
Sagara memang menggemaskan, dia begitu aktif dan sudah mulai bisa merangkak. Mama sampai kewalahan dibuatnya. Setiap hari Sagara mencuri perhatian Mama. Aku juga sangat bahagia dibuatnya, walaupun terkadang Sagara rewel tidak karuan.
Hidupku terasa semakin nyaman, jauh dari perdebatan dan prasangka. Walaupun baru sebulan disini aku sudah merasa betah. Maklumlah, aku dari bayi sampai tamat kuliah tinggal di Los Angeles. Jadi banyak teman disini yang rata-rata sudah menikah.
Hari-hariku aku isi dengan mengurus bisnisku lewat online, tapi ketenanganku terusik dengan telepon dari kak Leon.
Padahal kami baru saja pulang dari boutique membeli banyak pakaian karena aku tidak membawa pakaian waktu kabur.
"Qi, kamu sekarang berada di Los Angeles? atau di Colorado?" kata kak Leon di seberang sana.
"Aku bersama Mamaku baru datang dari Boutique, ada apa kak. Tumben kakak meneleponku." sahutku cemas. Tidak biasanya kak Leon menelponku kecuali ada yang sangat penting.
"Tidak ada apa-apa, cuma kakak ingin mengatakan kakak iparmu akan melahirkan, dia ingin sekali melihat kamu, berada disini."
"Kak koq mengerikan, aku jadi takut ada apa-apa terhadap kakak ipar."
"Makanya cepat pulang."
"Aku akan pulang bersama Mamaku, aku tidak tega meninggalkan Mama seorang diri. Aku tahu kalian sangat benci kepada Mama Evelyn karena dia merebut Papa kita, tapi dia merawatku dari bayi. Aku ingin membalas budi merawatnya dihari tuanya."
"Qi..kamu sudah dewasa, sudah punya kehidupan sendiri, kalau memang kamu mampu mengajaknya, silahkan saja. Aku pribadi tidak mempermasalahkan, ntah kakak yang lain."
"Syukurlah kakak sudah tidak dendam kepada Mama Evelyn. Aku akan mengajak Mama ke Bali. Trimakasih kak."
"Pulanglah secepatnya." kata kak Leon menutup ponselnya sepihak.
Aku berusaha menghubungi kak Maya dan kak Selvi tapi tidak bisa. Kak Leon membuat aku khawatir tentang keadaan istrinya. Belum tuntas rinduku tersalurkan di Los Angeles sekarang aku harus ke Bali. Kalau tidak datang aku takut terjadi sesuatu dengan kakak ipar.
"Maa..aku harus pulang ke Bali, mumpung masih siang. Sebenarnya aku betah tinggal disini, tapi bagaimana lagi kak Leon suruh aku pulang." kataku memandang Mama yang sedang menggendong Sagara.
"Mama tidak bisa berkata apapun, kamu milik mereka. Kalau Mama ikut campur kakakmu akan marah."
"Bagaimana kalau Mama ikut aku tinggal di Bali. Aku akan membeli rumah untuk Mama, jadi kita bisa terus bertemu."
__ADS_1
"Nanti Mama pikirkan lagi, pulanglah ke Bali, supaya kakakmu tidak marah."
"Mama harus ikut denganku, Mama sudah tua aku takut terjadi sesuatu. Hidupku sudah mapan, aku rasa kakak tidak mungkin memusuhi Mama lagi. Kejadian itu sudah lama berlalu, Papa juga sudah meninggal. Mama harus ke Bali bersamaku."
Lama Mama terdiam. Aku mengerti perasaan Mama yang takut ke Bali karena pernah berbuat salah terhadap Mama Capela istri tua Papa. Tapi itu sudah lama, aku berharap semua kakakku memaafkan Mama. Setelah lama berpikir akhirnya Mama mau diajak ke Bali.
"Baiklah Mama ikut kamu."
"Trimakasih Mama aku sayang padamu, ini adalah keinginanku yang terbesar. Selama ini pikiranku terbelah. Aku ingin merawat Mama seperti yang Mama lakukan waktu aku masih kecil." kataku sangat bahagia.
****
Seorang konglomerat bisa melakukan apapun, ada uang yang menunjang hidupnya. Seperti Semeru misalnya, dia hanya menyuruh seorang spionase untuk melacak keberadaanku, nasibku sudah berada di ujung tanduk.
