QIRRERA LOVE YOU

QIRRERA LOVE YOU
FITNAH


__ADS_3

"Berarti sudah lama kamu disini, anaknya siapa yang kamu latih?"


"Saya baru disini, belum ada seminggu. Saya melatih anaknya Mr. Rudy dan yang lain. Semua anak-anak disinilah."


"Kenapa Nona kembali bertanya kepada saya, bukankah Tuan Andre sudah izin. Saya sudah membayar kepada Tuan Andre persen yang dia minta. Di sini saya mendapat bayaran sembilan juta perbulan, karena mengajari sembilan anak dari enam Villa. Jadi saya membayar dua juta perbulan kepada Nona. Uang itu saya titip kepada Tuan Andre. Ada bukti pembayaran sebagai bukti telah lunas." jelasnya panjang lebar.


Badanku gemetar menahan marah, aku merasa dibodohin selama ini. Andre juga sering pura-pura miskin supaya aku mau membayar apa yang dibutuhkan. Sungguh aku tidak menyangka sifatnya sangat hina.


"Dimana kamu kenal Tuan Andre?" tanyaku ingin tahu.


"Dia CEO Supercar Bali Wish, semua juga kenal padanya. Dia aktif di beberapa organisasi otomotif, kita memang tidak begitu dekat tapi sering bertemu."


"Kapan kalian bertemu lagi?"


"Kurang tahu, apa ada masalah?" tanyanya heran.


"Oh tidak, ingin tahu saja." sahutku.


"Saya kira Nona ada penting dengan saya, ternyata cuma membicarakan orang lain." katanya kecewa.


"Maaf...jika kamu merasa terganggu. Trimakasih atas penjelasanmu." aku cepat berbalik dan menuju mobil.


Sebelum aku melangkah tanganku sudah ditarik oleh Alex dan aku sudah ada di pelukannya. Aku terkesima sesat, setelah itu badan Alex sudah terhuyung ketika siku tanganku menyikut dadanya.


"Dasar brengsek!!, enyah kau dari sini." bentakku marah. Kegusaranku kepada Andre seolah mendapat pelampiasan.


"Arrgghhh......" Alex terhuyung memegang dadanya. Lagi sekali kakiku melayang dan tepat mengenai pinggangnya.


"Go too hell.." teriakku.


Aku kemudian pergi meninggalkan dia tergeletak kesakitan. Rasa marah yang menyerang otakku, membuat laju mobilku seperti terbang. Untung penghuni Villa sepi. Aku cepat sadar ketika melihat Bibik dari jauh. Aku memperlambat jalan mobil dan memarkir mobil sembarangan.


"Nona, ada tamu." kata Bik Inah datang tergesa-gesa.


"Siapa Bik, Bule apa orang Indo?" tanyaku.


"Orang pribumi." sahut Bik Inah.


Aku langsung ke ruang tamu. Seorang Ibu dan pemuda duduk di sofa dengan wajah kacau. Mata pemuda itu memandangku dengan sorot mata membunuh


"Maaf, Ibu siapa ya?" tanyaku mendekat. Ibu itu serentak bangun.


"Kau memang tidak mengenal aku, tapi suamiku mengenalmu." sahut wanita itu dengan suara bergetar, nafasnya terengah menahan marah.


"Maksud Ibu apa ya, silahkan duduk kembali, kita bicara baik-baik."

__ADS_1


"Perempuan genit, katakan dengan jujur berapa tahun kamu sudah menjadi gundik ayahku." Pemuda tampan yang duduk di sofa ikut berdiri dan memaki diriku.


Perkataannya tajam menusuk hati. Aku menoleh padanya dengan sinis. Rasanya tanganku sudah gatal ingin memukul mulut pemuda itu yang membawa fitnahan keji.


"Saya tidak mengerti maksud ibu, duduk dan berbicara yang tenang. Hati-hati berbicara, supaya Ibu tidak menyesal belakangan." kataku berusaha tenang.


