
Selesai mandi aku memakai t-shirt putih dan celana panjang model pensil warna hitam dan sepatu Sneaker. Kemudian aku menutupnya dengan jaket Sweat Hoodie dari Uniqlo. Topi jaketku langsung menutup kepala dan yang terakhir kaca mata hitam. Lengkap sudah.
Aku turun perlahan dan merasa kaget. Cepat aku membuka kaca mataku dan menatap orang yang duduk di kursi santai teras depan.
"Maimunah, Bibik, masuk ke dapur. Aku takut hari ini akan ada perang Dunia ketiga." kataku menatap Semeru yang juga menatapku.
Pagi ini dia memakai pakaian treaning warna abu-abu, dia kelihatan bersih dan ganteng banget. Orang lain pasti tidak menyangka kalau dia penjual sayuran.
"Rupanya pagi-pagi sudah ada tamu, ada apa kesini?" tanyaku kenceng untuk menyembunyikan ketakutanku.
"Hemm....ternyata orang kaya banyak yang sombong dan tidak punya attitude."
"Tergantung lawan, sombong itu akan keluar apabila pelecehan telah terjadi."
"Tidak usah bertele-tele ganti lampu bohlamku yang kamu pecahin tadi malam." katanya dengan rahang mengeras. Dia lalu menaruh nota pembelian di atas meja.
Aku mau ngeles tidak mengaku, tapi ada kerikil pot ku yang bewarna biru sebagai bukti bahwa aku pelempar batu itu.
Terpaksa aku meraih nota itu dan membacanya. Keningku berkerut karena ada harga lampu emergency nyangkut di nota itu.
"Kenapa ada lampu emergency, aku cuma memecahkan bohlam saja." kataku memandangnya.
"Lampu bohlam itu dari jaman dulu tidak pernah pecah dan sangat awet, aku meragukan pembelianku sekarang, tentu aku harus berjaga-jaga kalau lampunya cepat mati, jadi lampu emergency sebagai solusinya."
"Rupanya korupsi menjalar kemana-mana, aku tidak mau menggantinya." sahutku.
Dia memandangku tajam, ntah ada apa dipikirannya. Aku tidak peduli, masalahnya aku sudah terlanjur kesel dengannya.
"Jangan main-main!!" bentaknya berdiri.
"Koreksi diri sendiri, aku melempar lampu bohlam itu karena kau tega membuang apa yang aku beri. Aku tulus memberi kalian oleh-oleh. Tapi......" sahutku dingin malas melanjutkan perkataanku.
Dia diam, matanya tetap tajam menatapku. Wajahnya merah....
"Apa kau lihat? kenapa kau pantengin aku. Dengar ya Semeru...aku sedikitpun tidak takut padamu. Biarpun ada sepuluh Semeru....." kataku mendekat. Aku sudah siap-siap untuk menendangnya kalau dia memukulku.
Aku tidak tahu pasti bagaimana kejadiannya tiba-tiba tangannya terjulur dan sekali sentak tubuhku sudah berada di pelukannya. Aku cepat menutup bibirku dengan tanganku takut disosor..
"Ini baru satu Semeru, kalau sepuluh Semeru aku yakin berjalanpun kamu tidak mampu." katanya lalu menghempaskan tubuhku ke lantai. Sakit!.
__ADS_1
Dia kemudian pergi dengan langkah lebar dan membiarkan barangnya tergeletak di atas meja.
Badanku tidak begitu sakit, tapi hatiku menjadi kacau menanggung malu. Marah juga tidak berguna karena orangnya sudah lenyap.
"Nona, ada apa sebenarnya?" tanya Bibik Zariatun menghampiriku.
"Aku sedang perang nuklir dengan Semeru, tetangga sebelah yang tidak tahu diri. Tadi malam aku kerumahnya, dia begitu sombong dan mengejekku. Aku benci padanya, dia seenak perutnya minta lampunya diganti. Tahu gitu kepalanya aku lemparin batu supaya bocor." sahutku seraya duduk.
"Dia mengejek Nona? mungkin Nona menyinggung perasaannya."
"Aku kesana bermaksud baik membawa oleh-oleh, sampai disana wajahnya sudah kelihatan masam. Aku jabat tangannya dia tidak mau...sombong orangnya. Belagu amat." sahutku kesel.
"Silahkan Nona minum dulu dan tenang." Maimunah datang membawa juss.
"Makasih Mai hatiku masih panas."
"Sebenarnya dia tidak bermaksud sombong Nona, sebagai orang Muslim tidak mungkin dia mau sembarangan menyentuh seorang wanita yang bukan istrinya." ucap Bibik hati-hati.
Alisku mengerjit, selama ini tidak ada yang menolak berjabat tangan denganku.
