
Tidak biasanya Semeru melepas kepergian Roger sendirian, biasanya mereka bermain sampai dua puluh empat jam. Tapi Semeru terpaksa menolak karena ada Qirrera. Dia hanya mengantar Roger sampai di depan pintu kemudian cepat-cepat berbalik.
Hatinya sangat gundah memikirkan gadis pilihan orang tuanya. Pertama bertemu dengan gadis itu dia sudah berantem. Masalah terus berkelanjutan sampai setiap saat dia merasa tidak nyaman melihat tingkah dan cara berpakaian prempuan itu.
Sekarang dadanya bergemuruh, pikirannya tambah kacao mendengar kata-kata Roger yang mengatakan bahwa wajah Qirrera sangat familiar. Rasanya dadanya mau meledak mengingat itu, Qirrera sangat menyiksa bathinnya. Ingin sekali dia mengikat gadis itu dan mengurungnya sepanjang waktu.
"Neng Nong...Neng Nong"
Semeru menyeret kakinya menuju pintu depan. Siapa lagi yang datang. pikirnya. Padahal sudah dia perintahkan kepada semua pelayannya tidak boleh ada yang mengganggunya. Semeru membuka pintu dan Sandy sudah berada di depannya.
"Mana dia, jangan kamu memaksanya, dia adalah milikku." kata Sandy tegas.
"Owh jadi kamu kambing hitamnya, beraninya kamu nongol di depanku dasar manusia tidak tahu diri."
"Siapa yang duluan ketemu Qirrera? aku lebih dulu bertemu, kemudian kita pacaran dan ....."
"Jadi kamu yang memberi oleh-oleh baju tidur, aku ingatkan, Qirrera denganku sudah lama hidup bersama di Lampung. Apapun yang dia lakukan sudah sepengetahuanku. Jangan mimpi mendapatkannya, siap-siaplah kamu pergi dari perusaanku." potong Semeru cepat.
"Aku akan pergi dari sini tapi lepaskan Qirrera." teriak Sandy membuat Semeru mengayunkan tangannya.
"Semeru tahan emosi!" Pak Haji menangkis tangan Semeru. Tiba-tiba Pak Haji sudah berdiri disitu. Dia benci kepada Ayahnya yang tega berselingkuh.
"Masuk kamu ke dalam temenin Qirrera." sambung Pak Haji lagi.
"Aku ingatkan jangan lagi kamu berani nongol di depan Qirrera." kata Semeru menunjuk Sandy.
"Terserah aku!!" teriak Sandy marah.
"Sandy ikut aku." Pak Haji mengajak Sandy pergi.
Bibit perseteruan itu sudah lama timbul, selama ini Semeru mengalah dan menjauh. Sandy merasa di atas angin karena sering dibela oleh Pak Haji.
Semeru cepat mengunci pintu dan masuk ke dalam rumah.
"Tok..tokk...tokk..." dengan emosi dia mengetuk pintu Qirrera. Harusnya dia mencabut kunci kamar Qirrera supaya gadis itu bisa dia hubungi kapan dia perlu.
"Buka pintunya atau aku tendang." bentak Semeru kesal.
Ketukan di pintu dan bentakan kasar menyentuh gendang telingaku. Aku menggeliat bangun dan berjalan menuju pintu. Rasanya baru saja dapat tidur Semeru sudah teriak-teriak. Kepalaku berdenyut-denyut sakit, tapi aku paksakan untuk membuka pintu.
__ADS_1
"Ada apa?" tanyaku dengan mata setengah tertutup. Aku terus berjalan melewati Semeru dan menghempaskan tubuhku di sofa ruang tamu. Aku kembali tidur.
Semeru menatap tubuh calon istrinya. Dia menelan salivanya ketika matanya menjelajahi kimono yang tersingkap. Tubuh itu sangat sexy dan sempurna. Semeru mendekat dan mengangkat tubuh itu ke kamarnya.
Aku tidak tahu apa yang kurasakan saat ini, aku tidak mencintainya malah cendrung membecinya. Dia vulgar dan murahan, tapi mengapa darahku mendidih bila ada laki-laki lain menyebut namanya. bathin Semeru.
****
"Kamu adalah pikiran terakhir dalam pikiranku sebelum aku tertidur dan pikiran pertama ketika aku bangun setiap pagi." tulis Sandy.
Aku tersenyum membacanya, ini hari kedua aku berada di sangkarku. Kemarin sepanjang hari aku pusing, sehingga tidak bisa membalas SMS dari Sandy.
"Jika kamu mengerti betapa cintaku padamu, pasti kamu akan mengurungkan niatmu untuk lari ke.pelukan laki-laki lain."
"Mas Sandy, kamu adalah Matahari bagi Sarah, sinarilah hatinya supaya cinta kalian kembali menyatu." balasku sekenanya.
