QIRRERA LOVE YOU

QIRRERA LOVE YOU
PACAR BARU


__ADS_3

Walaupun merasa terhina aku tidak peduli, semua praduga Semeru salah. Aku bukan munafik tapi tidak serendah itu. Masa remajaku lurus tidak pernah tergilas oleh pergaulan bebas. Jadi kalau Semeru menghinaku habis-habisan aku berhak marah dengan caraku.


Waktu di Tarakan aku sempat rindu dengan suara Semeru yang sedang mengaji, bukan rindu dengan orangnya lho, sungguh!!. Sekarang aku kembali mendengar dia mengaji, hatiku bergetar melayang, suaranya sangat syahdu nyaris seperti rintihan dalam penderitaan panjang. Aku jadi sedih...


"Nona makanlah ke bawah, saya sarankan supaya Nona bersabar menghadapi Tuan Semeru." kata Bibik yang dari tadi ikut duduk disampingku di balkon.


"Aku tidak selera makan, kata-kata Semeru menyakiti hatiku. Rasanya aku ingin mencekiknya."


"Tuan Semeru memang lebih senang dengan gadis soleha, sopan santun dan seimam."


"Aku tidak peduli dengan dia. Aķu akan membuatnya lebih membenciku." kataku berdiri.


Perlahan aku mulai mengintip ke bawah. Darahku kembali mendidih 100 derajat celsius. Aku melihat oleh-oleh yang dibawa Maimunah sudah berada di atas tampah. Sungguh biadad!!.


"Maimunah ambilin aku celana jean yang super pendek yang robek dan baju tank top ketat, aku ingin memperlihatkan pusarku." teriakku membuat Maimunah berlari ke atas menemuiku.


"Ada apa Non.. jangan membuat saya jantungan." kata Maimunah ngos-ngosan.


"Aku mau perang." sahutku menyuruhnya ke ruangan fashionku mengambil pakaian yang aku inginkan.


"Yaelah Non..istighfar..." kata Bibik khawatir melihat tingkahku yang aneh. Mungkin dia berpikir aku gadis psychopath terserahlah.


"Tenang Bik...kalau tidak dikasi pelajaran dia ngelunjak." sahutku berganti pakaian.


"Astagaa Non..ini sangat seronok, Nona bisa di cap gadis acakabut." kata Maimunah melotot melihat penampilanku.


"Aku ingin dia mati berdiri melihatku, aku akan bersyukur kalau dia tambah membeciku."


Aku mengenyampingkan pikiran Bibik dan Maimunah, kini aku melangkah lebar dengan pakaian kurang bahan dan sepatu kets. Semangat.


Sampai di rumah Semeru aku langsung memasukan semua oleh-oleh ke tas yang aku bawa dan aku menendang tampahnya. Aku tahu di dalam kamar ada Semeru karena tadi dia sholat.


BRAKK!! kaki kiriku menendang pintunya. Kulihat Semeru sedang duduk di kursi kayu masih memakai sarung.


"Hemm...apalagi aksimu, aku tidak sebodoh laki-laki lain yang tenggelam dengan rayuanmu atau berbinar melihat dandanmu yang aneh. Pergilah sebelum emosiku merajalela." kata Semeru tenang.


"Aku memang memamerkan diriku yang sexy dan cantik. Selama ini semua lelaki normal menggilaiku, kecuali lelaki "gay" Aku juga menjual pesonaku sampai aku menjadi kaya raya." kataku sambil berlenggak lenggok didepannya.

__ADS_1


"Kamu gila." kata Semeru berulang kali.


"Aku memang menggilai lelaki yang berduit maaf sekali orang miskin sepertimu "lewat" dan jangan mimpi bisa menyentuh rambutku apalagi tubuhku yang sexy ini."


"Aku tahu kamulah calon penghuni kerak Neraka selanjutnya." katanya berdiri.


Kakiku cepat melayang menendangnya, tanganku juga memukulnya. Ini pelampiasan sakit hatiku. Dia berkelit, aku terus memburunya. Aku mengamuk memecahkan beberapa barang yang ada di sana.


"Berhenti dasar perempuan murahan...." teriaknya membuatku berhenti memukulinya.


Aku bersandar di tembok dengan nafas memburu. Aku menangis.


"Aku memang tidak soleha, najis, tidak beriman dan murahan. Tapi apa pedulimu?, jangan datang ke rumahku. Kita asing, akupun akan pergi....." kataku menghapus air mataku.


Semeru berdiri kaku melihatku, aku tadi banyak memukulnya dan dia juga sempat menamparku saat aku menggigitnya. sudut bibirku berdarah. Kami bergulat saling menggigit. Aku rasa kami impas.


Aku membuka pintu dan keluar sambil menenteng oleh-oleh. Telingaku mendengar teriakannya dan suara barang pecah. I do not care. aku terus berjalan tanpa menoleh, cukup sudah.


