Rain & Annisa (Sakinah Bersamamu )

Rain & Annisa (Sakinah Bersamamu )
Part 100


__ADS_3

" Ummi..."


Annisa berlari ke kamar Ummi dan Abah dengan wajah yang terlihat panik.


" Ada apa Annisa ? "


" Arkana tidak ada di dalam kamarnya Abah, Ummi "


Abah Rahman dan Ummi Shofiah beranjak keluar kamar.


" Sore tadi Arkana bilang kalau dia tidak enak badan, Annisa biarkan Arkana istirahat di kamar Ummi. Padahal baru saja Annisa ke dapur untuk bawakan Arkana makan malam, tapi Arkana sudah tidak ada di kamarnya "


" Biar Abah yang cari , mungkin saja Arkana pergi ke rumah Amir "


" Annisa ikut Abah "


" Baiklah "


Annisa dan Abah Rahman pergi ke rumah Amir.


" Assalamualaikum, Amir "


Abah Rahman mengetuk pintu dan memberi salam, tak lama Amir keluar untuk membukakan pintu.


" Wa'alaikumussalam, Abah, Annisa. Ada perlu apa ? "


" Arkana ada kak ? " tanya Annisa.


" Arkana ? tidak ada "


Wajah Annisa semakin terlihat khawatir saat tahu Arkana juga tidak ada di rumah Amir.


" Arkana..ya Allah, Arkana kemana lagi bah ? hari sudah malam "


" Sabar, tenang Annisa "


" Ada apa ustadz ? Arkana kemana ? "


" Iya Amir, dia tidak ada di rumah "


" Kalau begitu, saya bantu cari Ustadz "


Annisa,Abah Rahman dan Amir bersama - sama mencari Arkana.


" Abah " sapa Rain.


" Rain, apa kamu melihat Arkana ? " tanya Amir.


" Arkana ? ada apa dengan Arkana ? " tentu saja wajah Rain seketika berubah.


" Kami sedang mencari Arkana , dia tidak ada di rumah " jelas Amir.


Rain melihat Annisa, Rain bisa melihat kalau kedua mata Annisa memerah menahan tangis. Tentu saja Annisa begitu khawatir akan Arkana, begitu pula dengannya.


" Baiklah kalau begitu kita cari sama-sam, saya akan mencari di sebelah sana Abah, Amir "


Mereka semua mulai berpencar untuk mencari Arkana, mereka berkeliling di sekitar area pondok pesantren.

__ADS_1


" Arkana..."


" Arkana.."


Rain berteriak menyebut nama Arkana, Rain juga beralih ke beberapa tempat tinggal para santri untuk menanyakan keberadaan Arkana.


" Dimana kamu Arkana ? " batin Rain, Rain berhenti sejenak , berpikir dan mengingat tempat-tempat yang kira - kita ia bisa menemukan Arkana.


Rain kembali berjalan setelah tahu tempat yang kemungkinan Arkana berada. Rain menuju perpustakaan, rumah kecil dimana tempat biasanya para santri dan santriwati menghabiskan waktu mereka untuk membaca. Karena Arkana sangat suka dengan buku dan hobi sekali membaca, Rain yakin kemungkinan Arkana berada di sana.


Rain membuka pintu perpustakaan dengan perlahan, Rain berjalan pelan sembari melihat ke sisi-sisi rak-rak buku yang ia lewati. Dan benar saja yang ada di pikiran Rain, di sisi rak buku yang terakhir, Rain melihat Arkana yang tengah duduk sembari membaca buku. Rain merasa tenang setelah melihat Arkana yang tampak baik - baik saja. Rain pun perlahan berjalan ke arah Arkana dan berdiri di belakang Arkana.


" Cerita yang bagus "


Arkana terkejut mendengar suara seseorang, dan saat melihat ke belakang, wajah Arkana berubah datar saat melihat Rain dan kembali fokus membaca buku.


Rain mengerenyitkan keningnya melihat ekspresi wajah Arkana, Rain pun duduk di samping Arkana.


" Hei..jagoan..masih ingin berlama-lama di sini ? " tanya Rain.


" Sebentar lagi " jawab Arkana singkat.


Arkana berbicara tanpa melihat Rain, ia tetap fokus dengan buku yang ia baca.


" Bagaimana kalau kita kita lanjutkan besok saja, ibumu sedang mencari mu dan mengkhawatirkan mu Arkana "


Arkana diam, Arkana merasa bersalah karena sudah membuat ibu, nenek dan kakeknya khawatir.


" Bagaimana Paman tahu aku di sini ? "


" Hmm..paman hanya menebak saja " Rain mengelus - elus lembut pucuk kepala Arkana.


Arkana menutup bukunya lalu menatap Rain. Rain benar - benar terkejut mendengar pertanyaan Arkana, entah Arkana tahu dari mana. Yang jelas kini Arkana sudah tahu dan Rain harus menjelaskan semua nya kepada Arkana. Kedua mata Rain tampak berkaca-kaca mendengar pertanyaan Arkana.


