QIRRERA LOVE YOU

QIRRERA LOVE YOU
APAKAH AKU SALAH


__ADS_3

Melihat Sagara lelap di pelukan Semeru aku merasa terenyuh, aku tidak tega memisahkan anak dengan Ayahnya. Aku hidup untuk siapa? untuk anakku Sagara, jadi aku harus membuang ego membiarkan Semeru menginap di rumahku.


Tidak pernah terpikir dalam hatiku untuk mencari pengganti Semeru, seandainya Semeru ingin menikah lagi dengan orang lain aku iklas. Aku betul-betul trauma.


"Kenapa belum tidur?" tanya Semeru tiba-tiba sudah ada disampingku. Saat ini aku duduk di beranda, banyak yang mengganggu pikiranku. Salah satunya adalah kehadiran Semeru di rumahku..


"Kapan kamu pulang, bukankah Sagara sudah tidur."


"Kamu mengusirku? sudah jam sepuluh malam, apa kamu tega menyuruh suamimu pergi malam-malam begini."


"Aku tidak peduli denganmu, dulu kamu berani ke perkebunan malam-malam demi "nyai" apa bedanya dulu sama sekarang." sahutku ketus.


Aku tidak tahu kenapa setiap bicara dengan Semeru maunya berantem melulu, selalu ingin mengungkit masalah perselingkuhannya, hatiku panas tidak mau damai. Haruskah aku ke psikolog untuk konsultasi? siapa tahu Semeru berbuat begitu karena tertekan hidup denganku.


"Kalau kamu mengusirku aku pergi, titip Sagara. Aku ingin membunuh Jayus....."


"Maksudmu apa, jangan membuat masalah baru, aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Jayus." kataku menahan Semeru. Aku menarik tangannya supaya dia tidak pergi.


"Dia atau aku yang mati." gertak Semeru.


"Jangan pergi aku ijinkan kamu menginap." kataku memeluk pinggangnya dari belakang. Dia berontak, aku semakin keras memeluknya. Akhirnya aku melepas pelukanku ketika dia terbatuk-batuk.


"Kamu kenapa? aku ambilkan minum." kataku mengambil sebotol air mineral.


"Aku sakit." katanya tiba-tiba lesu. Tadi kencang sekarang koq loyo. Apa ini salah satu tricknya?


"Sakit apa? dokter kita tidak mengatakan apapun padaku, kamu jangan menipuku."


"Biarkan aku sendiri yang menahan sakit ini, tidak perlu ada yang tahu." kata Semeru lirih. Aku menatap lekat-lekat Semeru mencoba mencari jawaban pada wajahnya. Tapi aku tidak menemukan sesuatu.


Sebenarnya aku terenyuh mendengar pengakuannya lagi sakit. Ingat Mama jadinya, dulu Mama menyimpan penyakitnya sampai akhirnya Mama stroke dan meninggal. Aku tidak ingin Semeru begitu.


"Tunggu disini aku mau menelepon dokter Surya." kataku. Dr Surya adalah dokter yang dipekerjakan di perkebunan.


"Tidak perlu aku mau tidur saja." sahut Semeru berjalan dan masuk ke kamarku.


"Astaga...kamu salah kamar, itu kamarku." kataku cepat menariknya keluar.


"Kalau begitu aku tidur dibangku..." katanya menuju ruang tamu. Aku mengikutinya khawatir dia beneran sakit.


"Kamu tidurlah di kamarmu." katanya berbaring di sofa panjang.

__ADS_1


"Aku tidak mungkin membiarkan kamu sakit sendirian disini, kalau begitu aku izinkan kamu tidur di kamarku." akhirnya aku menyetujui dia tidur dikamarku.


"Hoamm...aku ngantuk sekali, trimakasih kamu baik sekali."


Semeru ngeloyor pergi ke kamarku, akupun pergi menuju ruang kerja. Saat ini aku masih belum percaya sama Semeru, aku merasa dia pura-pura sakit supaya bisa memelukku. Moduss.


Lebih baik menghindar, hatiku masih sakit. Walaupun aku banyak membantunya itu semua demi Sagara. Aku bersyukur bisa bersabar dan menata hidupku kembali. Perasaanku kepada Semeru tetap sama, aku wanita yang love one man, cinta satu laki-laki dan setia. Kekuranganku aku cemburuan dan kurang romantis.


Memang aku masih mencintai Semeru bukan berarti aku akan kembali dengannya. Hatiku hancur seperti pecahan cermin yang tidak bisa menyatu lagi.


*****


Rotasi hidupku tetap sama, yang berbeda adalah perhatian Semeru yang semakin besar kepadaku. Aku tidak melarangnya datang atau menginap disini, karena aku sudah tidak berdaya dengan Sagara. Dia sulit di lepaskan dari Semeru.


