
Sekarang aku berada di Novotel di lampung, Hotel bintang empat. Hotel ini terletak di jantung kota Bandar Lampung dan menghadap pantai. Ada enam belas lantai, aku memilih satu kamar suite dari kamar termahal yang berada di lantai lima belas. Kamarnya mewah.
Setelah mengunci pintu aku buru-buru membuka pakaian. Dari tadi aku gerah, perlu perjuangan keras untuk memakai baju panjang setiap hari. Aku cepaf-cepat ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tidak bisa aku bayangkan gosip yang beredar saat ini, mereka pasti menjudge aku dan memaki dengan sumpah serapah. Andre kadang membuat aku kesal, seolah dia sengaja membuat kekacauan ini.
Biarpun aku sangat nencintainya, tapi perbuatannya membuat nama baikku dan keluargaku kembali tercemar. Warga mana mengerti kalau aku ke sini inisiatif sendiri. Perbuatan Andre bisa membuat keluarganya di black list juga dari warga. Tingkahnya memang sembrono. Dimanakah dia sekarang. pikirku galau.
Selesai mandi aku memilih memakai jean dan atasan baju Bali. Aku tahu disini 99 % penduduknya beragama muslim, jadi aku memilih pakaian yang sopan dan agak tertutup walaupun berada di Hotel.
Aku berencana akan berjalan keliling kota melihat dari dekat kota Lampung. Siapa tahu aku bisa Investasi disini. Banyak hal yang pasti bisa di kerjakan di sini. Sebelum aku banyak berkhayal ponselku kembali bergetar.
"Drrett...dreettt...dreettt....."
Aku mengambil ponsel dari nakas, ternyata Andre.
"Jangan menelponku atau berbuat aneh yang membuat nama keluargaku tercemar." kataku cepat sebelum dia sempat berbicara.
"Santuy saja, yang penting kita tidak melakukan apapun. Pikiran mereka terlalu negatif. Kita kesini untuk membuang jenuh, pakailah kesempatan ini sebaik mungkin."
"Kamu lebih tua dari aku seharusnya kamu berpikir kalau ingin berbuat sesuatu. Dheo sangat marah padaku, namaku jadi bahan gosip murahan. Kamu tidak memikirkan efek dari perbuatanmu, ingatlah kita ini menjadi sorotan."
"Aku sengaja berbuat begitu supaya mereka mengerti bahwa kita tidak bisa dipisahkan. Lebih baik kita menetap di sini dan menikah."
"Jangan ngelantur, perlu keberanian untuk memulai hidup baru. Kita juga tidak bisa meninggalkan adat."
"Kita pasti bisa, yakinlah." sahut Andre di seberang sana.
"Aku menolak rencanamu, terlalu banyak yang harus aku pikirkan. Bisnisku dan juga Mama. Disamping itu aku tidak mau disebut pelakor."
"Kamu akan menyesal atas penolakanmu. Ternyata cintamu hanya seujung kuku."
"Aku menolak demi kebaikanmu. Banyak orang yang tersakiti, lebih baik aku saja yang menderita. Toh kamu biasa membuat aku menangis."
"Aku bisa ssja 7nekad!!"
Hubungan terputus, Andre mematikan sepihak ponselnya. Dia tidak mengira aku akan menolak dinikahi. Rencananya semua gagal.
Aku siap-siap mau keluar dari kamar ketika Andre memencet bell pintu. Aku melihat dari lubang pengintip Andre berada di depan pintu. Sebenarnya kamar kami bersebelahan, hanya aku tidak tahu.
Perlahan aku membuka pintu, dia terpesona melihat wajah cantikku muncul dengan seribu pesona. Aku sudah berdandan rapi dan wangi.
"Mau kemana sore-sore begini." tanya Andre menatapku.
__ADS_1
"Keluar jalan-jalan menikmati suasana Lampung, siapa tahu ada jodohku di Pulau ini."
"Jangan keliling mencari jodoh, orangnya sudah ada di hadapanmu." sahut Andre menerobos masuk.
"Andre jangan masuk kamar, nanti ada orang melihat kita, bisa berabe."
"Ini Lampung, jauh dari Bali. Tidak ada yang akan melihat kita."
"Namanya nasib apes ...." kataku duduk di sofa. Andre mengikutiku dan ikut duduk di sofa.
"Kamu mau minum apa?" tanyaku basa basi.
"Aku mau minum berakohol, black label atau Martini."
"Tidak boleh minum alkohol nanti mabuk. Aku tidak akan mengizinkan. Ini Lampung, ibarat orang buta kita masih meraba-raba."
Andre tersenyum dan mulai mendekatiku, sayang sejali niatnya untuk memelukku terhalang oleh Vidio Call dari Dheo. Untung Andre mengerti dia melompat ke balik sofa.
"Hallo...ada apa?"
"Arahkan ponselmu ke semua ruangan, aku tidak ingin calon istriku dijamah orang." kata Dheo dengan wajah masam.
Tidak ada tampang ramah, apalagi senyuman menggoda. Aku sengaja membesarkan volume ponselku supaya di dengar oleh Andre. Kemudian aku mulai mengikuti arahan Dheo.
"Aku mulai dari kamar." sahutku sambil berdoa dalam hati supaya Andre keluar setelah aku berada di kamar.
"Aku ke Lampung membuang jenuh, tidak untuk berselingkuh. Jika Andre ada disini itu adalah suatu kebetulan, aku tidak bersamanya. Sebuah hubungan akan langgeng kalau saling percaya." ucapku datar.
