
"Saya kasihan kepada kalian yang lama menunggu. Kita akan mulai pembicaraan ini. Silahkan Pak Yoga mulai."
"Maaf Pak Sugama, kami kesini tanpa pemberitahuan dulu. Sebenarnya masalah ini sangat urgent, dimana hubungan Andre dan Natalia terancam bubar kalau tidak diselamatkan secepat mungkin." kata Pak Yoga serius.
"Seperti apa saja, mereka anak-anak muda yang sudah mengerti tanggung jawab. Kalau mereka saling mencinta tidak mungkin berselingkuh." sanggah Pak Sugama kurang setuju ide Pak Yoga yang memaksa kehendak.
"Tidak apa-apa juga Paa, menurut Natalia Andre kembali kecantol dengan janda genit yang dulu sudah pernah dikeluarkan Warga. Perempuan itu seperti memakai guna-guna." jelas Bu Wilda kepada Pak Sugama.
"Ya Om, janda itu nempel terus kepada Andre, waktu ini Andre membuang saya di jalan depan rumah demi mengejar janda itu. Selama ini saya mengalah dengan tingkah Andre yang semena-mena." sahut Natalia sedih.
"Pak Sugama harus mengerti penderitaan anak saya. Gara-gara tingkah Andre dan janda itu anak saya jadi prustasi." Bu Dilla ikut menimpali.
"Sebagai orang tuanya saya perlu tahu kebenaran masalah ini, bukan dari sebelah pihak saja. Saya yakin Andre bukanlah type orang yang senang menyakiti, kecuali dia tersakiti terlebih dahulu."
Perkataan Pak Sugama menusuk hati Natalia, dia merasa tersindir. Dulu dialah yang berselingkuh dan menyakiti hati Andre. Sejujurnya Natalia enjoy jalan bersama Jodi, pacarnya dari SMA. Jodi begitu perkasa di atas ranjang, apapun yang dia minta terpenuhi. Sayang Jodi tidak seganteng Andre dan tidak sekaya Andre.
Demi prestise dan masa depan Hotelnya yang belum lunas, Natalia mau dijodohi dengan Andre. Tidak rugi juga, dia juga senang kepada Andre dan ingin menjadi istrinya, toh Andre merasa hubungannya dengan Jodi sudah berakhir. Padahal dia dan Jodi masih eksis, walaupun dulu dia pernah tertangkap basah.
"Saya tidak berbohong Om, Andre sekarang berbeda tidak seperti dulu lagi."
"Maaf Pak Sugama saya sudah lancang, sebelum ke sini saya sudah melapor ke tetua bahwa pertunangan Andre dan Natalia akan diselenggarakan Minggu ini. Dan hari baiknya jatuh Rebo ini." kata Bu Dilla membuat Pak Sugama kaget.
"Bu Dilla terlalu lancang harusnya konsultasi dulu dengan kami, jangan mengambil tindakan sepihak. Saya dan Andre orang sibuk, kami tidak segampang itu melakukan acara pertunangan ini. Apalagi waktunya lagi empat hari." sahut Pak Sugama dengan wajah masam.
"Tetua juga mendesak kami, sehingga saya membuat keputusan sepihak. Bagaimana saya bisa menolak kehendak tetua, kalau Pak Sugama keberatan, saya tidak akan lepas tanggung jawab. Biarlah saya membayar setengah pengeluaran."
"Pak Yoga, ini bukan masalah uang. Saya butuh Catering, dan upacara yang seharusnya. kalau mendadak mereka juga tidak sanggup membuat secepat ini."
"Pak Sugama masalah ini sudah beres. Saya sudah memesan catering untuk lima ratus orang, dan segala yang diperlukan. Total biaya yang harus dibayar 200 juta, itu belum termasuk biaya pakaian dan cincin. Saya menganjurkan supaya Andre secepat mungkin membeli cincin pertunangan."
Bu Wilda dan Pak Sugama terhenyak, dia menatap istrinya geram. Semua masalah ini atas campur tangan istrinya yang tidak enakan sama Bu Dilla yang nota bene teman SMA nya. Ini jebakan maut yang menjurus pemerasan secara halus.
Uang dua ratus juta kecil bagi Pak Sugama, tapi cara keluarga Pak Yoga menggiring Andre untuk menjadi menantunya sangat licik. Ini baru 200 juta, besok lusa semua harta akan dia rampas. pikir Pak Sugama berat hati.
__ADS_1
Pantaslah Andre sering menolak kalau Istrinya berbicara tentang perjodohan ini, jangan-jangan Mc Larren yang Natalia miliki hasil memeras Andre. Pikiran Pak Sugama menjadi jahat. Walaupun Pak Yoga bisa mempunyai Hotel Weston, tapi Hotel itu belum jelas dan bisa saja Andre akan menjadi tumbal untuk membayarnya.
"Maafkan kami Pak Sugama dan Bu Wilda semua ini harus cepat dilakukan sebelum Andre mendahului menikahi janda itu. Kalau Andre sampai menikah dengan janda itu, Natalia seperti tebu, setelah manis sepah dibuang."
"Paa...ini sudah terlanjur kita harus mengikuti acara ini dengan benar, karena warga dan tetua adat sudah setuju dan memberi hari baik. Tidak ada alasan untuk mundur." sahut Bu Wilda merasa bersalah. Suaminya pasti sangat kesal.
