
Dampak dari kakiku yang dijahit adalah terkurungnya diriku di sebuah kamar 4x5 bersama Andre. Dia memaksa merawatku karena aku belum bisa berjalan dengan baik. Andre merogoh koceknya untuk pindah ketempat kost yang baru.
Satu setengah juta perbulan, harga yang standard. Satu tempat tidur, Almari dan AC. kamar mandi dalam dan bebas Wifi.
"Trimakasih kamu mau merawatku, jangan berpikir setelah merawatku kamu aku gaji. Tidak ada upah atau perselingkuhan. Aku tidak mau selingkuh denganmu." kataku sambil makan salad yang tadi dia beli.
"Tidak apa-apa aku tidak butuh uangmu, aku bisa jadi kuli bangunan atau tukang parkir." sahut Andre mengambil ponselku.
Aku terdiam, rasa kasihan meliputi hatiku. Sebenarnya aku tidak tega memakai uangnya, aku cuma sengaja mengujinya, ada rasa ingin tahu apakah Andre tulus mencintaiku atau karena aku orang kaya.
"Ponselmu boleh di pinjam tidak?" tanya Andre menatapku.
"Untuk apa? untuk lihat bodyku yang sexy? atau untuk menghubungi gundikmu."
"Tidak perlu fotomu lagi, orangnya sudah ada sekamar denganku. Tinggal bajunya dibuka dan hemmm......" katanya genit.
"Jangan aneh-aneh kalau masih ingin melihat Matahari esok." ancamku serius.
Dia mengambil ponsel Mamaku dan membalas WA dan membaca pesan-pesan. Dari dulu dia senang membaca pesan orang dan membalasnya.
"Kamu sama orang lain bisa, apa bedanya denganku?" katanya tiba-tiba.
"Karena kamu bukan orang lain, kamu adalah perawatku yang tidak mendapat gaji."
"Tidak apa-apa, bius kakimu masih bekerja. Sebentar lagi kamu akan memelukku kalau rasa sakit itu sudah menderamu."
"Amit-amit!! aku jijik bekas gundikmu. Ueekkk...... aku muntah permanen."
"Yank siapa Om Sugama?" tanya Andre melotot padaku. Aku melihat wajahnya memerah. Aku tidak mengerti kenapa dia begitu.
Ada alasan kuat kenapa Andre marah. Rupanya dia membaca pesan mesra di ponsel Qirrera. Ini pesan mesra itu,
"Om aku sudah sampai di Clarke Quay, jangan lupa menyusul. aku meja nomer dua puluh." tulis Qirrera.
"Okay sayang sebentar lagi Om nyampai." balas Om Sugama.
Mata Andre memerah. Rupanya ini yang mengajak Qirrera ke Singapore. bathinnya. Dia sebenarnya tidak percaya, tapi bukti digital sudah menjadikan Andre terpukul.
"Om Sugama yang menyayangiku. Dia adalah orang yang bijaksana, tidak menghinaku, aku sayang padanya." sahutku sedih mengingat saat ini Om dan Tante Wilda tidak menghubungiku lagi.
"Aku tidak senang dengan tingkahmu akhir-akhir ini. Hormati dirimu kalau ingin di hormati orang lain. Jangan salahkan orang mengatakan kamu janda genit."
__ADS_1
"Orang iri tanda tak mampu, seperti gundikmu. Dia terlalu iri padaku, jadi tiap ketemu mulutnya selalu menghinaku. Katakan padanya sekali lagi dia berani padaku, mulut monyongnya aku solder." sahutku berapi-api.
"Makanya tingkahmu perbaiki supaya mulut orang diam."
"Maksudmu apa? jangan mengajari bebek berenang. Aku tidak level dengan gundikmu. Kamu boleh bela dia sampai mati, aku tidak peduli. Dasar play boy!!. Aku mau pindah kamar, cariin aku kamar yang lain."
"Tutup mulutmu, kamu perempuan kaku yang tidak bisa dikasitahu. Jangan sombong jadi orang."
"Sifatku memang jelek, gundikmu baru bagus sifatnya. Pergi dah kamu kesana." sahutku kesal. Dengan kasar aku beringsut ketembok sambil memeluk bantal. Aku berusaha memiringkan badanku supaya menghadap tembok. Kakiku mulai sakit berdenyut. Tanpa sadar aku meringis.
Andre diam tidak bersuara, mungkin malas dia meladeniku. Akupun juga diam menahan sakit hati dan sakit kaki. Rasanya perihhh....
"Makan siang dulu setelah itu minum obat." suara Andre tenang membuat aku menoleh. Wajahnya tetap mengerucut pertanda dia masih marah. Rasanya ingin tidak peduli dan langsung tidur, tapi sakit kakiku luar biasa.
Aku berusaha bangun tanpa bantuan dia, tangannya yang mencoba membantu aku cepat aku tepiskan. Aku harus bisa sendiri tanpa pertolongannya. Walaupun menahan sakit tapi aku bisa. Sakitnya sampai ke ubun-ubun membuat air mataku menetes.
"Perlu dibantu tidak?" tanya Andre menatapku.
"Tidak usah pergi kamu dari hadapanku." sahutku kenceng.
"Yang pergi harusnya kamu, ini tempat kostku. Aku yang sewa."
"0wh...jadi kamu tidak iklas, aku akan bayar semua apa yang telah kamu berikan padaku. Ternyata kamu mendekatiku karena hartaku." sahutku dengan suara bergetar. Selera makanku lenyap. Dengan menangis aku kembali merebahkan badanku.
