
Seorang lelaki tampan dengan tinggi badan 163cm dan berat badan 60kg telah menungguku, Kulitnya coklat tapi bersih, dia berdiri di antara keremangan lampu Cafe. Aku merasa menjulang di depannya, bagiku dia lebih pendek dariku. Senyumnya terus mengembang menatapku.
Aku melangkah maju mencari tempat yang terang. Diapun mengikutiku sambil tersenyum. Seorang gadis cantik bertubuh mungil berada disampingnya. Aku berpikir itu pasti tunangannya. No problem.
"Selamat datang di Tarakan Nona, senang bertemu denganmu. Silahkan duduk."
"Trimakasih." sahutku.pendek. Aku melihat sekilas perubahan muka cewek yang mengikuti Sandy. Mungkin dia cemburu.
"Aku ingin tahu lebih jauh tentangmu, tapi sebelum kita melanjutkan pembicaraan ini, kita bersulang dulu.
"Cheerss.....
"Maaf Pak Sandy saya tidak ingin ada orang lain di antara kita. Aku tidak ingin ada penyela yang membuat pembicaraan kita kurang bermutu."
"Ohh..yaya...Sarah tolong duduk di tempat lain." perintah Sandy memandang cewek disampingnya sambil mengibaskan tangannya.
"Apaan ini, aku tunanganmu. Jangan karena cewek yang baru kamu kenal aku malah diabaikan." kata Sarah ketus.
"Sarah...jangan membuat masalah, aku sudah berbaik hati mengajak kamu. Ini urusan bisnis, jangan bikin kacau."
"Teganya kamu, semoga bisnismu hancur!!" Rutuk Sarah sambil berlari.
"Sorry Pak Sandy, gara-gara saya terjadi insiden ini. Kalau saya mau melobi orang saya bikin aturan begitu. Saya tidak memaksa. Kalau anda keberatan, silahkan mundur, masih banyak perusahaan lain yang membutuhkan modal."
"Panggilah saya Mas, itu lebih akrab kedengaran. Nona tidak salah, dia memang pengacau dan cemburuan."
"Ya Mas Sandy, semoga dia mengerti."
"Saya akan memanggilmu Qirrera...atau Qi saja supaya lebih akrab."
"Trimakasih saya merasa tersanjung. Saya sering menemukan lawan bisnis membawa pasangan, dan pasangannya tidak mengerti bisnis dan ikut nimbrung, runyam jadinya. Itu yang membuat saya kapok dan membuat aturan begini."
"Memang begitu, jadi kita tidak fokus kalau ada orang yang ikut menyela. Semenjak saya disuruh memegang perusahan ini oleh mbak Mayang, sudah puluhan orang yang saya tolak, saya kurang sreg karena ilmunya cetek dan dananya lemah." katanya menatapku.
"Trimakasih sekali lagi Mas Sandy, sudah mau menerima saya sebagai teman ngobrol. Pertama yang akan kita bahas adalah kedudukan anda sebagai CEO di Perusahan Mbak Mayang. Setelah itu saya akan minta waktunya untuk berbicara dengan Owner."
"Owner dari Perusahan ini Mbak Mayang atas nama Suaminya. Sebenarnya apapun kata saya atau Mbak Mayang akan dituruti oleh Pak Haji Saleh suaminya."
__ADS_1
"Saya ingin berjumpa sebelum saya ikut bergabung dengan Perusahan Mas Sandy." sahutku memaksa.
"Boleh saja, apapun yang kamu minta saya akan turuti. Semoga pertemanan kita bisa awet." kata Mas Sandy tersenyum genit.
Perbincanganku dengan Mas Sandy yang berumur 28 tahun sangat alot, karena dia terkesan membiarkan pembahasan ini menggantung, dia malah membicarakan tentang dirinya dan Mbak Mayang yang tidak kekurangan uang. Istilahnya pamer.
Aku menyetujui saat dia mengajak aku melantai dengan iringan live musik, aku jadi ingat Semeru, bagaimana tanggapannya jika aku memakai gaun backless dan bergoyang di dance floor dengan lelaki yang bukan suami. Aku baru pertama melakukan dengan orang asing yang baru aku kenal.
Kepalaku terasa puyeng memikirkan ini. Aku terkesan murahan, dan berharap tidak ada foto atau Vidio yang merekam kegiatanku malam ini. Habis satu lagu aku langsung duduk.
"Kamu masih sendiri Qi....atau sudah ada yang mengikat jarimu?" tanya Mas Sandy sambil mengedipkan sebelah matanya.
Aku tidak begitu menanggapi tingkahnya yang berubah mesra. Penilaianku kepada Mas Sandy menurun drastis, aku mulai memberi label playboy kepadanya.
