
Ketika aku sedang menunggu di baggage handling, Tante Wilda mendekatiku. Wajahnya kelihatan kuyu, begitu juga Om Sugama. Aku merasa bersalah, tentu pekerjaannya belum tuntas di Singapore.
"Om, Tante, aku merasa tidak enak hati. Aku yakin pekerjaan Om masih belum clear di Singapora. Maafkan aku." kataku lirih.
"Jangan dipikir yang penting kita selamat. Semua kejadian itu ada hikmahnya. Dengan begitu kamu tidak jadi menetap di Singapore, dan kita semakin dekat. Om dan Tante bahagia kamu mau mempercayai kami sebagai orang tua, walaupun hanya sebatas kata." ucap Om Sugama mendekatiku.
"Tapi ada yang Om dan Tante belum tahu tentang aku."
"Apa itu? khabar baik apa buruk." sahut Tante Wilda tersenyum.
"Aku seorang janda Tante." seketika mereka berdua melongo. Tante Wilda langsung memegang tangan suaminya. Senyum mereka hilang. Aku tahu seorang janda di nilai sangat rendah dilingkungan ningrat. Lebih baik terus terang dari pada menutupi, toh nanti juga mereka akan tahu. Tidak satupun suara keluar dari mulut mereka. Aku sangat sadar akan posisiku saat ini.
Kakiku melangkah mundur mendekati koperku di baggage handling yang sedang berputar, setelah itu aku melangkah pergi. Om Sugama dan Tante Wilda tidak menoleh atau berusaha mencegah kepergianku. Biarlah waktu yang akan menjelaskan siapa sebenarnya aku. bathinku.
Kesunyian sudah menjadi temanku, hidup sendiri adalah pilihan. Aku tidak perlu bersikap lebay dan berusaha kelihatan senang. Semua pengalaman menjadi cermin dalam hidupku kedepannya. Aku mengayunkan langkahku dengan gontai ke parkiran bandara.
"Nona apakah anda butuh tumpangan?" seorang Bapak tua menghampiriku.
"Dimana mobilnya Pak?" tanyaku heran, biasanya orang lain selalu berbicara bahasa Inggris denganku kalau bertemu pertama kali. Tapi Bapak ini langsung berbahasa Indonesia.
"Itu Nona, anak saya yang nyetir." jawabnya tersenyum. Aku menuju mobil dan naik. Bapak itu menyimpan koperku di bagasi.
"Antar aku ke Hotel U.C." kataku setelah duduk di jok belakang. Aku menyenderkan punggungku dan menguap. Sudah dini hari tapi aku masih mengantuk.
"Pak kalau sudah sampai tolong bangunin saya." kataku lagi.
"Hemm....." pak sopir cuma berdehem. Aku tidak peduli yang penting aku bisa tidur. Musik dari playlistnya menambah rasa kantukku. Semua lagu mengingatkanku pada Andre. This is not goodbye.....
****
Sinar matahari masuk ke celah-celah jendela. Aku meloncat bangun dengan kaget. Mataku melihat sekeliling kamar dengan perasaan curiga. Aku meraba badanku yang masih utuh memakai baju, dan tidak ada hal yang aneh. Dimanakah aku ini. Perlahan aku membuka pintu kamar, ternyata kamar kost. Aku melihat ada sekitar delapan kamar berjejer rapi.
Aku kembali masuk kekamar dan mencari koperku. Ternyata koperku tidak ada. Aku buka almari yang tidak di kunci, ada beberapa pakaian lelaki tersusun rapi. Perampokan!! tidak salah lagi, ini pasti pekerjaan sopir itu. Saat aku tertidur aku kemungkinan dibius dan di gendong ke kamar ini dan dia mengambil semua barangku.
Dadaku bergemuruh marah diperdaya oleh seorang sopir. Aku masih bersyukur dia tidak memperkosaku, tapi semua hartaku ada di ponselku. Semoga saja sopirnya tidak mengerti. Seandainya perampoknya jeli, habislah uang sahamku.
Aku bangun buru-buru membersihkan diri ke kamar mandi. Tujuanku satu ke Kantor Polisi. Keluar dari kamar mandi aku dibuat kaget karena Andre sudah duduk di pembaringan. Aku berdiri terpaku. Buyar rencana ke Polisi.
