QIRRERA LOVE YOU

QIRRERA LOVE YOU
JODOHKU KUTENDANG


__ADS_3

Tidak segampang yang dibayangkan, adat itu begitu ketat membelitku, seperti ular phiton yang membelit tubuhku. Tapi bagiku semua aturan pada dasarnya menekan dan harus diikuti, kalau tidak mau kena sangsi. Dan aturan manusialah yang membuat dan kalau ada kelemahan, itu karena manusia tidaklah sempurna. Untuk itu aku mulai mencari kelemahan itu dengan cara rasional. Dalam aturan itu si kumis harus bisa menundukan aku sebagai istri, kalau dalam 7 hari tidak bisa mengajak komunikasi dengan damai itu sudah gagal. Kelemahan itulah yang kujajaki sekarang.


Seperti hari ini aku baru datang dari Hotel keluarga, aku banyak belajar tentang Management Perhotelan, sampai di rumah si kumis sudah marah-marah tidak karuan. Aku heran apa hak nya marah padaku, betul-betul tidak punya attitude. Dia dengan kasar memelukku, tentu saja aku muak dan menendangnya sampai encok.


"Berani kamu menendang calon suamimu, kamu sudah keterlaluan." bentaknya kesel.


"Kenapa kamu memelukku, najis tahu." kataku tidak mau kalah.


Dengan geram dia menubrukku lagi dan kembali badannya terpelanting tidak berdaya. Jangankan dia, 10 si kumis aku bisa ngalahin, ilmuku telah diuji. Aku bukanlah pemain Dojo abal-abal, karena guruku bintang film Steven Seagal.


"Aku akan melapor polisi kamu telah menendangku, banyak bukti-bukti yang akan memberatkan kamu di pengadilan dan kamu akan di penjara." katanya menyeringai sambil menakutiku.


"Aku tunggu saat itu, tapi sebelumnya aku juga melapor bahwa kamu menubrukku dan mau memperkosaku, sehingga bajuku robek. Dan aku juga meminta ganti rugi atas robeknya bajuku yang harganya lima ratus juta." sahutku tidak mau kalah.


"Woii.. baju apa itu mahal sekali, kamu jangan mencoba memeras aku." teriaknya kenceng saking kagetnya.


"Bajuku berlapis emas, isi berlian di setiap kancingnya." sahutku geli sendiri.


"Sudah, aku tidak melaporkan kamu ke polisi tapi kamu juga jangan menuntut ganti rugi." sahutnya meringis bangun. Aku melihat kemarahan besar di wajahnya. Mungkin dia sudah banyak biaya untuk bisa terpilih menjadi jodohku, dan orang sekampung sudah tahu semua, tentu berat baginya mundur dari hidupku.


Kak Leon naik ke atas memarahiku yang tega menendang si kumis.


"Kenapa kalian tidak mau akur, kalian nanti akan menjadi suami istri lho. Jangan sering ribut-ribut kasihan mama yang lagi sakit."


"Kak aku minta ganti calon suamiku tidak mau yang ini. Orangnya kasar." sahutku duluan.


"Jaga mulutmu, tidak boleh begitu ini yang terbaik, orangnya sabar dan baik hati."


"Uuhh......" aku menghembuskan nafas kasarku dan masuk ke kamar.


"Qi..tidak boleh masuk kamar kamu tidak sopan, aku lagi bicara."


"Aku udah dengar, aku bisa lepas dari jodohku tanpa bantuan kakak." sahutku membuat kak Leon marah. Aku tidak peduli. Capek sudah hidup di sini mendingan ke Los Angeles pikirku.


"Setiap perjodohan pasti ada suka dan duka, jalani saja dengan sabar." kata kak Leon menasehati.


"Kakak saja yang gantiin aku, tidak ada gunanya warisan buatku." jawabku kaku.


"Anak tidak tau di untung, ini bukan masalah warisan, ini Trah...keturunan ninggrat ngerti gak."


"Kenapa bukan kakak, kenapa harus aku. Kalian menyiksaku." kataku mulai mewek.


"Ya sudah masuk kekamar langsung mandi." katanya. Aku langsung mengunci pintu dan bersiap mandi.

__ADS_1


Gara-gara perjodohan ini durasi aku tidur dengan mama jadi berkurang. Aku lebih memilih tidur dikamar supaya si kumis tidak leluasa memandang diriku yang lagi tidur dengan mama. Aku tidak tahu kenapa aku sangat membencinya, mungkin karena hatiku sudah terpaut dengan Adi. Laki-laki yang membuat aku mengkhayal sejuta angan-angan. Sayang sekali Adi di jodohin dengan Marina, gadis mungil yang selalu nempel kemana Adi pergi.


Pagi ini aku bekerja seperti biasa, aku sengaja memarkir mobilku di lobby depan karena aku sering kerja di luar daripada di kantor. Kadang Adi ikut juga dengan alasan ke Bandara atau apalah. Dia selalu maunya menempel padaku. Seperti hari ini aku mau ke Hotel Six Sense karena seorang brand ambassador mengundangku, tapi dia sudah menghadangku. Apalagi alasannya kalau tidak cemburu, dia agak posesif.


"Aku tidak percaya cowok macam ini, dia pasti ada maunya melihat kamu jadi brand ambassador Hotel ini dia jadi kepincut." katanya dengan memegang tanganku.


"Kalau begini terus kapan majunya, kepercayaan penting di antara kita. Aku bekerja, dan me lobi orang. Tidak mungkin aku berbuat aneh-aneh." kataku mencoba membuatnya tenang.


"Yank, aku mencintaimu." katanya aleman.


