QIRRERA LOVE YOU

QIRRERA LOVE YOU
KABUR


__ADS_3

Otak harus jenius menghadapi Semeru, aku sekarang memang menjadi korbannya, dia merasa aku miliknya. Dulu kami musuhan dan selalu berantem, sekarangpun masih, cuma pasca menikah Semeru sering mencuri pandang padaku. Begitulah dia, selalu mencari kesempatandi dalam kesempitan, kasihan sekali.


Sebenarnya aku tidak peduli dengan tingkah lakunya selama dia tidak menggangguku, aku juga kerap cuek padanya. Harapanku keluar dari sangkar ini sudah pupus, semeru selalu mengatakan Pamali. Aku jadi benci sama Pamali, kenapa dia selalu menghalangi aku keluar.


"Hee..suami palsuku, kepalaku bisa pecah kalau berada di kandangmu ini, keluarkan aku dari sini sebelum aku menjadi gila." kataku mendekati Semeru yang sedang asyik dengan Laptopnya.


"Punya kaki keluar sendiri." sahutnya acuh.


"Mana kuncinya?"


"Nih, ambil di kantong celanaku."


"Moduss..." sahutku kesal. Dia melirikku genit. Semeru semakin lama semakin nyebelin. Mana mungkin aku merogoh sakunya, dasar!!.


Aku masuk ke kamar meraih ponselku ketika ada yang meneleponku.


"Hallo.. siapa ini?" tanyaku berusaha mengingat suara itu.


"Cepat sekali kamu melupakan suaraku." sahut Dheo.


"Aku bukan lupa, tapi aku tidak mau lagi berhubungan dengan masa laluku. Majulah ke depan jangan menoleh kebelakang kalau tidak mau sakit hati." sahutku tegas.


"Hahaha...apa kamu lupa foto vulgarmu?" kata Dheo membuat aku terhenyak.


"Bagaimana kalau aku mengirimi suamimu, supaya dia lebih hafal lekuk tubuhmu." sambungnya lagi. Aku berusaha menenangkan pikiranku.


"Hentikan omong kosongmu, jangan menggangguku lagi. Jauhlah dari kehidupanku." sahutku mulai berdebar.


"Tidak segampang itu, kamu milikku satu-satunya. Istriku sudah meninggal, tidak ada alasan bagimu untuk menjauh dariku. Sudah lama aku menunggu hari bahagia ini kita akan menikah."


"Jangan nekad Dheo, aku sudah menikah. Aku bisa melaporkanmu ke Polisi jika kamu berulah."


"Lebih baik membusuk di penjara dari pada melihat kamu dengan lelaki lain. Aku mencintaimu."


"Tidak Dheo, hubungan kita sudah putus. Carilah wanita lain yang bisa mencintaimu."


"Aku akan datang menemuimu, bagiku tidak ada kata menyerah."

__ADS_1


"Apa maumu setann!" teriakku marah. Aku mendengar tawa Dheo berkumandang.


"Kenapa kamu berteriak, siapa yang meneleponmu?" Semeru sudah berada di sampingku. Wajahnya tampak marah.


"Katakan siapa yang kamu ajak bicara." suaranya mulai meninggi.


"Apa pedulimu, kamu bukan siapa-siapa bagiku. Lepaskan aku dari sini." kataku menatapnya marah.


"Dasar perempuan murahan, langkahi dulu mayatku kalau ingin keluar."


"Peduli setan denganmu!!" teriakku lalu mengambil koper. Aku mengeluarkan baju dari almari.


Tiba-tiba Semeru menendang koperku dan merebut ponselku. Aku saling tarik menarik Tentu Semeru yang menang. Dia lalu keluar dari kamarku dan duduk di sofa.


"Kesini bawa ponselku, aku mau pergi dari sini." sahutku ketakutan kalau dia menghubungi Dheo. Tapi ketakutanku menjadi kenyataan.


"Hallo..." Semeru mulai menelepon Dheo. Aku tidak berani menatapnya. Perasaanku sangat cemas. Badanku lemas terasa tidak bertulang.


Aku bersandar di pintu kamar pasrah terhadap nasib. Air mataku mengalir ketika kaki Semeru menendang guci antik, pot bunga dan yang lainnya. Setelah itu dia menghampiriku dan "plokk...plokkk... tangannya melayang kepipiku.


"Aku sangat menyesal, ternyata ****** aku nikahi. Manusia tidak beradab. Pantaslah warga mengusirmu, ternyata kamu lebih najis dari bangkai."


