
Badan Dheo yang kekar itu terus menjepit tubuhku, bibirnya menjelajahi birahiku, Aku hampir terhanyut, untunglah dia memberi aku kesempatan bernafas.
"You crazy, aku benci padamu. Aku hampir mati tidak bisa bernafas." kataku mendorong tubuhnya, tapi Dheo tidak bergeming. Tangannya tetap melingkar di tubuhku.
"Aku ajari lagi, lama-lama pasti bisa, jangan menolak harus iklas." bisik Dheo mengunci tanganku.
"Kamu telah melecehkan diriku, dasar manusia tidak ada akhlak. Lepaskan aku, kalau tidak aku tendang kamu......."
"Hemmm......"
Semakin aku berontak, tenaganya semakin berlipat, dia membuatku tidak berdaya. Aku pura-pura pasrah untuk mencari akal supaya bisa lepas dari dekapan Dheo.
"Sudahlah, kamu tidak punya kuasa atas diriku, kita tidak ada hubungan apa-apa. Camkan itu!"
"Kita akan menikah, kamu tidak boleh pergi dariku."
"Persetan!! bukalah topengmu." kataku menggulingkan badanku ke pinggir. Dheo menggeser tubuhnya dan memelukku dari belakang. Wajahnya dia benamkan di punggungku. Terasa hangat.
Sebenarnya aku tidak peduli dengan sikap Dheo yang membingungkan. Terkadang acuh, terkadang lebay. Aku memberi nilai minus terhadap sikap Dheo yang terkesan genit di depanku.
"Bangunlah, tidak baik dilihat orang. Aku menjaga harga diriku dan martabat keluargaku."
"Akulah keluargamu, kalau ada orang lain mengaku saudaramu, mereka perlu diragukan. Kenapa mereka baru datang. Berpikirlah realistis, siapa yang terdekat dalam hidupmu."
"Aku tidak percaya kepadamu dan orang lain, aku percaya dengan intuisiku." tungkasku berusaha bangun.
Dheo ikut bangun kami duduk berdampingan. Badannya tetap nempel, padahal gazebo masih luas.
"Kesanain dikit, kenapa sih harus nempel. Aku jadi risih kamu pandang terus." kataku menepis tangannya yang melingkar di punggungku.
"Aku ingin menikmati wajahmu sepuasnya. Besok kamu akan pergi dari sini, aku tidak berdaya. Semoga malam ini bukan malam terakhir untuk kita bertemu. Baru aku sadari, sebenarnya aku takut kehilanganmu."
"Ayam berbulu domba, simpan omong kosongmu, aku tidak gampang ditundukan. Kalau mau mencari mangsa kamu sudah salah pilih, aku tidak sama dengan gadis lain yang biasa kamu pakai gula-gula."
"Aku tidak sehina pikiranmu, kita belum mengenal satu sama lain. Harapanku cuma satu, setelah kamu kembali ke rumahmu, kamu jangan melupakanku. Aku sayang kamu." kata Dheo serius, dia baru sadar bahwa jauh dilubuk hatinya ada perasaan suka yang mendalam.
"Sudahlah....aku tidak mau mendengar omong kosongmu lagi. Aku mau balik ke kamar. Setelah aku bertemu saudaraku aku akan melupakanmu."
"Iss..enak aja, kita akan menikah. Kamu akan menjadi istriku." sahut Dheo menempelkan pipinya.
"Amit-amit, jangan sampai aku menjadi istrimu. Aku yakin bahwa sebelum aku sakit, aku punya pacar."
"Kalau kamu punya pacar pasti dia datang menengokmu. Selama kamu sakit hanya aku yang berada di sampingmu. Itu membuktikan aku adalah tunanganmu."
__ADS_1
"Lihat aja nanti, aku tidak mau terperosok oleh rayuan gombalmu dan juga tidak mau berandai-andai. Wait and see."
"Terserahlah kalau tidak percaya, yang penting aku sudah mengeluarkan isi hatiku. Belum pernah aku merendahkan diri terhadap seorang gadis, selain kepadamu."
"Aku mau tidur, simpan rayuanmu untuk gadis lain, aku tidak butuh. Lebih baik kamu mencari orang yang bersimpati padamu. Terus terang aku tidak cocok denganmu."
"Kamu sadis sekali, bicaramu menyakiti hatiku, mulutmu setajam silet." kata Dheo merasa tertantang.
Qirrera sangat sulit ditundukkan, gadis itu tidak silau dengan harta atau pesonanya. Dheo tidaklah seperti pemuda lain yang memamfaatkan keadaan, dia ingin Qirrera dalam keadaan sadar tanpa paksaan jatuh kepelukannya.
"Makanya kamu harus menjauh dariku, jangan berharap aku mau denganmu."
"Walaupun kita sudah saling menyentuh?" sahut Dheo berharap.
"Tidak usah dibahas, tadi kamu memaksaku, bukan dari keinginanku." sanggahku cepat.
"Setidaknya kamu terkesan, aku harap peristiwa tadi membekas dihatimu...."
"Mari kita masuk ke rumah, aku takut hujan turun." kataku memotong pembicaraan Dheo.