"Sarapan dulu setelah itu baru bercerita. Selama sebulan pasti banyak yang ingin kamu ceritakan." kata Andre tenang.
Dia masih ganteng seperti dulu, cuma rambutnya sedikit gondrong dan kelihatan agak kurusan. Biasanya orang laki memelihara rambut gondrong karena istrinya hamil. bathinku.
"Kenapa kamu menculikku, apa tidak ada kerjaan lain selain bikin aku panik." kataku cembrut.
"Kerjaanku banyak, salah satunya memikirkan kamu terus."
"Hahaha...bulsit, kamu memikirkanku sambil pelukan dengan si monyong gitu. Rayuanmu sudah basi. Ketahuilah aku sudah melupakanmu dan aku sudah punya pacar baru yang lebih setia." sahutku bohong.
"Baguslah, semoga kita bahagia."
__ADS_1
"Iss.. akulah bahagia, koq kita?!. Hubungan kita sudah putus, kamu sudah bekas si monyong, aku jijik bekas orang. Mual aku."
"Kamu sarapanlah setelah itu aku antar kamu ke Hotel atau ke rumah?."
"Ke Hotel, aku tidak ingin kakak tahu aku datang untuk sementara waktu, aku ingin sendiri dulu. Setelah aku merasa agak tenang baru aku pulang. Lagi pula rumah itu aku sudah kasi kak Leon, tinggal balik nama saja."
"Apa kamu punya rencana membeli rumah atau Apartement?"
"Buat apa beli rumah kalau aku jarang dirumah, aku mungkin akan menempati satu kamar di Hotel."
Andre diam menatapku, kami saling beradu pandang.
"Kamu tidak rindu padaku?" tanya Andre berdiri. Aku siap-siap memukulnya kalau dia berani kurang ajar.
"Tidaklah, cintaku sudah mati semenjak kamu ada di pelukan gundikmu. Aku tidak peduli denganmu lagi."
"Kamu keluar Negeri dengan siapa?"
"Dia bukan pacarku, kami bersenang-senang di Singapore dan aku banyak curhat dengannya. Dia sangat sayang padaku, kami berjanji saling menyayangi."
"Owh begitu, apakah kalian sudah tidur bersama?" tanya Andre dengan suara mendengus. Agaknya dia cemburu, matanya merah. Aku melihat rahangnya mengeras. Aku sangat hafal sifat Andre, dia memang jarang marah tapi kalau marah dia mengamuk.
"Apa urusanmu, kita sudah putus dan aku bebas melakukan apapun."
"Jawab yang benar, apa kalian ......" bentaknya keras.
"Yaaaaa......" potongku. Andre langsung mendorongku ke kamar mandi dan mengguyur tubuhku dengan shower.
"Aku benci denganmu yang soq suci dan bijaksana, akhirnya kamu menjadi sampah masyarakat. Selama ini aku menghargaimu mengagungkanmu. Hanya dalam sebulan kamu sudah tidak setia padaku."
Aku menangis berjongkok dibawah shower, Andre lalu keluar. Aku tahu dia menangis. Tapi untuk apa dia melakukan ini. Bukankah dia yang tidak ada khabar selama sebulan? aku terus menangis.
Setelah lelah menangis aku merapikan pakaianku yang basah dan menaruh di ember bercampur dengan pakaian Andre. Air mataku terus mengalir atas perlakuan Andre yang kasar. Mengapa dia berbuat begini.
Aku memakai handuk untuk mengeringkan tubuhku yang basah kuyup. lalu melilitkan handuk itu ditubuhku. Setelah itu aku berjingkrak keluar dari kamar mandi.
Tidak ada Andre di kamar, dengan gemetar aku memakai baju secepatnya, takut Andre datang. Aku kemudian merapikan tempat tidur kemudian duduk di kursi. Andre tidak kunjung datang, hatiku tidak enak takut dia ngebut dan terjadi yang tidak diinginkan.
Aku meraih ponselku dan membuka blokirnya. Dengan merendahkan diri aku menelponnya takut-takut.
"Hallo, aku kerja." sahutnya tanpa basa basi. Setelah itu dia mematikan ponselnya.