"Tidak usah dekat denganku, aku jijik bekas gundikmu." sahutku berontak.
"Kalau Om Sugama bebas memelukmu." kata Andre mempererat pelukannya.
"Ya...karena dia tidak selingkuh sepertimu." sahutku asal.
Aku merasa aneh dia cemburu dengan Om Sugama. Kalau dia tahu kebenarannya mungkin mulutnya bisa diam. Tapi aku biarkan dia cemburu, gak ada ruginya juga.
"Kamu tahu apa yang akan aku lakukan selanjutnya. Kamu telah membangunkan macan tidur. Setiap tetes air matanya akan kamu balas dengan keperihan."
"Andre lepaskan aku, omonganmu tambah ngelantur. Air mata siapa? aku tidak peduli ocehanmu. Kakiku sakit, aku mau minum obat." kataku berusaha lepas dari pelukannya.
Dia seperti kerasukan setan menciumku kasar dan menyingkapkan dasterku. Aku sengaja memakai daster supaya tidak repot kalau mau mandi atau bergerak. Kakiku yang habis dijahit membuat gerakku terbatas.
"Andre kamu gila, disaat aku sakit kamu ingin berbuat jahat padaku?" kataku lirih.
"Tutup mulutmu perempuan jalang." bentaknya serius membuat aku kaget.
__ADS_1
"Apa salahku." sahutku menangis ketika dia mengambil gunting dan mulai mempreteli pakaianku dengan cara menggunting. Aku mau melawan tapi kakiku ngebet.
"Andre kakiku sakit ....sadarlah, kamu kenapa?" kataku menangis dan berusaha menutupi tubuhku.
"Dari dulu aku menjagamu dan sangat menghormatimu tapi perlakuanmu membuat aku sangat muak."
Andre berhenti melucuti pakaianku setelah melihat darah dikakiku. Mungkin karena aku berontak kakiku aktif bergerak dan jahitannya mengeluarkan darah.
"Hari ini aku akan memaafkan kamu, tapi kalau kamu masih berhubungan dengan Om Sugama aku akan mengambil tindakan."
Aku terdiam dan berusaha bangun. Andre menolongku bangun. Akhirnya dia yang sibuk mengganti dasterku, mengobatiku. Dia begitu telaten dan sangat perhatian, sayang dia bukan jodohku. Aku bagaikan butiran debu disepatunya, yang menunggu angin datang untuk terbang.
"Carikan aku kamar, kita tidak boleh tidur bersama. Tidak baik dilihat orang, lagipula aku dan kamu tidak mungkin bisa mengontrol diri." kataku sehabis minum obat. Dia menatapku dengan sinis.
"Apa aku harus ke Singapore supaya tidak dilihat orang. Atau kamu punya solusi lain yang lebih romantis?"
"Andre, kenapa kamu berpikiran buruk dengan Om Sugama. Dia sudah aku anggap orang tuaku. Kami saling menyayangi, aku harap kamu berhenti berpikiran buruk kepadanya dan kepadaku. Kami tidak ada melakukan hal yang tidak terpuji."
"Hemmm....." Andre cuma berdehem, tidak mau merespon ucapanku.
"Aku tidak akan mencari kamar, buat apa membuang uang. Disini tempat tidurnya besar, disamping itu kamu perlu pertolonganku. Nanti kalau kamu sudah sembuh silahkan pindah."
"Aku risih ada kamu disini, lagi pula kita selalu berantem. Aku ingin tenang, lebih baik kamu cari gundikmu."
"Kenapa risih? aku sudah hafal semua lekuk tubuhmu. Galeriku penuh dengan foto bugilmu, tapi jangan khawatir semua fotomu sudah aku hapus."
"Kalau kamu membuat masalah aku tidak segan-segan melaporkan kamu ke Polisi." bentakku marah.
"Handphoneku sudah kamu banting, sudah hancur. Semua sudah hilang."
"Nanti aku beliin ponsel, jangan kamu ulangi perbuatanmu itu. Kamu harus berpikir kalau ponselmu dicuri orang. Atau gundikmu yang mengambil, nama baik keluargaku akan hancur."
"Sorry...!!" sahut Andre pendek.
Walaupun Andre mengatakan fotoku sudah dihapus aku tetap ketar ketir. Ini menjadi beban pikiranku sepanjang hari. Aku menjadi gelisah dan tidak mood membuka laptop untuk mengontrol bisnisku.
Malam ini mataku tidak dapat terpejam, Andre dari sore sudah pergi. Dia mengatakan mau mencari kerja. Aku kasihan kepadanya, tapi mengingat kelakuannya aku terkadang emosi dan membencinya.
Seharusnya aku melepaskan dia dari pikiranku dan tidak memberi peluang untuknya. Aku merasa semenjak bertemu Andre lebih pendiam, seperti menanggung beban berat. Kalau ditanyakan dia selalu mengelak atau tidak menjawab. Aku tidak tahu harus bagaimana.
Sudah pukul 03.00 wita dini hari, Andre belum juga datang. Aku menjadi khawatir, untuk menghubunginya tentu tidak bisa karena ponselnya sudah aku banting.
__ADS_1
Akhirnya aku mengantuk dan berusaha memejamkan mata. Tidak ada gunanya menunggu atau berharap lebih padanya. Dia manusia bebas yang sulit ditebak. Tapi aku sangat mencintainya, masalahnya ada pada diriku. Seandainya aku bisa melupakannya dan membuang cintaku, pasti aku hidup lebih enjoy. Ini pelajaran yang berharga bagiku supaya aku lebih hati-hati memilih seorang lelaki.
*****