
Sore ini aku membuka kap atap mobilku, berusaha menghibur diri membuang jenuh berputar di sekitar kota Depasar. Pekerjaan yang padat membuat otakku tidak fresh untuk menyimak pekerjaan baru yang terus berdatangan. Dengan memacu mobil agak pelan aku berusaha menikmati keindahan Kota Denpasar.
Aku sekarang mencoba menangani sendiri warisan yang menjadi hak milikku. Berusaha membuat satu management baru terpisah dari management lama. Maksudku supaya tidak rancu, dan bermasalah di kemudian hari. Aku juga bisa mengetahui dengan jelas profit dari semua aset yang aku kelola.
Semua kakakku setuju dengan ideku, karena sumber biaya atau pengeluaran sehari-hari dari hal yang kecil sampai besar, akan diambil dari hasil kas pribadiku. Aku membayangkan diriku seperti Bank berjalan.
Puas mengelilingi Kota Denpasar aku meluncur ke Sushi Tei dan nongkrong disini menikmati Dim Sum. Aku tidak menyadari jodohku atau si Dwiki lagi memandangiku.
"Kenapa kamu memandangiku?" tanyaku ketika dia pindah ke mejaku.
"Aku ragu, apa kamu ingat denganku." sahutnya tersenyum.
"Aku hampir tidak ingat kamu, tapi lama-lama ingat." kataku bohong. Mana bisa aku melupakan wajah culun di depanku.
"Owalah, benar perkiraanku. Tapi aku bersyukur kamu ingat denganku. Semoga angin sorga menghampiri kita sekarang. Aku sangat surprise!!.
"Apa kamu senang kita bertemu?" tanyaku iseng.
"Senang sekali, masalahnya aku dari kemarin ingin menelponmu, tapi aku malu. Temanku butuh dana karena anaknya mau sekolah baru, aku mohon kamu bisa membantunya. Aku sudah terlanjur bicara bahwa calon istriku kaya raya." jelasnya.
Ternyata jodoh pertama dan kedua sama saja, uang menjadi patokannya. Aku sebenarnya tidak keberatan apalagi untuk menolong anak sekolah, tapi aku tidak senang dengan cara Dwiki. Aku melihat Dwiki bangun dan menelpon seseorang.
Seorang Bapak datang tersenyum padaku tanpa di persilahkan dia duduk di samping Dwiki.
"Ini calon istri saya Pak Made, dia yang akan menolong Pak Made, berapapun pengeluaran sekolah anak Pak Made, dia pasti bayar." sungguh tengil Dwiki ini, dia tidak memberi aku ruang gerak untuk berkomunikasi dengan temannya. Dia langsung memutuskan sepihak, mungkin ini cara baru pemerasan yang terselubung. Aku juga tidak melihat tampang susah dari orang yang di panggil Pak Made. Aku menjadi curiga!!.
"Hehe...saya temannya Dwiki, saat ini saya butuh dana untuk biaya anak sekolah. Semoga Nona bisa membantu. Tidak banyak koq, untuk masuk ajaran baru anak saya butuh sekitar 5 juta, itu sudah termasuk uang buku dan segala macam." kata Pak Made enteng.
"Maaf Pak Made, saat ini kerja dimana?" tanyaku menyelidik. Aku bukan mempermasalahkan nominalnya, kalau benar tidak apa-apa. Tapi kalau mereka berdua cuma akal-akalan saja itu aku tidak suka.
"Saya tidak kerja Nona." jawabnya tersenyum.
"Terus siapa yang kerja di rumah?, istri bapak?"
"Dia cuma tukang cuci serabutan, makanya saya kesusahan mencari biaya sekolah anak saya."
"Anak Bapak mau ke SMP ya, dulu sekolah dimana?"
"Di Negeri Nona, sekarang saya ingin anak saya sekolah di swasta."
"Maaf Pak, kalau Bapak kurang mampu untuk membiayai ke SMP swasta lebih baik di Negeri saja. Saya juga tidak bisa membantu Bapak terus menerus. Ini saya akan memberi 1 juta untuk masuk ke sekolah Negeri." kataku memberi uang tunai 1 juta.
Terlihat wajahnya kecewa, dia mengambil uang lalu permisi pergi. Aku baru nemu orang pongah begitu. Dwiki diam saja, ingin aku gaplok wajahnya yang ikut terlihat kecewa.
__ADS_1
"Itu temannya atau siapa?, jangan sembarang mengenalkan orang. Kalau ada yang minta bantuan di bicarakan dulu jangan main tembak." kataku menggurui.
"Itu teman, tapi aku kira kamu gampang membantu, harus ada prosedur gitu ya."
"Dwiki, sedikit banyak aku harus tahu siapa yang aku bantu dan untuk apa. Benar apa tidak, itu yang terpenting."
"Memang rata-rata orang kaya banyak perhitungan. Bagaimana aku nanti menjadi suamimu kalau kamu perhitungan." katanya berdiri. Aku ikut berdiri.
"Karena kamu tidak akan pernah menjadi suamiku." sahutku tandas.
Diluar dugaan dia mendekatiku dan lantas memelukku. Tapi tubuhnya terlempar ketika sebuah tangan kekar mendorongnya dari tubuhku. Tiba-tiba Adi sudah ada disitu. Aku merasa surprise, cuma sesat. Aku mengambil tas ku setelah membayar aku keluar ketempat parkir.
Dwiki mengejarku, Adi juga mengejarku. Mereka kulihat perang mulut. Dwiki mengaku aku calon suaminya. Adi tidak berkata tapi tangannya terus memukul Dwiki.
