QIRRERA LOVE YOU

QIRRERA LOVE YOU
HANCURLAH SUDAH.


__ADS_3

Aku berhenti berlari dan berharap Dheo keluar dari kamarku. Dia pasti salah kamar pikirku, karena bentuk kamar semua mirip. Aku menunggu dengan sabar dia keluar dan berharap dia minta maaf karena sudah lancang masuk ke kamarku. Tapi dia tidak muncul-muncul.


Kakiku melangkah pelan mengintip dari celah pintu. Aku kaget melihat Dheo tidur diranjangku.


"Kurang ajar!! beranInya kamu tidur di kamarku." bentakku menyeret kakinya.


Dengan santai dia membiarkan badannya aku seret. Setelah setengah badannya di luar ranjang, dia melejit bangun dan balik mendorongku ke kasur. Aku kaget berusaha menahan badanku.


"Dheo jangan aneh-aneh, aku bisa menendangmu sampai hancur. Aku tidak


main-main. Kamu pikir aku cewek murahan."


"Tendanglah aku....." sahutnya menubruk badanku, aku berkelit. Dluar dugaan dia balik menyeretku dan tickle me.


Pertahananku jebol, aku sungguh tidak tahan karena geli. Dengan mudahnya Dheo memelukku dari belakang.


"Dheo berhentilah aku tidak tahan ....." pekikku lemas. Aku tidak menyangka Dheo yang keliatan cool ternyata sangat liar. dia dengan leluasa menguasai tubuhku dan menjelajahi bibirku.


"Aku nencintaimu." bisiknya di antara hasrat hati yang menggebu.


"Aku membencimu." sahutku tandas. Aku berusaha menggeser tubuhku tapi Dheo telah menguncinya.


"Lama kelamaan benci berubah menjadi cinta. Jangan berusaha berontak atau melawan kalau tidak ingin digelitiki."


"Tampangmu kelihatan kalm, ternyata kamu tidak ubahnya seperti buaya darat."


"Apa aku salah memeluk calon istriku, kamu tahu aku sangat cemburu melihat kamu berduaan dengan penyewa Villamu. mulai sekarang aku melarangmu pergi ke belakang sendiri."


"Kamu adalah musuhku, aku tidak peduli denganmu. Tidak ada hubungan antara kita yang membuat aku harus menuruti perintahmu."


"Kamu boleh memilih, mau menuruti atau mau diperkosa."


"Kamu juga bisa memilih, mau ditendang apa mau di mutilasi."

__ADS_1


"Hahaha.....aku cuma ingin memelukmu tidak lebih." sahutnya tertawa.


Kami berdua kaget ketika pintu yang setengah terbuka terhempas. Andre telah berdiri di ambang pintu. Aku melepaskan diri dari pelukan Dheo dan melorot turun dari ranjang.


"Andre.....ada apa kamu datang?" tanyaku merasa bersalah, seharusnya aku tenang, karena Andre bukan siapaku lagi, tapi tetap saja dadaku berdebar tatkala mata Elangnya menatapku tajam.


"Dheo aku mau bicara." kata Andre tanpa menghiraukan pertanyaanku.


"Berisik...ada apa lagi Andre. Move on aja." kata Dheo bangun dari tempat tidur. Dia melangkah dengan malas.


Hatiku dongkol di cuekin oleh Andre, aku akhirnya balik badan, tanganku cepat mendorong tubuh Dheo keluar dari kamar dan "Klekk" aku menutup pintu dan menguncinya.


"Qi...kenapa pintu dikunci?" suara Dheo terdengar gusar.


"Aku mau istirahat, jangan diganggu." sahutku merebahkan badanku ke ranjang.


"Buka sayank." panggil Dheo lagi.


"Tidak mungkin dia membuka pintunya biarpun kamu main ancam. Dia tidak luluh dengan pesonamu." kata Andre sinis. Andre berjalan menjauhi kamar Qirrera. Mereka duduk di balkon berdua.


"Jangan terlalu percaya diri, dia bukan seperti gadis lain. Cintanya hanya untuk satu lelaki, yaitu aku."


"Andre, kita adalah saudara sepupu. Selama ini hubungan kita adem ayem saja, jangan karena masalah cinta kita menjadi musuh. Aku sudah banyak mengalah denganmu dari dulu, sekali-kali kasi aku kesempatan untuk melanjutkan perjodohan ini."


"Dia hanya mencintaiku saja, kami saling mencinta. Apa kamu tega melihat dia dan aku menderita."


