QIRRERA LOVE YOU

QIRRERA LOVE YOU
DADAKU BERDEGUP


__ADS_3

Hatiku terasa lega setelah pulang dari krematorium. Belum habis kangenku kepada kakak, kami sudah berpisah. Aku akan menuju bangunan gedung serba guna untuk menemui pemborongnya.


Aku ingin melihat sendiri bangunan ini, letaknya juga tidak begitu jauh. Tempat ini masih berada di dalam kota. Mobilku perlahan masuk ketempat parkir yang belum tertata.


Rasa penasaranku memuncak tatkala melihat beberapa mobil terparkir di halaman gedung. Ada mobil Mc Laren kepunyaan Natalia, tapi tidak ada mobil Andre atau Papanya. Syukurlah!.


Siapa yang punya mobil-mobil mewah ini? pikirku. Perlahan aku turun dari mobil menuju ke gedung. Terdengar suara ribut, seperti orang bertengkar.


"Kalian tidak tahu malu, mau saja mengemis ke perempuan itu. Warga kita banyak yang kaya, kita kumpulin mereka dan kenakan kewajibannya." aku kenal suara melengking itu. Siapa lagi kalau bukan si lidah beracun.


"Bu Dilla, jangan selalu menekan tetua, kami sebagai pengurus sudah pusing. Kenapa Bu Dilla menghalangi kami dan selalu menjelekkan Nona Qirrera, kalau anda punya uang bayar semua hutang warga." kata Goshan ikut naik darah karena dari tadi Bu Dilla ribut melulu.


"Saya tidak sebodoh perempuan itu, ini tanggung jawab kita bersama. Saya akan bayar sesuai bagian saya."


"Lebih baik Bu Dilla diam dan pulang ke rumah, daripada disini membuat onar. Saya pribadi tidak simpati kepada sikap anda yang berpikiran picik."


"Jangan ikut campur Pak Wedakarna, selama ini saya menghormati anda." Pak Yoga suami Bu Dilla ikut berbicara.


"Pak Yoga, saya adalah warga wansa, apapun yang terjadi tentu akan menjadi tanggung jawab saya sebagai warga. Selama ini memang saya kurang tahu perkembangan warga, karena sering berada di luar Negeri. Saya baru tahu dari tetua bahwa selama ini Nona Qirrera banyak menyumbang untuk warga, sangat di sayangkan orang sebaik itu tetua dan anda keluarkan karena mendengar sebelah pihak."


"Kami keluarkan dia karena dia seorang anak haram, janda genit, pelakor." Natalia ikut mengeluarkan fitnahan.


"Aku tidak akan membela diri atau meladenimu, karena kamu dan aku tidak level." kataku dengan intonasi yang agak tinggi. Aku masuk ke dalam kerumunan.


Mereka kaget melihat kedatanganku, dan memberi jalan. Aku membuka kaca mataku ketika tetua menyongsongku.


"Nona Qirrera, kenapa datang kesini? saya sudah menghubungi pemborongnya, sebentar lagi dia akan datang."


"Saya ingin memastikan chas flownya tetua. Menurut penilaian saya, uang yang sudah saya keluarkan untuk pembangunan ini sudah melebihi, sedangkan bangunan ini belum finishing. Saya ingin menemui pemborongnya." sahutku tenang.


"Baru memberi uang segitu saja pikiran busuk sudah melintas di otakmu. Tidak ada yang korupsi disini." kata Bu Wilda sinis.


"Nona Qirrera, kenalkan saya Wedakarna, saya sangat berterimakasih atas kepedulian Nona kepada Warga selama ini. Saya harap Nona tidak marah kepada sembarang orang, apapun yang terjadi dan menimpa diri Nona itu karena segekincir warga. Untuk itu saya menawarkan diri seandainya Nona ingin bertanya sesuatu, saya akan menjawabnya."


