
Perjalanan ini sangat mengesankan, aku satu mobil dengan Om Sugama. Karena dia mengaku Papa sambungku. Tiga pemuda tampan yang selalu melirikku kecewa di saat Om Sugama mengajakku satu mobil. Sebentar lagi aku akan bertemu kakak, pasti sangat seru. pikirku.
"Kamu akan senang bertemu dengan kakakmu, dan keluargamu. Sebenarnya Om belum pernah berkunjung ke rumahmu. Ini kesempatan yang baik untuk bisa bertemu dan silaturahmi dengan keluargamu."
"Jadi selama ini Om belum tahu rumahku? bagaimana ceritanya sehingga aku mau menjadi anaknya Om, jangan-jangan Om banyak bohongnya seperti cowok-cowok recehan itu."
"Hahaha...siapa kamu bilang recehan, kamu tahu ketiga pemuda itu berkwalitas tinggi, mereka semua jebolan harvard university dan anehnya ketiganya senang sama kamu, kira-kira yang mana kamu pilih?"
"Aku tidak kagum kepada mereka. Hati mereka imitasi, aku senang laki-laki yang jujur. Bisa diajak saling sharing dan tidak pamrih."
"Om rasa mereka seperti typemu, mungkin kamu tidak peka. Harapan Om hanya satu, kamu bisa menikah dengan salah satu dari mereka. Ketiga pemuda itu sepupuan, jadi Om sangat tahu sifat mereka."
"Hemm....Om promosi ya." sahutku tertawa Om Sugama juga tertawa.
Tidak terasa perjalanan kami akhirnya sampai. Aku berdiri termangu memandang rumah dihadapanku. Rumah besar dan mewah ini katanya rumahku. Begitu juga dua perempuan cantik di depanku, mereka ternyata kakakku.
"Sayank....." hanya kata itu keluar dari kedua bibir kakakku. Mata mereka sendu ketika menatapku yang berdiri mematung. Mereka bergantian memelukku.
"Aku Maya kakakmu, dan ini kak Selvy."
"Owh...aku baru tahu." sahutku tersenyum.
"Silahkan masuk...." kata Andre membuka pintu sebelah.
Andre sibuk seolah sudah tahu apa yang harus dia lakukan. Kami masuk ke dalam, aku sempat berteriak kaget karena tempat ini sangat berantakan membuat aku sedikit pusing. Kakak tiba-tiba memelukku sambil menangis. Bau tidak sedap tercium dari darah yang mengering.
"Apa kamu ingat tempat ini?" tanya Andre mendekatiku. Aku menggeleng. Aku melirik Om Sugama dan yang lainnya. Tante There kulihat berlinang air mata.
"Aku agak pusing dan mual." bisikku kepada kak Maya.
"Minumlah.... ." andre menyodorkan air mineral kepadaku dan menyuruh aku duduk di sofa.
__ADS_1
"Tempat ini sebagai saksi dimana Qirrera di aniaya dengan benda-benda yang berserakan di lantai. Tapi yang membuat Qirrera jatuh adalah tongkat bisbol dari Tante There." jelas Alex memperkeruh suasana.
Aku dan kakak duduk di sofa sebelah kanan. Sedangkan kelompok pengantarku duduk di sebelah kiri. Kami seolah bermusuhan.
"Selamat pagi semuanya, aku disini sudah terbiasa, karena hampir setahun aku menyamar sebagai Scurity bekerja dan digaji. Aku akan bercerita sedikit kisahku. Selama ini kami saling mencintai, sayang sekali orang tuaku menjodohkanku dengan pilihannya sehingga Qirrera sangat terluka dan berujung dikeluarkannya dia dari warga." kata Andre membuka percakapan di antara keheningan yang tercipta.
Ntah apa yang mereka pikirkan. Aku tidak bisa mengingat apapun. Mataku tajam memandang Andre yang berdiri. Inikah pacarku? Dia ganteng dan berkharisma. Andre kemudian memandangku dan kami saling pandang. Kemudian dia melanjutkan ceritanya lagi.
"Fitnahan dan tuduhan keji terus menerus berdatangan sampai Dheo dan Tante There termakan hasutan. Dan korbannya Qirrera. Begitulah duduk persoalannya, dalam hal ini aku berada ditengah dan tidak berpihak dengan siapapun." sambung Andre dan menutup pembicaraannya.
"Saya sebagai suaminya Bu There dan Papanya Dheo mohon maaf atas tindakan gegabah dan sewenang-wenang dari istri dan anak saya, sehingga menyebabkan Qirrera amnesia. Tolong Maya dan Selvy sudi memaafkan kami. Apapun yang di bebankan kepada istri dan anak saya, akan kami jalani dengan baik." Om Wedakarna berdiri lalu berucap.
Ada ke khawatiran tersirat dari wajahnya. Kini aku baru mengerti kenapa mereka baik padaku. Ternyata mereka yang membuat aku amnesia. Rupanya ada udang dibalik batu. Aku jadi kesal, tahu begitu aku tidak mau dicium.
