
Nasib buruk memang selalu mengiringiku, itu seperti trademerk buatku. Hidupku dari lahir tidak dikenhendaki, sehingga selalu saja penderitaan berjalan sejajar dengan langkahku. Suka dan duka datangnya silih berganti. Kadang aku bertanya dalam hati kenapa orang lain hidupnya makmur padahal mereka malas sembahgyanang dag atau tidak pernah sedekah. Sedangkan aku paling rajin sembahyang dan sedekah, tapi terus saja ada cobaan.
Aku terpaksa mengurungkan niatku ke Bali, karena Bibik mengirim status whatsapp dari Natalia yang berisi caci maki kepadaku. Aku tahu pasti Dheo yang menyuruh. Sungguh di luar dugaan, di dalam SW itu aku seolah tertangkap basah duduk berdua dengan Andre.
Ya Tuhan....tabahkanlah hatiku, jauhkanlah cobaan ini. bisikku dalam hati. Sepanjang penerbangan dari Incheon–Seoul ke Bali aku meringkuk dibawah selimut. Aku sengaja memilih Business class supaya bisa istirahat tanpa gangguan.
"Maaf Nona, sebentar lagi pesawat akan landing, Nona bisa membersihkan diri dan dinner setelahnya. Kami menyarankan supaya Nona mengambil hak Nona." seorang Pramugari berkata sopan kepadaku.
"Trimakasih." sahutku pendek. Aku tidak berselera makan atau sekedar mandi. Hatiku sedih mengingat kejadian di Jeju dengan Natalia. Aku tidak memungkiri sakitnya hatiku mengingat Andre yang sudah menikah.
Matahari sudah hilang dari permukaan Bumi. Aku menggeret koperku dengan langkah lesu. Haruskah aku bertemu dengan Dheo yang mungkin masih berada di rumahku?.
Mood ku untuk pulang seketika lenyap, lebih baik menginap di Hotel. pikirku. Aku malas bertemu dengan orang-orang yang berhubungan dengan warga. Biarlah aku menetap disini dan sesekali mengontrol bisnisku.
Aku mengayunkan kakiku menuju tempat parkir untuk mencari Taxi. Suasana Bandara Radin Intan agak sepi dan udara sedikit dingin. Langkahku terhenti ketika koper yang aku geret terasa pindah tangan.
Dengan reflek badanku berputar dan tanganku terayun, tapi semua gerakanku sia-sia karena badanku cepat ditelikung dari belakang. Aku berontak, tapi sia-sia.
"Jangan bergerak Nona, kamu saat ini sudah menjadi sandraku." bisik Dheo mesra. Bau parfum Bvlgari menyergap hidungku.
"Dasar buaya, lepaskan aku sebelum aku berteriak."
"Oke...sayank, jangan main ancam." sahut Dheo melepaskanku. Dalam keremangan malam aku melihat wajah Dheo sedikit kaku. Tapi aku tidak peduli. Mungkin saja dia termakan hasutan Natalia yang berbisa.
Aku kehabisan kata-kata ketika pantatku sudah menyentuh jok mobil. Dheo merasa berada di atas angin, perlahan tapi pasti sepertiga jiwaku sudah berpihak kepada lelaki itu.
"Kita langsung pulang atau keliling Kota dulu. Aku yakin kamu belum sempat menjelajahi Bandar Lampung."
"Aku lelah ingin pulang dan tidur." sahutku tanpa menoleh. Mataku lurus ke depan menatap jalan di keremangan malam. Tidak tahu apa yang harus aku bicarakan, perasaanku sangat malu.
"Kamu pasti belum makan, bagaimana kalau kita dinner?"
"Aku sudah makan, trimakasih!!"
"Sayank....kenapa kamu ini, aku jauh-jauh datang dari Bali karena rindu, tapi kamu berubah kaku."
"Aku berubah karenamu, kamu yang membangunkan macan tidur. Aku ingin cepat sampai di rumah, supaya kamu tahu pembalasanku."
"Hemm.... hati-hati membalas dendam, aku takut anakku menyesal di kemudian hari karena punya Bapak cacad."
Kata-kata Dheo membuat mulutku bungkam, apakah aku akan hamil? selama ini aku tidak pernah mencatat tanggal berapa datang bulan. Pembalut wanita selalu tersedia di selipan tasku, aku tidak pernah khawatir. Lagi pula hidupku lurus tidak pernah masuk dalam pergaulan bebas.
__ADS_1
"Kenapa diam.... katakan sesuatu yang membuat calon suamimu senang."
Aku membuang muka, manusia ini terlalu percaya diri, apa dia tidak malu menatapku atau dia sering melakukan itu kepada gadis lain, sehingga urat malunya hilang.
"Aku tidak akan mau menikah denganmu walaupun aku hamil. Kamu penjahat yang memanfaatkan saat aku mabuk, tidak akan aku maafkan. Jika anakku lahir dia akan menjadi milikku."
"Begitu besar cintamu pada Andre sehingga kamu menutup mata padaku. Aku heran denganmu, Andre berbulan madu ke Korea bisa-bisanya kamu ikuti. Aku mengerti kenapa Natalia bisa marah padamu."
Perkataan Dheo sangat menusuk hatiku, tanganku gemetar. Air mataku seketika mengalir, dadsku sesak menahan marah.