"Kita adalah kaum ningrat, adat kita sangat ketat, kalau sampai mundur, tetua dan warga bisa mengeluarkan Bu Wilda dari Marga, seperti janda itu." kata Bu Dilla memperingati.
Dia merasa umpan sudah dimakan ikan, tinggal menarik kail, walaupun ikannya berontak, kalau sudah digoreng akan mati juga. Hidup perlu licik, kalau terlalu jujur kalah kompetisi. Ini zaman gila, dimana uang menjadi raja. bathin Bu Dilla. Rencana ini harus berjalan kalau ingin menjadi Crazy Rich.
"Mam..ambil cek papa, bayar 200 juta." perintah Pak Sugama ketus.
Dia ingin perbincangan ini cepat selesai, matanya sudah sepet melihat calon besannya. Semoga ada keajaiban yang bisa membuat perjodohan ini kandas. bathin Pak Sugama. Dia sangat berharap para tetua mau mempertimbangkan kembali usul dari Bu Dilla sekeluarga.
Bu Wilda bangun menuju kamarnya. Dia mengambil Cek dan menuliskan nominal yang dibutuhkan Bu Dilla. Orang cepat berubah, dulu Bu Dilla tidak sepicik ini tetapi mengapa sekarang dia sangat licik, seolah ingin menjerumuskan Andre dan merampok hartanya?
"Bu Dilla ini uang yang dibutuhkan, untuk cincin pertunangan biarkan Andre yang memilih, saya dalam hal ini tidak ikut campur." kata Bu Wilda menyodorkan Cek.
"Terserah kalian, saya rasa ini sudah selesai. Saya mau mandi dulu." kata Pak Sugama berdiri, dia keluar tanpa menunggu jawaban dari pihak Natalia.
Hatinya sudah sangat gondok dengan mereka. Dari pertama kali bertemu dia sudah tidak sreg dengan Natalia, istrinya waktu itu membawa Bu Dilla kerumah dengan kesombongan yang bombastis.
Selesai mandi dia berharap mereka sudah lenyap dari rumahnya. Pak Sugama keluar dari kamar mandi dengan wajah masih tegang. Dia mendapati istrinya duduk di pinggir pembaringan.
"Sudah hilang teman baikmu? besok apa lagi yang dia minta. Manusia tidak tahu malu." kata Pak Sugama geram.
"Sudahlah Paa...dia sudah capek mengurus semuanya, kita harus bertrimakasih kepada mereka." sahut Bu Wilda mencoba membela temannya.
"Kamu tidak bisa membedakan orang yang baik dan jahat. Jangan karena temanmu, kamu tutup mata akan tindakannya yang semena-mena. Tadi aku mau protes."
"Biarkan Andre menjadi anak yang bertanggung jawab, aku tidak ingin nama keluarga kita hancur gara-gara ulah Andre yang kepincut seorang janda. Biarpun Natalia lebay tapi dia bukan janda."
"Terserah kamu, atur saja dengan temanmu. Aku yakin sebentar lagi dia akan mengajukan kwitansi cincin pertunangan dengan harga fantastis." kata Pak Sugama kesal.
__ADS_1
"Aku akan menelpon dia supaya membeli cincin sederhana dulu dengan harga dibawah seratus juta." sahut Bu Wilda mengambil ponselnya.
Pak Sugama juga mengambil ponselnya dan menghubungi Qirrera.
"Hallo Om mengapa menghubungiku malam-malam?"
"Sayank...besok temui Om di Show Room, kamu akan menjadi Model Ikon terbaru dari Show Room."
"Ok. Om... nanti aku hubungi Crew pemotretan. Ada lagi Om?"
"Tidak ada...trimakasih sayank." hubungan telepon terputus.
"Kenapa diputus Paa...aku mau undang dia untuk hadir di pertunangan anak kita." kata Bu Wilda manyun.
"Nanti aja, dia harus menjadi model mobil yang terbaru ini. Aku melihat foto-fotonya di brand yang lain sangat menjual."
"Berapa biayanya?" tanya Bu Wilda ingin tahu.
"Qirrera bukan seperti gadis lain, dia tidak mungkin minta dibayar. Dia lebih kaya dari kita. Aku dengar dia rajin sedekah, dia menjadi donatur di empat panti. Aku sungguh kagum akan sepak terjangnya."
"Mungkin karena dia rajin sedekah rejekinya terus mengalir. Setiap Artis Luar Negeri menginap di Hotelnya. Dia melepas Suite Room semalam tiga puluh lima juta dan anehnya Hotelnya selalu Full, sampai Hotel keluarganya mendapat imbasan rejeki."
"Kita angkat dia sebagai.anak kedua."
" Hahaha...mana mungkin, saudaranya tidak mungkin setuju. Baru kaya kita angkat, coba kere kita tidak peduli." sahut Pak Sugama tertawa. Istrinya ikut tertawa.
"Benar juga, aku tidak mengenal ketiga saudaranya. Kata orang mereka dermawan dan berkharisma."
"Kapan-kapan kita sowan ke rumah Bu Capela. Kita sekalian menjenguknya. Kata Qirrera Ibunya berada di rumah kakak lelakinya."
Bu Wilda mengangguk, dia lalu mengajak suaminya makan malam. Mereka keluar dari kamar untuk makan malam yang terlambat. Perut mereka sudah keroncongan. Mereka berusaha menepis pikiran jelek tentang keluarga Natalia. Bagi Bu Wilda ini sebuah pelajaran supaya lebih berhati-hati dalam pertemanan.
****
__ADS_1