
Keberhasilanku mengambil sertifikat yang lain membuat kakak memujiku. Tapi tante Yeni dan om Herman marah dan mulailah aku mempunyai musuh. Trutama Chery sangat membenciku. Segala umpatan mereka lemparkan kepadaku, aku diam karena serba salah. Menolong Tante berarti masalah kami berlanjut. Akhirnya kakak meneruskan masalah ini sampai di pengadilan.
Perasaan lega itu tidak lama karena utang kami 1miliar di Om Brata mengusik pikiranku. Apalagi setiap saat kak Leon mengingatkannya. Kak Maya menyarankan menjual satu bidang tanah, tapi Kak Leon tidak mau. Di setiap perkataanya seolah akulah yang seharusnya membayar utang-utang mama.
"Qirr..aku sudah melunasi utang-utang mama yang lain, kamu tolong melunasi utang di Om Brata. Dia orangnya baik dan tidak begitu jelek untuk kamu ajak jalan." kak Leon datang dengan kata-kata berbisa
"Apa maksud kakak??, kalau utang itu dilimpahkan kepadaku, aku akan lunasi dengan mencicil. Aku akan berkerja." sahutku nyesek. Disudut mataku sudah tergenang air mata. Perubahan sikap kak Lion membuat aku muak.
"Ini sudah mau jatuh tempo, lagi dua bulan, kalau tidak Villa kita akan di eksekusi." kata kak Leon seperti orang panik. Aku merasa keluarga ini lebih mementingkan nama baik, harga diri, sehingga mereka sangat malu kalau namanya tercoreng gara-gara kentara berhutang.
"Ok. beri aku waktu." sahutku keluar dari kamar mama. Aku kembali ke atas masuk kamar dan mengurung diri. Aku ambil lap top dan melihat saham.
Aku memang dari SMP suka menaruh uangku di saham. Tidak begitu banyak tapi hari ini setelah aku lihat uang sahamku bisa tembus 500 juta. Aku cepat ambil dan menaruhnya di scuritas. Kemudian aku menghubungi Tuan Brata.
"Halo Tuan Brata, ini aku Qirrera. Aku mau bicara masalah utang mamaku, apakah kita bisa bertemu?"
"Tentu saja cantik, aku kebetulan berada di Bar double six, aku tunggu disini ya."
"Ok. kalau tidak macet aku akan sampai 20 menit." kataku menutup ponsel.
Kenapa siang-siang Om Brata ada di Bar. pikirku bimbang. Walaupun aku berada di Luar Negeri belum pernah aku ke Bar. Hidupku selalu berkutat dengan buku dan olah raga. Kadang kalau lagi mood aku trading saham, iseng saja, untuk menambah uang saku.
Aku tidak ingin berlama-lama. Sekarang aku memakai outfit yang casual, celana panjang, jean belel dan baju kaos hitam dan slayer leher. Kemudian aku memakai kaca mata hitam serta sepatu sneaker, aku merasa sudah cukup penampilanku. Tidak peglu aneh-aneh.
"Kamu mau kemana." kata kakak Leon dingin. Pikirannya negatif melulu setiap aku pergi. Dia berpikir aku menjual diri atau sebangsanya.
"Aku mau bertemu Tuan Brata,membahas hutang selanjutnya."
"Jaga dirimu, kakak sudah mendapat jodoh untuk melanjutkan Trah Wansa."
"Aku tidak bisa mewakili Trah Wansa karena aku anak pungut. Yang tepat kakak."
"Kita bertiga tidak bisa karena pasangan kami dari agama lain, cuma kamu satu-satunya yang bisa neneruskan perjodohan ini. Jangan mencoba melawan takdir." kata kakak membuat aku muak.
__ADS_1
"Aku mau berangkat dulu, nanti disambung lagi." sahutku berlalu dari hadapan kakak.
Kakak tidak menyahut, ku lihat dia masuk ke kamar Mama. Biasanya sikapnya tidak begitu, aku mempunyai dugaan dia ingin bebas dari beban bermasyarakat dan beryadnya yang terkadang pengeluarannya sangat banyak.
Aku memilih naik motor Ninja karena menghindari macet, disamping itu aku bisa ngebut. pikirku. Sayang sakali kak Leon telah berkacak pinggang sebelum aku cuss.
"Jangan make motor kakak, kamu sudah punya mobil itu saja pakai."
"Aku mau pinjam, supaya cepat sampai." tiba-tiba saja kakak maju dan menampar wajahku.
"Kamu jangan bandel dan membantah. Mama lagi sakit tidak akan ada yang mèmbelamu." bentaknya lagi.
Aku tidak menjawab, sungguh aku tidak mengira kakakku akan memukulku, tamparannya tidak begitu sakit, tapi hatiku sangat sakit. Aku langsung meninggalkan motornya dan mengambil mobil ku.
Aku menghapus air mataku dengan kasar dan mulai memanaskan mobil. Sakit sekali hatiku, tapi kembali aku berpikir jernih. Sebenarnya aku bukanlah siapa baginya dan untuk apa aku menangis. Aku harus bersyukur di pelihara disini dengan limpahan harta benda. Mungkin saja kakak berubah karena mama sakit, sedangkan kak Leon harus menggantinya sebagai Owner. Sedangkan ilmunya belum sampai.
