
Kebiasaanku memakai baju tertutup kalau keluar rumah akhir-akhir ini membuat aku malu kalau sekarang aku terpaksa memakai celana pendek dan t-shirt. Apa boleh buat aku cuma membawa dua stell pakaian waktu kabur. Sedangkan ini sudah hari ketiga.
Di Losmen ini ternyata tidak ada laundry dan aku sendiri tidak bisa mencuci tanpa mesin cuci.
Rencanaku akan pulang ke Los Angeles, tanpa harus singgah ke Bali. Meninggalkan semua yang ada dan memulai hidup baru dari nol. Selama berada di Indonesia banyak sekali masalah yang membuatku terpuruk.
Tapi aku tidak memungkiri pikiranku menjadi lebih dewasa dan aku bisa lebih sabar dalam menghadapi hidup. Setelah memakai sepatu sneaker, aku meraih tas ranselku dan chek out dari Losmen.
"Saya perlu Taxi untuk ke Bandara Pak." kataku ketika Bapak yang empunya Losmen menanyakan ke Bandara mau naik apa.
"Nona bisa menelepon Ojek online Nona, kalau Taxi jarang ada."
"Tolong minta nomor Ojolnya Pak."
Aku mengambil ponselku dan memilih salah satu Ojol yang bisa mengantarku sepagi ini.
"Tolong share lokasi Nona, setengah jam lagi saya sudah sampai." sahut Pak Ojol.
Ternyata lama juga, aku terpaksa kembali duduk di ruang tunggu di depan Losmen setelah share lokasi. Aku baru ingat tag lokasi, tapi cepat aku tepiskan pikiranku tentang Semeru. Bisa saja dia sudah lupa padaku, tidak mungkin dia mencariku.
Tiba-tiba aku dikejutkan oleh puluhan orang yang geruduk turun dari sebuah Bus dan serentak mengurungku. Tubuhku reflek siaga antisipasi. Aku menunggu serangan. Mereka berbaris menjadi dua barisan kanan dan kiriku.
"Siapa kalian? kenapa mengurungku." tanyaku memandang mereka satu persatu. Tidak ada jawaban dari mulut mereka, aku baru mengerti ketika membaca tulisan SEMERU dibadan Bus.
Tidak berapa lama sebuah Ferrari sport berhenti disamping Bus. Dia turun dengan gagah. Jalannya tegap menghampiriku, aku membalikkan badan, tapi tangan kekar itu cepat meraih tubuhku. Dia bisa menemukanku, pasti karena tag lokasi, waktu aku memanggil Ojol.
"Pulanglah!!" bisiknya.
Aku harus mengalah demi nama baiknya. Dengan terpaksa aku mengikutinya karena aku menjaga imagenya di depan anak buahnya dan orang-orang yang mulai berdatangan ingin tahu apa yang terjadi.
Dia menggandeng tanganku dengan mesra dan membuka pintu mobil. Aku duduk dengan mulut manyun. Bau harum parfum Bvlgari menusuk hidungku saat dia memakaikan aku seatbelt.
"Aku benci padamu, biarkan aku pergi." kataku ketika mobil sudah melaju.
Dia hanya tersenyum dan menyentuh rambutku.
"Kamu pasti belum sarapan, bagaimana kalau kita sarapan dulu ke restoran cepat saji?"
"Tidak!! aku sudah kenyang." sahutku ketus. Melihat dia aku ingin berantem melulu.
"Hemm....istriku cepat ngambek...."
Aku menolehnya heran,
"Aku tahu semua ini palsu, kamu menjemputku dan bertingkah lembut karena Bunda. Sifat aslimu belum nampak."
Dia menoleh dan mengedipkan sebelah matanya. Wooww.....ganteng buanget.
Tapi aku pura-pura tidak peduli, harus jual mahal. Masih terasa tamparannya dan hinaannya yang melukai hatiku.
Waktu naik ojol tempo hari terasa perjalanan yang di tempuh sangat jauh, setelah aku amati ternyata jembatan itu berada sangat dekat dengan rumah Semeru. Kenapa waktu itu aku tidak naik sepeda saja. pikirku. Malah di samping jembatan ada jalan rahasia yang bisa langsung ke kebun buah di rumah Semeru.
__ADS_1
"Kenapa kamu lewat sini tidak lewat jalan utama?" tanyaku ingin tahu.
"Supaya kamu hafal jalannya, siapa tahu kita berantem lagi kamu bisa lewat sini lagi dan bisa juga pakai mobil ini kalau kabur." sindirnya membuat aku tersenyum.
"Siapa bilang aku kabur lewat sini?"
"Kita sering menyewa anjing pelacak dari polda, jadi anjingnya yang memberitahu."
Aku menelan tertawaku dan berusaha tetap cuek. Mobil berhenti di garase, aku cepat turun tidak menunggunya membukakan pintu.
"Rumah kita sudah pindah, sekarang kita tinggal di rumah kedua."
"Kenapa begitu, pakaianku bagaimana?"
"Kalau disini kamu hanya bisa kabur ke pelukanku selebihnya tidak bisa."
"Aku tidak sudi, titik!!" kataku masuk ke rumah bercat putih tulang ini.