"Trimakasih Pak Weda, seperti kata saya tadi, kita perlu mengetahui apa penyebab terhambatnya pembangunan. Apa bangunan ini sudah sesuai bestek apa belum. Tolong yang bertanggung jawab supaya transparan kepada warga."


"Benar itu Nona, sebenarnya sudah ada Team khusus yang menangani masalah ini dan salah satunya tetua." Ghosan yang dari tadi memandangku memberi jawaban.


"Mari kita duduk Nona, kita tunggu pemborong dan Team." ajak Pak Weda.

__ADS_1


Aku duduk disamping Pak Weda dan Ghosan. Kemudian kami mulai membahas banyak masalah, terutama pembangunan ini. Bu Dilla dan Natalia tidak ikut duduk, sedangkan Pak Yoga ikut duduk bersama kami. Ibu dan anak itu terus mengambil foto kami, aku sebenarnya tidak peduli. Tapi mereka berdua terus menghinaku.


"Ternyata kalian cepat tergiur dengan wajah cantik, walaupun sifatnya busuk. Sebentar lagi dia akan menggaet salah satu dari kalian." Bu Dilla tiba-tiba berkomentar miring, ketika kami sedang membahas masalah uang.


Aku meloncat bangun, tendanganku melayang, kakiku sudah berada di depan mulutnya. Kalau aku lepas tendangan ini tentu gigi depannya rontok. Apalagi aku memakai high hell.


"Qirrera......." triakan itu menggema.


"Aku tidak takut kamu laporkan ke Polisi, lagi sekali kau berulah gigi depanmu bisa rontok." bentakku kasar.


Aku menurunkan kakiku. Para lelaki tentu terkesima melihat paha mulusku daripada melihat tendanganku. Karena aku menaikan kain yang aku pakai sampai paha. Kebetulan aku memakai kain yang straight.


"Tenanglah Nona, mari duduk. Minumlah." kata Pak Weda menarikku dan mengajak aku duduk kembali. Pak Yoga juga menarik istrinya lalu izin pulang. Aku merasa Pak Yoga malu melihat ulah istrinya dan anaknya.


"Maaf, aku terbawa emosi. Aku capek terus dihina, mereka membunuh karakterku Aku type orang yang tidak senang membela diri, jadi mereka terus ngelunjak." kataku dengan nafas menderu.


"Tadi saya sangat kaget, tidak menyangka Nona bisa beladiri. Tapi saya senang melihat Nona berbuat begitu." kata Ghosan penuh arti.


"Melihat apa San, yang jelas dong." timpal Bapak yang lain. Mereka lalu tertawa tertahan. Aku menyadari, pasti mata genit mereka melihat CD ku.


"Perbincangan kita sudah selesai, saya mohon pamit. Kapan-kapan saya akan datang lagi." kataku berdiri sehabis minum air mineral yang disodori oleh Pak Weda. Kami semua bubar.


"Kalau ingin bertanya sesuatu calling saya." kata Pak Wedakarna berdiri mengantar aku sampai ke mobil.


"Hati-hati di jalan Nona, see you." kata Pak Weda melambaikan tangan. Aku menaikan kaca mobilku setelah melambaikan tangan.


Aku memacu mobilku dengan kecepatan sedang. Kota Denpasar tidak begitu macet membuat perjalananku lancar. Aku ingin melupakan rasa cinta yang menggoda, tapi selalu saja ada pertemuan yang tidak disengaja.


Pikiranku melayang jauh bercampur antara rindu dan dendam. Untunglah waktu di gedung serba guna Andre tidak ada. Yang ada hanya keluarga Natalia. Jadi aku bisa bersabar sedikit menghadapi fitnahan Bu Dilla. Coba tadi ada Andre disitu, pasti mulut Bu Dilla sudah bonyok.


Manusia seperti Bu Dilla harus diberi pelajaran yang halus, misalnya dengan membawanya ke Bar atau ke Club malam, dimana anaknya suka berpakaian Vulgar setengah mabuk berjoget ria bersama teman bulenya. Aku mendapat inspirasi yang jitu untuk membungkam mulutnya yang suka nyinyir.