"Begitukah? tapi dia juga mengejekku karena memakai celana pendek."
"Tentu Nona, sebaiknya seorang wanita menutup auratnya, apalagi di depan umum atau di depan laki-laki yang bukan suaminya."
"Cara orang berbeda-beda Nona, maklumi saja sepanjang niatnya baik, yang penting Nona sekarang sudah tahu."
"Bukan itu saja yang membuat aku marah, aku membeli oleh-oleh di Bandara, belinya memakai dollar. Oleh-olehku malah dikasi ayam. Aku lempar saja lampunya pakai batu sampai pecah, gak tahunya dia malah minta ganti rugi."
"Maaf Nona, ini bukan masalah mahalnya harga oleh-oleh, tapi halalnya. Dia pasti melihat apa yang Nona berikan, kalau itu tidak halal tentu akan dibuang. Bibik yakin dia tidak bermaksud jahat, hanya kebetulan Nona melihat dia membuangnya."
"Jadi Bibik menyalahkan aku dan membela dia. Aku tidak tahu semua yang kita bicarakan ini, jadi seharusnya dia memakluminya karena dia lebih tahu. Aku benci caranya yang seolah mengejekku dan menghina pemberianku."
"Maafkan Bibik, tidak ada maksud Bibik menyalahkan Nona atau membenarkan Tuan itu, Bibik hanya memberi bayangan supaya Nona tahu."
Aku diam mencoba mengerti walaupun hatiku masih panas, ingin aku membalas perlakuannya, tapi dia orang tidak punya. Aku kasihan dengan Ibunya.
"Maimunah tolong bawa barang ini ke sebelah, sekalian uangnya. Ibunya kasi, jangan dia." kataku berusaha berdamai dalam hati.
Aku mengambil nota pembeliannya dan menulis dibaliknya "URUSAN KITA BELUM SELESAI!!"
__ADS_1
"Nota ini serahkan padanya supaya dia baca." kataku.
"Ya Nona...." sahut Maimunah pergi.
"Aku tidak jadi ke Mall, sudah tidak mood lagi." kataku kepada Bibik. Bibik hanya tersenyum.
Dengan gontai aku naik ke lantai atas, tentu saja masih ada ganjelan di hati. Sampai di atas aku ke balkon, rasa ingin mengintip Maimunah dan tetangga sebelah kembali muncul.
Aku ingin tahu sikapnya terhadap Maimunah. Dengan hati-hati aku melongok ke bawah, ternyata tidak ada siapapun dibawah, aku heran kemana mereka??
Dengan sabar aku menunggu, mataku tidak lepas dari rumah di bawah. Tidak berapa lama aku melihat Maimunah keluar dari kamar bersama Ibu Poniyem dan Semeru. Ada apa ya, mereka kelihatan akrab dan tidak bermasalah.
Aku menarik diriku dan duduk di balkon dengan gelisah. Maimunah belum muncul juga, aku ingin tahu Semeru gosip apa dengan Maimunah.
"Silahkan sarapan dulu Nona, mumpung masih hangat." Bibik Zariatun sudah berada di belakangku.
"Ya Bik, aku akan segera turun." sahutku ingin cepat bertemu dengan Maimunah.
Ternyata di bawah sudah ada Maimunah menungguku. Tidak terlihat raut wajah sedih atau tegang. Semua normal.
"Maimunah, kamu sudah kasi Ibunya Semeru uang?" tanyaku ingin tahu.
"Sudah, katanya Nona tidak usah repot-repot. Ibunya minta maaf kalau Nona tersinggung terhadap sikap Tuan Semeru."
"Tadi disana kamu bergosip tentang aku?"
"Ya Nona, mereka bertanya asal usul Nona dan pekerjaan Nona. Saya bilang Nona dari Bali, selanjutnya saya tidak bisa menjawab karena saya tidak tahu pekerjaan Nona dan yang lainnya."
"Baguslah, aku memang tidak bekerja." sahutku enteng.
"Sudah dibaca tulisanku?"
"Sudah Nona, ini balasannya." aku cepat menyambar kertas yang berada di tangan Maimunah dan membacanya.
"AKU AKAN MELADENIMU, KAPAN DAN DIMANA"
"Uuhh..belagu. Maimunah apa dia punya Handphone."
"Yaelah...semiskinnya orang pasti punya Nona." ucapan Maimunah membuat aku tersenyum. Benar juga.
__ADS_1
Aku lalu ke meja makan, tapi sebelumnya aku menimbang berat badanku. Masih tetap 55 dan tinggi 172. Jadwal dietku berantakan. Aku makan sembarangan pasca Mama meninggal. Biasanya makananku di kontrol oleh ahli gizi.
****