QIRRERA LOVE YOU

QIRRERA LOVE YOU
KEPUTUSAN TERAKHIR


__ADS_3

Tidak ada yang lebih membuatku bahagia pagi ini karena aku telah datang bulan. Mulai sekarang aku akan mengingatnya dan melingkari dengan spidol tanggal 30 di Almanak.


Dheo pasti akan datang, dia menelponku dengan nomor baru berkali-kali. Aku sengaja memblokir nomornya, itu wujud marahku dan tidak ingin dihubungi lagi.


Ini hari kedua aku berada di rumah ini, aku berencana membuat ruang kerja di samping kamarku. Aku mau rubah ruang baca menjadi ruang kerja dengan peralatan canggih.


Aku juga akan membedakan laptop untuk main saham dan laptop kerja. Dari sini aku akan mengendalikan semua bisnisku.


Sebenarnya aku perlu asisten satu orang saja untuk berbelanja dan menjawab sms masuk lewat ponsel atau emailku. Aku bisa membayangkan kesibukanku kalau aku mulai membuka link.


"Maimunah kita akan mulai bekerja setelah sarapan. Tugasmu mengosongkan ruang baca, aku akan membeli beberapa barang, dan kita akan menatanya."


"Ya Nona, kalau ada barang bekas jangan dibuang, saya bisa bawa pulang."


"Mengapa harus bekas, kamu bisa pilih di Market place apa maumu. Tinggal pilih nanti aku yang bayar."


"Trimakasih Nona kapan-kapan sajalah, maksud saya barang bekas aja, mubazir kalau di buang. Semua masih bagus."


"Nanti aku pilihin, tolong katakan kepada Bibik pintu gerbang di buka. Aku banyak memesan barang, kalau barang datang orangnya suruh naik membawa barangnya."


"Ya Nona, tapi sekarang saatnya Nona sarapan. Bibik sudah menyiapkan juss kesukaan Nona."


"Mari kita turun." ajakku.


Aku memang gila kerja kadang lupa waktu dan makan. Untung ada Maimunah dan Bibik yang selalu mengingatkannya.


Saking asyiknya aku menata barang-barang, aku tidak menyadari kalau Dheo berada di antara kami. Ada beberapa penjual yang sengaja aku undang untuk membawa barangnya. Aku Cash On Delivery.


Melihat Dheo dadaku bergetar, aku marah merasa di permainkan. Dia menusukku dari belakang. Tapi aku berusaha tenang walau mataku menghujam jantungnya. Saat ini aku ingin mencekiknya dan menendangnya ke jalan raya.

__ADS_1


"Maaf, aku tidak tahu kamu datang, bagaimana khabarmu.?" tanyaku dengan senyum dipaksa.


"Aku dan Mama sudah menemui kak Maya. Dia mengatakan semuanya..."


"Mari Kita keruang tamu.... " kataku mengajak Dheo turun ke lantai bawah.


Ada terselip perasaan sedih ketika melihat wajah Dheo yang kucel. Aku yakin dia sangat terpukul dan tidak berpikir kalau Anisa membeberkan ulahnya. Anisa begitu licik dan pintar, dia memberitahu kak Maya, bukan langsung padaku. Dia tahu aku menurut kepada kak Maya.


Aku memilih tempat duduk agak berjauhan, aku tiba-tiba merasa asing.


"Aku kesini untuk meyakinkan dirimu, apa yang terjadi antara aku dan Anisa tidak sepenuhnya benar. Banyak cerita yang di plintir oleh Anisa. Dewasalah menerima masukan sebelum mengambil keputusan."


kata Dheo membuka percakapan, bicaranya terkesan hati-hati.


"Apakah Anisa benar kanker?" tanyaku berharap Dheo membantahnya. Tapi saat ini Dheo mengangguk. Aku tersenyum kecut. Tentu aku tidak tega menyakiti orang sakit, biarpun dia salah sekalipun.


"Aku anak haram yang membawa nama keluarga wansa, dalam segala masalah aku tidak boleh egois kalau perbuatan itu menyebabkan nama ningrat keluargaku tercoreng. Sudah aku pikirkan matang-matang dan keputusanku tetap berpisah denganmu." kataku tegas, walaupun hatiku merasa teriris.


"Aku sudah merasa kamu akan menjawab begitu, tapi hatiku tidak terima. Mandirilah, jangan selalu terkukung dan berpatokan dengan keluarga wansa. Kamu punya kehidupan sendiri dan masa depan sendiri." kata Dheo dengan suara tersendat.