Sepanjang perjalanan banyak pikiran buruk menggoda jiwaku. Tidak seharusnya Andre membiarkan tuduhan yang mengatakan bahwa aku dan dia semen leven. Kadang aku kesel dengannya, tapi mau bagaimana lagi, nasibku memang sial punya pacar seperti Andre.


Sampai di rumah aku tidak langsung masuk ke dalam rumah. Aku ingin mengontrol Villaku di belakang. Keadaan di belakang sepi karena yang menyewa Villaku rata-rata Bule yang bekerja di Hotel.-


Semua Villa terisi, jarang kosong. Baru saja aku mau berbalik, mataku terpaku melihat seorang pemuda sedang berenang. Seingatku tidak ada pribumi yang menyewa Villaku.


Walaupun aku hampir tidak pernah bertemu dengan penyewa, bukan berarti aku tidak tahu siapa saja yang tinggal di Villaku. Waktu Andre bekerja denganku, urusan Villa aku serahkan padanya. Dia juga tidak keberatan, jadi aku jarang tatap muka dengan penghuni Villa. Sedangkan pembayaran lewat mobile banking.

__ADS_1


Aku menghentikan mobilku dan keluar mendekati pemuda itu yang asyik berenang.


"Hallo exuse me!!" teriakku supaya didengar oleh pemuda itu. Dia mungkin tidak mendengar tapi matanya sempat menoleh ke tempatku berdiri.


"Go upstairs, I want to know who you are." teriakku lagi. Aku betul-betul curiga dengan pemuda ini.


Tidak menunggu tiga kali teriakan, pemuda itu lalu naik ke atas. Aku melengos membalikan badanku ketika dia pamer body sexy dengan dada bidang dan perut six pack.


"Pakai handukmu untuk menutupi badanmu." perintahku tanpa menoleh.


"Aku tidak menyangka akan ada bidadari, jadi aku tidak membawa handuk."


"Jangan banyak alasan, aku sudah melihat handuk tersampir di bangku panjang."


"Apa bedanya aku dengan Bule yang sering kamu lihat di Pantai. Aku rasa mereka lebih vulgar."


"Banyak bedanya, kalau kamu jelek kalau Bule super kece." sahutku membuat dia tertawa.


"Berbaliklah aku sudah memakai handuk."


Aku lalu berbalik, hampir saja tertawaku meledak dia melilitkan handuk di dadanya, karena handuk tidak begitu panjang, jadi yang bawah kelihatan tetap menonjol. Aku menyesal meninggalkan kaca mata di mobil, jadi ketahuan mataku sempat mampir di bawah handuk. Akhirnya aku terpaksa memberi perintah baru.


"Turunkan handukmu, mataku kunang-kunang bila terpaksa melihat."


"Kalau di turunkan kamu akan protes lagi, karena aku tidak memakai BH."


"Lebih baik lihat yang atas daripada bawah."


"Okay kalau begitu."


"Sudah...kamu bebas melihat."


Aku lalu memandangnya, bussyet dah... konsentrasiku buyar melihat pemuda ini. Badannya tinggi tegap, dan tentu ganteng. Aku berusaha menyembunyikan kekagumanku dan pura-pura melihat ponselku.


Semoga saja ada "mantra" ampuh yang bisa melenyapkan ketertarikanku dengan pemuda ini. bisikku dalam hati.


"Katakan siapa dirimu, mengapa ada disini. siapa yang mengajakmu kesini." kataku cepat, padat dan dimengerti.


"Namaku Alex, aku adalah guru les renang. Yang mengajak aku kesini Tuan Andre."

__ADS_1


Dadaku berdegup kencang mendengar penjelasannya. Andre memang agak pendiam, selama ini dia tidak pernah bercerita tentang penghuni Villa di sini.


*****


__ADS_2