
Mataku masih mengantuk tapi aku memaksakan diri untuk bangun. Selesai mandi aku memilih celana Jean sobek di bagian lututnya dan baju Tank Top. Aku sengaja berdandan aneh supaya Pak Haji menyudahi rencananya. Peduli setan dengan kerja sama.
Aku keluar dari kamar. Dan kamar disebelahku juga terbuka. Kami saling menoleh, menatap dan kembali masuk ke dalam kamar masing-masing. Setelah jeda lama aku perlahan memþuka pintu kembali. Dengan mengendap-endap aku berjalan ke depan. Aku bersyukur tadi dia tidak ada di depan pintu kamarnya.
Langkahku terhenti ketika Semeru sudah bersandar di pintu utama yang masih tertutup. Aku kecele, rupanya dia duluan keluar dari kamar dan sengaja menungguku dengan angkuh. Mentang-mentang ini rumahnya, dia bertingkah seenaknya.
"Apakah kamu ingin menggaet Pak Haji dengan berpakaian seronok begitu. Aku tahu cewek murahan sepertimu. Sengaja berpakaian transparan untuk mencari lelaki kaya. Setelah itu mengatakan kepada Dunia bahwa semua kekayaanmu adalah hasil otakmu."
Mataku panas mendengar ucapan Semeru. Aku tidak menyahut dan kembali ke kamar. Air mataku membanjir. Hatiku sangat sedih, aku demdam kesumat. Sampai tujuh keturunanku akan memusuhinya.
Kekalahan telak berada dipihakku. Dengan malas aku mengganti pakaianku dengan pakaian panjang yang tertutup. Rambutku aku kuncir kuda. Aku mengambil tissue basah menghapus sisa air mataku. Kemudian keluar kembali dari kamar. Tekadku sudah bulat akan memutuskan hubungan dengan Pak Haji.
Ternyata Semeru sudah pergi dari pintu utama. Seorang pelayan menyambutku dan mengajakku ke ruang makan.
"Nona telah ditunggu di ruang makan." kata pelayan itu sopan.
"Trimakasih, siapa namamu?"
"Ipeh Nona." sahutnya.
Aku berjalan pelan menuju ruang makan. Tidak ada keinginan untuk bertemu kembali dengan Semeru.
"Good morning cantik....." sapa Sandy menyambutku lantang.
Aku menahan langkahku, semua mata mengarah padaku. Di meja makan sudah ada Pak Haji, Bu Haji dan Semeru. Ada juga Bu Mayang dan Sandy.
"Morning semua." sahutku pendek.
Tidak ada senyuman dari bibirku. Sandy bangun menarik kursi dan menyuruhku duduk disamping Bu Mayang. Aku melirik Semeru sekilas, dia mengedikkan bahunya dan mencibir.
"Qi, duduk disamping Bunda." tiba-tiba Bunda memanggilku. Aku terpaksa pindah.
"Duduk dimana saja sama." kata Pak Haji.
Suasana terasa mulai panas.
"Dia adalah calon menantuku, jadi harus dibiasakan mulai sekarang." kata Bunda seraya mengelus rambutku.
"Apa? tapi...tapi...." Sandy terdiam ketika telunjuk Pak Haji memberi isyarat.
Aku merasa duduk di atas bara. Mata Semeru seolah ingin membunuhku, wajahnya masam tidak bersahabat. Menu yang tersedia tidak membuat aku tertarik. Hanya Sandy yang sibuk menyiapkan aku sarapan, karena dia tahu aku Vegetarian.
"Makanlah, besok-besok tolong bikinin Nona Qirrera Sandwich atau roti cane. Dia Vegetarian." kata Sandy kepada pelayan.
"Ya Tuan....." jawab mereka semua.
__ADS_1
Ada sepuluh pelayan yang berdiri siap meladeni kami. Aku tidak berselera makan. Biasanya kalau pagi aku minum juss sayuran dan buah.
"Pak Haji aku ingin berbicara sebentar, apakah Pak Haji ada waktu." kataku setelah kami selesai makan.
"Aduhh..sayang sekali, Bapak harus pergi, ini sudah telat." kata Pak Haji menolak dan berdiri.
"Kalau begitu aku mau bicara dengan Bunda." kataku berharap.
"Sayank...Bunda harus pergi juga, tidak lama koq..nanti kita bisa bicara." kata Bunda mencoel pipiku. Duhhh....
Aku sungguh kecewa, mulutku langsung mengerucut memandangnya.
"Sayank...masih ada saya dan Mas Sandy. Berceritalah kepada kami, kamu pasti tidak kecewa." kata Bu Mayang membuat mataku berbinar.
"Masuk ke dalam..." tiba-tiba saja Semeru menarik tanganku dan membawaku keluar dari ruangan makan.
"Mas Sandy......" teriakku spontan.
"Qirrera...." teriak Mas Sandy juga.
