QIRRERA LOVE YOU

QIRRERA LOVE YOU
HAPPY BIRTHDAY.


__ADS_3

Akibat tidur kepagian aku jadinya bangun agak siang. Jam sepuluh pagi aku baru bisa membuka mataku. Kaki terasa ngebet. Mataku reflek melihat sekeliling, tidak ada Andre, aku jadi sangat khawatir. Menyesal sekali memecahkan ponselnya.


Seharusnya aku belajar bersikap lebih sabar lagi menghadapi orang. Ini pelajaran bagiku supaya kedepannya aku bisa bersikap bijak dan berusaha bisa menahan emosi.


Perlahan aku beringsut bangun untuk pergi ke kamar mandi. Kakiku sangat sakit dan kepala pusing. Di saat begini aku butuh seseorang untuk menemaniku, tapi Andre rupanya tidak peduli dan belum pulang. Kenapa disaat sakit orang yang kita cintai tidak peduli? tanyakan pada rumput yang bergoyang!!.


Air mataku sampai keluar menahan sakit, tapi aku tetap berusaha ke kamar mandi. Seandainya Andre tidak datang sampai sore ini, aku akan pergi dari sini dan pulang kerumah.


"Tok..tok...tok.."


"Siapa?" tanyaku meringis. Ketika menginjakan kaki ke lantai.


"Dari Go Food mengantar makanan."


"Tunggu." sahutku berusaha menggapai pintu. Perlahan aku membuka pintu.


"Selamat pagi, dengan nyonya Andre? ini pesanan nyonya." kata sopir ojol Go Food dengan sopan.


"Trimakasih." kataku mengambil kotak makanan dari ojol itu. Aku memaksa berjalan membuat kakiku sangat sakit.


Aku perlahan duduk di meja dan membuka kotak yang bersusun tiga. Ternyata ada secarik kertas yang ditulis Andre.


"Ingat makan dan minum obat. Kotak pertama untuk makan pagi, kedua untuk makan siang dan ketiga untuk makan malam. Semoga cepat sembuh." Andre.


Aku termangu membaca tulisan itu. Rasa laparpun menguap. Dia membuatku khawatir, dimana dia sekarang berada, kenapa dia tidak pulang.


Mungkin karena aku ada disini Andre tidak mau pulang. Apakah aku harus pergi dari sini supaya dia tidak repot mengurusku. Tidak tega juga kalau dia terus mengeluarkan uang untuk keperluanku. Akhirnya aku mengambil keputusan untuk pulang kerumah.


Aku meraih ponselku dan memanggil grabb. Hidup harus dijalani sendiri, seolah kesendirian itu adalah temanku. Mataku memandang sekeliling ruangan mengharap ada yang berkesan dihati untuk diingat, bahwa aku pernah tidur disini dengan orang yang sangat aku cintai.


Sayang sekali hubungan kami berubah menjadi abu-abu, kami saling tidak percaya dan saling menuduh.


"Apa yang bisa di percaya darimu?" tanyanya sinis.


Aku tidak menjawab, sebaris kata itu mampu membuat air mataku jatuh. Jadi selama ini dia tidak mempercayaiku?, atau ini hanya sebuah dalih untuk menghindar dariku dan lari kepelukan perempuan itu.


Menangis bukanlah solusi yang terbaik. Aku merasa lelah lahir bathin. Hanya satu keinginanku saat ini pergi dari sisinya, dari kehidupannya. Sungguh aku tidak bisa melupakan atau membuang cintaku begitu saja.


"Dreett...dreett...dreett...."q


Ponselku bergetar, aku yakin sopir grabb menghubungiku.


"Hallo ...saya sudah sampai di depan kamar Nona."


"Maaf, bisakah Bapak menolong saya ke mobil kaki saya baru habis dijahit."


"Okay saya akan masuk ke kamar Nona." kata sopir grabb itu. Dia mengetuk pintu. Setelah itu masuk dengan sopan.


"Boleh saya menggendong Nona?" tanyanya setelah melihat kondisiku.

__ADS_1


"Tolong aku berjalan, seandainya tidak bisa aku akan minta tolong untuk digendong." sahutku berdiri.


"Saya akan memapah Nona, hati-hati." katanya sambil menolongku. Aku meringis ketika memaksa berjalan.


