
Perjalananku kali ini sangat berbeda. Para pengawal seolah mengerti apa yang aku alami, walaupun mereka diam. Mereka sudah faham caranya menjaga rahasia dan mengunci mulut. Aku kagum kepada kesetiaan mereka.
Belum jauh Bus berjalan air mataku sudah tumpah ketika aku ingat bayiku. Pasti dia menangis, pikirku. ingin sekali aku berbalik. Aku merasa sangat egois.
Ya Allah ...ampunilah aku. Aku tidak tahu apa tindakanku saat ini benar, bagaimana kalau mertuaku mencari ibu susu?. Kenapa aku tidak berpikir sampai kesitu. Aku menghapus air mataku dan berusaha tenang.
Ponselku bergetar, aku mengambilnya di tas, ternyata Bunda.
"Qi..Sagara menangis terus, Bunda kebingungan. Sudah dikasi susu formula tapi dia tidak mau minum. Kembalilah, kamu tidak kasihan dengan anakmu?" suara Bunda terdengar panik. Aku juga mendengar tangis bayiku.
"Maaf Bunda, aku sudah masuk ke perkebunan. Aku akan menyuruh baby sister mengajaknya kesini. Kalau Bunda ikut tidak apa-apa." sahutku pura-pura tenang, padahal hatiku ngilu mendengar tangis bayiku.
"Yaya...Bunda akan menyusulmu, semoga kamu belum jauh dan bisa berbalik."
"Pedro menepi, kamu pindah ke belakang aku yang menyetir." kataku cepat, aku takut Bunda menyusulku dan menyuruh aku balik pulang.
"Ta..tapi Nyonya....." sahut Pedro ragu-ragu.
"Ini perintahku!!" kataku.
Dengan terpaksa Pedro menepi. Aku mendengar kasak kusuk dari pengawalku yang merasa ketakutan kalau aku menyetir Bus. Mereka belum pernah melihat dengan mata kepala sendiri aku menyetir mobil.
"Jangan kalian takut aku sering touring dengan segala merk mobil." aku dulu sering touring dengan Om Sugama.
"Tapi ini bus Nyonya, bukan mobil sport." kata Pak Rudi kepala pengawal.
"Tenanglah...aku naik pesawat sering." (cuma naik saja tidak jadi pilot). bathinku.
Aku mengambil alih kemudi dan membawa kelima pengawalku "terbang". Jalanan ke perkebunan memang sepi, jadi aku leluasa ngebut.
Rumah besar bercat putih tulang telah menyambutku. Aku membeli dengan harga bagus, karena rumahnya sangat mewah dengan funiture yang modern dan mahal. Tidak begitu luas, aku bosan rumah luas dengan banyak kamar, mubazir.
Pengawalku menurunkan barang dan menata sesuai arahanku.
"Aku sangat bertrimakasih kepada kalian yang sangat tulus membantuku." kataku sambil membuka amplop yang berisi uang. Aku membagikan kepada mereka.
__ADS_1
"Trimakasih juga Nyonya." kata mereka senang.
"Makanlah, sebelum kalian balik pulang." kataku menaruh makanan yang aku pesan lewat online.
"Kami tidur disini Nyonya, kami tidak mungkin meninggalkan Nyonya sendiri disini." kata Pak Rudi yang ikut mengantar.
"Aku tidak apa-apa." sahutku.
"Tuan menyuruh kami menemani Nyonya." tiba-tiba Pak dahlan berterus terang. Aku bungkam.
Bunda datang dengan kedua baby sisterku, aku langsung mengambil Sagara. Lega rasanya bisa memeluknya.
"Rumahmu modern sekali, Bunda akan sering kesini." kata Bunda melihat-lihat keliling.
"Biasa saja Bunda, sebenarnya rumah ini aku mau berikan kepada gundiknya Semeru. Tukar dengan rumah yang berada di belakang kantor. Aku mengurungkan niatku. Aku beralih memberi dia uang asal mau keluar dari sini."
"Yesi, tolong bawa koper dan peralatan bayi ke kamar bayi, Kamu rapiin dan tata di almari."
"Baik Nyonya." kata Yesi menarik koper Sagara. Aku juga menyuruh Vadae membuat kopi dan melayani pengawal yang sedang makan.
"Sayank, kamu jangan lama-lama marah. Apakah kamu tega Sagara menjadi anak yatim." kata Bunda ketika kami sedang duduk berdua.
"Iss. apa kamu bilang. Kamu ingin membunuh Bunda." kata Bunda mendelik.
"Aku masih muda Bunda, masih laku." godaku.
"Semeru mencintaimu, Bunda tahu dia pasti kena guna-guna. Tidak mungkin Semeru tiba-tiba kepincut dengan musuh besar kita."
