QIRRERA LOVE YOU

QIRRERA LOVE YOU
SALAH KAMAR


__ADS_3

Malam ini adalah malam pertama aku berada di rumah Pak Haji. Kata Beliau aku harus betah tinggal disini. Aku cuma mengiyakan saja dan malas membantah, dia sangat licik. Pak Haji belum ada tanda-tanda ingin mengajakku meeting tentang kerja sama yang kita sepakati. Dia malah sibuk mengantar aku dan Bunda ke Boutique.


Aku jadi gregetan. Yang membuat aku malas comment dia ikut memilih pakaian yang akan aku pakai sehari-hari. Semua pilihannya membuat mulutku manyun. Tidak ada pakaian terbuka. Semua tertutup dari atas kebawah. Kalau aku menolak pilihannya, dia langsung mencolek tangan istrinya, dan Bunda dengan lembut akan ceramah gratis kepadaku. Akupun secepat kilat akan mengangguk.


Nasibku selalu buruk, belum melihat calon suami Pak Haji sudah sibuk membeli kebutuhanku. Yang lebih membuatku terpasung aku di tempatkan di rumah ketiga, mirip paviliun mewah. Disini aku sendiri. Sangat konyol khan?!.


Dengan halus dia menggiringku untuk menjadi menantu, kalau aku menolak sudah telat. Ya sudahlah, aku berdoa supaya anaknya cepat nongol dan aku akan memaksanya menjaga orang tuanya dan mengambil perusahannya. Bila perlu aku akan ceramah gratis satu hari satu malam supaya dia mengerti cara berbakti kepada orang tua.


Aku duduk di ruang tamu sendiri, selalu sendiri dimanapun aku berada. Menurut orang tuanya anaknya akan pulang pukul 17.00 WIB, tapi hari ini pesawat delay. Aku disuruh menunggu anaknya, katanya mau dipertemukan. Mataku sudah mengantuk ketika jarum jam menunjuk angka 21.00 WIB, anaknya belum juga datang. Rasanya mataku tidak kuat melek. Aku menyerah dan masuk ke dalam kamar.


Aku mematikan lampu kamar mengganti dengan lampu tidur, kemudian aku menarik selimut, dan tidur pulas.


"Tokk...tokk...tokkk...."


"Ceklekk..." pintu kamarku memang tidak dikunci.


Suara langkah kaki mendekat dan kakiku sudah diseret. Sekarang setengah badanku masih diranjang dan setengah lagi menjuntai ke lantai.


"Brengsekk..berani-beraninya kamu tidur di kamarku." hardik suara itu membuat aku meloncat kaget. GELAP!!.


"Kau yang brengsek menyentuh kakiku yang bukan muhrim. (ini ajaran Bibik kalau ada cowok yang menyentuh badanku).


"Keluar kamu dari kamarku!!" bentaknya kasar. Aku mengenal suara itu tapi aku abaikan, bisa saja salah.


"Tidak usah isi acara matiin lampu. Atau membentak kasar...aku tidak takut padamu."


"Dasar perempuan murahan, seenaknya menuduh. Keluar kamu."


"Kamu yang keluar!!" bentakku menuju stop kontak dan menyentuhnya.


"klekk..klokk ..mati dari pusat boss..." aku kaget, ada suara dari stop kontak. Biasanya suara yang keluar dari stop kontak "cepat beli pulsa..jangan ngebon" mungkin juga tergantung orang yang mencet.


Tangan kekar itu menyeretku keluar dan aku tidak tinggal diam. Dalam kegelapan itu mataku memang tidak bisa melihat tapi instingku tajam. Kaki kiriku menendang, dia berkelit dan keluar dari kamar. Kepalang basah, darahku sudah mendidih.

__ADS_1


Aku mengejarnya keluar, tanganku terayun. Dia menangkap tanganku menghentaknya keras. Badanku meluncur kepelukannya, dia meringkusku. Aku berontak.


"Setann!!" bentakku mencoba lepas dari dekapannya.


Kami jatuh ketika menabrak sofa dan kembali bergulat. Aku menarik kemejanya dan terdengar suara kancing jatuh. Dia juga menarik kimonoku.


"Breettt...." seperti ada yang robek. Terasa dadaku menyentuh dadanya. Kami terdiam. Aku kembali berontak, tapi semakin aku berontak gesekan dadaku membuat dia semakin kencang memelukku. Malah sekarang kakinya menjepitku. Aku merasa sesuatu bergerak dibawah.


"Lepaskan aku." teriakku kencang.


