QIRRERA LOVE YOU

QIRRERA LOVE YOU
KECEWA


__ADS_3

Ucapan selamat berbahagia datang dari dalam dan luar Negeri, semua mendoakan supaya kami hidup berbahagia. Ada beberapa orang yang aku harapkan turut berbahagia, tapi malah membuatku sedih. Om Sugama dan Om Wedakarna. Mereka adalah Papanya Andre dan Dheo.


"Om kecewa padamu." itu bunyi DM dari Om Sugama. Ada kekecewaan dalam hatiku setelah membacanya.


"Maaf Om...aku mohon janganlah men diskreditkan pilihanku. Aku hanya mengikuti kata hatiku." balasku.


"It's up to you, it's your choice and at your own risk." (terserah kamu itu pilihanmu dan tanggung sendiri resikonya).


"Trimakasih Om atas kebaikamu selama ini aku akan tetap mengenangnya." balasku.


Aku merasa Om Sugama tidak setuju dengan pilihanku, dalam hatinya pasti dia masih menginginkan kehadiranku di antara keluarganya, aku juga mendengar istri Andre tidak bisa mengandung. Tapi tidak mungkinlah aku ada di antara Andre dan Istrinya, seperti tidak laku saja. Bagiku cinta tidak perlu besatu.


Aku kemudian menelepon Om Wedakarna, dia biasanya lebih fleksible.


"Selamat Qi, begitu cepat kamu mengambil keputusan tanpa minta pertimbangan dari kami. Kamu menganggap apa kami disini?" sahut Om Wedakarna dengan suara garing.


"Maaf Om, sebenarnya aku ingin ketegasan dari kalian, tapi jawaban itu tidak pernah datang. Akhirnya aku menata hatiku dan memilih sendiri jalan hidupku."


"Tidak perlu banyak alasan, bukankah kamu yang melempar Dheo ke Bali, sehingga dia mengalami prustasi akut?"


"Aku tidak tahu soal itu." sahutku tidak enak hati.


"Kami masih berduka karena istri Dheo baru saja meninggal. Kenapa kamu tidak sabar menunggu?"


"Aku turut berduka cita Om. Maafkan aku." itulah jawabanku, Om Wedakarna memutuskan hubungan telepon, aku tahu dia sangat marah. Tidak mungkin aku menunggu Dheo sampai istrinya meninggal Om Wedakarna sangat merendahkanku, dia pikir aku sangat membutuhkan Dheo.


Yang penting saudaraku dan Mama Evelyn yang berada di Los Angeles setuju apa yang aku perbuat.


Aku tidak menyangka begini jadinya, beritanya seolah seperti bom. Meledak!!. Ada yang pro dan ada yang kontra, itu sudah biasa. Untunglah semua kakakku mendukungku.


"Ternyata jodohmu di Kalimantan, kakak tidak menyangka. Selamat sayank...kakak selalu mendukungmu." Kak Maya dan kakak yang lain mengomentari pilihanku.


Aku pura-pura senang, apalagi yang harus aku lakukan kecuali tersenyum menghias bibir. Aku sepertinya terpedaya, mereka pasti menipuku. Tidak ada jalan lain, Semeru harus menerima pelampiasanku.


"Tok..tok...tok..." aku mengetuk pintu kamar Semeru. Aku mau penjelasan yang real, kenapa orang lain menganggapku menikah sungguhan.


"Ada apa?" tanyanya membuka pintu.


"Jangan berlagak bego, aku dan kamu menikah sungguhan atau palsu, dan kenapa semua orang memberiku selamat."


"Tergantung perasaanmu, kamu merasa aku ini suamimu atau cuma temanmu."


"Jangan berbelit, jawab yang benar."


"Kamu gantian jawab."


"Kamu musuhku, kamu telah menamparku waktu di Lampung."


"Kamu istriku makanya kita pernah ciuman." jawabnya santai.

__ADS_1


"Tidaaaakkkkk......" jawabku kembali ke kamar. Benci aku sama Semeru, ini pasti rekayasanya supaya dia bisa mengurungku.


Percuma bertanya dengan Semeru lebih baik aku langsung bertanya kepada Pak Haji. Aku kembali ke Semeru.


"Semeru...aku mau bicara kepada Pak Haji, awalnya harus mengucapkan apa?"


Semeru membuka pintu kamar dan secepat kilat menarik tanganku.


"Bukan muhrim lepaskan...." teriakku. Tapi Semeru tetap menarikku dan melemparku ke ranjang.


"Diam atau aku perkosa, tidak usah menghubungi Pak Haji. Ini buktinya kita sudah suami istri." dia lalu memelukku.


"Lepaskan aku, aku tidak mau denganmu. Lebih baik hidup sendiri daripada hidup denganmu."


"Sudah terlanjur, tidak ada kata TIDAK."


"Dasar genittt...." sahutku berontak.


Perbuatan Semeru membuat aku gemes, dia srlalu mencari kesempatan untuk memelukku. Dasar buaya darat. Jangan sampai aku jatuh cinta padanya.


*****


Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, hal tersebut adalah takdir yang harus kita pahami dan mengerti maknanya.


Maka dari itu janganlah pernah iri dan mencoba untuk menjadi seperti orang lain. Jadilah dirimu yang selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik di antara lainnya.


