
Aku bukan sombong, aku tidak mau mobilku sama dengan calon istri Andre. Mungkin mobil ini lebih berguna bagi kak Leon, padahal aku senang memakai mobil ini, tapi sudahlah...
Sampai di rumah sudah pukul.22.45 wita. Rumah sudah sepi, aku langsung ke meja makan karena lapar. Tadi aku tidak ikut makan di Restoran. Aku membuka tudung saji dan aku merasa heran makanan di dalamnya semua hangat. Roti gandum seolah baru di bakar dan juss nya baru juga. Mataku celingukan mencari sosok Andre, hanya Andre yang bisa melakukan itu semua. Tapi Andre tidak tampak. Aku makan dengan lahap dan menghabiskan semua yang tersaji.
Cepat-cepat aku naik ke kamar, lamat-lamat aku mendengar lagu Naff "Kamu Masih Kekasihku" aku membuka pintu kamar. Astaga... rupanya lagu itu dari laptopku. Biasanya aku tutup laptopnya, kenapa tumben aku ceroboh. Tapi ada yang aneh dilayar laptop, ada tulisan "Mandilah air hangat, supaya kamu tidak sakit. Udara Ubud pasti membuatmu sesak nafas, Love you..kamu adalah jiwaku."
Aku duduk terpaku, air mataku bergulir jatuh. Apa Andre bisa masuk kamarku? seolah Andre tahu apa yang aku alami hari ini. Penghinaan dari Bu Dilla. Siapa yang mau menjadi anak haram? takdirlah yang membawaku menjadi anak pungut. Aku tahu status anak haram sangat hina dimata kelompok ninggrat di lingkunganku. Karena identik dengan prilaku seorang prempuan nakal.
Aku mengguyur tubuhku dengan air shower yang hangat, berusaha melupakan yang terjadi. Tapi otakku tidak bisa melupakan senyum sinis Bu Dilla atau pandangan mengejek dari Natalia.
Akhir-akhir ini aku merasa sangat cengeng. Emosiku cepat terpancing. Aku mencoba menghibur diriku dengan alunan lagu-lagu dari Zayn Malik sampai tertidur.
Andre duduk termangu di luar kamar Qirrera. Dia selalu melihat WA nya yang di blokir oleh Qirrera. Ntah sudah berapa kali WA nya di blokir, tapi Andre sabar menghadapi gadis liar itu. Dia sangat mencintainya, sampai dia tidak berani berterus terang siapa dirinya, dia sangat takut kehilangan Qirrera. Perlahan Andre bangun dia tahu Qirrera pasti sudah tidur di dalam.
Kunci serep pintu kamar Qirrera dia putar dan Andre masuk dengan mudah. Dia menutup laptop, kemudian dia memegang telapak kaki Qirrera yang dingin dan membersihkan memakai tissue basah, setelah itu dia menyelimuti badan Qirrera dengan selimut yang dia bawa.
Mata elangnya tajam menatap wajah cantik itu. Dia tidak bisa menahan diri untuk mengecup bibir Qirrera yang setengah terbuka. Andre menunduk dan gejolak asmaranya bergolak. Ingin rasanya dia memeluk tubuh semampai itu dan menggumulinya. Dia cepat sadar lalu mematikan lampu kamar dan mengganti dengan lampu tidur. Kemudian dia keluar setelah puas memandang kekasih hatinya.
Andre merasa puas walaupun dengan cara mencuri-curi. Kemudian dia tidur di sofa panjang di luar kamar memakai selimut Qirrera, sedangkan Qirrera sudah dia selimuti memakai selimutnya. Dia tersenyum bisa mengakali Qirrera, dan mencium wangi tubuh Qirrera yang menempel di selimut. Malam ini dia merasa memeluk tubuh gadis itu...wangii.
***
Aku menggeliat membuka mataku, tapi aku malas bangun. Bau badan Andre menempel di hidungku. Aku tersenyum merasa terlalu mengkhayal. Seandainya sistim perjodohan bisa di hapuskan dari lingkunganku, tentu kami bisa bersatu.
Sinar matahari belum muncul, tapi aku harus bangun menjalani rutinitas. Seperti biasa semua yang aku perlukan sudah tersedia. Sekarang aku merasa ragu siapa yang menyiapkan semua ini, Bibik apa Andre. Aku merasa seluruh aktifitasku dan kesenanganku Andre mengetahuinya.
Biasanya aku breackfas jam tujuh lewat sedikit. Sekarang aku mau turun sebelum jam tujuh dan mengintip siapa yang masak sarapan untukku. Aku turun perlahan dan langsung ke meja makan. Tudung saji aku buka dan sarapanku sudah ada lengkap dengan juss yang aku pesan.
Langkahku menuju dapur dan mendapati Bik Inah dan Bik Surti sedang sarapan.
"Non, sudah sarapan?" tanya Bik Surti memandangku kaget.
__ADS_1
"Bik siapa yang nembuat sarapanku pagi ini, koq beda?" tanyaku ingin menjebak Bibik.
"Mana bisa beda Non, orang yang buat dari dulu Tuan Andre." sahut Bibik Surti keceplosan. Aku bengong dan kembali ke meja makan tanpa menyahut. Ternyata dari dulu dia sudah memperhatikanku, aku merasa terharu. Aku selalu goyah kalau mengingat kebaikannya. Namanya akan selalu terukir di hatiku sampai kapanpun, walaupun dia sudah menikah dengan jodohnya.
