita. Lebih baik berjalan sesuai kaki melangkah, malas basa basi yang cendrung menipu diri sendiri.


Aku pantang menoleh kebelakang, terasa pedih meninggalkan Andre tapi itu harus dilakukan. Dengan langkah mantap aku menyeret kakiku ke parkiran Taxi.


"Good afternoon Miss, I will help you get to your destination, please take our taxi." seorang bapak setengah baya mendekati dan menawarkan angkutan padaku.


"Antar aku ke Novotel yang di jalan Gatot Subroto No.136, Sukaraja, Bumi Waras, Kota Bandar Lampung." sahutku memakai bahasa Indonesia.


"Oke Nona, trimakasih telah mempercayai kami." kata bapak itu membukakan pintu Taxi. Aku tidak membawa koper karena ini perjalanan mendadak.


Aku menarik nafas dalam berusaha mengusir beban di dada. Setelah Taxi berjalan aku mulai merogoh ponselku i tas dan membukanya.


Ratusan panggilan tidak terjawab dari, kak Maya, Manager Hotelku, Om Sugama, Om Wedakarna sampai Dheo. Aku buka wa dan membaca kecemasan mereka.


"Aku membuang jenuh ke Sumatra, aku tidak akan membalas chat kalian. Maafkan aku." tulisku dan membagi ke semua orang yang chat aku.


Baru saja aku melempar ponselku ke jok mobil sudah masuk panggilan. Siapa lagi yang memburu jiwaku dan merusak ketenanganku selain Dheo. Cowok itu pasti sedang gelisah memikirkan diriku yang moody.


"Ada apa menelponku?" sambarku dingin tanpa basa basi.


"Yank...pertanyaanmu aneh. Tentu aku khawatir karena kamu menghilang dari Bali. Aku jodohmu, semua tanggung jawab tentang dirimu ada dipundakku." aku mendengar suara Dheo sedikit emosi.


"Aku bisa mengurus diriku sendiri. Jangan terlalu banyak ikut campur, kita hanya sebatas jodoh yang belum tentu menikah. Aku sarankan carilah gadis lain yang sesuai dengan kreteriamu." sahutku enteng.


"Aku tahu cintamu dengan Andre sangat permanen, sebenarnya kamu tidak usah kabur dari Bali supaya bisa berbulan madu dengan Andre. Aku tidak menyangka kalian menusukku dari belakang." sahut Andre parau. Aku kaget setengah mati.


"Aku kesini sendiri dan itu tidak ada rencana." sanggahku.


"Yank...aku sangat mencintaimu, mulai sekarang belajarlah jujur. Aku akan selalu memaklumimu."


"Dheo!! rupanya kamu meragukan kejujuranku. Kita belum lama bertemu, aku maklum kamu sangsi padaku, tapi yang aku katakan benar adanya. Aku tidak ingin bohong, tidak berguna juga."


"OK." kemudian sambungan diputus sepihak oleh Dheo dan berganti dengan foto Andre yang berada tidak jauh dariku.


Busyett, ternyata Andre biang keroknya. Saat ini aku akan menjadi gunjingan warga mereka tentu tidak tahu yang sebenarnya. Pantas Dheo kesal. Rugi rasanya membela diri, Status wa Andre sudah jelas memperlihatkan keberadaan kami berdua di depan Bandra.


****

__ADS_1


__ADS_2