Mobil mini cooper itu melaju sedang, siang ini jalanan macet, maklumlah orang Bali hampir semua punya mobil. Dan kebanyakan mobil mereka supercar. Motorpun berseliweran tidak karuan, menambah kemacetan.
Mobil berbelok ke kiri masuk kedaerah Kuta, mulai terasa seperti berada di Luar Negeri. Bule ilir mudik disini dengan pakaian minim. Hampir tidak terlihat orang pribumi. Seumpama ingin mencari jodoh bule, pasti gampang banget. Banyak aku lihat bule gandengan dengan cewek pribumi.
"Welcome, you have chosen the right Bar to relax. please you hope the down payment according to the rules. Thank you.
"Thank you." sahutku merogoh dompet dan mengeluarkan uang 500 ribu rupiah. Rupanya Bar di siang hari juga ramai, para bule juga banyak datang disini.
Sebelum aku duduk tanganku di coel dari belakang, Tuan Brata tersenyum menatapku. Aku kira siapa. Bau wangi tubuhnya membuat aku salting.
"Kita duduk di dalam, disini ramai." kata Tuan Brata mengajak aku masuk kesebuah ruangan. Kulihat lirikan mata pegawai Bar penuh arti. Atau itu perasaanku sendiri. Masalahnya akhir-akhir ini aku cepat merasa curiga kepada seseorang.
"Duduklah, maaf mejanya berantakan." katanya genit memandangku. Aku duduk di sofa berhadapan dengannya.
"Aku kesini menanyakan utang mamaku dan aku membayarnya dengan cara mencicil. Aku yakin dalam dua bulan ini aku bisa melunasinya." jelasku.
"Bagaimana kalau kita melupakan masalah hutang itu dan kamu menjadi istriku."
__ADS_1
"Maaf Tuan Brata, saya menolaknya. Bagi saya pernikahan sangat sakral, mana mungkin saya melakukan tanpa rasa cinta." sahutku sekenanya.
Belum pernah terpikir olehku menikah dini, pacaran saja belum pernah. Dulu aku sekolah tinggal di asrama putri yang sangat ketat. Pernah sih aku mengagumi teman cowok tapi setelah melihat pergaulan mereka aku menjadi tidak mood.
"Hahaha...kamu to the point. Kalau tidak mau menikah kita pacaran dulu bagaimana kalau sudah ada kecocokan baru kita married."
"Saya tidak mau Tuan, saya sudah punya jodoh yang akan mengawini saya." ucapku mengingat petuah kak Leon.
Aku ingat pesan kak Leon kalau setiap orang merayu katakan kamu sudah punya jodoh, tidak boleh sembarang orang menikah denganmu. Kamu harus menikah dengan satu marga untuk meneruskan marga wansa.
"Masih saja ada perjodohan, ini zaman modern, aku sendiri geli memdengarnya. Jangan mau di bodohin sama kakakmu, mereka boleh menikah dengan orang yang bukan warga wansa. Sekarang kamu yang di tekan, tidak apa-apa sih itung-itung balas budhi...."
"Kita kembali ke masalah hutang." kataku memotong perkataannya. Terus terang laki-laki di depanku ini sangat ganteng dan wangi, membuat diriku sedikit gugup.
"Jangan terburu-buru, santai sajalah." katanya memencet intercom dan memesan dua buah jus.
"Tidak usah repot-repot Tuan, saya sudah minum dan makan."
"Sebagai tuan rumah wajar aku menyuguhkan kamu sekedar minuman."
"Trimakasih." kataku ketika seorang waiter menaruh dua gelas jus stroberi.
"Minumlah, setelah itu kita akan membahas masalah hutang.
Tadinya aku mau menukar gelas tapi Tuan Brata cepat menyambar minuman itu dan meneguknya. Ada rasa curiga juga, ingat di cerita film. Aku tepiskan perasaan itu dan menyesap jus stroberi itu dengan pelan.
Perasaan curigaku menjadi kenyataan, mataku seketika tertutup tidak bisa melek.
Senyum kemenangan berada di Tuan Brata, dari pertama kali bertemu dia sudah jatuh cinta kepada gadis blasteran ini. Apalagi gadis ini tidak ada yang melindungi, kakak dan mamanya sudah tidak bisa berkutik. Anak-anak manja itu pasti seperti ayam yang ditaburi ketam hitam, planga plongo.
Mungkin kalau gadis ini tidak ikut campur dalam masalah utang piutang, mereka akan dapat keuntungan yang besar. Untuk mengembalikan ke untungan itu Tuan Brata punya rencana. Dia ingin melenyapkan saja gadis ini. Tapi sangat bahaya. Lebih baik dia memperkosa gadis ini, sekalian membuat vidio syur, sebagai alat untuk mengancam, tapi kalau gadis ini nekad gimana??
Dia merasa pusing sendiri, dalam hidupnya belum pernah dia menjebak seorang wanita, karena semua wanita duluan jatuh cinta padanya. Akhirnya dia menggendong gadis itu ke sebuah kamar kosong. Tuan Brata menatap wajah Qirrera dengan seksama. Very perfect.
__ADS_1
Perlahan dia mendekatkan wajahnya kewajah Qirrera dan bibirnya menyentuh bibir gadis itu. Manisss...seperti madu. Kemudian tangan Tuan Brata mulai membuka sepatu Qirrera dan menaruhnya sembarangan. Setelah itu dia membuka slayer dan baju kaos hitam itu.
*****