"Kamu mengalihkan pembicaraan." sahut Dheo pelan. Tangannya aku tepis ketika dia mau menggandeng tanganku.
"Nasibku buruk bertemu denganmu." kata Dheo mengikutiku.
"Diamlah, aku tidak ingin ada yang bangun mendengar keributan kita. Aku hanya ingin menghangatkanmu." kilah Dheo, tangannya tetap melingkar dipunggungku.
Aku tidak memungkiri perasaanku yang terasa nyaman setiap aku berada dalam pelukannya. Bisa jadi karena badannya tinggi kekar, dan dia memelukku sangat lembut. Padahal aku punya perisai diri untuk melawannya apabila aku merasa terancam. Tapi ilmuku selalu kalah dihadapannya. Aku bisa lepas darinya apabila dia menghendakinya.
"Dheo, apapun kebaikan yang kamu lakukan padaku, hatiku tidak tersentuh. Kamu adalah butiran debu yang siap aku tiup kapan saja. Jadi bersiaplah untuk terbang dari duniaku."
"Aku tidak pamrih, semua yang aku lakukan adalah kewajiban seorang lelaki untuk melindungi calon istrinya." bisik Dheo merayu. Aku tidak peduli.
Kami sudah sampai di rumah, aku berdiri mengatur nafas. Dheo melepaskan pelukannya dan menaruh telunjuknya dibibir. Menyuruh aku diam.
"Aku akan ke kamar, jangan kamu ikutin." bisikku. Dheo memandangku diam. Akupun melangkah pelan menuju kamarku.
***
Om Wedakarna sangat meperhatikanku, dia membelikanku satu koper pakaian Bali dengan segala model. Setiap hari aku bisa berganti pakaian sesukaku. Sedangkan Nyonya There sikapnya padaku cendrung tertutup. Dia sering mencuri pandang, Dheo juga sering begitu. Ibu dan anak sama saja. Aku ingin cepat sadar supaya tahu siapa mereka sebenarnya.
"Tok...tok...tok.."
Bunyi ketukan pintu membuyarkan lamunanku. Aku menyeret kakiku menuju pintu. Tanganku memutar handle pintu. Wajah tampan sudah berada di depanku. Tersungging senyuman penuh makna dari bibirnya. Aku terpesona akan ke gantengannya.
__ADS_1
"Yank...sudah siap?" tanyanya memandang tubuhku dari atas ke bawah.
Tentu dia sangat kagum melihat bodyku yang terbalut pakaian bali yang meriah. Menurutku Baju-baju Bali sangat adem dan enak di pakai. Aku sangat senang memakainya.
"Kita berangkat sekarang?" tanyaku dingin. Aku berusaha bersikap biasa tidak terlihat mengagumi dirinya. Dia sangat macho.
"Ini pertemuan kita yang terakhir, aku harap kamu tidak melupakanku. Aku minta maaf atas segala tindakanku." kata Dheo pelan. Dia menarik nafas dalam.
"Semoga kita tidak bertemu lagi!!" sahutku sinis.
"Teganya, ini pertemuan kita terakhir sebagai musuh, setelah itu kita akan menikah." ucapannya membuat aku mencibir.
"Kopernya aku yang bawa." katanya masuk ke kamar dan dia kembali mengulang tingkahnya. Tangannya menggapai tubuhku dan memelukku erat. Perlahan bibirnya mulai mencari. Aku terpana sesat dan menikmati. Dheo semakin bernafsu akan kepasrahanku, sehingga dia lupa pintu kamar masih terbuka.
"Dheooo!!" sebuah teriakan membuat Dheo melepaskan aku dari dekapannya.
Seorang pemuda tiba-tiba marah dan menarik punggung baju Dheo. Aku kaget melihat pemuda itu dan tidak tahu harus bagaimana, karena aku tidak tahu masalah yang mereka hadapi.
"Keterlaluan kamu, aku tidak menyangka kamu menusukku dari belakang."
"Andre, untunglah kamu melihat. Jadi aku tidak susah-susah memberitahumu perkembangan Qirrera disini. Seperti inilah kami setiap saat."
"Kurang ajar!!" bentak Andre menerjang Dheo, tapi Dheo cepat berkelit.
"Stopp!! kalian sudah gila ya. Berhenti atau aku memanggil Papa kalian."
"Alex...jangan ikut campur." kata Dheo kesal.Ternyata namanya Alex.
Pemuda yang bernama Alex datang membentak, mereka saling pandang. Aku cepat mengambil koperku dan keluar. Mereka berebut membantu aku membawa koper tapi aku melotot dan menepis tangan mereka.
Aku pergi ke ruang tamu dimana ada Om Wedakarna dan Tante There. Ada juga Om Sugama dan yang lain. Aku belum begitu ingat.
"Hallo Qi, masih ingat sama Om?" tanya Om Sugama berdiri dan menghampiriku.
"Masih Om." sahutku tersenyum.
"Ini Tante Wilda, istri Om." katanya menunjuk perempuan yang duduk bersama Tante There. Wajahnya mirip, aku yakin mereka bersaudara.
"Salam Tante...." kataku mengangguk. Tante There dan Tante Wilda tersenyum memandangku. Aku mengangguk sopan.
****
DHEO
__ADS_1