
Maimunah dan Bibik menjadi spionaseku untuk mencari tahu keadaan Bu Poniyem. Aku memang kepo hehe...
"Nona hari ini Bu Poniyem sudah keluar dari ruangan observasi, operasinya sukses. Tidak sia-sia Nona mengeluarkan uang banyak." lapor Maimunah tempo hari.
"Aku bersyukur semoga Bu Poniyem cepat pulih dan pulang kerumahnya dengan selamat."
"Saya juga senang Nona. Kata si Bedul tukang kebun Bu Sri, Tuan Semeru membeli mobil untuk kerja Nona, tidak untuk hura-hura. Nona jangan marah dengannya."
"Aku tidak peduli dengan semeru, manusia licik, penipu, pecundang..." sahutku kesal.
Begitulah pekerjaan Maimunah merangkap menjadi "mata-mata" amatir. Tiga hari yang lalu Maimunah kembali melapor dengan antusias.
"Tadi Tuan Semeru bertemu dengan saya....." kata Maimunah hampir berbisik.
"Kamu pasti sengaja lewat di depan rumahnya cari perhatian."
"Tidaklah Nona, dia yang datang kesini."
"Apa?! beraninya dia datang. Untuk apa dia kesini, mau minta sumbangan atau mau berantem."
"Saya tidak tahu Nona, dia cuma bilang trimakasih." sahut Maimunah takut-takut.
"Maimunah, kamu jangan menyembunyikan sesuatu dariku. Apa maksudnya dia bilang begitu?"
"Ini su..su..ratnya Nona...." kata Maimunah gugup.
"Surat lagi, dasar kampungan." sahutku gemes. Aku menyambar kertas yang di bawa Maimunah.
"Tidak terima sumbangan yang tidak halal." sebaris tulisan dan foto aku dan Maimunah di depan kasir Rumah Sakit.
"Manusia setan!!. munafik!!, Maimunah aku mau kerumah Semeru...."
"Jangan Nona, nanti Nona dihina lagi." seru Maimunah menghalangi jalanku.
"Aku mau minta uangku, tidak sudi aku membantu dia." kataku mendorong Maimunah.
"Nona tunggu...pakai pakaian sopan."
"Oyaya..aku baru ingat. Cariin aku jacket Hoodie."
"Pakai krudung saja Nona lebih aman."
"Tidak, nanti leherhu terasa kecekik. Jacket aja, cepetin Mai keburu marahku hilang."
Aku sudah memakai celana panjang dan jacket, topi jacket aku naikin menutup rambutku. Aku yakin dia tidak bisa menghinaku.
"Maimunah aku pergi, doakan aku supaya menang." kataku.
Sampai di rumah Semeru mobilnya tidak ada. Harusnya tadi aku mengintip dulu baru kesini. Aku tetap masuk ke rumahnya kepalang tanggung. pikirku.
__ADS_1
Aku mengetuk pintu kamarnya tapi tidak ada jawaban. Aku coba memegang grendelnya dan pintu terbuka.... aku melongok ke dalam, sepi. Perlahan aku masuk ke dalam dan melihat genteng di atas. Sudah rapi, tapi barang-barang di bawah masih berserakan.
Harusnya Maimunah aku ajak kesini untuk merapikan barang-barangnya. Bu Poniyem tidak bakalan bisa karena dia sakit. Tidak ada salahnya membantu beban Bu Poniyem. bathinku.
Aku mulai merapikan barang-barang itu sesuai tempatnya semula. Tidak ada masalah bagiku karena aku terbiasa hidup sendiri. Debunya banyak membuat aku bersin-bersin terus. Aku cepat-cepat menyapu, ngepel karena wajah terasa sudah gatal.
Selesai sudah. Semoga Bu Poniyem cepat sembuh dan puas melihat pekerjaanku. Aku melangkah pulang, berharap bertemu Semeru dan meminta uangku kembali. Tapi tidak ada firasat dia akan datang. Aku tetap pulang dengan langkah gontai bercampur haus.
"Nona sudah bertemu Tuan Semeru?" tanya Bibik cemas. Aku menggeleng.
"Manusia itu sudah ditelan Bumi." sahutku asal.
"Wajah Nona merah sekali, apa yang terjadi saya rasa Nona alergi." kata Maimunah menatapku.
"Aku alergi debu." sahutku cepat naik ke lantai atas.
****
Kesepianku memang sudah takdirku dan menjadi teman sejati. Setiap hari kerjaku itu-itu saja. Ada rasa bosan juga. Aku mulai melirik bisnis lain, misalnya Batu bara di Kalimantan.
Aku browsing dari google tentang Batu Bara dan orang-orang yang ada di dalamnya. Istilahnya Crazy Richnya Batu Bara. Ada beberapa orang dan aku memilih Pak Haji Saleh, alasanku karena dia juga punya perkebunan Kelapa Sawit.
Aku tidak langsung menghubungi Pak Haji, bagiku itu sangat riskan, bisa-bisa istrinya menjegal aku. Otak harus pintar. Aku harus menghubungi istrinya karena seorang istri omongannya sering di dengar oleh suaminya.
