
Penampilan yang berbeda dengan Annisa hari ini membuat Rain terpukau. Pasalnya Annisa tampak terlihat cantik dengan balutan kerudung yang menutupi kepalanya.
Rain bahkan menatap Annisa tanpa berkedip, kemarin sebelum pulang , Annisa menyempatkan diri untuk mampir ke sebuah toko yang menjual berbagai macam pakaian muslimah dan juga kerudung. Annisa pun membeli beberapa pakaian dan juga kerudung untuk ia pakai. Annisa berniat untuk menutup auratnya secara sempurna.
" Rain "
Annisa mencoba membangunkan Rain yang menatapnya tanpa berkedip sejak tadi.
" Annisa "
" Kamu kenapa ? aku terlihat cantik ya ? "
" Iya, kamu sangat cantik " jawab Rain.
" Terima kasih "
Rain dan Annisa keluar dari apartemen bersama-sama , mereka berjalan dengan saling bergandengan tangan.
Dari kejauhan Tante Sarah tampak memendam amarah melihat kemesraan yang di tunjukkan oleh Rain dan Annisa. Bahkan keduanya terlihat sangat bahagia.
" Berani juga wanita itu, aku kira ia termakan hasutan ku lalu pergi menjauh dari Rain. Ternyata aku salah, dia cukup tangguh. Baiklah kita lihat saja nanti sampai kapan kamu bertahan " ucap Tante Sarah.
Rain mengantar Annisa terlebih dahulu sebelum ia berangkat ke kantor.
__ADS_1
" Rain, boleh aku bertanya sesuatu ? " tanya Annisa.
" Kamu selalu seperti itu, tidak perlu meminta ijinku bila ingin bertanya, bertanyalah dan aku akan menjawabnya "
" Waktu kita kerumah mu, kenapa aku tidak melihat satu pun foto kedua orangtuamu Rain ? "
Raut wajah Rain terlihat berubah sedih saat Annisa mempertanyakan perihal kedua orangtuanya.
" Apa kamu ingin sekali tau mengenai keluarga ku ? " tanya Rain.
" Maaf Rain jika pertanyaanku salah dan tidak berkenan di hati kamu, aku hanya.. "
Belum selesai Annisa berbicara, Rain menepikan mobilnya di pinggir jalan dan berhenti di sana.
Rain mematikan mesin mobilnya , lalu ia menatap Annisa. Kedua mata Rain terlihat berkaca-kaca.
" Rain..aku.. "
" Tidak apa Annisa, aku..aku hanya tidak bisa kuat jika sudah bercerita mengenai kedua orangtuaku. Maka dari itu aku berhenti sebentar di sini "
" Maaf Rain, aku mengerti. Tidak perlu di ceritakan lagi. Maaf aku tidak bermaksud membuatmu sedih Rain "
" Tidak Annisa, aku sudah tau tentang semua keluargamu, dan saatnya kamu juga harus tau mengenai keluargaku " jelas Rain.
__ADS_1
Annisa pun diam dan membiarkan Rain meneruskan ceritanya.
" Mengenai foto kedua orangtuaku, aku sengaja menyimpan semua foto-foto itu, aku meminta Tante Sarah untuk tidak memasangnya lagi di rumah karena aku, aku tidak sanggup jika harus bersedih melihat foto mendiang kedua orangtuaku , dan sebab itulah alasan kenapa aku lebih memilih untuk tinggal di apartemen dari pada di rumahku sendiri. Karena kenangan ku bersama kedua orangtuaku terlalu banyak Annisa, jika ke sana, aku selalu mengingat hal itu dan kembali membuatku bersedih "
" Cukup aku mengenang mereka di hatiku dan ingatanku , hanya itu , aku..aku tidak sanggup Annisa jika harus mengingat bagaimana kedua orangtua ku harus meninggal karena kecelakaan, aku merasa semua tidak adil. Tuhan tidak adil kepadaku Annisa, kenapa dia memanggil kedua orangtua ku secepat itu bahkan dengan cara seperti itu "
Rain bercerita dengan berusaha menahan bendungan airmatanya. Annisa pun merasakan apa yang Rain rasakan, mereka berdua sama-sama di tinggal orang yang mereka cintai begitu cepat bahkan sekarang semua sudah pergi meninggalkan Annisa mulai dari kedua orangtuanya, nenek Annisa, dan juga Bu Ratna.
Annisa mengelus lembut pundak Rain , lalu sebelah tangan Annisa memegang tangan Rain.
" Aku mengerti yang kamu rasakan Rain, aku juga mengalami hal yang sama. Tapi satu hal yang harus kamu tau Rain, bukan Tuhan tak adil, tapi Tuhan menyayangi mereka , Allah menyayangi mereka , maka dari itu Allah memanggil mereka terlebih dahulu, kita tidak boleh berprasangka buruk kepada Allah, karena Allah maha tahu yang terbaik untuk kita "
Rain menatap Annisa, lalu membawa Annisa kedalam pelukannya. Air mata pun mengalir dan membasahi pipi Rain. Nasihat yang Annisa ucapkan sama persis dengan apa yang sering ibunya ucapkan terdahulu. Annisa dan mendiang ibunya memilki kesamaan, tapi walaupun begitu Rain masih merasa bahwa Allah tidak adil kepadanya, dan semenjak itulah Rain begitu jauh dari Allah.
Annisa pun mencoba menenangkan dan menghibur Rain, tak lama Rain kembali mengemudikan mobilnya dan mengantar Annisa ke tempat kerja.
Annisa mengulurkan tangannya kepada Rain, dan Rain menerima uluran tangan Annisa. Annisa lalu menyalimi Rain, hal itu membuat Rain tersentuh.
" Aku kerja dulu ya Rain, Assalamualaikum "
" Wa'alaikumussalam , aku akan menjemputmu nanti "
Annisa senang karena Rain menjawab salamnya ,. semoga aja ini menjadi perbuatan yang akan membuat Rain mendekat kepada Allah.
__ADS_1
Bersambung...