
"Papaa....." kata Dheo tercekat. Dia maklum apa arti tindakan Papanya. Hatinya langsung sakit, Belum pernah Papanya memukulnya seperti ini. Nyonya There juga kaget melihat suaminya tiba-tiba sudah ada di depannya.
Dia dan suaminya jarang bertengkar, saling pengertian itu modal untuk membangun hubungan. Disamping itu kesibukan Bapak Wedakarna sangat padat. Mereka hampir tidak sempat berkomunikasi layaknya suami istri pada umumnya.
"Aku menyekolahkanmu sampai ke Luar Negeri, tapi tindakanmu bar-bar seperti manusia tidak beradab. Ibumu boleh bangga kepadamu, tapi aku tidak merasa kau anak yang bisa dibanggakan." kata Pak Wedakarna berapi-api. Ingin rasanya dia membanting anak dan istrinya.
"Kalian tahu, tindakan kalian ini kalau sampai diketahui umum akan membuat kita bangkrut, harga saham kita pasti anjlok. Akan terjadi sentimen pasar, apalagi kalau kalian berdua di penjara.... tidak bisa aku bayangkan kehancuran hidup kita." sambungnya lagi.
"Maaf Paa, aku khilaf." kata istrinya terbata-bata, wajahnya pucat, dia sangat takut melihat reaksi suaminya yang prontal.
"Manusia kurang ajar!! gampang sekali kamu minta maaf, kalian berdua membuat nama keluarga kita ternoda. Aku tidak menyangka sifatmu bisa sehina ini. Pergi kamu dari rumah." kata Pak Wedakarna dengan suara gemetar kepada istrinya. Air mata Bu There berlinang. Dia sangat mencintai suaminya.
Pak Wedakarna sangat emosi, amarahnya meluap ketika Alex menyampaikan khabar buruk tentang sepak terjang Dheo Dewanto dan istrinya. Dia tidak menyangka Natalia tega mengedit dan menyebarkan gosip yang tidak benar, yang bisa menimbulkan korban jiwa.
"Sabar Weda, kita bicarakan baik-baik dengan tenang. Semua sudah terjadi, aku sendiri sangat nenyesal atas kejadian ini." Untunglah Pak Sugama cepat datang, dia baru saja keluar dari ruangan Qirrera.
"Paa..bagaimana keadaannya?" tanya Andre antusias.
"Dia tidak mengenal siapapun." sahut Pak Sugama sedih.
Kemarahan Pak Wedakarna terpaksa di pendam demi Qirrera. Mereka satu persatu menengok Qirrera secara bergantian. Sudah banyak upaya yang dilakukan, tapi Qirrera tetap bungkam.
Dheo kembali masuk ke ruang Qirrera, dia harus bisa menyadarkan gadis itu, bagaimanapun caranya. Kebetulan ada Andre, Alex dan Papanya yang berusaha membangun ingatan Qirrera. Sayang sekali Qirrera tidak ingat apapun.
"Apakah kamu ingat padaku?" tanya Dheo berkata dengan suara halus. Dia baru menyadari ternyata Qirrera gadis yang sangat cantik dan manis. Dia mendekat dan memegang tangan Qirrera.
"Kamu siapa, aku tidak ingat. Kepalaku terasa pusing." sahut Qirrera menatap Dheo.
"Aku adalah tunanganmu, tidak lama lagi kita akan menikah." sahut Dheo membuat Alex dan Andre saling pandang. Mereka terpaksa diam menunggu reaksi Qirrera.
"Begitukah? tapi kenapa aku berada disini?"
__ADS_1
"Karena kamu jatuh, untung aku cepat datang. Kita memang berjodoh."
"Tapi aku tidak ingat namamu?"
"Namaku Dheo Dewanto, kamu biasanya memanggilku sayank."
"Aku meragukan omonganmu, jadi aku hanya bisa memanggilmu Dheo saja."
"Tidak masalah, apa arti sebuah nama. Aku hanya ingin kamu sembuh dan kita pulang kerumah." kata Dheo membelai rambut Qirrera.
"Jangan kebablasan, dia milikku." Celetuk Andre tanpa peduli. Rasa cemburunya timbul melihat Qirrera menyambut baik kebohongan Dheo.
"Andre, jangan kekanak-kanakan, kita lagi berakting. Kita akan melakukan apapun demi kesembuhannya." bisik Pak Weda sambil mengajak Andre keluar. Alex juga ikut keluar, hatinya panas melihat kemesraan Dheo yang dibuat-buat.
"Aku setuju Om, tapi jangan kesempitan ini dipakai sebagai kesempatan. Terus terang aku tidak setuju Dheo menjanjikan hal yang muluk-muluk terhadap Qirrera. Kita tidak tahu sifat orang, bagaimana kalau Qirrera menganggap bahwa Dheo benar pacarnya. Bagaimana kalau Qirrera minta menikah." protes Andre dengan sengit, hatinya panas dimakan cemburu. Seharusnya tadi dia yang merayu Qirrera, pikirannya lemot, selalu slow respon.
"Andre berpikirlah rasional, berikan Dheo ruang gerak untuk menyadarkan gadis itu, Masalah ini sangat besar efeknya. Kalau sampai keluarganya tahu, Tantemu bisa dipenjara. Jangan kamu egois."