"Lihatlah ini, bisakah kamu mengelak dari tuduhan kami. Foto ini sudah tersebar luas di sosmed, warga sudah sepakat akan membakarmu hidup-hidup." kata pemuda itu nembuat aku tercengang.


"Hemm....siapa yang mau dibakar?, belajarlah berbicara yang baik. Rupanya anda berdua bukan orang baik. Silahkan keluar dari runah saya, pintu terbuka untuk anda."


"Apa mulutmu bisa berkoar kalau melihat ini. Mengakulah segera!!" kata pemuda itu mengambil ponselnya.


Dia memegang ponselnya memperlihatkan sebuah gambar diriku yang dipeluk dari belakang oleh Bapak Wedakarna. Seketika aku ingat dengan Ibu Dilla dan Natalia, ini pasti perbuatan Natalia dengan Ibunya. pikirku.


Aku memaklumi Ibu dan anak Pak Weda mengamuk. Mereka berdua pasti mengira aku dan Pak Wedakarna punya hubungan negatif kalau melihat dari foto. Dalam foto itu terlihat kain yang aku kenakan ketarik ke atas, sehingga memperlihatkan paha mulusku. Sedangkan kedua tangan Bapak Weda memeluk kencang diriku dari belakang. Adegan yang mesra.


"Duduklah dulu saya akan jelaskan semuanya." kataku berusaha tetap sabar.


"Kami tidak sudi duduk dan mendengar penjelasanmu. Tinggalkan suamiku kalau kau ingin selamat. Aku tidak akan segan-segan menyewa pembunuh bayaran untuk mengirimmu ke neraka." ancam Ibu itu sadis.


"Asalmu dari lumpur dan kembalilah ke lumpur, semua kemewahanmu adalah hasil jerih payah kami. Ternyata selama ini kau mengeruk harta kami untuk hidup mewah."


"Belajarlah berbicara sopan, kalian berdua tidak punya attitude, pantaslah Bapak Weda berbuat aneh-aneh, karena istri dan anaknya seperti orang tidak sekolahan."


"Kurang ajar!! berani kau menghina Ibuku." pemuda itu meloncat memukulku. Aku cepat menghindar.


"Tenanglah, saya akan menjelaskan semuanya. Kalian sudah terkena hasutan." sahutku kencang sambil menepis Vas bunga yang melayang.


"Tutup mulutmu, aku tidak puas sebelum membuatmu hancur." pekik pemuda itu kesetanan. Semua benda antik yang berada di ruang tamu dia lemparkan ke badanku. Aku menjadi sasaran kemarahan dua orang itu.


"Berhentilah!! kalian menyakiti Nonaku..." aku masih bisa mendengar teriakan Bibik sebelum kesadaranku hilang.


Badanku oleng ketika tongkat bisbol mengenai punggungku. Seolah .tubuhku melayang ringan ke udara, melesat naik di terbangkan angin. Aku terjatuh tidak ingat apapun.


Keberingasan Istri dan anak Bapak Wedakarna lenyap melihat Qirrera jatuh tersungkur. Darah mengalir dari kepala Qirrera yang robek terkena pot antik.


****


Alex bangun perlahan, dia tidak marah kalau Qirrera menendangnya. Dia malah salut kepada gadis itu yang tidak gampang dijamah. Badannya memang terasa sangat sakit, tapi dia berusaha bangun dan berganti pakaian untuk pergi ke rumah Qirrera.


Tendangan gadis itu cukup membuat Alex meringis, sungguh Dia tidak mengangka bahwa Qirrera melawannya. Alex akan membalas atas perbuatan Qirrera. Untuk menjebak Qirrera dia akan pura-pura sakit dan menyesali perbuatannya.


Kemudian dia akan merayu qirrera dengan pesonanya. Biasanya gadis lain gampang sekali jatuh kepelukannya, tapi Qirrera pengecualiannya. Pantas saja Andre sangat mencintainya. bathin Alex.


Dia menaiki mobil Hammersnya menuju rumah Qirrera. Jarak antara Villa dan rumah cukup jauh, kalau jalan kaki bîsa satu jam baru sampai, itupun kalau lari. Biasanya dia datang ke Villa lewat pintu gerbang Villa yang berada di sebelah Timur.

