
Tidak sulit bagi Dheo untuk mencari jejak Qirrera, dia tinggal menyewa agent spionase swasta untuk mencari jejak Qirrera. Yang penting ada uang semua bisa terjadi hanya satu yang tidak bisa dilakukannya yaitu membuang cintanya yang terlanjur subur.
Semakin hari cintanya semakin menggebu, ingin rasanya dia terbang untuk menemui Qirrera, tapi semua itu tidak bisa dia lakukan. Jangankan untuk menemui Qirrera di Korea, baru nongol nomer ponselnya di handphone Qirrera, gadis itu langsung main blokir. Doyan banget memblokir.?
Dia yakin gadis itu percaya kalau telah diperkosa. Itu senjata yang membuat Dheo tidak begitu khawatir. Dia yakin cepat atau lambat Qirrera akan mencarinya, ntah sebagai kekasih atau musuh. Pasrah sajalah.
Dheo turun dari Taxi menuju Rumah bercat putih tulang. Pintu gerbangnya warna hitam kopi. Dia lalu memencet bell. Tidak begitu lama pintu gerbang terbuka. Seorang gadis yang tidak lain maimunah membuka pintu.
"Tuan mencari siapa?" tanyanya kagum melihat Dheo yang super macho.
"Maaf mbak, Benar disini rumah Nona Qirrera?"
"Benar, tapi Nona tidak ada di rumah."
"Saya tahu dia ke Luar Negeri, saya tunangannya baru datang dari Bali."
"Silahkan masuk Tuan." kata Maimunah mempersilahkan Dheo masuk.
Dengan percaya diri Dheo masuk ke dalam rumah. Dalam hati dia memuji selera Qirrera yang tinggi. Rumah Qirrera tidak begitu besar seperti di Bali tapi unik dan terkesan sejuk.
"Silahkan duduk Tuan, apa Tuan minum panas atau dingin?"
"Aku ambil sendiri mbak." sahut Dheo menuju Mini Bar, dia tahu Qirrera pasti punya minuman khusus karena dia orang Hotel.
"Mbak, aku akan menginap disini sampai Nona Qirrera pulang."
"Kalau begitu saya panggilkan Bibik Zariatun supaya kamar Tuan dibersihkan." kata Maimunah langsung pergi ke belakang.
Bibik Zariatun datang tergopoh-gopoh, wajahnya kelihatan khawatir.
"Maaf Tuan, kata Nona Qirrera tidak boleh saya menerima tamu apa lagi mau menginap disini. Biarpun Tuan mengaku tunangannya Nona, saya tidak berani menerima Tuan." kata Bibik Zariatun menohok.
"Silahkan Bibik telepon Nona, tapi terlebih dahulu Bibik SMS, supaya mau di respon." kata Dheo menyodorkan ponselnya yang lain. Ponselnya yang lagi satu sudah di blokir Qirrera.
"Ya Tuan, saya harus izin dulu." sahut Bibik mengambil ponselnya Dheo.
Bibik mulai menulis dengan pelan, dia agak hati-hati memegang ponselnya Dheo yang beda dengan ponselnya. Orang kaya ponselnya mengkilat dan wangi. pikir Bibik.
"Nona Qirrera ini Bibik Zariatun....." setelah menulis itu dia kembalikan ponsel Dheo.
Tidak menunggu lama ada vidio call dari Qirrera, Dheo memberi isyarat supaya Bibik menerimanya.
"Ada apa Bibik?" tanya Qirrera dingin. Bibik kaget melihat wajah Qirrera yang kaku. Biasanya kalau di rumah Nonanya ramah dan manis.
"Nona ada Tuan ganteng datang dari Bali ingin menginap disini, bolehkah Nona? Kasihan dia terlantar." kata Bibik berharap di izinkan.
__ADS_1
"Siapa?"
"Tunangan Nona..."
"Boleh!!" sahut Qirrera setelah lama tidak dijawab.
"Thank You Honey." kata Dheo sedikit kencang. Tentu Qirrera mendengar suara Dheo.
Hubungan terputus, Dheo menarik nafas dalam dan membuangnya kasar. Dia bersyukur Qirrera mau memberi tumpangan. Ini awal dari usahanya untuk menundukkan Qirrera. Setipis apapun peluang yang diberi oleh Qirrera Dheo akan terima.
"Tuan ini ponselnya." kata Bibik sopan.
"Trimakasih Bik."
"Tuan mau makan apa?" tanya Bibik Zariatun berdiri.
"Bibik tidak usah repot, nanti saya pesan makanan lewat Online ." sahut Dheo.
"Kamar Tuan sudah di siapkan di atas berdampingan dengan kamar Nona, kalau Tuan butuh sesuatu panggil kami." kata Maimunah.
****
Pulau Jeju Korea selatan. Aku berdiri kagum memandang puncak Gunung Halla, Gunung tertinggi di Korea. Tapi aku tidak mungkin traveling kesana, aku kesini mencari Linda Siyoka agent travel yang menjadi broker Hotelku.
Linda adalah orang yang aku percayai, dia tahu apa artinya kalau aku sudah datang. Tepat pukul. 11.05 waktu setempat, aku menunggu di Ramada Hotel lantai tiga di living room.
Thank You Honey...... cihhh...beraninya dia memanggil aku Honey. Siapa juga yang mau dengannya. Dasar tidak tahu malu. gerutuku kesal.
Sedang asyiknya aku melamun, sehingga tidak menyadari sepasang mata elang menatapku tajam. Astaga!! mengapa pula dia berada disini? aku cepat memalingkan wajahku yang mendadak merah.