"Mari kita keruang tunggu...." ucap Pak Wedakarna melangkah cepat.
Matahari sudah condong ke Barat, sebentar lagi gelap akan menyelimuti Bumi. Rasa lelah bercampur cemas menggelayuti sanubari Andre. Dia menunggu kepastian yang berujung sakit.
Dengan entengnya Om Wedakarna yang notabene adalah ipar Mamanya, memohon kepada semua pihak, supaya merelakan Qirrera diajak ke apartemen Dheo sampai sembuh.
"Aku tidak setuju Om, aku pacarnya, aku mampu merawatnya dan membiayainya." sanggah Andre dengan wajah merah.
"Aku juga tidak setuju, walaupun baru kenal aku merasa dia cocok menjadi pacarku."
"Kalian ini ada apa sih, semua ingin mengajak Qirrera. Aku sebagai Bapak sambungnya ingin juga mengajaknya, tapi Qirrera saat ini maunya bersama Dheo. Lagi pula Dheo dan Tante There pantas mengurus Qirrera karena merekalah biang kerok dari masalah ini." kata Pak Sugama tegas.
"Tante mohon kepada kalian berilah Tante kesempatan untuk merawat Qirrera sampai dia sembuh." kata Tante There sedih.
__ADS_1
Mereka terpaksa mengangguk walaupun hati berontak. Dengan berat hati kesepakatan ini disetujui oleh semua yang hadir, dengan catatan jika Qirrera merasa tidak nyaman dia boleh memilih Andre atau Alex.
Akhirnya kesepakatan yang tidak mengikat itu menjadi tolak ukur dari kehidupan percintaan Andre, Alex atau Dheo. Mereka bertiga seolah bersaing mendapatkan kesan romantis dari Qirrera. Sayang sekali, sejauh ini tidak ada perubahan yang menunjukkan Qirrera berpaling dari Dheo.
Seminggu telah berlalu, Qirrera sekarang berada di Mension House. Di dalam rumah besar itu ada Pak Wedakarna dan Nyonya There sebagai orang tua Dheo. Ada banyak IRT dan asisten yang lain yang ikut melayani Qirrera.
Pak Wedakarna sendiri adalah seorang Konglomerat sejati, bisnisnya menggurita berada di lima Benua. Dia adalah Owner di PT. DARCO pemasok alat-alat berat.
Sedangkan Dheo Dewanto adalah lulusan Alphard University dan sekarang dia menjadi CEO di perusahan DARCO milik orang tuanya. Umurnya baru 25 tahun. Ketampanannya tidak kalah dengan Andre, mereka sepupuan karena Ibu mereka bersaudara.
Yang membedakan dari kedua pemuda itu adalah sifatnya. Andre tidak banyak bicara dan sangat taat kepada perintah Mamanya dia juga ogah ke Bar atau dunia malam.
Sedangkan Dheo adalah pemuda dingin yang sulit ditaklukan. Dia selalu curiga kepada gadis yang mencoba mendekati dirinya, karena kebanyakan gadis mengincar hartanya. Dia lebih senang pergi ke Bar untuk membuang jenuh dari pada gandengan dengan seorang gadis yang menyita waktunya.
Tapi ada pengecualian untuk Qirrera, dia sangat cantik mempesona. Dheo belum begitu mengetahui sifat Qirrera, apalagi Qirrera lebih banyak diam dan termenung. Kalau di tanya baru menjawab. Seminggu ini kerjaan Qirrera mengurung diri dikamar, makanpun dia terlalu memilih.
Terkadang Dheo merasa sedih melihat Qirrera. Kenapa waktu itu dia tidak melihat kecantikan gadis ini. Dia berpikir Qirrera sama dengan gadis lain.
"Dheo, Papa barusan di hubungi oleh Maya Wansa. Kita harus kesana, menceritakan apa adanya, seharusnya kita dari dulu transparan. Seandainya mereka tidak mau berdamai katakan kamu siap menikahinya."
"Tapi aku belum tahu sifatnya, bagaimana kalau dia seorang gadis matre atau dia egois dan arogan?. Menikah itu perlu keberanian dan pemikiran yang matang. Aku akan melamarnya, jika pembicaraan dengan keluarga gadis ini mengarah ancanam yang sekiranya membahayakan keluarga kita."
"Dheo rasa empatymu kurang, seandainya kamu berada di pihak gadis ini apa tindakanmu selanjutnya, atau apa yang bisa kamu lakukan?" kata Pak Wedakarna pelan.
Dia tahu putra semata wayangnya sangat sulit jatuh cinta, karena pernah tersakiti. Trauma masa lalu membuat Dheo alergi merajut cinta. Apalagi disuruh menikah.
"Bila menikahi gadis ini tidak akan merugikan dirimu, atau masa remajamu. Jadi apapun hasil dari pertemuan ini, kamu harus tetap menikah, karena gadis itu menderita gara-gara kebodohanmu."
Diam, mungkin itu sikap yang paling bagus saat ini. Bukan berarti dia menolak kehadiran Qirrera dalam hidupnya, tapi sanggupkah dia ditolak oleh Qirrera saat gadis itu telah sadar dari amnesianya.
*****
__ADS_1