"Sebenarnya Semeru sudah bertingkah aneh waktu aku di jemput oleh Semeru di Bandara. Aku melihat Semeru mengagumi prempuan itu. Perempuan itu cantik dan terlihat awet muda, karena wajahnya di oprasi plastik di Jakarta. Tidak mungkin Semeru kena guna-guna, dia sadar melakukan itu." kataku membuat Bunda terkaget-kaget.
"Cobaan ini terlalu berat bagi keluarga kita, Ayah baru saja meninggal, sekarang kamu meninggalkan rumah. Bunda sangat sedih, semoga dengan kejadian ini Semeru sadar dan berubah menjadi orang baik yang sayang dengan istri dan anak."
"Tidak ada yang bisa diharapkan dari Semeru, dia kasar dan rentan berselingkuh. Perkawinan kami termasuk masih anyar, aku merasa tidak ada yang kurang ditubuhku, tapi mengapa Semeru begitu cepat berpaling? aku masih muda Semeru sudah berselingkuh, bagaimana kalau aku sudah tua?"
"Percayalah, Semeru pasti akan berubah." sahut Bunda berusaha meyakinkanku. Aku hanya mengangguk, perbincangan ini membuat aku sedikit lega.
__ADS_1
Matahari sudah condong ke Barat ketika Bunda pamit pulang diantar oleh Pak Rudi.
"Jangan bekerja terlalu ngoyo nanti kamu sakit. Disini daerah rawan demo, berhati-hatilah." pesan Bunda mengelus pipiku.
"Bunda juga harus menjaga kesehatan, kalau kangen dengan Sagara, Bunda boleh Video call."
"Bunda tidak mau Video call, kamu yang pulang."
"Kapan-kapan aku pasti pulang." sahutku menghibur Bunda.
*****
Cinta datang semau gue, tak pernah meminta untuk dinanti. Ia datang mengambil kesempatan, lalu pergi begitu saja. Uuhhh.... aku menarik nafas dalam, kesabaranku ternyata tak terbatas, sangat luass...
Hidup harus dijalani seperti air mengalir, demi siapa? demi Sagara anak semata wayangku....
Pagi-pagi aku sudah bangun dan berkemas dihari pertamaku ini, dari tadi aku sudah standby nenanti para stafku yang belum juga nongol. Padahal aku akan mulai morning briefing tepat jam tujuh. Kebiasaan bekerja on time dengan Bule akan aku terapkan di perusahan ini.
Begitu juga di Perusahan Segara Barito, walaupun aku tidak duduk disana tapi aku bekerja di belakang layar sebagai konsultan yang akan membimbing Semeru dalam menjalankan tugasnya.
Aku menempatkan posisi Semeru sebagai Owner dan Pak Jayus sebagai CEO. Semua ini aku lakukan supaya dia punya power dan dihargai oleh anak buahnya. Aku membangun rasa percaya dirinya.
Setelah aku intropeksi diri, aku banyak mendapat kekurangan dariku. Kenapa Semeru nyaman dengan gundiknya, karena dia merasa lebih berkuasa, lebih pintar dari perempuan itu dan gundiknya bisa menurut apa yang Semeru titahkan.
Selama ini tanpa aku sadari aku sering merasa lebih pintar, lebih tahu segalanya (walaupun ini benar), aku juga seolah menguasai Semeru. Disini Semeru merasa dirinya rendah dariku serta tidak berguna. Terkadang sikapku sebagai Owner aku terapkan di rumah.
Untuk itulah aku harus membangun semangat Semeru, supaya dia tidak rendah diri. Aku akan memposisikan dia sebagai anak Pak Haji seorang konglomerat yang menjabat sebagai Owner di perusahan Segara Barito.
Pagi-pagi aku sudah memberitahu Bunda supaya membangunkan Semeru dan bersiap bekerja sebagai irang yang berkuasa di Perusahan Sagara Barito.
Aku mulai menyapa staf Segara Barito secara Virtual. Kami melakukan zoom.
Ini adalah morning briefing yang perdana dengan dua puluh lima staf utama dan ribuan buruh Batu Bara.
"Hallo staf Segara Barito, apa khabar? senang bertatap muka dengan kalian. Perkenalkan diriku, namaku Qirrera istri dari Owner kalian yaitu Tuan Semeru. Disini jabatanku hanya sebagai konsultan perusahaan dan Pak Jayus sebagai CEO. Sudah ada divisi masing-masing yang membawahi, jadi bekerjalah yang baik." kataku mengawali morning briefing.
__ADS_1
Selesai memperkenalkan Semeru dan memberi pengarahan kepada mereka aku lalu mengakhiri zoom.
*****