Berarti Andre bekerja sebagai sopir online, sedangkan bapak yang tadi malam itu adalah bapaknya. bathinku. Ternyata Andre orang tidak berada, dia kost dan kamarnya kecil sederhana.
Aku tiba-tiba kasihan padanya, mengapa aku harus bohong tadi. Bagaimana kalau dia gelap mata dan minum-minum. Pikiranku melayang kemana-mana, untuk membuat Andre senang aku terpaksa makan sandwich bikinannya dan air mineral. Mungkin dia tidak punya uang untuk membuat juss untukku.
Derett...derett...derettt....
ponselku bergetar. Dengan malas aku mengambilnya dan membuka Whatsapp. Jantungku hampir copot melihat foto yang dikirim oleh Andre. fotoku yang dalam keadaan telanjang. Aku meneliti dengan seksama foto itu, karena aku merasa Andre tidak pernah mengambil gambarku. dan semua benar. Darimana dia mencuri fotoku.
__ADS_1
"Perempuan murahan" itu bunyi captionnya
"Apa maksudmu, pulang kamu!!. Aku tidak takut mati." tulisku dengan tangan gemetar dan air mata berlinang. Brengsek banget manusia ini. desisku mengepalkan tangan.
Aku membuka almarinya dan membuang semua bajunya. Kasur, bantal semua aku lempar. Aku mengamuk sendiri sambil menangis.
Pada saat Andre membuka pintu, piring melayang ketubuhnya. Pranggg....
Dia tidak apa-apa karena memakai sepatu.
"Manusia setan belum puas kamu nyakitin aku. Sekalian bunuh aku." bentakku marah.
Pukulanku sudah melayang. Andre juga pemain Whusu jadi dia dengan mudah mengelak. Aku cepat merebut ponselnya dan membantingnya.
"Astaga, ponselku. Aku tidak bisa kerja." kata Andre melihat ponselnya berantakan.
"Mampuslah kamu manusia keparat."
Kembali tendangan kaki kiriku melayang, Andre berkelit, Aku terpeleset jatuh karena kamar terlalu kecil dan aku terguling menginjak pecahan piring yang tadi aku lempar.
"Yank...." teriak Andre memelukku. Kakiku sakit. Aku membrontak ketika Andre menggendongku ke kasur.
"Lepaskan aku, biar aku mati saja." kataku sambil menangis. Andre juga menangis melihat kakiku robek.
"Kita harus ke klinik. Kakimu robek harus dijahit." kata Andre.
"Aku tidak mau!!" sahutku tetap memukulnya.
Andre berusaha mengikat kakiku dengan kain karena darahnya banyak. Aku terpaksa diam sambil menangis. Andre menggendongku dan mengunci pintu kamar. Ternyata di luar semua orang kost memandang kami. Aku baru sadar bahwa pertempuranku dengan Andre pasti terdengar dari luar. Mudah-mudahan dia tidak mengenalku.
"Kamu sudah sebarkan fotoku di sosmed." tanyaku ingin tahu sambil menangis.
"Itu foto milik pribadiku, untuk aku konsumsi sendiri."
"Kenapa kamu mencuri fotoku, kamu mau uangku atau ingin balas dendam."
"Aku seorang laki-laki yang sering tidak tahan melihatmu dan ingin sekali menggumulimu. Tapi aku menghormati prinsipmu. Dengan cara melihat fotomu aku terpuaskan. Aku tidak sepertimu yang gampang diajak tidur para lelaki."
Aku diam sudah terlanjur bohong. Biarin aja dah. Aku juga tidak tahu statusnya sekarang. Apa dia sudah menikah sama jodohnya atau tidak.
Sampai di klinik aku cepat di tangani oleh Dr. Made temannya Andre.
"Kenapa bisa begini, apa terjadi tawuran." sindir Dr. Made menatapku.
"Biasalah, itu bumbu untuk mempererat hubungan. Cemburu itu wajar." sahut Andre memegang tanganku. Aku terpaksa dibius lokal untuk dijahit.
"Dijahit sedikit karena terlalu dalam. Lukanya ada di pinggir, bukan di telapak kakinya. Di telapaknya ada beling yang kecil-kecil."
"Ya Dok." sahutku.
__ADS_1
*****