Inilah aku dengan semua kekuranganku dan kelebihan. Aku sebagai seorang manusia dan aku tak peduli dengan semua yang mereka katakan tentang aku karena aku hanya tau dua hal. Satu, Aku hidup tidak pernah merugikan mereka. Dua, aku bisa bertahan hidup bukan karena mereka. Itu saja.


"Kamu harus mulai praktek apa yang sudah diajarkan oleh Pak Haji Badrun." kata Semeru. Aku menatapnya heran, dia memakai tutup kepala (peci?) dan sarung.


"Maksudmu?" tanyaku duduk di sisi pembaringan. Aku harus sholat begitu?"


"Ya...belajar sedikit-sedikit."


"Aku sebenarnya buta masalah keyakinanmu, aku takut berbicara dan berbuat salah. Aku akan melakukan apabila aku sudah pintar."


"Dari tidak tahu menjadi tahu dengan cara belajar, jadi kamu tidak perlu takut, bukankah ada aku yang membimbingku."


"Apakah sekarang keyakinanku sudah berubah?"


"Apakah kamu keberatan dan merasa tertipu?" tanyanya hati-hati.


"Tidak, bagiku semua tujuannya sama. Apapun itu aku pasti akan menekuni, asal ada yang mengajariku. Di Bali juga banyak pemuda yang ......."


"Mandi cepat." potong Semeru lalu keluar dari kamarku.


"Kamu memotong omonganku itu tidak sopan, aku mau bilang banyak pemuda beragama muslim naksir aku." kataku bohong.


"Aku budeg, tidak dengar." sahutnya membuat aku mengejarnya dan menarik bajunya, tapi sarungnya ke tarik sampai melorot.

__ADS_1


"Sarungkuuu...kamu minta jatah ya?" tanyanya berbalik. Aku kaget tidak mengerti maksudnya dan cepat lari ke kamarku. Pintu tidak bisa dikunci, hanya bisa ditutup saja.


Kamarku dan Semeru berdampingan, tapi kunci kamarku sudah hilang. Jadi dia bebas keluar masuk. Sepanjang ini dia tidak menggangguku, sifatnya mungkin sudah berubah sedikit, tapi kalau membangunkanku kakiku selalu dia seret. kesal banget, otomatis baju tidurku tergulung naik. Matanya bebas melihat bawahanku. Dasar genit.


Habis mandi aku langsung memakai celana pendek, atasan tank top. Kemudian keluar, rupanya Semeru menungguku.


"Pakai mukena.." kata Semeru mendorong aku kembali ke kamar.


"Apa maksudmu?" tanyaku tidak mengerti. Dia membuka almariku dan memilih baju yang menutupi kepalaku sampai lantai.


"Ini panas, ganti yang tipis."


"Tidak boleh jangan cerewet."


Akhirnya aku menurut saja, kasihan juga dia lama menungguku. Kemudian aku diajak cuci tangan, namanya Wudhu, tiap aku colek tangannya dia kembali ber wudhu. Pertamanya tidak sengaja setelah aku dikasitahu aku merasa bersalah.


Di rumah ini aku hanya berdua saja, di layani oleh tiga pelayan. Makanan di bawakan dari rumah utama, sering tidak cocok dengan lidahku.


"Apakah pamali sudah berhenti dan aku boleh keluar dari sini?" tanyaku kepada Semeru ketika kami lagi sarapan.


"Masih Pamali, emangnya kamu mau kemana?"


"Aku mau membeli Juicer dan sayuran serta buah. Aku tidak biasa makan semua ini, makanku roti gandum. Aku juga Vegetarian lacto ovo, tidak makan daging tapi makan telor dan minum susu."


"Tidak sampai dua jam pesananmu akan datang, tunggu saja. Aku jelaskan sekali lagi bahwa kamu tidak boleh keluar tanpaku. Kamu adalah istriku, tidak usah lebay atau merengek seperti anak kecil.


"Kamu menipuku kena pasal berlapis-lapis aku bisa adukan kamu ke Polisi."


"Tidak ada yang percaya, saat menikah senyumanmu mengembang dan saat Press conference kamu enjoy saja. Sebenarnya aku yang harus melaporkanmu."


"Aku korban, bukan kamu." sanggahku.


"Kamu sehat jasmani dan rohani, kita penganten baru tapi jatahku belum kamu penuhi." katanya tersenyum.


"Aku baru mengerti kamu terus minta jatah, rupanya jatah itu anu ya. Tunggulah sampai jenggotmu memanjang."


"Jangan main-main Qi, aku suamimu."


"Siapa suruh kamu menjadi suami sungguhan Pak Haji menyuruhku pura-pura menikah." bantahku.


"Tega kamu, itu dosa ada hukumnya lho."


"Aku tidak mencintaimu bagaimana bisa menyatu satu selimut."


"Itu bukan alasan, kamu pasti sudah expert dibidang itu. Aku mendapatkan bekas-bekas yang sudah kedaluwarsa."


Ingatanku kembali melayang kepada Dheo, ketakutanku merajalela, aku bertanya dalam hati, apa aku masih perawan atau tidak. Atau aku harus ke dokter, bertanya kepada yang ahli.


"Makanya jangan menikah denganku, aku sudah seperti piala bergilir hahaha...." sahutku tertawa untuk menyembunyikan kegelisahanku.

__ADS_1


*****


__ADS_2