"Saya Maya Wansa kakaknya Qirrera, terus terang saya baru tahu atas kejadian yang menimpa adik saya. Sebagai seorang kakak tentu saya sangat kecewa dan marah atas tindakan anak dan istri Bapak yang sewenang-wenang terhadap adik saya. Yang saya sangat sesali kenapa anda tidak memberitahu kami masalah ini dan malah menyembunyikan adik saya di rumah Bapak. Perbuatan anda sekeluarga sudah menyalahi hukum dan saya berhak melaporkan kasus ini ke ranah hukum. Saya sudah memeriksa CCTV dan melihat kekejamam anak dan istri Bapak. Bukti sudah kuat untuk membuat anda sekeluarga menderita seperti penderitaan adik saya."
Perkataan Maya Wansa yang berapi-api membuat pihak Om Wedakarna diam. Aku merasa perkataan kak Maya benar. Kak Selvy lalu berdiri dan memutar Vidio pendek yang memperlihatkan diriku dianiaya.
Wajahnya merah padam saking marahnya. Air mataku bergulir menonton Vidio itu, aku dilempari segala macam benda oleh mereka berdua. Dalam hatiku terbentuk dendam yang harus kusalurkan. Aku benci Dheo!!.
"Mbak Maya, saya mohon maaf atas semua perbuatan saya. Rasanya pantas saya dihukum, hanya satu permintaan saya, tolong Mama jangan dilaporkan ke polisi." kata Dheo tegas. Dia menatapku dengan sinar mata sedih.
"Tentu saja permintaan maaf anda saya terima, tapi hukum tetap berjalan." sahut kak Selvy ketus.
"Maya, maaf Om ikut nimbrung. Om dan Om Wedakarna sudah menganggap Qirrera seperti anak sendiri. Kami menyayangi Qirrera, Om mohon supaya Maya dan Selvy memberi ampun kepada Dheo dan Tante There. Kita masih satu marga, tolong beri kesempatan untuk mereka, apapun yang Maya atau Selvy minta Om Wedakarna akan memberi." kata Om Sugamap mencakupkan kedua tangannya.
"Kami tidak butuh apa, Qirrera sendiri adalah Crazy Rich Bali yang termuda dan berbakat. Dia Owner Hotel U.M dan banyak bisnis lain yang dia geluti selain menjadi selebgram. Mohon maaf kalau kami menolak dan tetap ingin meneruskan kasus ini." kata kak Selvy tegas.
Tangisan Tante There pecah, dia lari memelukku. Aku merasa kasihan juga, yang aku salahkan adalah Natalia yang membuat semua ini terjadi.
"Qi, jangan Tante dihukum, tolonglah kami. Tante minta maaf." kata Tante There bersimpuh di kakiku.
__ADS_1
"Bangunlah Tante, semua akan baik-baik saja." sahutku menyuruh Tante There duduk di sampingku. Aku tidak bisa berkata yang muluk-muluk, suasana ini membuatku nervous.
"Makanya berpikir kalau mau bertindak. Waktu itu Tante sangat beringas. Kalau saya tidak cepat datang, Qirrera bisa mati dianiaya. Saya yang menyelamatkan nyawa Qirrera mbak Maya." kata Alex mencari perhatian.
"Terimakasih Alex, Bibik juga mengatakan hal serupa. Kami sangat berhutang budi sama kamu." kata kak Selvy.
"Ya Mbak Selvy, sebelum kejadian itu saya dan Qirrera sedang dikolam renang, kami merasa cocok berdua."
"Alex..jangan memperkeruh keadaan." tegur Om Sugama sedikit kesal. Alex langsung diam.
"Maya, Selvy, bagaimana kalau kita nikahkan Qirrera dengan Dheo, selama Qirrera ada di rumah Om, tampaknya mereka berdua saling jatuh cinta." kata Om Wedakarna kehabisan akal.
,Aku mau menolak tapi Tante There cepat menggenggam tanganku. Orang tua itu menatapku penuh air mata. Terbayang wajah Mamaku, aku jadi kasihan.
"Om Weda, Qirrera adalah pacar saya biarkan dia memilih siapa yang dia pilih kami berencana mau menikah."
"Andre kamu sudah dijodohkan jangan serakah. Seandainya Qirrera sadar, dia pasti tidak memilihmu, biarpun dia mencintaimu." tungkas Om Wedakarna berusaha menolak permintaan Andre.
"Tidak bisa begitu, Natalia sudah jahat, aku akan mendepaknya. Lagipula hubungan kami tidak harmonis. Cintaku hanya untuk Qirrera."
Aku jadi pusing mendengar perdebatan mereka. Semua mengeluarkan argumentasi. Mereka kandidat yang aku acungin jempol. Akhirnya aku mengambil sikap atas rasa kasihan kepada Tante There dan balas dendamku kepada Dheo.
"Aku memilih Dheo dan memaafkan mereka. Bagiku yang bersalah adalah Natalia jodohnya Andre."
Pernyataanku membuat semua diam, mereka pasti tidak menyangka. Terutama kakakku. Kak Maya menatapku dengan alis terangkat. Tapi dia urung berkomentar karena dua orang Polisi tiba-tiba sudah berada di depan kami.
"Selamat siang semuanya, kami dari Kepolisian, barusan mendapat pengaduan bahwa disini telah terjadi penganiayaan yang melibatkan saudara Dheo dan korbannya adalah saudari Qirrera."
Degg!!. Aku terhenyak, siapakah yang melapor? di antara kami siapa yang jahat?
****
__ADS_1