
Mataku nanar melihat awan putih yang berkumpul seperti salju. Matahari muncul dari balik awan, sangat indah menggoda. Aku termenung dengan seribu pikiran yang bercampur. Tapi kesedihan tetap mendominasi jiwaku. Hatiku sakit seperti diiris sembilu. Penghinaan yang terbesar apabila seseorang di keluarkan oleh marganya, itu kata keluargaku. Untungnya kakak percaya apa yang aku ucapkan, mereka mengerti dan selalu support. Aku seolah berada di titik nadir, ketika Andre juga tidak kagi menghubungiku. Cukup sudah sampai disini.
"Silahkan anda mempergunakan perjalanan ini dengan merebahkan badan, atau sambil menyelesaikan pekerjaan yang tertunda." kata seorang pramugari menghampiriku. Pelayanan ini aku dapatkan karena aku berada di Business Class, dalam penerbangan pertama.
"Trimakasih." sahutku pendek tanpa mengalihkan mataku dari lubang kaca jendela pesawat. Aku masih beralusinasi. Pramugari itu berlalu ketika tanganku memasang No Disturb di kursiku.
Kemudian mengatur tempat duduk menjadi tempat tidur dan mengambil selimut. Terngiang kata-kata saudaraku ketika aku memutuskan pergi dari Bali. Waktu itu kami duduk di ruang tamu di rumah kak Leon.
"Qi..apapun penjelasanmu tidak akan berarti bagi orang lain. Mereka lebih condong membela Natalia yang mengatakan dirinya sebagai korban. Hanya kita yang tahu siapa dirimu, aku sebagai kakakmu percaya denganmu dan akan selalu membelamu." kata kak Leon ketika aku menceritakan kronologi kedekatanku dengan Andre.
"Benar kata Leon, lebih baik kamu memikirkan bisnismu dan masa depanmu. Jangan takut tentang cemohan warga dan masyarakat. Perlahan orang akan melihat kebaikanmu sepanjang kamu benar. Orang juga bisa menilaimu dari prilakumu." kata kak Maya menatapku.
"Aku yakin otak mereka akan sadar, banyak pembangunan yang butuh sumbangan. Kalau kamu tidak aktif, kemana mereka mencari sumbangan. Minta pada warga yang lain, belum tentu mereka dapat. Apalagi terus menerus, paling banter mereka bantu sekali dua kali." kata kak Selvy dengan mata marah.
"Banyak orang kaya dan banyak donatur." sahutku pelan.
"Memang banyak, aku juga kaya, tapi kalau terus disuruh nyumbang mana kuat. Biarin supaya mereka kapok. Mau minta sumbangan sama kita mereka pasti malu." kata kak Leon.
"Kak aku akan ke Luar Negeri untuk sementara, aku akan bekerja online, tolong lihat-lihat rumahku." kataku kepada kak Leon.
"Bibik dan scuritymu masih ada?" tanya kak Selvy.
"Semua masih ada, cuma Andre saja yang pergi. Aku tidak lama koq, sekalian perjalanan bisnis."
"Nanti aku lihat-lihat. Aku harap kamu jangan terpuruk dengan masalah ini, karirmu bisa jatuh. Banyak laki-laki di luar yang lebih dari Andre. Lupakanlah semuanya yang membuat kamu sakit. Hanya satu permintaan kakak jaga dirimu, jangan karena masalah ini moralmu rusak."
"Ya kak aku faham. Aku akan menata hatiku dan berusaha melupakannya."
"Bagus, aku yakin kamu bisa Qi." ucap kak Selvy support aku.
"Kak Leon, aku akan mengembalikan warisan mama untuk kak Leon. Rumah, Ruko, tempat Kost dan Villa. Aku juga akan menyumbangkan bisnis Teh Pociku kepada setiap yang mengelola. Dan tolong kelola Pasar tumpah itu dan hasilnya untuk sedekah." kataku membuat ketiga kakakku bersedih.
"Qi..aku merasa kamu tidak akan kembali." ucap kak Maya memelukku.
"Buat apa aku kaya kak, kalau hidupku pahit. Sebagai Owner aku bisa mengelola bisnis Hotelku lewat Online."
"Aku tidak tega melihat penderitaanmu." sahut kak Selvy berkaca-kaca.
"Kakak harap kamu jangan lama pergi, kasihan Mama."
"Selama ini aku selalu berat meninggalkan Mama, tapi semua ini harus aku lakukan. Aku pasti kembali."
__ADS_1
"Jangan lama-lama pergi, aku akan sedih." sahut kak Maya sedih. Dia memelukku ketat. Kami menangis.
Aku sebenarnya sedih meninggalkan mereka, meninggalkan Bali yang indah. Tapi aku harus pergi untuk melupakan semuanya, ntah sampai kapan. Aku berdoa dalam hati semoga Mamaku sehat dan saudaraku dalam lindunganNYA.
****
Aku sengaja memilih pergi ke Singapore, Negara dekat Indonesia supaya aku tetap melihat orang-orang Indinesia di sekitarku dan melihat Negara Indonesia dari ketinggian 200 meter, dari puncak Marina Bay Sands.
Seminggu telah berlalu, hatiku sedikit terhibur ketika berjalan-jalan di Singapore. Setiap hari aku berkeliling di Orchad Road. Aku menginap di Hotel yang berbentuk prahu raksasa ini di Marina Bay Sands.
Seperti sore ini aku telah duduk santai di rooftop pool di Marina Bay Sands. Kolam renang yang terpanjang di Dunia. Dari sini aku bisa melihat Indonesia dan Malaysia. Aku memilih bersantai di sewordnya sambil berselfie ria.