" Ya benar, aku adalah Ayahmu Arkana "


Arkana menangis dan langsung memeluk Rain dengan erat. Rain tidak menyangka bahwa Arkana akan memeluk nya seperti ini. Padahal Rain mengira jika Arkana akan marah kepadanya setelah tahu kebenaran yang sebenarnya.


" Kenapa Abi tidak memberi tahu ku sejak awal ? " tanya Arkana.


Rain melepas pelukannya kepada Arkana, lalu menangkup wajah Arkana. Rain senang sekali mendengar Arkana memanggil nya dengan sebutan Abi.


" Maafkan Abi ya Arkana, semua itu karena Abi tidak tahu bahwa ternyata kamu adalah anak tampan Abi , maafkan Abi ya sayang "


Arkana memanyunkan bibirnya dan bersandar di dinding.


" Sudah Arkana duga, Ummi selama ini memang berbohong kepada Arkana. Ummi tidak memberi tahu Abi kalau Ummi memiliki Arkana "


" Bukan begitu Arkana, jangan salahkan ibumu. Ini semua salah Abi "


" Arkana tidak menyalahkan Ummi, Arkana sayang sekali dengan Ummi " Arkana tersenyum kepada Rain.


" Apapun yang terjadi dengan Abi dan Ummi, yang jelas Arkana begitu bahagia karena sekarang Arkana sudah memiliki keluarga yang lengkap, seperti teman-teman Arkana yang juga memilki ayah. Arkana cuma mohon sama Abi jangan tinggalkan Arkana dan Ummi lagi ya, setiap malam Ummi selalu menangis bi, mungkin Ummi mengira kalau Arkana tidak tahu, tapi sebenarnya Arkana belum tidur dan Arkana mendengar suara tangisan Ummi, Ummi pasti begitu menderita karena jauh dari Abi, begitu pula dengan Arkana "


Air mata Rain kembali menetes mendengar penjelasan Arkana, " Sesakit itu Annisa, maafkan aku. Maafkan aku karena sudah membuat mu menderita " batin Rain.


" Abi berjanji Arkana, Abi tidak akan meninggalkan kalian lagi. Abi berjanji akan selalu bersama kalian, dan melindungi kalian "

__ADS_1


Arkana tersenyum mendengar ucapan Rain dan kembali memeluk Rain.


" Kalau begitu kita keluar dan bertemu Ummi ? Ummi pasti sangat khawatir sekarang "


" Baiklah Abi "


Arkana dan Rain keluar dari perpustakaan dengan saling bergandengan tangan.


" Arkana, tunggu sebentar"


Rain berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan Arkana.


" Ada apa abi ? "


" Ummi sepertinya masih marah kepada Abi , Arkana mau membantu Abi ? agar Ummi tidak marah lagi "


" Baiklah Abi, serahkan saja kepada Arkana "


" Baiklah kalau begitu kita sepakat "


Rain mengulurkan tangannya kepada Arkana, dan mereka saling berjabat tangan.


" Maa syaa Allah, anak sholeh Abi "


Rain mengelus-elus pucuk kepala Arkana, setelahnya mereka kembali melangkah dan pulang ke rumah.


" Ummi... " panggil Arkana .


Annisa melihat ke sumber suara dan merasa senang melihat Arkana yang datang bersama Rain.


" Arkana..ya Allah Alhamdulillah, kamu kemana saja Arkana ? "


" Arkana sedang di perpustakaan Ummi "


" Perpustakaan.. kenapa tidak memberi tahu Ummi, kenapa tidak ijin dulu , hiks..hiks..hiks.. "


Annisa tidak bisa menahan lagi air matanya.


" Maafkan Arkana ya Ummi, Arkana janji tidak akan mengulangi nya lagi " Arkana menyeka air mata Annisa.


" Ya sudah nak, ayo kita masuk "


" Ayo Abi " ajak Arkana.


Mendengar Arkana memanggil Rain dengan sebutan Abi, Annisa menghentikan langkahnya lalu melihat ke arah Rain dan Arkana.


" Arkana, kenapa memanggil... "


" Paman Rain adalah ayahku kan Ummi ? " tanya Arkana.


Annisa terdiam sejenak, Annisa bingung menjawab pertanyaan dari Arkana. Sedangkan Abah Rahman dan Ummi shofiah terlihat senang karena Arkana sudah mengetahui bahwa Rain adalah ayahnya.


" Tadi pagi Arkana mendengar kalau Kakek mengatakan Paman Rain adalah ayah Arkana. Dan Paman Rain mengakuinya, maka dari itu wajah kami mirip kan Ummi "


Arkana mendekat ke arah Rain, lalu tersenyum kepada Annisa. Rain juga tersenyum kepada Annisa.


" Ayo Abi, Ummi. Kita masuk "

__ADS_1


Arkana menggandeng tangan Rain dan Annisa, lalu membawa mereka masuk kedalam rumah. Rain tersenyum melihat Arkana, " anakku pintar sekali " batin Rain.


__ADS_2