"Sepertinya Nona tidak bisa berjalan, saya akan menggendong Nona." kata sopir grabb itu menunggu persetujuanku.


Perjalanan ke rumahku tidak memakan waktu lama. Bibik Inah dan Bibik Surti menyambut kedatanganku dengan haru.


"Non..kenapa bisa begini?" mereka berdua mengikutiku yang digendong oleh sopir grabb ke kamar.


"Trimakasih Pak atas bantuannya." kataku memberi upah lebih.


"Bik bagaimana keadaan di rumah?"


"Aman terkendali Nona, hanya ada abang Nona yang datang kesini menanyakan tentang Villa di belakang."


"Dia tidak menanyakan diriku?"


"Tidak Nona, dia malah berpesan sama Bibik supaya membujuk Nona agar tetap mau tinggal disini."


"Kakak memang selalu begitu tidak usah ditanggapi." sahutku tersenyum.


Pasti Kak Leon takut menempati rumah ini karena biayanya banyak. Listrik sebulan habis dua juta. Belum dana yang harus dikeluarkan untuk kewajiban yang dibebankan oleh warga kepada keluargaku, kalau dulu semua biaya dilimpahkan padaku, tapi semenjak aku dikeluarkan oleh warga beban itu menjadi tanggungan kak Leon. Aku yakin dengan keberadaanku disini kewajiban untuk warga akan dilimpahkan padaku. Kak Leon licik.


"Saya senang Nona pulang kembali, tidak ada yang lebih enak dari tinggal di rumah sendiri. Apapun yang terjadi pada diri Nona jangan menyurutkan kehendak Nona untuk meraih kesuksesan." kata Bik Inah bijak.


"Justru Nona harus bangkit dan melupakan hinaan orang dengan cara terhormat. Tunjukan bahwa Nona tidak seperti prasangka mereka. Bibik yakin Nona pasti bisa."


"Apakah ada warga yang datang untuk meminta iuran?" tanyaku ingin tahu.


"Tidak ada Nona, mereka pasti malu" sahut Bik Surti. Mereka berdua tahu ketika aku disidang tempo hari, karena kejadiannya dirumah ini.


****


Dua minggu telah berlalu, kakiku sudah hampir sembuh. Aku sudah mulai bekerja seperti biasa. Andre tidak ada khabarnya sama sekali, padahal aku ingin membelikan handphone. Menurutku dia sengaja menghindar dariku. Aku sungguh tidak mengerti hubunganku dengan Andre seperti menggantung. Putus tidak, pacaran juga tidak.


Pagi ini aku menyusuri ramainya kota Denpasar, berbekal secarik kertas aku mencari alamat Panti Jompo yang berada di Dusun Manggis. Ini bulan Agustus hari jadiku, aku ingin menjadi penyumbang tetap atas nama Mamaku di Panti Jompo.


Tidak sulit mencari tempat ini, sangat dekat dari jalan Bay Pass. Aku memarkir mobilku di pinggir jalan.


"Selamat pagi Bu, kenalkan nama saya Qirrera. Saya mencari Ibu Saidah pengelola Panti ini." aku menemui seorang Ibu yang sedang menyapu. Aku sudah terbiasa memakai bahasa Indonesia untuk berkomunikasi.


"Pagi Nona, saya Ibu Saidah, silahkan masuk ke Kantor." sahutnya sopan.


"Saya tidak menyangka Nona masih muda dan sangat cantik." kata Ibu Saidah memujiku.


Dia tidak habis-habisnya memujiku. Kami berbincang-bincang tentang jumlah orang tua jompo dan segala permasalannya yang membuat Ibu Saidah mencari donatur, katanya dana semakin menipis sedangkan penghuni Panti semakin meningkat.


"Begitulah Nona, saya sendiri sangat bertrimakasih atas kesediaan Nona menjadi donatur tetap. Dari sepuluh orang yang tercatat sebagai donatur, baru Nona yang langsung datang kesini. Semoga berkah Nona."

__ADS_1


"Jangan sungkan-sungkan menghubungi saya, seandainya saya tidak datang kesini berarti saya sangat sibuk."


"Saya ingin bertemu dengan mereka Bu sebelum saya pamit." sambungku lagi setelah menyerahkan dana atas nama Mamaku. Aku juga minta supaya Mama di doakan agar cepat sembuh.