"Akhirnya kamu balas SMS ku setelah aku menunggunya sampai kriting." tulis Sandy.
"Bagaimana khabarmu Mas?"
"Hancur!!. Beginilah nasib orang yang seperti aku ini. Setelah capek merintis dan membuat maju perusahan, tiba-tiba aku mau ditendang. Mereka tidak punya empaty sedikitpun."
"Aku pasrah saja. Qi..bisakah kamu keluar dari sana aku ingin mengatakan sesuatu. Ini tentang hidup dan mati."
"Tidak bisa, aku di kurung di sangkar emas oleh Semeru. Apakah sangat penting?"
"Keluarlah, ini yang terakhir sebelum aku pergi dari sini."
"Oke.. aku melihat situasi dulu." balasku.
Aku turun dari ranjang. Sudah pukul 15.00 WIB, tapi cuacanya masih sangat panas. Aku mengganti pakaianku dan keluar dari kamar. Pintu utama pasti dikunci oleh Semeru, aku harus mencari siasat supaya bisa keluar dari sangkar ini.
Nasibku beruntung, ketika melewati ruang tamu terlihat Semeru tidur di sofa panjang, aku mendekatinya dengan kaki dijinjit. Kunci kamar utama pasti ada di kantong celananya. Dia memakai celana Jean, tentu agak ketat.
Perlahan aku meraba kantong celananya dari luar, tenyata ada di kantong sebelah kanan. Aku menarik nafas supaya tenang dan memandangi wajah Semeru. Sumpah, ganteng banget. Sayang dia musuhku.
Tanganku mulai masuk ke kantong celananya, aku meraba-raba karena ada dua kunci. Saking asyiknya, aku tidak menyadari Semeru menatapku. Dan...tangannya sudah menarikku.
"Mau kemana kamu?" tanyanya sambil menjepitku.
__ADS_1
"Lepaskan aku, aku mau keluar. Aku bukan burung ýang harus di kurung."
Semeru bukannya melepaskanku dia malah merubah posisi dan menindihku. Aku pasrah ketika bibirnya menggila, hasratku ikut terpancing. Aku mendadak amnesia ketika bibirnya menyentuh gunung kembarku.
"Derreettt....dreeetttt....derreett" suara ponselku membuat aksinya terhenti. Tangan Semeru cepat mengambil ponselku di tas.
"Ada apa kamu menelponnya." suara Semeru bergetar ketika tahu yang menelepon Sandy.
"Rupanya kau, aku janjian sama dia." sahut Sandy pongah.
"Jangan coba-coba membangunkan macan tidur. Manusia tidak tahu diri, kau diam-diam menghubungi calon istriku."
"Dia tidak mencintaimu, tapi akulah yang dia cintai. Kau hanya pecundang yang tidak berharga."
"Bulsit!! betapa konyolnya khayalanmu. Lihatlah apa yang habis aku lakukan padanya." sahut Semeru memperlihatkan diriku yang sedang ditindihnya.
Suara Sandy langsung lenyap. Semeru menatapku tajam, wajahnya mendadak merah. Dia pindah ke sofa lain dan mulai memeriksa WA ku. Aku bangun mau merebut ponselku.
"Kamu gila meladeni Sandy dan merendahkan harga dirimu. Jangan idiot, sekarang kamu hidup dibawah nama Pak Haji Saleh. Seorang konglomerat tetpandang yang sering muncul di Televisi. Berpikir dewasalah." kata Semeru marah.
"Aku tidak ada melakukan apapun yang membuat kalian malu. Sandy hanya ingin bertemu itu saja."
"Bagaimana kslau dia meringkusmu dan memperkosamu. Setelah itu dia sebar Vidionya ke sosmed." katanya lantang.
"Tidak mungkin dia melakukan itu, aku punya prisai diri."
"Sandy nanusia licik, anak buahnya sangat banyak. Berapa kali aku hampir di bunuhnya ketika aku berada di Lampung. Dia menginginkan hartaku, kalau aku mati dialah pewaris PT Semeru Barito. Makanya dia akan terus berulah untuk mencelakaiku."
"Kalau begitu kenapa kamu tidak usir saja atau laporkan ke polisi bahwa Sandy mengancam jiwamu. Kecuali ceritamu hanya isapan jempol belaka."
"Jadilah istriku, baru kamu menyelaminya."
"Aku cuma istri palsu yang hinggap untuk sementara disini, setelah tugasku selesai aku akan pulang ke Bali. Hidup normal."
Semeru terdiam, dia lebih banyak mengobrak abrik ponselku. Semua SMS dia baca, aku sangat kesal. Pupus sudah harapanku untuk bisa bercerita kepada Sandy. Aku juga ingin bertanya tentang nikah Siri dan pindah keyakinan. Pak Haji menyuruh orang untuk mengajariku untuk membaca kalimat syahadat. (maaf kalau salah).
***
SANGKARKU
__ADS_1