QIRRERA LOVE YOU

QIRRERA LOVE YOU
PERGI DARI RUMAH


__ADS_3

Perdebatan Ibu dan anak tidak bakal habis semasih mereka belum menemukan titik temu yang membuat mulut mereka bungkam. Aku harus menengahi dengan caraku.


"Mari kita duduk di luar, aku akan menyelesaikan secepatnya." kataku keluar dari kamar. Semeru keluar dan Bunda. Aku duduk dengan wajah dingin.


"Yesi ajak Sagara di ruang keluarga. tutup pintunya." titahku kepada baby susterku.


Mereka menatapku menunggu apa yang akan aku bicarakan.


"Maaf Bunda dan Tuan Semeru. Aku tekankan disini bahwa aku adalah seorang Owner dari Hotel bintang lima. Aku bukan orang miskin yang kemaruk harta. Jadi jauhkan pikiran anda bahwa aku akan mengambil harta Ayah." kataku dingin. Semeru diam, begitupun Bunda.


"Saat ini semua harta sudah milik Sagara, dia ANAKKU satu-satunya. Jadi kuta bertiga tidak punya sepersenpun harta disini kecuali upah dari Perusahan. Dan untuk selanjutnya Sagara akan ikut aku keluar dari rumah ini dan menjauh dari kalian."


"Tidak!!" teriak mereka berbarengan.


"Kamu tidak bileh meninggalkan Bunda sayank...." sahut Bunda mulai menangis.


"Maafkan aku sayank...jangan cepat mengambil tindakan. Semua yang kamu lihat belum tentu benar.


"Tuan Semeru aku bukanlah anak kecil yang bisa kamu bohongi, aku lebih pintar darimu selangkah." sahutku mengambil map merah dari tas ranselku dan melemparkan kedepan Semeru.


Aku memperhatikan perubahan wajah Semeru dari merah menjadi pucat.


"Kamu nge hack pinselku?." tanyanya tidak percaya.


"Aku hanya menjalankan tugasku sebagai istri dan memantau kegiatanmu setiap hari. Yang aku sesalkan kenapa cepat sekali cintamu berpaling kepada orang yang aku paling benci di Dunia ini. Aku tidak mengatakan kamu jahat, itu hakmu untuk melabuhkan hatimu ketempat lain, kamu sukses membuat aku HANCUR!!". kataku datar dan dingin.


"Jangan pergi, aku akan melupakannya. Aku salah..." katanya lemah, seperti macan ompong yang tidak berguna.


"Ya sayank, jangan pergi maafkan suamimu, malu kalau diketahui banyak orang."


"Bunda, seperti saranku tempi hari semua aju lakukan sudah sesuai dengan perintahmu. Aku tidak kekuar dari Kalimantan, aku cuma pergi dari kalian. Tuan Semegu akan menjadi Direktur Utama di PT Sagara Barito dan berkantor disini. Sedangkan aku akan mengelola perkebunan, aku tidak mau uang yang aku donasikan hilang sia-sia untuk memuaskan hasrat Tuan Semeru." kataku tandas.


"Trimakasih sayank kamu tidak pergi, sering-seringlah kesini Semeru masih buta tentang pekerjaannya." kata Bunda menghapus air matanya.

__ADS_1


"Aku tidak tahu apa harus aku katakan yang terpenting janganlah kamu minta cerai dan kembalilah padaku."


"Maaf Tuan Semeru, aku tidak minta cerai tapi aku juga tidak mau bersatu denganmu. Cintaku sudah mati, aku kini hanya robot yang bekerja untuk anakku. Jangan berharap lebih dariku. Aku akan tinggal di perkebunan dan tidak akan pernah kesini." sahutku membuat Bunda kembali bicara.


"Sayank...kasihani Semeru, kalau kamu nekad tidak mau kesini Bunda mau mengambil anakmu."


"AMBILAH!!" mereka tentu tidak menyangka mulutku tega mengeluarkan kata sadis itu. Aku berani bicara karena aku sudah tahu anakku. Selama ini aku menyusui Sagara tanpa susu formula, jadi Bunda tidak akan bisa menghentikan tangis Sagara kalau mau *****.


"Kamu tega membuang anakmu." Semeru mempersalahkanku. Ciihh...selama perselingkuhannya apakah dia pernah menyentuh anaknya. Jijik aku mendengar celotehnya.


"Aku tidak membuangnya, kalian yang memintanya. Aku hanya nenurut."


