
"Yank kita beli ikan disini saja, setelah itu kita bakar di warung depan." kata Natalia.
"Sebaiknya kita ke parkiran dulu, setelah itu kita balik kesini. Kasihan mobilnya bau ikan." sahut Andre.
"Malas, tempat parkir jauh capek jalan. Aku mau disini saja." sahut Natalia dengan manja.
Beda sekali sifat Natalia dan Qirrera. Seperti langit dan Bumi. Qirrera begitu cerdas dan bergerak dengan pemikiran yang matang. Sedangkan Natalia contoh gadis yang tidak suka bekerja dan arogan. bathin Andre. Kemudian Andre menepi dan memarkir mobilnya jauh di pinggir jalan.
Gullwing door Lamborghini terangkat ke atas. Andre keluar dari mobil disusul oleh Natalia. Mereka berdiri untuk menyeberang tapi tiba-tiba sebuah Lamborrghini dengan sengaja ketepi mencari kubangan air yang tergenang.
"Byuurrrr........"
Tak ayal Natalia dan Andre tersiram air lumpur.
"Kurang ajar, dasar gila." Natalia mencaci maki sopir Lamborghini itu.
Andre menahan dirinya untuk mengejar Lamborghini yang sengaja berhenti tidak jauh dari mereka, karena dia tahu itu mobil Qirrera.
Tiba-tiba saja Lambhorghini itu mundur lagi dan berhenti di depan Andre dan Natalia. Kaca mobil diturunkan. Natalia mau memukul mobil tapi dihalangi oleh Andre. Wajah Qirrera yang cantik tersenyum mengejek kepada mereka.
"I'm sorry if your days are always bad. (saya minta maaf kalau hari kalian selalu buruk)" kata Qirrera tanpa membuka kaca matanya.
"Dasar pelakor, janda gatel, rupanya kau sengaja melakukan ini karena sakit hati."
Qirrera terdiam memandang lurus kedepan hatinya sakit...sangat sakit. Dia sengaja membiarkan Natalia mengeluarkan amarahnya dan mencaci maki dirinya. Orang-orang yang berada di jalan itu menonton heran.
Saat Andre mau mendekati kaca mobilnya Qirrera cepat menutupnya. Lalu dia menggeber supercar itu, lalu berbalik pulang.
Lamborghini itu lari seperti setan diiringi tatapan benci dari Natalia dan rindu dari Andre. Ada rasa bersalah kepada Qirrera yang memergoki dia berdua dengan Natalia.
"Sifat mantanmu seperti setan, aku sedikitpun tidak kagum atas dirinya. Terlalu sombong." kata Natalia ketus.
"Jangan suka menjudge orang lain, belum tentu sifatnya begitu." sahut Andre naik ke mobil. Dia muak mendengar caci maki dari Natalia yang ditujukan kepada Qirrera. Bagaimanapun cintanya melebihi rasa bencinya kepada Qirrera.
"Kamu selalu membela janda itu, apa kamu masih mencintainya. Apa sih yang menonjol dari dirinya, dia menang cantik saja. Tidak ada keistimewaan yang perlu dia sandang."
"Sampai kapanpun aku tetap akan mencintainya, walaupun takdir memisahkan aku dengan dia. Camkan itu semua, tidak ada gadis lain dihatiku. Seharusnya kamu mengerti dan mundur dari perjodohan ini." kata Andre tegas.
Air mata Natalia menghambur keluar, dia menjerit histris setelah tahu isi hati Andre.
"Aku yakin janda itu telah mengguna-gunaimu. Kamu pasti terbius dengan permainan ranjangnya. Mulai sekarang aku akan serahkan seluruh tubuhku padamu."
"Natali, apa yang kamu pikirkan tentang kami berdua itu salah. Cintaku sudah padam kepadamu semenjak kamu sering dugem dan bermalam dengan jodi. Mengertilah....."
"Jangan banyak alasan, kamu dulu tidak mau dugem denganku. Semua kemauanku kamu tolak, seharusnya kamu maklum padaku. Aku anak semata wayang, hidupku makmur, pergaulanku dengan anak jet zet. Tidak seperti anak haram itu yang sok suci, tapi diam-diam menggaet pacar orang."
