QIRRERA LOVE YOU

QIRRERA LOVE YOU
KETIKA HATI MULAI BERPIHAK


__ADS_3

Aku duduk menangis sendirian sampai tidak menyadari kalau Bibik berdiri mematung melihatku.


"Nona.. sadarlah, suara tangisan nona sampai terdengar dari bawah."


"Aku sangat sedih mendengar suara pemuda di sebelah yang sedang mengaji." sahutku sambil menghapus air mataku.


"Alhamdulillah, itu artinya Nona terpanggil, Nona mengalami mujizat yang luar biasa." kata Bibik lagi.


Aku tidak mengerti maksud Bibik, apapun ulasannya aku terpaksa mengabaikan. Kepalaku terasa sakit.


"Bibik, aku mau istirahat." kataku berdiri menuju kamar. Perasaanku tiba-tiba melow, bayangan Mamaku terlintas, aku tidak tega meninggalkan Mama Capela dalam keadaan sakit.


Perasaan berdosa menghantui diriku yang selama ini berusaha berbuat baik untuk menghindari istilah anak durhaka. Mulut nyinyir warga sering memojokan diriku yang berstatus anak haram.


Tentu mereka tidak bersalah, aku memang anak haram. Untuk itulah aku sering menghindari pergaulan bebas demi menjaga nama baik keluarga. Tapi tetap saja ulahku yang tidak sengaja menyeret kenyamanan hidup saudaraku.


"Nona, apa tidak sebaiknya kita pergi ke tempat Uztad?" tanya Bibik hati-hati.


Aku berhenti di depan pintu kamarku dan berpikir sesat. Apa Bibik berpikir aku sakit.


"Bibik, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, aku baik-baik saja. Mungkin karena lingkungan yang baru membuat aku sedikit nervous. Aku kangen sama Mamaku dan Kakak, itu saja." sahutku lirih.


"Apakah Nona senang mendengar tilawah yang dilantunkan oleh tetangga sebelah?"


"Aku senang, tapi tiba-tiba aku sedih dan sepi itu saja, air mataku tidak berhenti mengalir. Aku tidak mengerti kenapa perasaan sedih itu mendera hatiku begitu hebat."


"Kalau Nona mau, kita bisa mengundang pemuda itu, dia seorang hafidz."


"Kapan-kapan kita akan mengundangnya karena dia tetangga kita."


"Istirahatlah Nona...."


"Aku mau bersiap untuk pergi besok pagi."


"Nona mau kemana?"


"Aku perjalanan bisnis ke Korea.Saat aku pergi, Bibik tidak boleh sembarangan menerima tamu. Lebih baik tutup pintu gerbang." pesanku.


"Ya Nona, semua saya perhatikan. Semoga saja Nona tidak ada halangan di jalan." sahut Bibik polos.


Bibik tentu belum tahu siapa sebenarnya diriku atau apa keyakinanku. Dia hanya tahu aku orang kaya dari Bali. Bagiku semua keyakinan mengajarkan kebaikan tidak terkecuali, tergantung oknum yang menganutnya.

__ADS_1


Kemudian Aku masuk ke dalam kamar dengan pikiran gamang. Bibik menatapku khawatir. Aku merebahkan tubuhku sambil mendengarkan beberapa lagu untuk mengusir sepi. Tapi mata ini tidak mau juga terpejam.


Akhirnya aku bangun dan menggeret koper yang baru aku beli kemarin. Tidak perlu lama-lama untuk merapikan pakaianku yang berjumlah sedikit. Aku sendiri mengganti pakaianku dengan celana Jean pensil dan T-shirt. Sangat kasual style. Malam ini aku berencana pergi ke Bandara, barangkali masih ada tiket untuk penerbangan terakhir.


"Nona mau kemana malam-malam begini?" tanya Bibik dan Maimunah hampir berbarengan. Rupanya mereka belum tidur dan masih menonton TV.


"Aku mau berangkat sekarang saja, ini uang dapur iuntuk belanja. Tolong jaga rumah." kataku menaruh amplop yang berisi uang dua juta di atas meja. Kemudian aku pamit.


****


Turun dari Pesawat Dheo tergesa-gesa mencari tumpangan. Rindunya kepada Qirrera sudah tidak tertahankan lagi. Baru kali ini dia bisa kembali ke Lampung untuk menjemput Qirrera.


Sebagai pembisnis muda tentu dia sangat sibuk, disamping itu dia membantu Andre dalam acara pernikahan yang diadakan secara besar-besaran oleh keluarga Natalia.


Sebenarnya resepsi belum selesai, tapi malam ini dia terpaksa kabur dari rumah untuk mencari Qirrera, dia tahu gadis itu pasti marah padanya setelah SMS terakhir yang dia kirim. Perbuatan konyolnya membuat Qirrera menghapus kontaknya.


Memang dia sengaja membuat jebakan betmen berharap supaya Qirrera tidak jatuh ke lelaki lain, karena dia mau ke Bali menuntaskan kerjanya, dia berpikir Itu cara satu-satunya untuk membuat Qirrera tunduk padanya. Tapi siaoa sangka Qirrera malah menghilang.


"Taxi Mas?" seorang pemuda menawarkan tumpangan.


"Boleh juga, saya mau ke Novotel." sahut Dheo cepat naik ke mobil setelah sopir membukakan pintu mobil.