Aku memesan juss beetroot dan kudapan manis yang terbuat dari icing sugar dan almond powder, salad buah serta roti salmon. Kurasa apa yang aku pesan tidak membuat selera makanku bertambah, dengan terpaksa demi sehat aku cuma makan salad dan juss.
"Kenapa tidak dihabiskan makannya?" sebuah suara membuat aku menoleh ke belakang.
"Om, Tante...kenapa berada disini?" tanyaku konyol melihat Om Sugama dan Tante Wilda istrinya.
"Kenapa juga kamu ada disini?" sahut Om Sugama pindah ke mejaku.
"Hahaha....aku membuang jenuh, siapa tahu perjalanan ini bisa membuat aliran darahku normal kembali." sahutku.
"Warisanku semua sudah aku kembalikan ke kak Leon, aku mengelola apa yang aku punya saja. Jadi kesibukanku berkurang Tante."
"Kita tidak pernah lama bercerita, jadi Om belum tahu semuanya tentangmu. Apa saja pencapaianmu saat ini."
"Terakhir aku datang ke show room untuk mengambil Lamborghini, seminggu kemudian aku langsung mengambil Hotel Luxury. Setelah itu aku mengembalikan warisan yang dihibahkan untukku. Semua aku kasi kak Leon."
"Kamu sudah membeli Hotel? hebat sekali, bintang berapa?" tanya Tante Wilda kagum.
"Bintang lima Tante, bayarnya lewat termin. Jadi tidak terlalu berat, aku bisa bernafas."
"Walaupun lewat apa, yang penting lunas, kami saja belum mampu beli Hotel." sahut Om Sugama.
"Tapi Om sudah punya show room supercar yang modalnya juga lumayan. Aku beli Hotel karena harganya miring."
"Om bangga melihat sepak terjangmu, masih muda sudah sukses. Bagaimana kalau kamu menjadi menantu Om."
"Papaa....jangan sembarang bicara. Anak Tante sudah dipinang." sahut Tante Wilda cepat. Om Sugama tersenyum miring.
"Hahaha....jangan khawatir Tante saya tidak ingin menikah, saya enjoy sendiri. Disamping itu saya masih muda. Belum terpikir untuk menikah."
__ADS_1
"Maaf Qi, jangan tersinggung. Kita dibelenggu oleh adat, jadi serba susah. Apalagi yang meminang anak Tante teman sendiri. Syukurnya anak Tante mau, padahal dalam hati tidak sreg sama calon menantu."
"Kalau aku memilih Qirre menjadi calon menantuku, aku tidak senang pilihanmu." kata Om Sugama mesem.
"Aku tidak enak sama teman, dari dulu anaknya naksir anak kita." sahut Tante Wilda pasrah.
"Semoga dia bisa jadi menantu yang baik, aku melihat tanda-tanda matrealistis dari Ibu dan anaknya." ucap Om Sugama dengan wajah mengkerut.
"Kita berdoa saja Paa, supaya anak kita bahagia. Tidak enak juga sama Warga dan para tetua."
"Saya ikut berdoa, semoga Om dan Tante selalu berbahagia dan sukses." kataku memberi semangat.
"Kamu anak baik dan tidak sombong, apakah kamu masih suka ke Panti Asuhan?."
"Masih Om, tapi sekarang aku tidak lagi berkewajiban menyumbang kepada Warga dan pembangunan warga. Aku sekarang fokus pada tiga Panti asuhan saja."
"Apa karena warisan dikembalikan ke saudaramu?" tanya Tante Wilda.
"Itu salah satunya, ada lagi masalah lain yang sangat prinsipil. Aku tidak kuasa menceritakan. Hatiku hancur Tante." tanpa terasa air mataku mengalir.
"Qi...ada apa? astaga, Tante belum pernah melihat kamu serapuh ini. Cerita pada Tante kalau itu membuatmu lega." Tante dan Om Sugama heran.
"Menangislah sayank, Tante akan senang bila kamu percaya pada Tante. Anggap Tante Mamamu." kata Tante Wilda terharu. Dia menggeser kursinya dan mendekat serta membelai rambutku.
Aku menangis sedih. Mungkin pengunjung lain heran melihatku, aku tidak peduli. Air mataku tidak bisa berhenti.
"Sabarlah Qi, apapun masalah yang melindas kehidupanmu, hadapi dengan berani. Masih ada Om dan Tante yang selalu akan membantumu. Anggap kami berdua menggantikan Mama dan Papamu."
"Trimakasih Om, aku baru menemukan orang sebaik kalian berdua. Banyak orang menghinaku karena aku anak haram."
"Iss..jangan berkata begitu, bagi kami tidak ada anak haram. Jangan berkecil hati. Tetaplah menjadi Qirrera yang tegas dan baik hati." kata Tante Wilda.
Aku menghapus air mataku dan berusaha tenang. Rasanya lega setelah menangis.
"Ingin Tante mengajak kamu sebagai anak Tante sendiri. Nyonya Capela pasti berbahagia mempunyai anak sebaik ini."
"Mama sabgst baik, sekarang kak Maya menjadi Owner di Hotel kami mengganti Mama. Soalnya kak Leon tidak mau kerja Hotel. Kalau kak Selvy menjadi Owner Villa keluarga. Sedangkan aku sudah punya Hotel sendiri."
"Semua anaknya Nyonya Capela hebat, semoga dia cepat sembuh. Kalau dulu bertemu kami saling sapa saja, belum pernah komunikasi." kata Tante Wilda tersenyum.
*****
__ADS_1