Seorang lelaki bisa meminpin Dunia tapi satu orang perempuan bisa mengguncangkan Dunia, istilahnya begitu.
Aku mulai DM beliau dan sukses.
"Selamat sore Ibu Cantik...." sapaku dengan emot love.
"Sore juga, apa aku kenal dengan kamu atau kamu pernah melihat aku menyanyi?" balasnya membuat penilaianku tentang sopan santun berbahasanya menurun. Aku mulai afirmasi negatif kepadanya.
"Saya fans berat anda, bisakah kita bertemu? saya ingin bekerja sama dalam bisnis yang anda kelola." aku mulai to the point sekalian memberi nomer Whatsapp ku.
Lama tidak dibalas, mungkin dia bertanya kepada suaminya. Aku tidak begitu berharap juga karena banyak Crazy Rich Batu bara yang bisa diajak kerja sama, setidaknya aku bisa membeli saham mereka.
Sekitar pukul. 19.15 WIB ponselku bergetar. Aku bangun dan meraih dari nakas.
"Hallo, good Afternoon?"
"Apa saya sedang berbicara dengan mbak Qirrera? saya adiknya Bu Mayang, CEO dari PT. Semeru Barito."
"Betul sekali Pak, saya Qirrera, senang bisa berbicara langsung dengan CEO dari PT. Semeru Barito. Apakah pembicaraan ini bisa kita lanjutkan dengan bertatap muka peace to peace. Saya berencana akan menggelontorkan sedikit uang saya untuk ikut ephoria di PT yang anda pimpin."
"Tentu bisa, saya akan meluangkan waktu untuk Anda."
"Ok. Trimakasih, saya akan memilih tempat. Undangan dari saya akan anda terima lima belas menit lagi. Anda tidak perlu membalas seandainya anda sibuk. Saya juga akan mengirim curriculum vitaeĀ sebagai dasar pertimbangan."
"Trimakasih Qirrera mat malam."
__ADS_1
Pembicaraan berakhir, aku mencari lewat google Restoran yang populer di Kalimantan Utara. Pekerjaan ini tidak terlalu lama, belum ada lima belas menit aku sudah mengirim Cafe Rooftoop yang terfavorit. Aku sekalian Inden dan memesan two table serta live musik.
Biasanya jarang ada yang menolak atau terlalu berbelit-belit, aku selalu melobi sendiri tanpa mengandalkan sekretaris atau lady escort untuk memuluskan rencanaku. I'm always confident!!.
Aku berusaha tidur seandainya bisa memilih mimpi, aku memilih bisa bertemu dengan Semeru. Aku bisa berantem dan menang. Akhir-akhir ini dia jarang di rumah, aku tidak tahu dia kerja apa.
Tapi kalau sudah malam aku mendengar dia mengaji, suaranya tetap membuat aku melayang...indah, mengharukan. Sebenarnya orangnya ganteng banget, hanya saja aku benci padanya...pokoknya benci titik!!.
Aku keluar dari kamar ingin mengintip ke rumah Semeru, siapa tahu ada Ibunya. Kata Maimunah Ibunya sudah pulang tapi tiduran terus. Ingin aku menengoknya, membelikan makanan online.
"Nona mau kemana?" suara Maimunah membuat aku menghentikan langkahku.
"Aku mau mengintip Ibu Poniyem."
"Mengintip Ibunya atau Tuan Semeru...."
"Iss..najis, buat apa mengintip si blekok itu. Gratispun aku tak sudi."
"Bagaimana kalau tambah TV sama Kulkas apa Nona mau dengannya?"
"Hahaha..kamu ada-ada saja, kalau di dengar oleh orangnya kamu bisa di gaplok. Selama ini dia tahu aja yang kita perbuat, seperti CCTV online."
"Betul Nona, saya setuju dengan Nona walaupun saya tidak mengerti arti CCTV online...."
"Mari kita intip orangnya, siapa tahu dia ada dibawah, kita lemparin batu."
"Jangan Nona, suratnya sudah numpuk...." Maimunah selalu keceplosan.
"Maimunah....bawa surat-suratnya semua, kamu jangan menilep surat Semeru, atau gajimu aku potong."
"Iss Nona, saya ketahuan lagi. Kalau saya kasi Nona suratnya tiap hari Nona bisa berantem. Surat Tuan Semeru sengaja saya simpan."
"Jangan-jangan kamu jatuh cinta sama dia."
"Tidak mungkin Nona, saya sudah punya pacar di Kampung. Tuan Semeru cocoknya dengan Nona."
"Aku sudah punya jodoh di Bali yang lebih segalanya dari dia." kataku bohong.
"Yang kesini itu Nona?"
"Tidak!! ada dech....." sahutku.
Maimunah ke balkon mau mengintip, aku juga ikut. Tidak ada siapapun. Sepi!!.
"Mai..besok aku berencana ke Kalimantan Utara, tolong kamu bawain makanan untuk Bu Poniyem, bukan untuk anaknya yang songong itu." kataku mengingatkan.
"Siap Nona..."
*****
__ADS_1