QIRRERA LOVE YOU

QIRRERA LOVE YOU
AKU PASRAH


__ADS_3

Sepertinya kebahagiaan ini menjalar ke seluruh syarafku membuat aku selalu tersenyum. Hidupku akan berubah seratus delapan puluh derajat setelah menjadi Nyonya Dheo, status yang banyak di idam- idamkan oleh gadis dari warga.


Setelah sekian lama mengalami prustasi dan penderitaan panjang, kini aku mulai bangkit menyambut hari-hariku. Cintaku tidaklah sebesar saat aku mencintai Andre, tapi aku yakin lambat laun aku skan mampu mencintai Dheo seutuhnya.


Pulang dari Hotel sudah sore, aku memanfaatkan waktu sedikit ini utuk berendam di bathtub jacuzzi, aku ingin relaxasi setelah seharian di Hotel. Air yang hangat serta tekanan air dari sisi bhathtub membuat punggungku terasa dipijit.


"Nona, ada Nyonya Maya di balkon." kata Bibik Inah menghampiriku.


"Sama siapa dia Bik?"


"Sendirian.... " jawab Bibik.


Aku menyudahi acara berendamku, padahal belum puas. Tidak biasanya kak Maya datang pada jam segini, tentu ini jam sibuk bagi Ibu rumah tangga.


Dengan buru-buru aku berganti pakaian dan menemui kak Maya. Aku melihat wajah kak Maya kusut seolah habis menangis.


"Ada apa kak?" tanyaku tidak enak hati.


"Qi...sebaiknya kamu kembali ketempat persembunyianmu untuk sementara waktu. Tadi kakak di cari ke Hotel oleh Mama dan Papanya Anisa."


"Ada apa kak, apa yang mereka katakan." suaraku mulai bergetar, firasatku tidak enak.


"Anisa kanker rahim, mereka bercerita tentang masa remaja Dheo di luar negeri. Pergaulan bebas dan kehamilan diluar nikah."


"Dheo telah bercerita, bagiku itu masa lalu yang Dheo telah lupakan dan aku memakluminya, walaupun pertama kali mendengar cerita Dheo aku marah dan merasa tertipu. Aku cepat berpikir waras dan menerima cintanya. Tapi apa hubungannya penyakit Anisa dengan Dheo."


"Mereka mengatakan Dheo yang menyebabkan Anisa kanker. Kata mereka bayi yang dikandung Anisa keguguran setelah Dheo tidak mau bertanggung jawab."


"Bukankah Anisa menikah dengan orang lain setelah Dheo pergi?"


"Kakak sarankan kepadamu sebelum kamu melangkah lebih jauh tolong pikirkan. Anisa dan Dheo bersepupu dan satu marga wansa, sedangkan kamu sudah dikeluarkan dari warga. Tentu yang menang Anisa, karena selama ini warga dan tetua sudah tahu hubungan mereka."


Pikiranku jadi buntu, begitu cepat kebahagiaan menguap dari ragaku. Tidak seharusnya aku memberi kesempatan pada Dheo. Aku sangat bodoh.


Tanpa terasa aku menyentuh perutku, jangan-jangan aku hamil. pikirku. Keringat dingin langsung membasahi wajahku. Aku juga ingat ancaman Dheo yang akan menyebarkan foto vulgarku.

__ADS_1


"Pikirkanlah matang-matang, mereka sengaja tidak kerumahmu untuk memberitahu masalah ini, karena kamu keras dan prontal."


"Apakah kakak percaya cerita mereka?" tanyaku bimbang. Aku berharap kak Maya mengurungkan niatnya "mengusir" aku dari Bali. Aku takut berterus terang.


"Walaupun kakak meragukan, apakah kamu tega merebut pacarnya sedangkan dia dalam keadaan sakit yang mematikan. Jika kandungannya diangkat, tentu dia sulit punya anak. Siapa yang mau dengan Anisa? pikirkanlah itu."


Aku terhenyak, tulang-tulangku terasa lepas dari tubuhku. Seketika air mataku menganak sungai, kesedihan yang dalam melanda diriku. Aku terjatuh lagi.....


"Sebagai keluarga ningrat yang beradab dan dermawan, kakak sarankan supaya kamu membuang egomu dan melepaskan Dheo. Dia bukan milikmu...."


Lama aku terdiam, kakak ke kamar ntah apa yang dilakukan, tiba-tiba dia sudah menggeret koperku.


"Sebenarnya tidak perlu koper ini, yang penting bawa ponsel, semua bisa di beli, uang ada di ponsel." kata kakakku seolah pada diri sendiri.


Memang benar kata kakak semua uang ada di satu ponsel karena uangku ada di Bank skuritas. Kapan butuh aku tinggal tarik. Jadi aku tidak perlu repot-repot membawa barang.


"Ayolah...." ajak kak Maya menarik tanganku. Aku terpaksa bangun mengikuti kak Maya turun lewat lift supaya Bibik tidak tahu kepergianku.


Keluar dari lift aku sudah berada di garasi, kak Maya menggiringku ke Mobilnya, kemudian dia kembali ke dalam untuk pamit dengan Bibik. Ada saja ulahnya.