"Semua orang juga sudah tahu." sahutku tersenyum, ingin aku menggigit bibirnya tapi aku urungkan karena Marina sudah berkacak pinggang di belakang Adi.


"Begini tugasmu setiap hari Adi, rugi Hotel menggajimu." suara Marina melengking gusar. Adi kaget bukan kepalang.


"Ada apa?, wajar aku diskusi dengan supervisorku." tungkasnya berdiri.


"Kamu jangan coba melawan, jiwamu ada di telapak tanganku." sombong amat si Marina, omongannya sampai sebegitunya.


"Aku tidak peduli dan aku tidak tahu apa yang kamu katakan, semua cuma omong kosong."


"Datang ke ruanganku, kalau tidak jangan menyesal gaji bulan ini tidak akan ada untukmu." ancamnya tambah ngawur.


"Tidak bakalan aku datang, hubungan kita cuma sebatas karyawan, tidak lebih. Tolong ingat itu."


"Kamu berani karena ada bule gila ini ya, sebentar lagi aku tendang dia supaya kelaparan di jalanan."


"Jangan sombong baru Owner senang padamu."


"Aku tidak sombong, biasa saja kalee."


Perdebatan pagi itu mengundang Ownerku datang. Dengan bijak dia memanggilku dan meng interview sedikit tentang ke hidupanku.


"Qi..aku salut melihat ki nerjamu, Bapak yakin kamu pasti dari keluarga yang terdidik dan beradab, bisa donk Bapak sedikit tahu tentang keluargamu?" katanya ketika kami sudah sampai di ruangannya.


"Maaf Pak, tidak ada yang istimewa perlu di ceritakan disini, mama saya seorang janda ada di Los Angeles sekarang. Dia seorang pelukis." kataku mengunci pembicararaan supaya Pak Hermanto Ownerku tidak bisa meneruskan pertanyaannya.


"Mengapa kamu begitu rapat menutup indentitasmu, apa ada yang membuat kamu kecewa?"


"Bapak seperti psikolog saja. Tidak semua orang ingin mengumbar isi dapurnya Pak termasuk saya. Saya lebih senang Bapak tahu saya sekarang ini." sahutku tersenyum.


"Mau jadi menantu Bapak?" tanyanya tiba-tiba mengagetkan aku.


"Tidak Pak, saya sudah di jodohkan." jawabku cepat.

__ADS_1


"Kamu di jodohkan?"


"Begitulah kira-kira, jangankan Bapak saya juga bingung Pak." sahutku membuat Pak Hermanto tersenyum.


"Telat dong....."


"Sangat telat Pak, tolong cari yang lebih berpotensi lagi."


"Kamu ada-ada saja, ngomong-ngomong bagaimana caramu membidik tamu sampai bisa sold out begitu."


"Dari tadi keq Pak, Bapak sudah mutar-mutar baru keluar inti pertanyaannya." Pak Hermanto tertawa, aku juga bercanda.


"Kamu enak diajak berbincang, pasti jodohmu bahagia sekali."


"Dia sangat bahagia Pak." jawabku mengingat si kumis terpelanting aku tendang.


"Bagaimana caramu mencari agen-agen di Luar Negeri?"


"Gampang Pak, kuasai dulu bahasa dan sekolah di Luar Negeri. Maaf sekarang saya harus pergi ke Hotel "Indera ke Enam" kataku pamit.


"Six Senses??" tanyanya. Aku mengangguk.


Sore ini aku memacu mobilku ke Daerah Uluwatu, aku berpacu dengan waktu. Lagu I Just Need You dari TobyMac membuat badanku bergoyang. Sebenarnya aku tidak begitu peduli tapi Diego nama selegram itu memaksa untuk bertemu, alasannya brand ambassador yang sekarang disandangnya akan usai dan perlu pengganti. Aku tidak begitu berharap, aku masih menyandang brand dari Hotelku.


Dari atas bukit Ulu Watu aku melihat Six Senses yang cemerlang, mungkin kalau malam hari lebih membahana, sangat indah tidak bisa di ucapkan dengan kata-kata, seperti di surga.


Aku langsung ke Front Office dan memarkir mobilku di depan lobby. Seorang consigner menyambutku dengan ramah.


"Selamat sore, senang bertemu dengan Nona, ada yang bisa saya bantu?" kata gadis itu menyambutku ramah.


"Aku ingin bertemu dengan Diego, apa ada rekomendasi darinya?"


"Anda telah di tunggu di Bar."


"Trimakasih." sahutku melihat ke dinding, denah dimana letak Bar. Di lantai 3, berarti aku mencari lift. dan lift berada sebelah kiri. Aku menuju ke kiri.


Masih sore Bar belum berdenyut, aku masuk dengan mata jelalatan mencari sosok Diego.


"Qirrera....." sapa seorang pemuda ganteng melambaikan tangan. Dua orang cewek yang tadi duduk disampingnya terpaksa pergi karena kedatanganku. Pemuda itu berdiri menyambut kedatanganku.


"Kau begitu cantik seperti bidadari sorga." kata Diego memujiku.


"Kau juga ganteng dan sangat ferfect." sahutku tersenyum. Pujianku memang apa adanya, dia sangat ganteng dan semua cewek akan tergiur olehnya. Cuma kalau disuruh memilih aku tetap memilih Adi.

__ADS_1


Aku tidak senang punya kekasih menjadi rebutan, jadi cukup memilih yang setandard saja, bagiku Adi adalah idamanku, walaupun aku tidak memberi harapan padanya, dia tetap menungguku dengan segala kecurigaannya.


****


__ADS_2