"Kalau kamu merasa begitu lebih baik lanjutkan kebiasaan itu, biarkan aku mencari gadis yang setara dengan keinginanku." sahut Andre memacu mobilnya lebih kencang. Dia ingin cepat sampai di rumah Natalia.
__ADS_1
"Aku tidak ingin pulang, aku ingin tinggal dirumahmu. Apapun alasanmu aku akan tetap menuntut perjodohan ini."
"Maaf Natali aku harus mengantar kamu pulang, jangan coba-coba datang kerumahku tanpa izin."
"kamu jahat padaku semua yang kamu lakukan akan aku adukan kepada Mama."
"Turunlah!!" perintah Andre berhenti di depan rumah Natalia.
"Tidak!! aku akan ikut denganmu."
"Turunlah, aku tidak ingin berbuat kasar. Harusnya kamu bisa menghargai dirimu sendiri supaya orang lain bisa menghargaimu." kata Andre dingin.
Dengan terpaksa Natalia turun setelah pintu mobil terangkat ke atas. Hatinya hancur atas penolakan Andre. Dia tahu semua perubahan ini disebabkan oleh janda itu.
"Janda terkutuk, semoga harimu selalu buruk, seburuk nasibku saat ini." rintih Natalia menatap mobil Andre yang menjauh dari pandangannya.
Dia sangat sadar keluarganya tidak bisa menyaingi kemasyuran keluarga Qirrera yang terkenal dermawan. Dia juga tidak bisa menyaingi Qirrera yang sukses dan menjadi buah bibir di lingkungan warga.
Semenjak Qirrera di keluarkan dari warga banyak orang menyayangkan keputusan tetua yang gegabah, karena tidak ada income masuk setiap bulan dari Qirrera.
Qirrera semakin populer dan para pemuda pikirannya terpacu untuk mulai mendekat ingin mempersuntingnya. Sayang sekali impian mereka kandas karena Qirrera menolak semua pinangan dari warga.
"Maaf Pak/Bu, saya tidak ada maksud untuk merendahkan niat baik Bapak dan Ibu, saat ini saya tidak ada niatan untuk menjalin percintaan dengam seorang pemuda. Saya masih trauma atas kejadian tempo hari, ketika tetua mengeluarkan saya dari warga tanpa boleh membela diri. Semoga Bapak/Ibu maklum adanya dan saya ucapkan banyak trimakasih atas atensinya." tulis Qirrera bijak setiap pesan yang masuk ke Whatsappnya.
***
Sebagai Owner aku ingin terjun langsung melihat ikan dan mencari supplier baru yang lebih konsisten dalam pengiriman barang.
Aku menarik nafas panjang membuang galau dihati. Andre pasti benci melihat tingkahku yang kekanak-kanakan. Dia sudah memilih Natali, perempuan yang dijodohkannya.
Lamborghini itu berbelok ketempat cuci mobil Hidrolik. Butuh tiga puluh menit untuk membersihkan kotoran di mobilnya yang terkena lumpur. Aku membuka kaca mobil ketika sampai di gardu.
"Apakah kami harus membersihkan luar dalam dari mobil Nona?" tanya seorang gadis sambil mencatat flat mobilku.
"Luar saja, aku stay dalam mobil."
"Nona dapat gratis segelas coffe dan akan diantarkan oleh pelayan kami."
"Trimakasih, aku tidak mengambil jatahku." kataku membayar tunai. Mobil mulai berjalan sesuai mesin hidrolik.
Ini hari ulang tahunku, hari istimewa bagi keluargaku. Mama Evelyn menangis bahagia ketika vidio call dari Los Angeles. Kak Maya dan kak Selvy mengharapkan kedatanganku di rumah kak Leon nanti malam. Aku menyetujuinya karena aku juga sangat kangen kepada Mama Capela. Hanya Andre yang cuek atas hari jadiku.