*****


Kini aku lebih menyibukan diri dalam pekerjaan. Setiap hari aku ingin mengintip ke rumah Semeru, tapi perasaan itu aku urungkan. Gengsiku terlalu tinggi, dibelipun aku tidak jual.


"Semenjak Nona berantem dengan Tuan Semeru, saya tidak pernah melihatnya lagi. Saya iseng lewat, rumahnya sepi. Seperti dia sudah pindah." kata Bibik ketika kami lagi bersantai di teras depan.


Pandanganku kosong ke depan. Ada rasa sepi dihatiku. Aku tidak menyesal apa yang aku lakukan padanya, tapi aku menyesal ketika tangannya menamparku. Saat aku memukulnya dan menggigitnya aku lakukan tidak sepenuh hati. Aku hanya ingin menggertaknya supaya aku tidak terlihat lemah. Tapi dia malah memukulku.


"Saya jadi ikut kesal dengan Tuan Semeru yang membuat bibir Nona terluka." kata Maimunah.


"Dia tidak bersalah, akulah yang salah telah mengganggu kehidupannya dengan cara mendatangi rumahnya untuk pertama kalinya. Dari dulu mereka disini belum pernah bermasalah, tapi ketika aku datang masalah itu timbul." sahutku pelan.


"Kita tidak tahu kedepannya Nona, siapa menyangka Tuan Semeru menjadi sadis. Saya rasa Tuan Semeru sudah gelap mata sehingga memukul Nona." Maimunah menimpali.


Suara bell rumah mengagetkan kami. Maimunah berdiri seraya menuju pintu gerbang. Kami kaget ketika Bu Poniyem nongol di pintu gerbang, dia mengajak seorang gadis yang memakai pakaian tertutup.


"Silahkan masuk Bu." kata Maimunah sopan.


"Saya tumben masuk kesini, dari dulu rumah ini kelihatan dari luarnya saja. Ternyata di dalamnya sangat mewah." kata Bu Poniyem kagum.

__ADS_1


"Ada apa tumben Bu, ada yang bisa saya bantu?" tanyaku.


"Ibu baru bisa mengucapkan trimakasih kepada Non Qirrera atas biaya pengobatannya. Saya sangat bersyukur mempunyai tetangga sebaik Nona. Kenalkan ini Sisilia pacar Tuan Semeru." kata Bu Poniyem ikut duduk di teras.


Serasa ada bom TNT meledak di sampingku. Aku terhenyak. Seorang gadis berdiri dihadapan kami. Kulitnya coklat dan matanya belo. Aku taksir umurnya sekitar dua puluh empat tahun, lebih dewasa dariku. Senyumnya mengembang dan bangga ketika dia diperkenalkan sebagai pacar Semeru.


Dia memakai pakaian tertutup dari atas ke bawah. Gadis idaman Semeru.


"Masyaallah...cantiknya, ternyata selera Tuan Semeru sangat bagus. Rupanya dia diam-diam sudah punya pacar. Siapa namanya?" tanya Bibik memuji gadis itu.


"Namaku Sisilia, aku baru jadian dengan Mas Semeru. Kita cocok dan jadilah." sahutnya cempreng.


Aku tidak mood meladeninya, diam adalah emas. Maimunah dan Bibik sangat agresif mencari tahu siapa Sisilia, layaknya seperti wartawan.


"Sudah berapa lama pacaran sama Mas Semeru?" tanya Bibik antusias, aku cuma menguping.


"Kita jadian hari ini, tapi sudah sering bertemu di rumah sakit. Dulu Ibu Poniyem opname, saya perawat di sana."


"Jadi Nona kerja di rumah sakit?" tanya Bibik kagum.


"Saya seorang perawat. Waktu Bu Poniyem sakit saya yang merawat. Akhirnya bisa kenalan dengan Mas Semeru. Setelah Bu Poniyem sembuh kita tidak ketemu lagi, cuma sering SMS. Saya kaget ketika hari ini dijemput di Rumah Sakit." cerita Sisilia dengan mata berbinar.


"Begitu ceritanya. Ternyata Tuan Semeru tidak salah pilih, saya ikut mendukungnya." ucap Maimunah.


"Nona Sisilia kita pulang dulu, Tuan Semeru pasti sudah menunggu." Bu Poniyem menyela.


"Saya dan Ibu pamit pulang ya, takut Mas Semeru kehilangan hahaha." kata Sisilia tersenyum. Dia keluar menggandeng tangan Bu Poniyem.


"Kirain bawa oleh-oleh cuma setor wajah doang, setelah itu pamit pulang." kata Maimunah tersenyum kecut.


"Jangan-jangan mereka disuruh oleh Tuan Semeru pamer pacar kesini."


"Aku mau ke kamar teruskan gosip kalian." kataku melangkah gontai. Hatiku tiba-tiba terasa hampa.


"Saya ikut ke atas mau ngintip...." kata Maimunah ngintil di belakangku bersama Bibik.


****

__ADS_1


__ADS_2