"Qi...nanti kalau kamu sampai disana aku akan mengirim bukti dari Anisa yang menjalani Biopsi, ada keterangan dari Dokter. Aku juga akan mengirim rekaman pembicaraan kami sebagai bukti kalau nanti keluarga Dheo menyalahkanmu. Jangan khawatir semua sudah kakak pikirkan."


"Oke kak....." jawabku pendek. Tidak ada yang bisa kulakukan kecuali mengikuti kemauan kak Maya.


Aku tidak tahu perasaanku saat ini yang jelas aku sangat sedih. Sampai di Bandara aku turun dari mobil dengan lesu. Aku akan pergi meninggalkan Bali. Rasanya aku menjadi pengecut kabur dari masalah. Biasanya pantang aku melakukan hal seperti ini. Aku akan pergi setelah masalah yang aku hadapi tuntas.


"Bagaimana dengan orang tua Dheo, aku sudah berjanji menjadi istri Dheo. Mereka pasti akan marah ketika tahu aku lari dari Bali."


"Itu tanggung jawab kakak. Semuanya akan kakak beberkan seandainya mereka datang padaku. Pergilah...." kata kak Maya tegas.


Tidak urung air mata Maya wansa menetes jatuh. Dia menyesal telat menyelidiki siapa Dheo Dewanto sebenarnya. Syukur masih ada waktu menghindar dari pernikahan. Perasaannya sedih melihat penderitaan Qirrera yang tidak ada habis-habisnya.


****


Lebih baik menjauh kalau harapan sudah sirna. Menata hidup kembali dari nol demi masa depan, selalu berharap suatu hari nanti kebahagiaan datang menjelang. Keinginanku tidak muluk-muluk, aku ingin seseorang yang bisa aku ajak sharing, mau mengerti tentang kesibukanku yang super padat.

__ADS_1


"Sudah sampai Nona..." kata sopir Taxi sopan menghentikan mobilnya.


"Ya Pak trimakasih." sahutku sambil membayar Taxi.


Aku turun dari Taxi tepat di depan rumah. Untung aku membawa kunci serep, rumah sepi sekali, Bibik pasti tidak ada.


Aku memang tidak memberi kabar kepada kedua PRT ku bahwa aku akan datang. Tentu mereka ke rumahnya karena disini tidak ada aku.


Aku naik ke lantai atas langsung menaruh koper di kamar. Setelah itu aku keluar menuju balkon. Sepi sekali. pikirku. Aku duduk menyendiri di balkon mengingat kejadian demi kejadian pasca aku pulang ke Bali. Seandainya Mama Evelyn mau tinggal denganku disini mungkin aku akan menetap disini.


Aku menyandarkan punggungku di sofa sambil mendengar indahnya lantunan tilawah dari tetanggaku. Sungguh merasuk jiwa, aku mencoba menikmatinya.


Perlahan air mataku bergulir jatuh, aku selalu menangis setiap mendengar suara indah itu. Aku tidak mengerti artinya dan kenapa aku selalu menangis. Aku merasa terpuruk, seperti butiran debu yang tertiup angin, hancur tak bermakna.


Perlahan aku bangun menengok ke rumah tetangga sebelah, mereka sudah selesai sholat dan kembali berada di luar kamar membersihkan sayuran. Aku menyeka air mataku dan mengatur nafas.


Mungkin tidak ethis kalau bertamu malam-malam begini, tapi langkahku tidak surut untuk bisa bertemu dengan mereka. Aku keluar dari pintu gerbang dengan menenteng bungkusan kecil camilan, oleh-oleh ini aku beli di Bandara.


"Permisi Bu...selamat malam....." aku asal nyelonong masuk karena tidak ada pintu gerbang. Pagar rumahnya dari pohon hidup, sangat berantakan. Halamannya luas dan rumahnya menyempil di pojok.


"Selamat malam...." sahut Ibu tua itu memandangku. Mereka heran melihat kedatanganku.


"Maaf mbak mau cari siapa ya?" tanya pemuda itu curiga.


"Saya tetangga sebelah, nama saya Qirrera, sudah lama ingin bertemu dengan Ibu disini tapi baru sempat datang. Maaf saya mengganggu." kataku sambil menyodorkan tanganku.


"Panggil saya Mas Semeru dan ini Ibu saya Poniyem." kata pemuda itu mengacuhkan uluran tanganku. Brengsek banget ni orang tidak mau bersalaman. bathinku. Aku menarik tanganku cepat. Dia pikir tanganku ada virusnya.


"Tidak apa Nona, silahkan duduk...tapi saya tidak punya apapun untuk menjamu Nona." katanya ketus.


"Tidak apa-apa Mas, ini saya membawa camilan untuk kalian." sahutku memberi bungkusan kepada Ibunya.


"Trimakasih Non semoga berkah." kata Ibunya tersenyum.


Dalam keremangan malam aku melihat mata tua itu seolah menahan kesedihan. Ntahlah.... aku tidak mau berasumsi. Ada rasa iba dihatiku. Setua ini Mas Semeru masih mengajak Ibunya bekerja. Kenapa bukan dia sendiri yang mengerjakan?.

__ADS_1


****


__ADS_2