
Diego mengajak aku duduk di bangku Bar, tentu aku menolak tawarannya untuk minum black label atau Vodca.
"Sedikit saja." katanya setengah memaksa.
"Aku lagi bekerja, aku kesini atas sepengetahuan Ownerku. Tentu aku tidak mau gegabah dengan cara mabuk ke Hotel." kataku terus terang.
"Dimana kamu kerja, boleh donk aku kesana?"
"Kamu bebas kesana, tapi aku tidak menjamin bisa bertemu dengan kamu, karena pekerjaanku padat dan kebanyakan di lapangan."
"Aku mau pindah ke Hotelmu." sahutnya tanpa peduli akan omonganku. Tidak apa-apa yang penting aku sudah memberitahu yang sebenarnya.
"Apa yang bisa kamu berikan padaku selain sex." kataku terus terang. Karena orang seperti Diego yang dia banggakan adalah sex dan pesonanya. Aku tidak butuh itu, yang aku butuh sesuatu yang bisa aku pegang untuk kemajuan karirku khususnya.
"Hahaha...kamu langsung ke intinya. Apa kamu anti sex? atau kamu membutuhkan sebelum aku tawarkan."
"Kamu salah mengerti, umurku baru 18 tahun dan aku masih Virgin. Aku tidak butuh sex sekarang ini." sahutku membuat Diego bengong.
"Realy??"
"Aku tidak pandai berbohong, katakan padaku bahwa akan ada kesepakatan (MoU) darimu, tapi bukan karena pesona tubuhku yang kamu inginkan." kataku.
"Aku sungguh hilang akal atas dirimu. Kamu tentu menjadi bunga di manapun kamu berada. Aku mengacungkan jempol bagi orang yang berhasil mengajakmu kepelaminan."
"Diego jangan membuang waktu, time is money...aku tidak perlu pujianmu yang aku butuhkan kesepakatan." kataku berdiri.
"Apakah kamu sesibuk ini?, boleh aku mencium bibirmu?" tanyanya hati-hati.
"Tidak, tapi kamu boleh mengecup keningku." sahutku.
"Why?? kamu lahir dimana?" tanyanya heran.
"Di planet yang peradabannya kuno." sahutku sekenanya.
Kami menjadi tontonan di Bar, mungkin Adi sudah melihat gambarku dengan Diego. Rasanya semua staf mengambil gambarku.
"Aku akan mengajak kamu bekerja, rasanya aku tidak tahan akan pesonamu. Tunggu aku di Hotelmu." katanya.
__ADS_1
"Aku akan pergi, ini Hotelku. Aku tunggu kamu disitu." kataku memberi alamat Hotelku, bukan Hotel yang aku kerja.
Kami berpelukan, rasanya dia tidak mau melepaskanku. Pelukannya begitu erat dan dia begitu menikmati. Perlahan aku melepas pelukannya. Rasanya dia berat berpisah denganku.
"See you...." kataku melempar senyum manis.
Aku langsung pulang kerumah karena sudah pukul.18.00, tidak mungkin aku ke Hotel lagi. Aku memacu mobilku agak kencang. Matahari sudah lenyap dan berganti dengan gelapnya malam.
Aku membelokan mobilku ke Restoran Salad &Jus. Baru masuk semua ponsel mengarah padaku dan mataku langsung ke TV besar yang tergantung, Hot News!!. terlihat jelas aku dan Diego berpelukan, busyet. Ternyata cepat sekali berita menyebar. Terpaksa aku menjadi selebritis dadakan. Semua minta selfe denganku. Aku terpaksa take away salad dan jus yang aku pesan daripada aku kurang nyaman makan disini.
Setelah susah payah, akhirnya bisa juga keluar dari Restoran. Ini pengalaman pertama, tidak salah aku memberi alamat Hotelku pada Diego, tentu dia bisa mendongkrak popularitas Hotelku. Sampai di rumah aku cepat-cepat mau naik ke Kamarku. Ku lihat si kumis marah-marah dan menuding aku. Sungguh aku tidak mengerti, ku lihat banyak orang. Aku urung naik dan berdiri tidak mengerti.
"Qi silahkan duduk dulu." kata kak Leon dengan wajah merah.
"Ada apa ini." tanyaku tidak mengerti.
"Qi keluarga Arya telah menuntutmu karena menendangnya sampai encok, tidak mengikuti aturan pra nikah dan selalu melawan. itu kesalahanmu." kata kak Leon.
"Apa aku menjadi bebas?" tanyaku bingung. Mata para tetua melihat aku tak bermakna, mungkin mereka kapok membuat sajen besar-besaran tapi hasil akhirnya Zonk.
"Apa lagi dia tuntut?" tanyaku tersenyum. Dasar mata duitan. Mana ada orang laki mau dijodohin kalau ceweknya miskin. Dari pertama aku sudah menilai si kumis hanya ingin hartaku. Maklumlah bagian warisanku banyak banget.
"Tidak ada lagi, apa kamu sanggup membayar?, itu sudah banyak aku korting. Kalau aku total bisa 30 juta." kata si kumis sambil menatapku.
Ibunya ikut mengangguk mengiyakan dan tetua yang lain ikut mengiyakan. Aku melihat nenek-nenek yang mengunyah sirih memandang aku tak berdaya.
"Kak Leon apa dengan ini aku bebas dari jodohku?" tanyaku tegas.