Kejadian ini semenjak Semeru datang ke rumahku. Sagara sangat manja kepada Ayahnya. Setiap Ayahnya mau kerja Sagara menangis kencang, terpaksa aku menyetir mobil dan Semeru memangku Sagara pergi di sekitar perkebunan. Setelah dia tidur baru Semeru pergi kerja, selalu begitu membuat aku dan Semeru seperti pasangan normal yang tidak bermasalah.


Aku punya pembantu baru namanya Bibik Saodah, kata pembantuku aku disarankan konsultasi ke Pak Kiai Hasyim, katanya Pak Kiai bisa menyembuhkan anakku dari kerinduannya kepada Ayahnya. Dia sendiri yang akan mengantarku kesana.


Aku sangat antusias terhadap gagasan pembantuku.


Sekitar pukul.16.00 WIB aku bersiap pergi dengan Bik Saodah. Aku sengaja tidak membeli mobil baru, karena di perkebunan sudah ada Jeep Wrangler. Mobilku di Bali aku titip kak Leon untuk mengurusnya. Aku juga mau menjual rumah di Lampung dan beberapa rumah di Bali. Aku mau mendirikan rumah sakit untuk orang-orang yang kurang mampu.


"Nyonya kita sudah dekat, itu rumahnya pintu gerbangnya bercat hijau." kata Bik Saodah.


Mobil aku parkir di pinggir jalan, Bik Saodah langsung mengucap salam.


"Silahkan masuk Nyonya, maaf rumahnya sederhana." kata Pak Kiai sopan.


Aku hanya tersenyum, tidak mengerti apa yang harus dikatakan. Sudah ada beberapa orang yang duduk disana. Mereka semua memandangiku.


Aku dan Bik Saodah diajak duduk di atas tikar dan disuguhi teh manis dan ubi rebus. Aku bukannya tidak mau, tapi aku tidak minum teh atau kopi, aku minum jus dan air mineral.


"Silahkan minum Nyonya." kata istri Pak Kiai seraya ikut duduk.


"Trimakasih Bu. Maaf Pak Kiai saya kesini minta tolong untuk menyembuhkan anak saya yang sangat lengket dengan Ayahnya." kataku membuka percakapan.


Mereka memandangku heran, aku jadi salah tingkah. Aku berpikir ucapanku ada yang salah?


"Anak Nyonya lengket dengan Ayah kandungnya itu hal yang wajar. Kalau dengan Ayah lain baru dipertanyakan." sahut Pak Kiai nyengir.


"Tapi ini berbeda Pak Kiai, Ayahnya mau kerja ditangisi, tidur dengan Ayahnya, suami saya jadi kerepotan." kataku sedikit bohong supaya cepat diberi obat.

__ADS_1


"Saya mengerti suami Nyonya tidak ada waktu untuk Nyonya."


"Bukan begitu Pak Kiai, persoalannya beda. Saya tidak bisa menjelaskan, sekarang saya butuh obat saja." sahutku keukeuh.


Mungkin Pak Kiai tidak mengerti atau aku yang kurang faham, sehingga Pak Kiai memberi kode kepada istrinya dan bicara memakai bahasa daerah.


Singkat cerita Pak kiai memberi satu gelas air putih kepadaku yang sudah dimasukan plastik.


"Suruh anak Nyonya minum air ini supaya dia tenang." kata Pak Kiai menyodorkan air putih itu.


"Maaf Pak Kiai anak saya minum susu."


"Ohh...oleskan air ini sedikit dibibirnya." kata Pak Kiai.


Setelah berbasa basi aku pulang, sepanjang jalan Sagara tidur nyenyak, akupun sangat lelah.


"Apakah obat ini manjur untuk memisahkan anak dengan Ayahnya?" tanyaku kepada Bibik Saodah.


"Biasanya manjur Nyonya." sahut Bibik meyakinkan aku.


Sampai di rumah Semeru sudah menunggu kedatanganku.


"Darimana kalian?" tanya Semeru menyelidik.


"Kerumah Pak Kiai Tuan." tiba-tiba saja Bibik Saodah menyahut. Duhh....gimana ini.. aku lupa menyuruh Bibik merahasiakan.


"Mengapa ke rumah Pak Kiai."


Karena sudah dibuka rahasiaku oleh Bibik akhirnya aku berterung terang. Tampak wajah Semeru memerah.


"Aku tidak menyangka betapa piciknya pikiranmu. Aku Ayahnya. Tega kamu memisahkan Sagara dengan Ayahnya, dimana akal sehatmu. Tiap hari aku bela-belain kesini supaya Sagara tidak merasa kesepian."


"Aku ingin anakku tidak terlalu lengket denganmu." sahutku.


"Tidak akan bisa kecuali kamu dan Sagara lenyap dari hadapanku."


"Kalau begitu kamu jangan kesini, cari wanita lain yang sesuai dengan dirimu."


"Ya aku akan mencari!!" sahut Semeru ketus.


Dia tampak kesal dan sangat marah, aku juga ikut terpancing marah. Kami berantem hebat. Semeru akhirnya pergi dari rumahku.

__ADS_1


*****


__ADS_2