Sumpah serapahnya dan tamparannya membuat aku berdiri tegap, hinaannya sungguh menyakitkan. Aku telan rasa perih dihati, mengapa dia begitu keras menghinaku, sedangkan aku tidak pernah menjatuhkan harga dirinya.


Aku masuk ke kamarku, dan menghapus air mata dengan kasar. Kemudian mengambil tas ransel dan memasukan beberapa pakaian. Setelah itu aku mengambil laptop serta semua ponselku.


Penghinaan kepada diriku sudah sering terjadi, aku seorang manusia yang dari kecil mandiri, sekarang mendapat hinaan begini membuat aku semakin menggila. Tidak peduli dengan Batu bara, aku bisa eksis berbisnis di tempat lain. Tekadku sudah bulat pergi dari sini.


"Pergilah kau ******, obral dirimu semurah mungkin. Kau tidak cocok di istanaku yang suci. Sarah walaupun tidak secantik kau tapi beradab." bentak Semeru membiarkan aku pergi. Aku menahan air mataku jatuh, dendamku melebihi tinggi tubuhku, sangat tinggi. Apalagi dia membandingkan aku dengan Sarah...


Aku berdiri di depan pintu utama dan mencoba membukanya, tapi tidak bisa terbuka karena kuncinya dibawa. Setelah berpikir sebentar aku mengambil jalan pintas. Kaki kiriku melayang menendang pintu utama. "Duuaaarrrr.....


Aku cepat berlari ketika pintu terbuka dan sekali lagi aku menendang keras, pintu tertutup rusak.


Tidak tahu harus kemana, rumah Semeru sangat luas dan hamparan kebunnya ada dimana-mana. Aku berpatokan sama jam tanganku yang berisi kompas. Semua ponselku sudah aku matikan. Tidak mungkin Semeru atau anak buahnya bisa menemukanku kecuali dia memakai anjing pelacak.


Keringatku bercucuran, aku turus berjalan ke Utara dan beruntung menemukan sungai besar. Aku mengikuti arah arus Sungai. Perjalanan ini sungguh melelahkan aku harus kuat dan semangat.

__ADS_1


Walaupun Pak Haji tahu aku kabur dia pasti akan berpikir dua kali menyuruh orang atau Polisi mencariku. Tentu mereka menjaga nama baiknya. Kalau orang tahu aku lari karena dikurung atau di tampar oleh Semeru, masyarakat akan mengecamnya. Sebencinya aku padanya, aku tetap menjaga nama baiknya.


Matahari sudah condong ke Barat ketika aku sampai di jembatan. Aku tidak tahu dimana ini, seperti aku masuk kesebuah desa. Disini Desanya cukup padat.


"Hello lady, where are you going?" seorang ojol menyapaku.


"Saya mau mencari penginapan." sahutku menghentikan langkahku.


"Rupanya kamu bisa berbahasa Indonesia. Disini tidak ada penginapan Nona, kalau di Kota, baru ada. Sedangkan dari sini ke kota butuh waktu dua jam."


"Apa kamu bisa mengantarku?" tanyaku berharap.


"Bisa Nona dengan biaya seratus lima puluh ribu rupiah."


"Oke, antar saya sampai di sebuah penginapan." sahutku.


Aku naik ke boncengan Ojol. Perjalanan ini membuatku mulai berpikir, Ponsel yang dibanting Semeru berisi sandi dan nomor penting tentang sahamku. Jika Semeru jahat dia bisa mengambil uangku dengan mudah. Tapi aku pantang berbalik, biarlah hilang, uang bisa dicari. pikirku.


Lumayan jauh letak penginapannya, pinggangku terasa pegal berboncengan sejauh ini. Untung jalanan lempeng dan tidak macet. Akhirnya aku diturunkan di sebuah Losmen sederhana di Kota.


"Sudah sampai Nona." kata Pak Ojol tersenyum.


"Trimakasih Pak." sahutku.


Aku masuk ke dalam Losmen, seorang Bapak menyambutku.


"Hallo selamat datang." sapanya ramah.


"Hallo Pak, saya mau menginap disini, apa ada kamar kosong?"


"Masih ada untuk Nona, mari saya antar."


Di curigai dan dihina orang sudah sering dilakukan oleh orang-orang terdekatku. Aku sangat maklum atas semua ini, mereka tidak memahami diriku sepenuhnya. Tapi disaat hinaan itu dibarengi dengan tamparan aku merasa lebih tidak berharga. Aku sangat terhina.


Malam ini aku meringkuk dibawah selimut. Air mataku jatuh berderai kalau ingat prilaku Semeru.


****

__ADS_1


__ADS_2