"Kamu sudah tahu track recordku, aku sulit jatuh cinta. Tapi dengan Qirrera sangat berbeda. Dulu aku masih meragukan perasaanku, tapi sekarang aku menyadari bahwa aku tidak bisa pisah dari Qirrera." ucap Dheo terus terang.


"Aku sudah memperingatimu, kita bersaing secara sehat sebagai saudara. Siapapun yang dipilih oleh Qirrera kita harus legowo."


"Jangan serakahlah, aku mendengar Mamamu akan menikahimu bulan ini, jadi fokus kepada Natalia, biarkan Qirrera menjadi mantan terindah."


Andre terdiam, perjodohannya akan diadakan minggu depan, keluarga sudah sibuk menyebar undangan. Dia merasa terjebak oleh permainan Natalia yang pura-pura koma.

__ADS_1


"Deritamu, buat apa ganteng dan kaya kalau menjadi umpan Natali. Setidaknya kamu punya prinsip dan ketegasan. Semua sayang dan berbakti sama orang tua, tapi jangan sampai menghancurkan hidup dan masa depanmu."


"Mama terlalu memaksa kehendak, aku capek menolak. Terkadang aku ingin lari dari rumah. Kekayaan tidak menjamin aku bahagia, malah aku menjadi curiga setiap ada wanita yang mengatakan cinta padaku Kecuali dengan Qirrera, dia mencintaiku sewaktu aku menjadi scuritynya. Dia banyak bekorban untukku tapi tidak mengeluh."


"Tolong lupakan Qirrera, dia sudah menjadi milikku. Dengan berjalannya waktu dia akan mencintaiku."


"Aku tidak berani janji, tentu aku berusaha mengalah sesuai keinginanmu, tapi aku tidak berani jamin terhadap perasaan Qirrera. Itu urusan dia." akhirnya Andre mau mengalah, meskipun dengan berat hati.


Dheo sedikit lega, sepupunya ini biasanya sulit mengalah bila mereka berdebat. Banyak faktor yang membuat Andre mengalah, salah satunya karena Qirrera tidak mungkin mau kembali padanya.


"Aku mau pulang, aku titip Qirrera. Jika air matanya jatuh gara-gara ulahmu, aku akan ambil dia darimu."


"Tenanglah saudaraku, semua akan baik-baik saja. Mulai sekarang Qirrera seratus persen milikku. Trimakasih kamu mau mengerti."


Andre berjalan gontai meninggalkan Dheo, dia tidak tahu harus bagaimana, hatinya sungguh terluka. Tangisan adalah cara mata berbicara ketika mulut terbungkam, tak sanggup menjelaskan seberapa hancurnya hati ini.


Terima kasih sudah pernah singgah dihati, walaupun kini aku pergi. Setidaknya, aku bahagia walau hanya sesaat. Kau mantan terindahku. bathin Andre ketika lewat di depan kamar Qirrera.


"Tuan Andre, bersabarlah. Kalau memang jodoh tidak akan kemana. Jangan putus asa." kata Bik Inah saat Andre sudah berada di bawah. Dia tadi ada dibawah balcon dan menguping pembicaraan Andre dan Dheo.


"Aku mungkin jarang kesini atau tidak sama sekali. Jangan berhenti dari sini, aku berharap Bibik tetap disini membantu Nona."


"Ya Tuan, Bibik sudah sayang sama Non Qirrera, tidak mungkin Bibik pergi."


"Trimakasih Bik, aku akan pulang." sahut Andre melangkah keluar.


"Ya Tuan hati-hati dijalan."


Pertemuan pasti ada perpisahan, itu lazim terjadi. Kalau sekarang dia berpisah dengan Qirrera adalah suatu yang wajar. Setahun memadu kasih sudah cukup buat Andre mengetahui sifat Qirrera. Ntah berapa kali dia menyakiti hati Qirrera, gadis itu tetap mencintainya.


Dia yakin Qirrera tidak akan mampu hidup tanpa dirinya, padahal banyak cowok ingin meminangnya, tapi semua gigit jari. Dihati Qirrera hanya ada satu lelaki yaitu Andre.


Andre memacu mobilnya dengat kecepatan sedang, bayangan Qirrera yang sering berlinang air mata terlintas nyata. Rasa sedih yang dalam membuat air matanya bergulir pelan. Belum pernah dia merasakan sesakit ini.

__ADS_1


Mengapa dia terlalu mengikuti Mamanya, coba dari dulu dia meminang Qirrera, mungkin tidak akan ada kejadian ini. Gadis itu pasti akan menderita setelah tahu dia memutuskan pergi.


****


__ADS_2