Ketika ada beberapa orang menjemputku di Bandara hatiku sudah tidak enak. Aku merasa ini semua rekayasa Semeru, kak Leon menjebakku. Pengawal Semeru berbaris menungguku. Beberapa Reporter sibuk mengabadikan langkahku. Semeru selalu membuat aku tidak berdaya dan dia akan mencari kesempatan dalam kesempitan.
Aku melangkah tenang menuju tempat parkir, disampingku ada Mama yang menggendong Sagara. Dibelakangku ada dua orang porter yang membawa barang.-Beberapa wartawan melempar pertanyaan padsku tentang pelarianku.
"Tidak ada orang ketiga, aku pergi karena menjemput Mama." jawabku.
"Benarkah anda merebut hak waris ibu Mayang dan mengusirnya tanpa sepersenpun."
"Aku belum pernah mengusir orang, dia pergi dengan suka rela dan minta imbalan."
Ketika Wartawan mau bertanya lagi aku mengangkat tangan memberi kode stop karena Semeru sudah berada di depanku bersandar di badan mobil Lamborghini kepunyaanku.
Wajah ganteng itu mendekat, bibirnya tersenyum dan memelukku, mesra dan hangat. Aku merasa mendengar detak jantungnya yang bergemuruh. Apakah dia merindukanku. pikirku. Kemudian dia mengambil Sagara sebentar dan menyerahkan kembali kepada Mama.
Aku tidak bisa berontak dan mengikuti permainan. Mama dan Sagara terpaksa berpisah mobil karena mobilku tidak cukup. Tapi sebelumnya aku sudah wanti-wanti supaya Mama tidak menjawab apapun pertanyaan Wartawan.
Puluhan wartawan mengambil gambar kami, aku tersenyum manis dan melambaikan tangan ketika aku masuk bersama Semeru ke mobil.
Ada Polisi memakai lampu strobo mengawal kami. Di belakangku beberapa BMW mengikuti kami.
__ADS_1
"Apakah kamu sudah mengacak-acak rumahku, apa lagi rencanamu?" kataku dingin setelah mobil melaju.
"Apa aku salah Menjemput permaisuriku dan putraku." kata Semeru tenang.
"Apapun yang kamu lakukan aku tidak peduli. Aku menurut demi nama baik kita, demi prestise."
"Baguslah sayank....jangan kamu membuat ulah, ikuti saja. Semua ini demi nama baik dan kesehatan Bunda."
"Kenapa Bunda?" tanyaku khawatir.
"Waktu kamu pergi aku dan Bunda sempat bertengkar, Bunda pingsan. Dari situlah Bunda ketahuan sakit jantung. Dokter menyarankan supaya kita sebagai anaknya bisa menjaga lisan dan membawa diri. Aku putuskan untuk mencarimu di Bali dan membuat perhelatan ini."
"Aku menyayangi Bunda bukan anaknya. Aku akan berada disampingnya, semoga tidak ada masalah lagi yang membuat Bunda sakit." sahutku merasa bersalah.
"Sebagai anak yang berbakti tidak ada salahnya menyenangi hati Bunda." kata Semeru.
"Semua yang kamu lakukan ini berarti cuma pura-pura, hanya untuk menyenangi Bunda."
"Hemm...kapan kamu bertingkah manis untuk menyenangi hatiku? kamu tahu paniknya aku ketika kamu kabur. Aku mencintaimu, aku tidak bisa hidup tanpamu. Semua aku lakukan demi kamu, tolong mengertilah."
"Kamu terlalu sensitif, jangan cepat mengambil kesimpulan disaat aku marah. Saat marah apapun bisa keluar dari mulutku. Semakin hari aku semakin sadar, bahwa aku sangat mencintaimu."
"Aku no comment." sahutku cepat. Mana aku percaya dengan mulutnya. Sekarang ngomong cinta, besok berselingkuh. Gimana aku tidak kesal.
"Jangan membuat aku memelukmu, jawab yang manis."
"Mana bisa aku menjawab manis hatiku sudah terlanjur pahit dan gersang."
"Ya sudahlah, kita tunggu Matahari tenggelam. Aku pasti akan mendapat jawaban manis dari istriku. Aku afirmasi positif saja." katanya tersenyum.
Aku tidak peduli dan malas menanggapi omongannya. Masih tersisa rasa sakit yang dia torehkan dihatiku.
****
__ADS_1