"Terus terang aku tidak percaya padamu saat ini, kamu tiba-tiba pergi tanpa pamit. Tahu-tahu sudah di Lampung bersama Andre. Kamu tidak tahu betapa malunya keluarga kami ketika gosip miring berembus cepat. Aku sarankan padamu supaya cepat pulang ke Bali."
"Maafkan aku, semua diluar dugaan. Sebenarnya kamu tidak usah risaukan diriku. Mungkin ini jalan terbaik supaya kamu berpikir untuk melanjutkan perjodohan kita. Aku bukanlah wanita baik dan sempurna seperti pikiranmu. Sebelum terlambat aku akan mengundurkan diri."
"Aku tidaklah seperti laki-laki lain, yang cepat pindah kelain hati. Disamping itu aku sudah matang, sudah pantas menikah, tidak mudah bagiku untuk melepaskanmu. Seandainya cinta itu bisa dihapus dari hatiku, mungkin aku sudah hapus dari kemarin-kemarin."
"Ok. aku percaya padamu kita sudahi VC ini. Aku mau jalan-jalan dulu."
"Jangan sembarangan pergi sendiri, lebih baik diam di Hotel."
"Aku sudah dandan, aku akan turun." kataku cepat lalu mematikan ponselku.
Aku mencari Andre di belakang sofa ternyata sudah tidak ada.
"Andreee......" panggilku memastikan bahwa Andre sudah pergi. Hening. berarti Andre sudah pergi. Aku keluar dari kamar menuju lift. Tujuanku ke pantai di belakang Hotel.
__ADS_1
Matahari sudah mulai condong ke Barat, ketika aku sudah sampai di pinggir pantai. Untung aku tidak bertemu Andre. Ramai juga disini, kebanyakan turis domestik. Aku jarang melihat bule.
Pukul 16.00 WIB. Disini bagian Waktu Indonesia Barat, sedangkan di Bali bagian Waktu Indonesia Tengah, beda satu jam antara Bali dan Sumatra.
Aku duduk dibawah pohon perindang yang berjejer di pinggir pantai, memandangi ombak dan laut biru. Beberapa turis lalu lalang menghalangi pandanganku.
Tiba-tiba pandanganku tertuju kepada kerumunan orang. Ada sekitar sepuluh orang berlarian melerai sepasang kekasih yang sedang berkelahi. Aku kurang begitu awas karena agak jauh.
Aku berdiri dan berjalan mendekati mereka, sebelum aku sampai rambutku sudah ditarik dari belakang oleh seseorang, sebuah pukulan bersarang di pundakku. Aku terjatuh dan cepat berguling kesamping.
Dengan cepat aku bangun, tendangan kedua datang dari Om Yoga, Papanya Natalia hampir mengenaiku. Aku kaget sekali dan berusaha berkelit.
"Perempuan murahan, sifatmu tidak sesuai dengan wajahmu. Pantas warga tidak senang padamu beginilah sifatmu." teriaknya melepaskan pukulan membabi buta. Aku mencoba terus berkelit, jangan sampai aku terpancing memukulinya.
"Jangan main hakim sendiri Om, ini Negara Hukum." sebuah suara yang sudah aku kenal menghentikan pukulan Om Yoga.
"Biarkan manusia ini memukulku, supaya aku bebas memasukan dia ke penjara." kataku marah.
"Kamu pantas dibunuh karena berani melarikan calon suami orang." teriak Natalia sengit.
"Cihh...kalau aku menginginkan, Andre dari dulu sudah menjadi suamiku. Aku sengaja membuangnya dari hidupku supaya kamu mendapat sisaku."
"Hahaha...perempuan sombong buktinya kau membawanya ke sini."
"Natali, berhenti menghina calon istriku. Begitu juga Om Yoga. Apa yang Om tuduhkan belum terbukti. Jangan main pukul segala." kata Dheo tegas.
"Tolong ajari calon istrimu, Om sudah gerah melihat sepak terjangnya. Sampai kapan dia mengganggu Andre."
"Ajari saja Istri dan anak Om yang selalu memfitnah orang. Kalau tidak memikirkan keutuhan marga kita, dari dulu sudah aku masukan Istri dan anak Om ke penjara. Semua orang yang berada disini mengambil gambar Om yang memukuli Qirrera, mungkin aku tidak melaporkan ke polisi, tapi ada sanksi hukum dari masyarakat yang memvonis kebiadaban Om."
Om Sugama beserta anak dan istrinya diam. Mereka segera berlalu dari kerumunan orang yang menonton sambil menggerutu. Aku bernafas lega, walaupun keringatku membanjir, tapi aku selamat.
"Kita pulang ke Bali." kata Dheo menatapku
"Aku malas pulang, aku benci bertemu dengan manusia-manusia bar-bar yang selalu main pukul. Seolah aku seratus persen bersalah. Kalian manusia primitif." kataku marah.
"Maafkan aku, jika kamu dendam akan perlakuanku yang dulu. Jangan sampai memusuhiku. Mari kita pulang, kita jelaskan apa yang terjadi."
"Yang terjadi adalah, orang-orangmu selalu main pukul dari belakang, karena mereka banci. Bisanya menghina dan memfitnah saja, setelah ketahuan aku tidak bersalah, lalu minta maaf. Dasar manusia minim attitude."
"Yach...maafkan mereka, kita harus menjaga nama baik marga kita supaya terus menjadi panutan. Kalau kamu marah atau dendam, balas ke aku."
"Aku memang akan membalasnya sedikit demi sedikit, supaya kamu merasakan derita berlapis-lapis." sahutku asal.
__ADS_1
Dheo hanya tersenyum memandangku, setelah itu dia mengajakku pergi dari sana.
****