"Qi....." suara itu membuat aku terpaksa menoleh. Dia datang menghampiriku dan duduk semeja.
"Qi, kamu juga di sini?" tanyanya menatapku sambil tersenyum senang.
"Hemm....." aku tersenyum miring, apa dosaku sehingga selalu bertemu dengan manusia ini.
Baru aku mau menata hati dan berusaha meraih mimpi baru, kembali hatiku menjerit pilu. Apalagi di belakangnya ada Natalia dengan pakaian supermini.
"Sayank....kemanapun kamu pergi pasti diburu oleh janda ini. Apa kalian janjian disini?" Semprot Natalia mendekati meja kami.
"Natali, ini Negara orang. Hati-hati berbicara." sahut Andre tidak terima, masalahnya banyak ada orang.
"Aku peringati, jangan sampai aku marah dan memasukanmu ke penjara dengan dakwaan kamu merebut suami orang." sambung Natali, telunjuknya mengarah padaku.
"Kenapa kamu begitu ketakutan kehilangan suamimu? apa dia tidak mencintaimu atau kamu sudah peot seperti kertas daur ulang." kataku sinis tanpa emosi. Bagiku kedua manusia di depanku tidaklah berharga lagi.
__ADS_1
"Berhenti bermimpi, Andre sudah menjadi suamiku. Pakai otak bodohmu." semprotnya lagi.
"Kalian tidak berharga di mataku, pergilah ke habitatmu." sahutku berdiri. Aku melangkah tidak peduli. Rasanya aku ingin berteriak dan menggampar mulut Natalia. Tapi semua itu tidak aku lakukan.
Aku tidak tahu bagaimana perasaanku saat ini setelah mendengar Andre sudah resmi menjadi suami Natalia. Dia sudah punya istri dan menjadi suami orang, aku harus bisa melupakannya.
Tanpa kusadari air mataku bergulir jatuh, aku cepat menghapusnya dan melanjutkan langkahku.
"Nona Qirrera......" suara Linda membuat langkahku berhenti. Aku membalikan badan.
"Aku lama menunggumu." sahutku dingin.
"Mari kita keluar dari Hotel dan mencari tempat yang nyaman." saran Linda berusaha membujukku.
"Tidak perlu jauh-jauh, kita pergi ke pinggir Pantai dan duduk di Beach Club, mumpung masih siang tentu tidak banyak orang."
"Okay...silahkan Nona duluan."
"Kita jalan bersama." sahutku. Kami berjalan berendeng menuju pinggir Pantai. Tujuanku satu mencari tempat sepi.
Sampai di Beach Club aku disambut oleh seorang waiter dengan sopan.
"Good afternoon Miss, are you going to spend your day at the Beach Club? Here we prepare Live music and two menu choices Continental and Oriental, there is also a room for you to rest."
"Kami hanya ingin minum sehat dan duduk santai dengan temanku. Aku cuma butuh waktu satu jam." sahutku mengeluarkan down payment sebanyak 700 won.
Kami di persilahkan masuk dan bebas memilih bangku. Mungkin karena masih siang banyak bangku yang belum di booking. Aku memilih bangku dekat pantai bernomer 105.
"Silahkan duduk Linda, kita akan bincang-bincang tentang penyelewenganmu." kataku langsung ke pokok persoalan.
"Maaf Nona, dari agent kami telah mengirim dua ratus tamu dalam dua priode, tapi rencana kami ke Hotel Nona di jegal oleh Mr. Bagus, jadi kami terpaksa mengikuti saran beliau. Cuma kami telat komfirmasi saja." ucap Linda mulai gugup.
Dia berusaha memutar balikan fakta dan menjatuhkan Mr. Bagus, agentku yang lain.
"Linda, kita sudah lama menjadi patner kerja, dari sebelum aku punya Hotel sampai sekarang aku menjadi Owner. Aku belum pernah main belakang atau berusaha meninggalkanmu dalam situasi apapun untuk mencari patner baru yang lebih qualified."
"Aku mengerti Nona, maafkan aku."
"Bukan dengan cara minta maaf urusannya bisa selesai, kerugian yang di derita oleh Hotel keluargaku dan Hotelku tidak sedikit. Efek dari ketidak becusanmu membuat Kak Maya curiga padaku dan menganggap aku sengaja membatalkan sepihak." kataku mengingat hubunganku dengan kak Maya mulai dingin.
"Saya akan menemui Owner Maya wansa dan menjelaskan duduk persoalannya. Saya pribadi berharap supaya Nona jangan memutuskan kerja sama kita." kata Linda putus asa, dia tahu jika membuat masalah denganku travelnya bisa di black list.
"Aku sarankan supaya kamu duduk manis di tempat, aku sudah menyuruh General Managerku untuk memutuskan hubungan kerja kita. Kamu buka emailmu, disitu akan terlihat berapa hotel akan memutuskan hubungan kerja sama dengan travelmu. Pembicaraan kita sudah aku rekam dan terkirim ke semua corporation." kataku tegas.
Air mata Linda mengalir deras, dia duduk bersimpuh di kakiku. Aku tidak bergeming. Sudah sering dia menipuku, ini kerugianku yang paling besar dan membuat nama baikku tercemar.
__ADS_1
"Selamat siang Linda, trimakasih atas kerja samamu selama ini." kataku meninggalkan dirinya dengan sejuta penyesalan. Aku benci penipu!!.
*****