Rumah ini dua kali lipat besarnya. Saat aku menuju kerumah sampai berada di dalam rumah, tidak satupun pelayan atau orang aku jumpai. Ini sengaja barangkali..
Kami masuk ke dalam ruang utama dan Semeru mulai beraksi. Dia langsung memelukku dan mencium keningku.
"Aku kangen, jangan pergi lagi." katanya lirih. Aku berusaha melepaskan diri.
"Kenapa kamu menjemputku?"
"Karena kita belum bulan madu." sahut Semeru langsung menggendongku ala bridal.
"Semeru turunkan aku." bisikku kaget.
Dia tidak melemparkan tubuhku seperti dulu-dulu. Perubahan yang semu. pikirku. Mana bisa merubah sifat asli dalam sekejap. pikirku.
"Hahaha...jangan merayuku, kembalilah ke Duniamu." sahutku.
Aku merasa deg-degan ketika dia mengunci pintu, aku menatapnya malu saat tangannya membuka kancing kemejanya satu persatu.
"Eling Semeru...Eling....." kataku menirukan ucapan bibik zariatun yang kerap dilontarkan. Dia tersenyum tetap melepas kancing bajunya.
"Ting ..tong...ting...tong." suara bell rumah membuat Semeru kembali membenahi pakaiannya. Aku tertawa kecil.
"Cepat buka celananya." katanya grogi.
"Untuk apa?" tanyaku menepis tangannya.
"Ganti dengan yang tertutup." katanya.
"Owalahhh...," aku cepat-cepat mengganti pakaian dengan dress panjang.
Baru aku menyadari mata Semeru tidak lepas dari tubuhku.
"Kenapa kamu memandangku?"
__ADS_1
"Aku baru menyadari culture kita berbeda, kamu pasti sering memakai bikini di Pantai Kuta di Bali. Aku pernah kesana dan melihat banyak Bule hanya memakai bikini."
"Di Bali panas dan daerah pariwisata, jadi di setiap jalan, pantai, berseliweran Bule memakai bikini. Kami tidak terpengaruh." sahutku.
"Kenapa kamu bertanya tentang itu?"
"Tidak apa-apa." sahut Semeru keluar dari kamar. Aku ikut keluar.
Ternyata Pak Haji dan Bunda sudah duduk di ruang tamu depan.
"Assalamualaikum...."
"waalaikumsalam...."
Aku langsung menghambur ke Bunda dan kami saling berpelukan. Saat itulah aku tidak bisa menahan air mataku. Aku merasa sedih dan menangis pilu.
"Mother I'm sorry for troubling you, I'm not good for Semeru, let me out of here. I won't demand anything from you." (Bunda aku minta maaf telah menyusahkanmu, aku tidak baik untuk Semeru, lepaskanlah aku dari sini. Aku tidak akan menuntut apapun darimu).
Kataku di antara isak tangisku. Bunda ikut menangis. Banyak sekali tekanan yang aku alami selama ini. Aku merasa luluh mendapat pelukan dari Bunda yang tidak aku dapatkan selama ini.
"Tidak, kamu tidak boleh pergi. Kamu adalah orang yang cocok dengan Semeru. Maafkanlah tindakannya selama ini. Kadang ada orang yang tidak bisa mengungkapkan apa yang dia rasakan." suara Pak Haji membuatku melepaskan pelukanku dengan Bunda.
"Pak Haji, lepaskanlah aku. Kata orang pernikahan ini serius adanya."
Semeru mendekatiku dan mengajak aku duduk di sofa panjang. Dia memberi aku tissue dan air mineral. Dia membelai rambutku.
"Kamu adalah harapan kami. Sebenarnya pertama Bapak berencana menggelar pernikahan palsu. Tapi rencana ini gagal karena banyak yang datang dan para wartawan berjubel. Kejadiannya sangat cepat, sampai Bapak sendiri kaget."
"Kalau pernikahan ini sah aku minta cerai...."
"Astagfirullah.... istighfar Nak....," seru Bunda berdiri menghampiriku.
"Pamali, tidak boleh berkata cerai." kata Bunda mengelus rambutku.
"Sayank...kita istirahat, sepertinya kamu lagi nervous." kata Semeru serak.
"Ayah, Bunda, maafkan kami....." kata Semeru mengajak memapahku.
"Tidak sopan, masih ada Bunda dan Bapak." kataku menolak.
"Istirahatlah kami juga lagi ada urusan." sahut Bunda dan Pak Haji hampir berbarengan.
Semeru mengunci pintu kamar dan berbalik menatapku.
"Kamu sudah boleh membuka baju panjangmu dan diganti dengan yang pendek. Udaranya panas sekali."
Aku hampir membukanya untung aku ingat ini akal-akalannya saja.
"Sudah ada AC aku nyaman memakai baju ini. Aku memang lelah mau langsung tidur." sahutku pura-pura ngantuk.
"AC mendadak mati, aku mau buka bajuku." sahut Semeru.
__ADS_1
Aku pura-pura tidur menahan panas. Semeru bikin gregetan, ada saja ulahnya supaya dia bebas memelukku.
*****