__ADS_1


Pemandangan ke rumah Qirrera sangat indah. Disepanjang jalan ada pohon bunga bougenvil berjejer rapi dengan kembang berwarna warni. Lamunannya terganggu ketika Bibik Inah berlari sambil menangis.


Alex cepat memarkir mobil, dia turun tergesa-gesa. Melihat Alex Bik Inah lari menemuinya.


"Tuan tolong Nona dalam keadaan pingsan."


"Apa? dimana dia?"


Pertanyaan Alex tidak perlu dijawab, Bibik berlari mengajak Alex ke ruang tamu.


"Manusia biadab, kalian bunuh Nonaku...." suara itu keluar dari mulut Bik Surti yang duduk menangis histris disebelah Qirrera.


Nyonya Wedakarna berdiri mematung melihat Qirrera jatuh tersungkur. Apalagi melihat Bibik yang menangis histeris mengatakan Qirrera sudah mati. Bayangan jeruji penjara membuat dia membuang tongkat bisbolnya.


Alex berlari ke ruang tamu, dia kaget melihat Qirrera tergeletak bersimbah darah.


"Apa yang kalian lakukan dengan Qirrera, aku tidak menyangka Tante berbuat begini." kata Alex kesal. Dia cepat mengangkat Qirrera dan membawanya keluar.


"Kamu mau bawa kemana dia?" tanya Dheo Dewanto menghadang Alex. Dia dan Mamanya seolah baru tersadar atas apa yang terjadi. Rasa takut mendera perasaan Dheo.


"Minggir!!. kau mau di penjara kalau dia meninggal, pikir dulu sebelum bertindak." bentak Alex marah.


"Alex aku mohon masalah ini cukup kita yang tahu, kasihan Mamaku."


"Diam mulutmu....." sahut Alex naik pitam. Dia menggendong Qirrera ke mobil. Bik Surti dan Bik Inah terus menangis, mereka berdua mengutuk perbuatan Nyonya There dan anaknya.


"Manusia biadab!!" gerutu Bik Surti mengambil ponselnya. Dia harus melapor ke Andre. Dengan tangan gemetar Bik Surti menghubungi Andre.8


"Hallo Tuan Andre, Nona Qirrera mendapat musibah."


"Apa? maksud Bibik, bicaralah yang jelas." sahut Andre diseberang sana.


"Nona Qirrera dibawa Tuan Alex ke rumah sakit dalam keadaan pingsan....."


Belum selesai Bibik bicara Andre sudah menutup ponselnya, dia berlari ke garasi dengan perasaan khawatir.


"Andre mau kemana?" Nyonya Wilda heran melihat Andre terburu-buru.


"Pergi sebentar Maa...." sahut Andre naik ke Mobil. Dia tidak peduli kepada sikap Mamanya yang melongo heran.


Pasca bertunangan dengan Natalia, Andre memang kerap menginap di rumah orang tuanya. Dia merasa tidak nyaman di rumahnya sendiri, karena Natalia dan Ibunya sering datang menginap.


Ketidak sukaan Andre kepada Natalia semakin memuncak, ketika Natalia membuat status whatsapp. Disitu terlihat Bapak Wedakarna memeluk Qirrera dari belakang. Fitnah keji ditujukan kepada Qirrera, Andre yakin kejadian itu tidak seperti pemikiran orang.


Semenjak SW itu bergulir, banyak warga yang ngerespon sinis dan menghujat Qirrera. Tapi tidak begitu dengan Papanya, dia marah dan pergi mencari Natalia.

__ADS_1


"Maa...sadarlah, Natalia sudah keterlaluan. Om Wedakarna seorang konglomerat dan sangat dihormati di warga kita. Aku yakin foto ini adalah rekayasa Natalia, kalau sampai Om Weda tahu, kita ikut hancur." keluh Andre tadi siang ketika Mamanya ikut terpancing dalam arus gosip.


*****


__ADS_2