Suasana hening. Semeru tentu memikirkan gundiknya. Aku bersyukur dia tidak hamil.


"Apakah kamu mengingat bajumu yang masih di jemuran berjejer rapi. Aku memujimu bisa hidup sederhana dan giat mencuci dan memasak setiap hari." sindirku pedas.


Semua yang dia lakukan tentu aku tahu karena chattingannya pernah menyinggung mencuci dan memasak. Aku merasa menang dan berada di atas angin.


Dia tetap mengunci mulutnya.


"Kamu membunuhnya?"


"Begitulah kira-kira, aku manusia sadis." sahutku bohong.


Aku hanya menyuruh pengawalku untuk mengusirnya dari perkebunan dan memberi santunan yang lumayan, serta mengantarnya sampai Bandara. Aku juga menyuruh pengawalku untuk merampas ponselnya dan memberi ponsel baru serta nomor baru.


"Aku meminta nomor ponselmu dan akan menggantikan dengan nomor baru, jika kamu keberatan aku akan mengusirmu dari sini." kataku menjulurkan tangan mengambil ponselku. Semeru merebut ponselnya, kakiku naik menahan dadanya yang mau maju. Selesai sudah....


Aku melempar ponselnya ke atas meja.


"Qi..mau kemana jangan Bunda ditinggal." teriak Bunda sambil berdiri, aku terpaksa berhenti melangkah terus menghambur kepelukan Bunda.


"Aku sayang Bunda, tapi aku harus pergi dari sini. Semua sudah aku pikirkan dari dua bulan yang lalu ini adalah keputusan yang terbaik buatku." kataku mulai terisak.

__ADS_1


"Yank, aku yang bersalah dan akulah yang seharusnya pergi. Tinggalah kamu di rumah dengan Bunda." kata Semeru di belakangku.


"Maafkan aku Bunda." kataku melepaskan pelukanku. Aku harus tegas. Kalau aku mengalah Semeru akan menganggap enteng persoalan ini, aku harus memberi efek jera kepadanya.


"Bunda, biarkan apa maunya. Dia ibu yang tidak punya hati dan tega meninggalkan bayi kecil demi egonya." kata Semeru putus asa, karena aku ngotot mau pergi.


Dengan langkah tegap aku pergi dari hadapan mereka. Sengaja aku berpaling ketika melihat baby sisterku menggendong Segara. Aku harus kuat. pikirku.


Semeru mengikutiku ketika aku pergi mengambil barang ke rumah kedua. Sungguh aku tidak peduli, lukaku masih basah dan perih.


"Tega sekali kamu meninggalkan kami. Dasar tidak punya hati." pekik Semeru ketika aku tidak mau menanggapi setiap omongannya.


Tiba-tiba dia menubrukku dan mengunci badanku. Marahku meledak, aku menggigit lengannya. Kemudian aku menendangnya.


"Aku benci denganmu pecundang, tidak secuilpun cinta tersisa di lubuk hatiku. Jangan coba-coba dekat denganku kalau tidak ingin nasibmu sama dengan selirmu." kataku membiarkan dia meringis.


Aku berlalu dengan sudut mata berair. Sebenarnya aku tidak tega menggigitnya, tapi gimana lagi aku takut lemah ketika berada di pelukannya.


Aku menghubungi Pak Rudi kepala pengawalku.


"Sore Pak Rudi, aku butuh kelima pengawal untuk mengantarkan aku ke perkebunan."


"Siap Nyonya." sahut Pak Rudi.


Tidak menunggu begitu lama kelima pengawalku datang. Mereka kaget melihat lima koper besar berderet.


"Nona mau kemana?"\=


"Aku mau ke perkebunan, angkat kelima koperku." perintahku.


Mata Semeru tidak lepas dari diriku, dia duduk di sofa sambil memegang lengannya yang aku gigit. Aku berharap ini pertemuan terakhir dengan Semeru.


Diam tidak selalu berarti "ya". Terkadang aku lelah menjelaskan kepada orang yang bahkan tidak peduli untuk mengerti.

__ADS_1


Terkadang aku tidak menyadari bahwa aku sebenarnya sedang tenggelam ketika masalah ini muncul. Aku tidak tahu apakah itu membunuhku atau membuatku lebih kuat. Aku tidak bisa membuat siapa pun mengerti apa yang terjadi di dalam diriku.


****


__ADS_2