"Tidak, aku seperti mengenalmu. Kamu perempuan murahan." katanya tetap memelukku dan membalikkan badanku. Kini posisiku dibawah, dia menindihku.


Aku mencari celah menggigitnya, hupp....bibirku habiss dilumatnya. Ini pelecehan. pikirku. Aku berpacu dengan lampu...kalau lampunya hidup habislah aku. Karena aku sudah merasa setengah telanjang.


Setiap aku mau menggigitnya, bibirnya nyosor duluan, serba salah. Akhirnya lampupun hidup. Tanganku cepat memeluknya supaya dia tidak melihat wujudku saat ini.


Walaupun aku merasa dia Semeru tapi tetap saja aku kaget. Dia juga pasti kaget. Kami musuh bebuyutan. Wajahnya nempel diwajahku. Badan kami menyatu jadi satu. Bagaimana ini. Otakku terasa buntu.


"Jangan katakan kamu calon istriku." bisiknya.


"Pergilah kamu, aku najis memeluk bekas orang lain. Aku menyesal menciumu."


"Aku juga najis memelukmu." sahutku melepas pelukanku.


Kami diam. Dia tetap menindihku, dan aku setiap bergeser gunung kembarku se-olah ikut berontak. Jadi dia reflek menekanku.


"Aku akan memakai baju, urusan kita belum selesai. Kamu turun perlahan dan tetap tengkurap, matamu tutup. Sesama musuh jangan saling melihat." kataku merasa dapat solusi.


Dia mengangkat wajahnya, mata kami bertatapan. Aku cepat berpaling. Dia bangun menatap seluruh tubuhku.


"Dasar genit!!" kataku cepat bangun dan lari menuju kamarku.


Dadaku masih bergemuruh setelah berada di kamar. Aku mengunci pintu langsung menuju kamar mandi. Bekas bibir Semeru terasa masih menempel. Uuhhh.... aku mengguyur tubuhku membuat perasaaku sedikit lega. Kejadian ini begitu aneh, aku tidak menyangka Semeru menjadi calon suamiku. Tahu begitu aku menolak rencana Pak Haji.

__ADS_1


Selesai mandi aku tidak mau keluar walaupun pintuku digetok berkali-kali.


"Kamu sengaja tidur di kamarku supaya aku menggumulimu. Trickmu sudah tidak laku, aku tidak sudi menyentuhmu."


"Jangan sombong kamu, Bunda menyuruhku tidur disini." sahutku kenceng.


"Keluar kamu, baca tulisan dipintu, nama siapa yang ditempel."


"Oke.. tunggu." aku turun dari ranjang dan membuka pintu. Aku membaca tulisan yang tertempel dipintu.


"Perasaan tadi tidak ada tulisan begini." kataku curiga.


"Makanya jangan silau sama harta orang."


"Aku lebih kaya darimu dan tidak sombong, ini semua milik orang tuamu. Aku tidak kagum. Sejujurnya aku benci padamu, habis acara nikah palsu ini, aku akan pulang ke Bali. Aku lelah....."


"Pulanglah, sepet mataku melihatmu..."


"Kenapa tadi kamu menciumku kalau sudah tahu aku murahan."


"Iseng saja, aku ingin tahu gimana rasanya mencium cewek emperan."


"Trimakasih." sahutku ngeloyor ke kamar sebelah.


Cukup sudah, hatiku sangat sakit dihina oleh Semeru. Mengapa seburuk ini nasibku orang tua aslipun aku tidak punya, hidupku sangat menyedihkan.


Aku mengunci pintu dan menghempaskan badanku ke atas kasur. Pikiranku melayang kemana-mana. Ingin sekali aku cepat pulang dan menghentikan rencana gila Pak Haji. Aku bisa mencari Crazy Rich baru, atau membeli Hotel baru di Lombok atau Labuhan Bajo.


Malam ini aku tidak bisa tidur, air mataku mengalir mengingat perlakuan Semeru selama ini. Dia bukan laki-laki pada umumnya, otaknya di racuni oleh pikiran negatif.


Aku jadi mengingat Sandy, bagaimana reaksi Sandy kalau tahu bahwa aku menikah dengan Semeru. Berarti PT Semeru Barito bukan punya Sandy. bathinku. Selama ini Sandy dan mbak Mayang telah merebut milik Semeru.


Berarti Semeru orang kaya, pantas penampilannya berbeda. Aku hanya bisa menunggu hari esok.

__ADS_1


*****


__ADS_2