"Turunkan aku disini!!" bentakku emosi.
"Kamu tidak ubahnya seperti yang lain, aku beruntung lebih awal tahu sifatmu yang busuk. Kalian semua hanya melihat sisi burukku, tidak ingin tahu kebenarannya." sambungku lagi.
"Ini mobil orang, aku rent car tadi. Kamu boleh pukul aku, tapi jangan mobilnya." kata Dheo tenang.
"Persetan denganmu!!" teriakku marah. Aku turun dan membanting pintu mobil. Dheo juga ikut turun dari mobil mengikutiku.
"Sekali-kali pakai akal sehat, aku tidak pernah percaya tentang omongan orang walaupun aku sangat cemburu. Aku tidak mungkin berada di depanmu sekarang ini, kalau aku tidak percaya padamu. Kamu sudah semakin dewasa, bisa membedakan mana orang yang benar mencintaimu dan mana yang tidak."
"Biarkan aku sendiri, aku ingin hidup di pulau ini. Jangan mencoba merayuku atau berusaha menikahiku, aku muak dengan kalian." sahutku disela-sela tangisku.
Aku tidak berani gegabah juga, banyak pemakai jalan melihat kearah kami. Ada beberapa pemuda datang mendekati kami.
"Ada apa ini, sudah malam jangan bikin ribut. Kalian tinggal dimana?" tanya pemuda pertama dengan wajah songong.
"Maaf Mas, kami suami istri. Mari sayank kita pulang." ajak Dheo menarik tanganku. Aku terpaksa menurut, takut juga dengan pemuda-pemuda itu.
"Kalau berantem di rumah saja jangan di jalanan."
"Trimakasih Mas." kata Dheo cepat.
Akhirnya aku diajak pulang. Rasa marah masih menyelimuti perasaanku ketika kami sudah sampai di rumah. Aku cepat turun dari mobil supaya Dheo tidak sempat membukakan aku pintu mobil. Tidak lupa aku membanting pintu mobil dengan suara berdebum. Bumm......
"Nona sudah datang, silahkan duduk di meja makan Bibik sudah menyiapkan makan malam untuk Nona." Maimunah menyambutku dengan sumbringah.
"Trimakasih Mai, dimana Bibik?" sahutku terpaksa duduk, aku tidak enak hati kalau menolak sajian Bibik.
"Tuan silahkan duduk, kami telah menyiapkan makanan." kembali Maimunah menawarkan masakannya.
Dheopun itu duduk dan semeja denganku. Yailahh... kami berhadapan, aku jadi jengah melihat wajahnya.
__ADS_1
"Kita makan saja supaya Bibik tidak kecewa, dia pasti sibuk masak untuk menjamu Nonanya." ucap Dheo pelan.
Kemudian dia membuka tudung saji, aku heran menunya istimewa banget, ada sayur trancam, tempe bacem, perkedel kentang, ayam bakar madu, ikan bakar pedas, pepes jamur, pepes tahu dan sup kacang merah. Ada sambel bajak, pokoknya lengkap seperti menu makan siang.
Aku terus memutar menu yang berada di meja putar dan meneliti makanan di atasnya. Tentu saja aku curiga terhadap makanan yang tersaji, semua ini makanan yang sering Bibik Inah sajikan di rumahku di Bali. Tapi penyajianya agak istimewa, seperti memesan di Restoran.
"Makanlah supaya cepat istirahat." kata Dheo mengambil piring.
"Aku tidak percaya Bibik yang masak, ini makanan dari Resto."
"Siapa tahu dulu Bibik dan Maimunah bekas kerja di Restoran, sehingga penataan makanannya diisi garnis." sahut Dheo.
Maimunah ke dapur mencari Bibik Zariatun dan berbisik,
"Sepertinya Nona curiga."
"Tidak apa-apa yang penting dia mau makan, kalau nanti dia bertanya bilang saja kita beli di Restoran dan Tuan yang memberi uang."
"Sepertinya Nona habis menangis, wajahnya kucel. Mungkin habis berantem sama Tuan."
"Mungkin Tuan cemburu karena Nona lama di Luar Negeri." sahut Bibik, mereka tertawa berdua.
"Bibik......." panggilan itu membuat mereka berdua kaget. Bibik Zariatun cepat keluar.
"Saya Nona....."
"Trimakasih Bik makanannya enak, besok aku minta dibikinin makanan khas lampung, jangan terlalu banyak" kataku tersenyum.
"Syukurlah Nona senang, besok saya akan buatkan Nona Seruit dengan sambal Tempoyak." sahut Bibik tersenyum.
"Trimakasih Bik, aku mau istirahat dulu. Ini ada oleh-oleh dari Korea untuk Bibik dan Maimunah."
"Trimakasih Nona." sahut Bibik senang. Maimunah juga terlihat kegirangan mendapat oleh-oleh berupa beberapa baju mahal dari Korea.
Hari ini sangat melelahkan, aku langsung menuju kamarku.
"Habis mandi aku ingin berbicara penting, semoga kamu bisa, waktukku terbatas." kata Dheo di belakangku.
"Ya..nanti tunggu aku di sini." kataku masuk kamar.
****
__ADS_1