Aku dibawa ke sangkarku, dia mengunci pintu utama dan mencabut kuncinya.
"Berapa kali kamu sudah tidur dengan manusia brengsek itu." bentaknya ganas. Aku yakin oleh-oleh pakaian tidur itu darinya.
"Bikin malu nama keluarga, dasar pengkhianat, manusia sampah." bentak Semeru geram.
Aku duduk terpekur di ruang tamu sambil mendengarkan sumpah serapah Semeru. Aku mencoba memaklumi kondisinya, kenapa dia membeciku. Mungkin ada kaitannya dengan Ayahnya yang menikah dengan mbak Mayang.
"Kamu mendengar tidak, jangan sekali-kali dekat dengan prempuan itu dan si brengsek Sandy. Sampai kamu dekat aku tidak segan-segan mengusirmu." ancamnya.
"Usir aku sekarang itu lebih baik. Aku disini ingin menaruh modal di Perusahan Pak Haji, tapi Pak Haji memberi aku syarat yang membuatku gila. Tadinya aku berpikir anak Pak Haji bukan kamu jadi aku mau, kalau aku tahu itu kamu, aku akan mundur dan membatalkan perjanjian ini. Biarlah aku kena wanprestasi aku tidak peduli." kataku tenang.
Mataku jauh memandang kebalik kaca jendela. Saat ini uang bagiku tidak ada artinya, buat apa semua itu kalau hidupku nestapa begini. Dihina, dimaki dan dituduh yang tidak-tidak.
"Lepaskan aku, biarkan aku pergi...." rintihku sambil berlinang air mata.
Semeru diam, dia cuma menarik nafas. Aku tidak tahu bagainana jalan pikirannya.
"Jangan coba keluar, disini sudah lengkap makanan, minuman dan semuanya." kata Semeru masuk ke dalam kamarnya.
Jangankan makan bernafaspun aku nggan. Kalau ada setan lewat aku suruh mencabut nyawaku, aku sudah bosan hidup. Sangat bosan.
Bell pintu berbunyi aku cepat berdiri dan menuju ke pintu utama. Aku berharap pintu dibuka, sayang sekali duluan Semeru yang ke depan. Aku berbalik dan kembali duduk dengan kecewa.
Dia masuk dengan seorang Bule, aku kaget ternyata Semeru fasih berbahasa Inggris, dulu aku kira dia bloon.
__ADS_1
"Silahkan duduk Roger, kenalkan ini My Girl aku harap kamu tidak menjulurkan tanganmu atau cepika cepiki dengan cewekku." kata Semeru tanpa menoleh padaku.
"Hallo aku Roger... kamu cantik sekali dari mana asalmu." tanya Roger.
"Qirrera, Los Angeles." sahutku pendek. Semeru langsung menoleh menatapku dari atas ke bawah. Sepertinya dia baru tahu.
"Wow...so cute, we must be neighbors." kata Roger mau mendekatiku.
"Qi, masuk ke kamar!!" perintah Semeru. Memang itu mauku, aku sudah bosan dengan dramanya. Lebih baik tidur. pikirku.
"Semeru, kamu terlalu overprotektif, tidak mungkin orang lain mengambil punyamu, percaya itu."
"Aku tidak percaya manusia, di depan manis di belakang menusuk."
"Please Semeru kapan kamu berubah?"
"Setelah Matahari terbit dari Barat."
"Hahaha...impossible."
Mereka tertawa berdua. Roger adalah teman kuliah Semeru waktu di University of California, Los Angeles jurusan ekonomi bisnis. Mereka sangat akrab sudah seperti saudara, Roger sering ke Bali dan setelah itu ke Lampung.
"Kapan kamu menikah? aku sangat intrest melihat pacarmu. Sepertinya wajahnya sangat familiar." kata Roger membuat Semeru langsung berpikiran negatif tentang Qirrera.
"Bukankah kamu sering ke Bali, jadi setiap orang kamu pikir mirip."
"No Semeru, gadismu spesial, aku seperti pernah melihatnya, sangat sering."
"Kamu jangan memancing amarahku, katakan kamu pernah one night stand dengannya."
"Astagaa Semeru, pikiranmu sangat mengecewakanku. Untung gadismu tidak ada, kalau dia tahu kamu berbicara begitu habislah kamu."
"Dia yang aku habisin kalau sempat berhubungan denganmu."
"Sadiss...aku ingin mengenalnya lebih jauh, tidak tega melihat wajahnya yang kusut. Aku yakin kamu membuat dia menangis."
"Jangan hiperbola, silahkan kamu makan sepuasnya. Jangan dimakan saladnya, itu punya dia."
"Aku tahu, dia pasti tidak makan nasi, sama sepertiku." kata Roger melangkah ke meja makan.
"Aku akan invest di Bali, mungkin aku mulai dengan membeli Villa."
"Baguslah, asal jauh-jauh dari cewekku." sahut Semeru membuat Roger tertawa.
****
__ADS_1