Scurity melerai mereka berdua. Dwiki minta penjelasan dari aku, siapa Adi itu. Aku memandang benci sama Adi tapi tetap aku tidak tega dan mengatakan Adi pacarku. Dwiki mengumpat dan memaki aku. Tapi tidak apa-apa, aku juga muak melihat tingkah Dwiki. Bye jodoh kedua. bisikku dalam hati.
Baru pintu mobil terangkat naik, Adi duluan masuk mobil. Apalagi Adi lakukan kecuali ikut duduk manis di jok mobil.
"Aku ikut, belum ada sebulan kamu sudah mencari laki-laki baru." celetuknya.
"Turun! aku tidak ada hubungan lagi denganmu. Aku sudah benci padamu." kataku kesal.
Dia pikir hatiku terbuat dari apa.... rasa benciku masih bergumpal seperti lilin yang belum mencair. Enak saja dia nangkring di mobilku. Dasar buaya darat.
"Apa pacarmu sudah menendangmu sehingga kamu datang padaku lagi. Cari cewek daur ulang lain yang ramah di jamah. Aku cewek mahal yang sulit di tundukan." sahutku kesal.
"Kita pergi dari sini, ajak aku melihat sunset di Pantai Kuta." katanya tanpa mengindahkan omonganku.
"Adi dengerin aku. Apapun kemauanmu aku tidak mau nuruti."
"Aku yang setir, kamu tinggal merem dengerin lagu. Aku sudah punya lagu bagus untukmu."
"Adi aku benci padamu...benci...jangan harap kamu bisa merayuku lagi. Aku sudah punya pacar. Dan dia calon......"
Belum habis aku bicara bibirku sudah ditutup oleh bibirnya. Aku teperangah tapi aku membiarkan hasrat cintaku merambah hatiku. Adi merasa menang atas diriku. Aku mengutuk diriku yang begitu cepat tunduk kepada kemauannya.
"Bukan berarti aku cinta padamu, kalau tadi aku terpaksa mau berciuman denganmu. Aku sebenarnya sangat benci padamu sampai berurat berakar. Dasar play boy." gerutuku sambil memacu mobilku dengan tujuan Pantai Kuta.
"Hati-hati bicara nanti bibirmu menjadi sasaran kedua."
"Iss....aku punya prisai diri tidak mudah bibirmu nemplok. tadi karena aku belum siap, tadi kecolongan."
"Hahaha....kamu tambah cantik dan semakin dewasa. Kapan kita menikah ya?"
__ADS_1
"Tidak bakalan, aku sudah disiapkan jodoh ketiga oleh kak Leon. Orangnya ganteng, kaya, setia dan penyayang."
"Aku banget itu, berarti jodoh ketigamu aku donk."
"Siapa mau dengan play boy, kalau kamu melamarku aku langsung usir."
"Yaya....bilang sama semua calon jodohmu, langkahi dulu mayatku baru boleh mengambilmu dari tanganku. Atau kalau berani suruh adu jotos satu-satu seperti jodohmu tadi."
"Ok. aku sudah punya jodoh ketiga seorang pem boxing, berani kamu melawan dia."
"Kecillll....." sahut Adi tertawa. tentu kami becanda. Mobil sudah masuk parkiran Kuta. Kami disambut lautan bule. Sangat ramai. Aku turun dari mobil bersama Adi dan berbaur dengan bule-bule yang banyak beraktivitas. Rata-rata mereka menunggu sunset.
"Yank...kita beli minuman." kata Adi melihat beberapa stand minuman.
"Tidak usah, kalau kita sudah duduk minuman akan datang ke kita yang penting ingat bawa dollar." sahutku tersenyum. Dan benar saja baru pantatku menyentuh pasir Pantai sudah banyak tawaran makan dan minuman datang. Sampai ada yang menawarkan kursi atau table kecil. Ada juga yang menawarkan massage atau sekedar menjalin rambut di kepang kecil-kecil seperti penyanyi reggae.
Adi cuma membeli minuman dan selebihnya dia tolak. Mereka mungkin mengira aku bule, jadi minuman dibayar dipatok dollar. Tidak apa orang mencari rejeki. Kalau Adi ngomel membeli fanta memakai dollar. Biasa begitu, namanya daerah pariwisata.
"Yank...aku cinta padamu." bisik Adi.
"Aku tidak!!" sahutku. Adi tersenyum dan memelukku. Dia tidak pernah percaya kalau aku bilang tidak mencintainya.
"Aku serius sudah tidak mencintaimu, semenjak kamu selingkuh cintaku sudah mati. Apalagi waktu Ulang Tahunku kamu tidak nongol. Aku tambah tidak cinta lagi."
"Yang membawa coklat putih siapa? Walaupun aku tidak datang tapi wujud cintaku datang berbentuk coklat putih." kata Adi membuat aku mengingat. Rupanya dia yang membawa, aku kira siapa. Oh...aku jadi malu.
"Itu kamu yang bawa, kalau tidak salah coklatnya sudah aku buang." sahutku cepat.
"Aku kira kamu bawa ke Hotel dan membagikan kepada teman-temanmu."
"Koq tahu!!" sahutku spontan.
"Kelihatan dari CCTV."
"Kamu mema-matai aku ya. Siapa kira-kira menjadi spionasemu ya."
"Tidak ada. Kalau sudah cinta apapun di perbuat pacar kita, pasti bakal tahu."
"Seperti kamu selingkuh gitu?" sahutku cepat. Kembali mengingat cewek brengsek itu. Adi tersenyum dan mendaratkan ciuman manis di saat matahari perlahan masuk ke perut Bumi. Begitu indah dan mempesona.
*****
__ADS_1