Aku diajak ke belakang untuk menemui orang tua yang duduk berjejer dengan rapi. Ada sekitar enam puluh orang wanita dan dua puluh dua laki-laki. Mereka rata-rata sudah tua, tapi aku melihat mereka sehat.


"Salam Nenek, kakek...." sapaku tersenyum Mereka menyambutku dengan antusias.


Mungkin mereka sudah diajari oleh pengurus Panti supaya menyambutku dengan baik. Aku mengeluarkan segempok amplop yang sudah berisi uang lima ratus ribu di dalamnya. Aku membagikannya kepada mereka. Setelah itu mereka menyuruh aku duduk di kursi kayu yang telah disediakan.


"Kami akan mendoakan Nona sekeluarga dan Ibu Nona yang lagi sakit." kata pengurus Panti sambil mencakupkan tangannya diikuti oleh semua yang ada.


"Trimakasih Bu." sahutku mengangguk.


Terbayang wajah Mama yang pucat pasi. Matanya sudah tidak pernah terbuka lagi. Hanya nafasnya yang halus terdengar.


Aku permisi pulang setelah berada di Panti sekitar lima puluh menit. Kembali mobilku menyusuri jalan Bay Pass Ngurah Rai menuju Canggu. Suara dari Shawn Mendes "In My Blood" menghiburku sesat.


Jalan menuju Hotelku agak sedikit krodit. Tidak ada jalan alternatif, semua mobil tumpah ruah disatu jalan yang lebarnya enam meter. Macetnya sampai bisa dua jam. Tidak separah Jakarta tentunya. Lebih baik berangkat kerja pagi sekali atau sekalian siang.


Setelah lama berada di jalan, akhirnya sampai juga di Lobby Hotelku yang mewah dan artistik. Semua the head dan pegawai berada di Lobby dengan membawa buket bunga mawar.


"Ada apa ini?" tanyaku heran. Tiba-tiba aku terhenyak karena Om Sugama muncul membawa kue ulang tahun. Aku sungguh terharu mereka ternyata masih mengingat hari kelahiranku.


"Selamat ulang tahun sayank..." katanya memelukku. Aku tersendat ternyata Om Sugama tidak marah lagi.


"I Miss You..." sahutku menitikan air mata. Semua mengabadikan moment itu dan mengirim ke IG.FB dan Twitter.


Mereka menyalami aku satu persatu. Kebahagiaan ini jarang aku dapati, dengan hati yang tulus aku mengundang semua pegawaiku ke Beach Club bergantian dan bebas memilih menu.


"Om dimana Tante?" tanyaku ketika aku sudah berada di cabin lift.


"Ada di ruangan HRD, kakinya agak sakit karena asam urat......" sebelum Om Sugama selesai bicara aku sudah berlari keruang HRD.


"Tante..aku surprise." kataku lirih. Tante Wilda memelukku dan ikut menangis. Kami seperti Ibu dan anak yang baru bertemu. Om Sugama masuk bersama Pak Agus Manager HRD. Mereka membiarkan aku menumpahkan kerinduanku dengan Tante Wilda.


"Qi Tante minta maaf atas prasangka buruk kepadamu. Setelah kami bertanya kepada stafmu ternyata kamu tidak seburuk yang kami pikirkan."


"Aku tidak menyalahkan, hampir semua orang akan menilai aku begitu. Aku sangat bersyukur Tante dan Om mau kembali menerimaku dan mengenyampingkan statusku." sahutku dengan suara bergetar.


"Kamu memaafkan kami?" kata Tante Wilda memandangku.


"Tentu!, dan maafkan juga aku yang banyak salah. Aku bertrimakasih atas segala yang Om dan Tante lakukan di hari spesial ini."


"Kami merencanakan secara dadakan dengan semua stafmu. Tadinya mereka curiga padaku, setelah Om ceritakan hubungan kita, mereka akhirnya setuju. Perayaan ini tidak sempurna dan mungkin termasuk murah bagi orang sepertimu. Namun kami melakukan dengan kasih sayang." sahut Om Sugama tersenyum.


"Saya pribadi juga mengucapkan happy birthday, semoga Boss panjang umur, sehat walafiat dan cepat dapat gandengan. Jangan terlalu memilih Boss." kata Pak Agus Manager HRD ku. Kami semua tertawa mendengar ucapan Pak Agus.


*****

__ADS_1


__ADS_2