Sudah pukul. 08.30 wita, aku turun mau berangkat kerja. Kembali aku dibuat heran, mobil Mc Larren ada di garasi dan mobil Lamborghini sekarang di luar dalam keadaan sudah bersih, pintu terangkat, atap mobil terbuka. Mesin sudah hidup. Kenapa Andre bisa tahu aku benci sama Mc Larren gara-gara sama dengan Natalia. Sungguh aku tidak mengerti. Andre seperti dukun yang tahu akan isi otakku.
Aku naik ke mobil dan keluar dari rumah. Seharian aku tidak bertemu dengan Andre, aku ingin sekali bertemu muka. Rinduku sudah tidak bisa terbilang. Seandainya cinta bisa dihapus dengan gampang tentu aku sudah melenyapkannya. Cinta itu menyiksaku, membuat air mataku setiap saat keluar.
Masuk ke Lobby Hotel kak Selvy sudah menghadangku.
"Kakak....." aku turun dari mobil dan menghambur kepelukannya.
"Manja, sudah gede masih cengeng." kata kak Selvy memelukku. Dia tidak bekerja disini. Kak Selvi mengurus Villa keluarga yang berada di Seminyak. Disitu dia sebagai Owner. Jumlah Villa ada sekitar delapan puluh unit, tidak banyak.
"Kenapa kakak datang kesini, apa ada masalah?"
"Aku di hubungi oleh Pak Yoga, untuk membeli sahamnya, jadi aku harus rembugan dengan kalian."
"Aku melarang membeli sahamnya, nanti kakak bisa bertanya kepada Mas Bayu alasannya." sahutku.
"Kita bicara dulu dengan kak Maya, Pak Yoga masih semarga dengan kita, untuk menolak penawarannya harus ada alasan yang kuat."
"Aku punya saham dua puluh lima persen di Hotel kita, kakak bisa pikirkan kalau aku menarik sahamku tiba-tiba."
"Qi..apa masalahnya separah itu sampai pikiranmu tidak waras. Kita bicara dulu sama kak Maya atau kak Leon."
"Aku sudah tombok kak Leon dengan Mc Larren, jadi aku sudah punya anggota untuk melawan Pak Yoga."
"You Crazy... ada apa denganmu sebenarnya." seru kak Selvy.
"Aku sudah beli Lamborghini Aventador, mobil idamanku." sahutku berusaha menutupi gejolak hatiku mengingat Natalia.
__ADS_1
Kami berjalan menuju ruangan Owner lantai tiga. Sedangkan ruangan staff ada di Bassement, termasuk ruanganku.
"Tok...tok...tok."
"Good morning Owner?" sapa kak Selvy memeluk kak Maya.
"Qi..kamu gak peluk kakak?" tanya kak Maya melihat aku duduk di kursi eksklusif.
"Malass...." sahutku manyun.
Mereka berdua tertawa dan menghampiri aku. Kak Maya membelai rambutku dan berbisik.
"Kakak sudah membatalkan kerjasama dengan Bapak Yoga." aku langsung memeluk kak Maya, kemudian aku bercerita bagaimana Bu Dilla mengejekku.
"Terkadang aku berpikir mereka benar apapun yang mereka katakan. Aku harusnya tidak marah kalau mendengarkan penghinaan begitu."
"Sabar Qi, kamu itu lebih hebat dari anaknya. Orang iri itu tanda tidak mampu. Tetaplah menjadi Qirrera yang hebat supaya kamu bisa menunjukan pada orang bahwa anak haram itu sekarang sukses." ucap kak Maya serius.
Aku cuma mengangguk dan tersenyum dipaksa. Bagaimanapun juga aku merasa hina, apalagi mengingat aku sudah janda. Memang terkadang aku lupa bahwa diriku seorang janda. Mungkin juga karena aku belum pernah menjadi istri sesungguhnya, jadi aku lupa membatasi tingkah lakuku.
"Tidak usah mendengarkan omongan orang, kamu sendiri harus bangga apa yang sudah kamu raih. Orang lain tahunya janda saja, tapi mereka tidak tahu yang sebenarnya. Carilah jodoh yang baik dan menyayangimu. Kakak selalu akan mendoakanmu yang terbaik." kata kak Selvy yang ikut geram kepada Bu Dilla.
"Aku akan membeli Hotel, kalau bisa di Canggu. Prospeknya mengarah kesana sekarang, banyak Artis membeli disana," kataku melihat kedua kakakku.
"Hotel apa kamu beli disana, Luxury atau bintang berapa?" tanya kak Selvy heran.
"Sebenarnya bulan lalu aku survey lokasi, waktu ditawari sebuah Hotel oleh Pak Handoko konglomerat Rokok ternama. Cuma aku masih mempelajari dan masih mengumpulkan uang. Aku tertarik karena Hotel ini dibawah naungan Corporate, harganya juga agak miring." jelasku sambil menyebut nominal harga Hotel itu.
"Kamu yakin Qi, masalahnya daerah Canggu belum dilirik oleh Turis." kata kak Maya ragu.
"Aku seorang marketing jadi tahu keinginan Turis, mereka lebih memilih yang agak alami tapi tidak lepas dengan pemandangan lautnya."
__ADS_1
"Kakakmu semua akan mendukungmu, semoga tercapai. Kamu hebat, angkatlah nama keluarga dengan kesuksesanmu. Tapi kamu tidak boleh sombong apapun yang kamu capai, biar orang lain yang menilaimu." kak Maya dan kak Selvy sangat senang mendengar kabar ini.
****