Perjalanan dari Bandara ke Novotel terasa sangat lama, padahal berjarak sekitar 24,38 km, mungkin memakan waktu 25 menit. Tapi Dheo sudah tidak sabaran.


Sampai di Novotel Dheo langsung ke Lobby dengan tergesa-gesa. Perasaannya sudah tidak enak. Dia takut kalau Qirrera sudah chek out.


"Selamat malam Nona, apa Nona Qirrera Binar Kenzo masih menginap disini?. Dia menginap di lantai lima belas di Suite room." tanyanya sedikit khawatir, karena hampir dua minggu tidak ada khabar dari gadis itu.


"Tunggu Tuan saya mengecek dulu." sahut seorang gadis penerima tamu dengan ramah.


"Maaf Tuan sudah seminggu lebih Nona Qirrera chek out."


Mendengar itu Dheo langsung donw, dadanya bergetar. Rasa sesal menyeruak kepermukaan. Kenapa lama sekali dia menjemput Qirrera.


"Oke, trimakasih." sahut Dheo pelan.


Dia tidak tahu harus kemana atau menghubungi siapa. Pikirannya seketika buntu, ternyata Qirrera tidak seperti gadis lain yang menggebu-gebu minta dinikahi atau berusaha menjerat dengan segala cara. Qirrera seolah lenyap.


Dheo keluar dari dari lobby dengan langkah lesu, dia tidak tahu haru kemana. Kota ini begitu asing baginya. Akhirnya dia memutuskan ke pinggir Pantai, mencari tempat untuk berteduh.


Jalan satu-satunya adalah menghubungi mbak Maya, orang yang paling dekat dengan Qirrera. Siapa tahu dia tahu kemana Qirrera pergi.

__ADS_1


"Hallo mbak Maya, selamat malam.... maaf saya mengganggu. Saat ini saya berada di Bandar Lampung untuk mencari Qirrera, tapi dia sudah seminggu lebih pindah dari Novotel. Apa Mbak Maya tahu kemana pindahnya?!" kata Dheo menghubungi Maya wansa.


"Malam Dheo, saya sendiri di blokir oleh Qirrera, ntah apa penyebabnya. Anak itu memang sering begitu, nanti dia akan buka blokir lagi setelah moodnya bagus. Maaf saya tidak tahu kemana perginya."


"Tapi saya khawatir mbak, saya takut terjadi sesuatu pada dirinya. Memang saya terlambat datang karena pekerjaan yang harus ditangani segera. Saya sangat menyesal, kenapa waktu itu saya meninggalkan dia sendirian disini."


"Tidak usah khawatir Dheo, dari kecil dia biasa hidup mandiri. Mungkin luka hatinya terlalu parah sehingga dia tidak menampakan diri di Bali. Dia adalah adik kesayangan saya dan saya sangat tahu sifatnya, tidak mungkin dia melakukan apa yang dituduhkan oleh Natalia."


"Walaupun saya baru dekat dengannya, saya juga tidak percaya gosip itu. Kalau dia murahan tidak mungkin dia masih ......" Dheo tidak melanjutkan bicaranya, dia teringat akan tipu muslihatnya yang konyol.


"Syukurlah kamu tidak termakan gosip, saya memang marah sama Qirrera waktu itu, sebagai kakak saya hanya mengingatkan supaya dia bisa membuat dirinya jauh dari gosip. Dengan cara melepaskan diri dari Andre, karena biang gosip dari dulu datangnya dari keluarga Natalia."


"Saya rasa Qirrera sudah melepaskan Andre tapi Andre terus membuntutinya. Siapa tahu setelah Andre menikah hubungan mereka putus."


"Semoga saja begitu."


"Trimakasih mbak, saya akan melanjutkan untuk mencarinya di setiap Hotel atau penginapan."


"Semoga kalian bisa dipertemukan, trimakasih Dheo. Ajaklah Qirrera kembali ke rumah. see you."


Hubungan telepon terputus, jalan satu-satunya mencari ke semua Hotel atau menanyakan ke General Manager Hotelnya Qirrera.


"Hello Mr Giovino I'm Qirrera's fiancé, now I'm in Lampung, but I can't meet Qirrera, do you know where he is now, because I'm with his family. I'm sure only you know."


"Hello juga, sorry saya tidak tahu kemana Owner, dia tidak izin kepada saya." sahut Mr Giovino di seberang sana.


Dia merasa heran, seorang tunangan dan keluarga bisa kehilangan Qirrera.Tapi dia maklum karena 0wnernya sudah memberitahunya secara garis besar bahwa dirinya ada masalah.


"Tentu anda tahu nomer ponselnya yang baru bukhan? kami disini kehilangan jejaknya."


"Sorry I can't tell you before asking permission from the owner."


"Silahkan anda menghubungi dia, katakan ada masalah urgent dari keluarganya. Thanks you."


Hubungan terputus, Dheo berjalan menuju anjungan. Suasana mulai sepi, ada satu dua penghuni Hotel yang masih setia menikmati indahnya malam.


"Apakah anda mau menyewa Gazebo dengan minuman ringan dari Hotel kami." seorang Waiter menyapa Dheo dengan santun.


"Tidak trimakasih." sahut Dheo sopan. Dia kemudian beranjak dari tempat itu.


****

__ADS_1


__ADS_2