"Banyak pertimbangan sehingga keputusan yang sulit ini aku ambil. Aku seorang donatur dari panti asuhan dan anak-anak cacat. Selama ini aku sangat mempercayai KARMA yaitu apa yang aku perbuat itu yang aku dapat. Tentu aku tidak ingin punya anak menjadi salah satu penghuni panti gara-gara karma buruk yang aku buat sekarang."


"Kamu tidak berbuat buruk kalau menikah denganku. Aku dan Anisa sudah lama putus, walaupun terkadang jalan berdua, tapi sebagai teman bukan sebagai pacar."


Aku tersenyum miring sambil mengedikkan bahuku. kemudian aku permisi untuk mengambil ponsel di kamarku. Dari ke lima ponselku, hanya ponsel ini yang tidak pernah aku sentuh karena berisi vidio 19 detik Dheo dan Anisa. Sebenarnya aku nggan membicarakan ini karena akan membuat darahku mendidih.


"Bukalah....setelah itu kamu boleh hapus, ini Anisa yang mengirim. Setelah kamu menonton, kamu boleh memilih pintu mana yang lebih cepat membuatmu keluar dari sini dan lenyap dari kehidupanku."


"Aku tidak mau membukanya, Vidio itu pasti waktu aku masih pacaran." elak Dheo panik. Keringat dingin keluar membasahi wajah ganteng itu. Aku tidak peduli.

__ADS_1


"Vidio itu dibuat ketika kita masih pacaran. Lihat tanggalnya. Mengaku kesalahan itu perbuatan mulia, aku selalu akan memaafkanmu sesering kamu menyakitiku Aku diam bukan tidak tahu, tapi aku mencoba mengerti, betapa hatimu tidak sepenuhnya untukku." sahutku setenang mungkin.


"Aku jujur sangat mencintaimu, tidak bisa aku bayangkan kalau kita beneran berpisah sungguh aku tidak bisa hidup tanpamu."


"Bulsit!!. ini pelajaran untukmu, kalau kamu ingin mencintaiku seutuhnya harusnya kamu tegas menolak ajakan Anisa, tapi kalau kamu menganggap aku hanya sebuah ke isengan, enyah kau dari sini. Aku lelah mengikuti permainanmu. Biarkan aku sendiri."


"Segampang itu kamu memutuskan hubungan kita setelah kita pernah bersatu. Aku tidak main-main dengan ancamanku, kamu seorang Owner dan seorang Selebgram, ingat itu."


Air mataku langsung bergulir, teganya dia mengancamku. Cinta apa yang dia punya. Aku benci padanya, sungguh muak.


"Aku sudah menstruasi hari ini, jika kamu ingin membuat keluargaku dan keluargamu malu tidak apa-apa. Akupun juga bisa memenjarakanmu dengan vidio mesummu dengan Anisa. Aku mengusirmu, enyahlah kau dari hadapanku."


"Tidak!! aku tidak akan pergi dari sini, lebih baik aku mati daripada pulang ke Bali tanpamu." katanya kekeh.


Aku berdiri dengan lesu, Dheo tiba-tiba memelukku sambil menangis. Aku tidak merespon apa yang dia lakukan. Lelah lahir bathin.


"Lepaskan aku, kamu jangan menangis disaat topengmu terbuka dan tersenyum dibalik kebodohanku. Nikmati apa yang kau tanam, memang sakit rasanya bila kepalsuanmu ditelanjangi, tapi dulu kamu enjoy menikmati hasratmu dibalik punggungku." kataku berontak dan mendorong tubuhnya.


"Teganya kamu berbuat begini padaku...." katanya lalu duduk di kursi.


"Jika kau menunggu aku berubah pikiran, itu tidak mungkin. Aku tetap akan memilih berpisah denganmu. Tenangkan pikiranmu aku akan melanjutkan pekerjaanku." kataku menuju lantai atas.


Aku menghapus air mata yang tidak bisa aku tahan lagi, langkahku menuju balkon. Dheo tidak mengikutiku, aku yakin dia menyesal atau melapor kepada Mamanya. Anak konglomerat semata wayang, pasti lebih manja dan keinginannya bisa dituruti, sayang sekali aku berhati keras dan jarang mengampuni lawanku.


Duduk di Balkon sambil mendengarkan lantunan suara indah musuhku yang berada di sebelah, membuat hatiku sedikit damai. Semeru lagi Sholat siang. Berarti sudah hampir jam dua belas.


****


SEMERU

__ADS_1



*****


__ADS_2