"Kalau bayar denda kamu bebas." sahut kak Leon memandang kuyu padaku. Aku heran sama kak Leon, kami adalah orang kaya kenapa dia bertingkah seperti orang kekurangan uang. Kak Leon tidak bisa menjaga martabat.
"Ok. aku akan membayar denda itu, tapi tidak ada hubungan apa-apa atau tuntutan apapun lagi. Jangan coba-coba menekan kakakku." kataku langsung mengeluarkan cek dan aku menuliskan nominal 30 juta untuk si kumis.
Ku lihat semua bengong ketika si kumis mencium cek itu, dasar mata duitan. Kak Leon lega melihat aku mampu membayar dendaku. Mungkin dia bangga juga melihat adiknya mampu mengatasi masalah ini.
Setelah berbasa basi mereka pulang semua. Aku naik ke atas, malam ini aku berencana mau tidur dengan mama. Rasanya aku kangen memeluk mama. Aku cepat-cepat mandi dan setelah itu cepat turun sambil menghubungi kak Maya. Aku mengabarkan Diego akan datang, tolong beri pelayanan lebih. Kakaku juga sangat mengerti masalah selebgram.
Besok kebetulan hari cutiku, jadi aku bisa membantu Hotelku. Aku sudah menyiapkan ouffit buat besok yang agak lebih berani. Tujuanku hanya satu membantu bisnis keluargaku tidak lebih. Selesai berbincang-bincang dengan kak Maya aku langsung mencari Mama. Aku langsung memeluknya. Kulihat mata mama bisa terbuka, aku senang sekali.
__ADS_1
"Kak Leon mama matanya terbuka." kataku gembira.
"Semoga mama cepat sembuh, mama depresi berat gara-gara tante dan Om Brata menipunya."
"Bagaimana kalau kita ajak mama ke Singapore atau ke Penang, banyak yang sembuh ke sana."
"Kita tidak mampu menjaganya, aku sendiri tidak bisa meninggalkan mbak yang lagi mengandung."
"Bilang saja kakak malas." sahutku menohok. Dia lebih senang melihat mama disampingnya. Aku tidak berani mengambil keputusan besar begitu, karena aku cuma anak angkat. Disamping biayanya yang besar, tentu hasil akhir. Ya kalau sembuh, kalau terjadi sesuatu mereka akan menyalahkan aku. Apalagi kalau mendengar mulut tanteku yang setajam silet. Walaupun tante dan Om Brata sudah kami black list tetap saja dia suka nongol dan menjenguk mama, sebulan belum tentu sekali. Dia minta maaf sih tapi aku tahu bencinya lebih tinggi dari gunung Himalaya padaku. Apalagi Chery sepupuku sangat benci padaku.
Malam ini aku cepat tidur di pelukan mama, dan anehnya malam ini aku bermimpi ada seorang cowok berlari di sepanjang kuburan. Aku ke belakang melihatnya, kemudian cowok itu menoleh padaku dan mengintip untuk masuk ke rumahku. Aku akhirnya lari dan jatuh di kaki nenek-nenek pemakan sirih yang sering mengujar mantra padaku. Nenek itu tiba-tiba berubah menjadi setan...aku teriak.... kak Leon yang tidur di sofa kaget. Tapi untung aku teriak ternyata infus mama habis dan mata mama mendelik. Kami langsung memanggil Dokter.
Kak Maya dan suaminya serta Kak Selvy langsung datang. Aku bercerita tentang mimpiku. Kami cepat menghubungi tetua yang pintar.
Kepercayaan tentang magic masih kental di tempatku. Aku tumben mengalami mimpi yang seperti nyata itu. Aku cepat memakai pakaian sembahyang dan mulai berjapa, dan berusaha membuang pikiran takut dalam diriku.
Ada sekitar 25 orang dari keluarga inti menjaga kami. Mereka orang-orang pintar yang sudah sering menangani masalah gaib. Aku antara percaya dan tidak. Mereka bernyanyi-nyanyi untuk mengusir hawa gaib yang datang menyerang. Mataku tidak melihat ada yang aneh. setelah lama aku tertidur akhirnya tertidur.
"Non bangun tidak kerja?" sayup-sayup aku mendengar suara Bibik. Aku membuka mataku dan berteriak kaget, Bibik aku lihat seperti nenek-nenek siluman itu. Aku meloncat dan Bibik juga ikut meloncat kaget. Aku cepat di kasi air putih.
"Maaf Bik, aku lihat Bibik seperti nenek siluman." kataku tertawa.
"Amit-amit Non, jangan sampai Bibik bisa berubah." sahut Bibik seperti ketakutan.
"Qi..mulai sekarang kamu tidak boleh minta sesuatu dari orang dan tidak boleh makan sesuatu pemberian orang, nanti kamu bisa di "Cetik" kata kak Leon.
"Kamu juga tidak boleh menatap mata orang supaya ilmunya tidak mengenaimu." sambungnya lagi.
"Ya kak." kataku cepat.
"Ini akibatnya kamu menolak perjodohan, mereka menyakitimu." kata kak Leon lagi.
"Untuk menangkalnya apa harus dilakukan kak?" tanyaku sudah merasa bosen dengan ceramahnya.
"Rajin sembahyang, nanti orang pintar akan memberi penangkal." katanya. Aku mengangguk. dengan alasan telat aku dikasi naik ke atas. Aku cepat lihat ponselku. Adi tidak ada wa, mungkin dia ngambek gara-gara aku dengan Diego. Biarin dah, toh aku tidak ada melakukan tindakan yang aneh-aneh.
*****
__ADS_1