Aku kaget ketika kaca mobilku diketuk dari luar. Perlahan aku menurunkan kaca mobil, mata elang itu menatapku tajam. Darahku berdesir tiba-tiba. Aku turun dari mobil dan berada dihadapannya. Bajunya masih basah dan kotor.
"Aku akan mengganti ponselmu dan bajumu, ikutlah denganku ke Seluler word dan ke Butik." kataku dingin sebelum Andre sempat berkata.
"Rupanya kamu mengerti, karena pakaian mahal ini pemberian orang lain. Semenjak kamu membanting ponselku, aku berhenti jadi sopir, aku kembali kerja dibengkel dan sampai sekarang aku juga tidak punya ponsel." sahut Andre bohong.
__ADS_1
Dia cuma ingin menyembunyikan identitas dan status sosialnya, Bapak Sugama termasuk sepuluh besar orang kaya di Bali.
"Mobilku sudah selesai di cuci, ikutlah denganku." kataku tanpa ekspresi.
"Aku melihat kegembiraan di wajahmu saat kamu dipeluk oleh seseorang tadi pagi, saat kamu merayakan ulang tahun di Hotelmu. Ternyata kesetiaanmu perlu dipertanyakan, apa kamu tidak malu ditonton ribuan fansmu dipeluk oleh suami orang. Apa kamu tidak punya empaty kepada istrinya." kata Andre meluapkan isi hatinya.
"Tidak!!" sahutku pendek. Karena aku sudah berulangkali mengatakan bahwa Om Sugama adalah seseorang yang menyayangiku seperti anaknya sendiri.
"Kamu keterlaluan aku tidak menyangka kamu begitu murahan. Mungkin aku dibutakan oleh cintaku sehingga tidak melihat sisi gelapmu."
"Sekarang kamu sudah melihat sisi gelapku, aku mohon tutup mulutmu, aku takut tidak bisa mengontrol emosiku."
"Apa maumu perempuan murahan?" bentak Andre emosi.
Aku berusaha sabar dan menghela nafas. Mungkin aku bisa saja menurunkannya di jalan, tapi aku sudah berjanji akan membelikannya Handphone.
Kami sama-sama terdiam dan menahan marah. Sampai di Selular Word aku mencari stand Iphone. Dia mengikutiku tanpa komentar. Aku memilih APPLE iPhone 12 Pro Max 512GB Silver. Aku beli dua dengan warna yang sama.
"Ini untukmu, kalau mau ganti warna silahkan." kataku mengajak dia ke kasir. Dia tidak menjawab, mulutnya bungkam. Lebih baik begitu karena aku paling benci orang cerewet yang acapkali menuduhku sembarangan.
"Aku mau pulang apa aku harus mengantar kamu ke kost?" tanyaku meliriknya setelah selesai membeli Handphone.
"Aku mau ketemu Bibik." jawabnya pendek.
"Jadi kamu mau ikut denganku?"
Dia tidak menjawab langsung naik ke mobil ketika pintu terangkat. Sepanjang jalan dia mematung, aku juga diam.
"Aku lapar." katanya lirih seolah kepada dirinya sendiri.
Mobilku tetap melaju tanpa menghiraukan dia. Dirumah Bibik sudah masak banyak untuk di bawa ke Rumah kak Leon. Disamping itu aku sewot karena dia lupa ulang tahunku.
"Biasanya orang berbuat salah pasti minta maaf." kata Andre ketika mobilku masuk ke sebuah Butique.
"Apa tidak terbalik, aku tidak ada salah. Itu baru air got, besok-besok kalau aku lagi melihat kalian bermesraan berdua, kakiku akan menendang kalian ke permandian kerbau."
"Kamu cemburu? aneh."
"Jangan GR, buat apa aku cemburu. Aku tidak level dengan pacarmu."
"Hemm..."
Kami masuk ke Boutique seolah seperti kekasih.
"Selamat siang Nona Qi." sambut mbak Rida pemilik Boutique. Ini langganan Boutique keluargaku.
"Pilihkan lima stel untuk pacarku." kataku tanpa basa basi. Nyonya Rida sudah tahu sifatku yang to the point.
__ADS_1
*****