"Aku baru putus dengan tunanganku, saat ini aku sedang menata hatiku. Untuk sementara waktu pintu hatiku masih terkunci, mungkin aku akan bepikir seribu kali untuk menjalin sebuah hubungan serius kembali. Aku trauma, hatiku masih luka." sahutku mengingat perjalanan asmaraku yang runyam.
"Aku siap menjadi temanmu disaat kamu butuh pelampiasan emosi. Sesibuk apapun aku kalau untuk kamu aku akan sempatkan. Kita awali hidup ini dengan satu tujuan yaitu membahagiaan diri."
"Trimakasih, sebenarnya saya kesini untuk menjalin hubungan bisnis, bukan untuk yang lain. Saya sendiri tidak mau berada di antara mas Sandy dengan pacarnya."
"Jangan khawatir semua bisa di selesaikan, dia bukan pacar yang serius. Sarah hanya teman jalan. Dia yang selalu mengejar-ngejar saya. Zaman sekarang banyak cewek mata duitan."
"Itu memang benar, mereka melihat saya kaya, coba dulu waktu saya masih miskin tidak ada cewek mau dekat. Jadi saya afirmasi negatif kepada mereka." katanya serius.
Terus terang cowok di depanku ini sangat menyebalkan. Soq kaya dan kegantengan. Tidak sebanding dengan Semeru..... kenapa pula aku membandingkan dengan si songong. Najis!!. Tapi Semeru lagi ngapain ya....
Ponselku tiba-tiba bergetar.
"Maaf Mas Sandy saya mau terima panggilan...." kataku memakai Headset dan pergi ke pojok.
"Silahkan...." sahutnya menatapku curiga.
"Hallo, kenapa kamu telepon malam-malam begini ada apa?" tanyaku khawatir kepada Maimunah.
"Nona ada dimana? itu suara musik. Nona cepat pulang jangan begadang. Saya tidak akan tidur sebelum Nona pergi dari tempat musik ini." kata Maimunah membingungkanku. Berani dia mengaturku.
"Kamu salah makan obat atau habis mimpi buruk, beraninya kamu ngatur aku. Kamu tahu aku tidak bakalan celaka karena ada yang mengawalku."
__ADS_1
"Tolonglah cepat pulang dia sangat khawatir......"
"Dia siapa? bicara yang jelas."
"Bibik Nona.... dia mimpi buruk." sahut Maimunah cepat.
Tentu dia tidak bilang bahwa Semeru ada di depannya dengan kekhawatiran yang memuncak. Wajah gantengnya memerah mendengar house musik dari ponsel Maimunah yang terhubung dengan ponsel Qirrera. Ponsel Maimunah sengaja dibuka mikrofonnya supaya pembicaraan ini bisa di dengar Semeru.
"Apa Tuan cemburu sama Nona?" tanya Maimunah sambil menguap.
"Najis aku cinta sama dia, cewek itu reflika Ibu tiriku yang liar, memakai pakaian minim supaya gampang dijamah. Aku memilih cewek yang muslimah." sahut Semeru.
"Tapi kenapa Tuan kesel dan terus menerus kesini memantau Nona saya. Apa karena Nona saya gampang dimintain uang?"
"Maimunah, mulutmu seperti silet sama dengan boss mu."
"Habis Tuan menghina Nona, tidak ada orang yang sebaik Nona. Dia biasa berpakaian begitu, bukan berarti dia murahan. Tuan salah sangka."
"Bela Nonamu sampai ke langit, aku kesal dengannya. Apa yang dikerjakan larut malam begini kalau bukan menjerat lelaki. Aku benci sama dia, aku tidak butuh uangnya haramnya."
"Nona kerja Tuan, jangan berpikir negatif."
"Dia kemana? apa kamu di beritahu?"
"Saya tidak tahu Nona dimana dan dengan siapa, mana berani saya menanyakan Nona secara rinci. Nona sudah dewasa apa yang dia perbuat pasti sudah dipikirkan."
"Mana dia pernah berpikir resikonya, buktinya larut begini dia masih di Bar, aku yakin dia di Bar."
"Maaf Tuan saya sudah ngantuk, bisakah Tuan pulang dan membiarkan saya tidur."
"Aku mau pulang, kapan Nonamu yang brengsek itu akan pulang?"
"Mungkin sebulan lagi Tuan."
"Apaaaaa? jangan membangunkan macan tidur." seru Semeru sambil berdiri.
"Sudahlah Tuan, rasanya malam ini macan semua sudah tidurrr...." sahut Maimunah ngeloyor ke kamarnya.
__ADS_1
Dia sudah bosan diganggu terus oleh Semeru. Selalu marah-marah tidak ada juntrungnya. Setali tiga uang dengan Nonanya yang kerjanya terus menghina Semeru.
****