
Rain tiba di apartemen pukul 11 malam. Dengan perlahan Rain membuka pintu kamar karena tidak ingin membangunkan Annisa. Selesai membersihkan diri, perlahan Rain merangkak ke atas tempat tidur, memperbaiki sedikit selimut yang menutupi tubuh Annisa lalu Rain juga ikut berbaring. Tak lupa Rain mengecup lembut kening Annisa.
Rain menatap langit-langit kamarnya, ia sedang di landa kebingungan karena rencananya besok ia harus berangkat ke luar kota untuk mengunjungi cabang perusahaannya yang bermasalah.
Karena sudah lama tak kesana, jadi kali ini Rain harus turun tangan sendiri menangani permasalahan yang menimpa perusahaannya.
Yang membuat Rain bingung karena ia harus meninggalkan Annisa. Sehari saja tak melihat Annisa , Rain merasakan rindu yang begitu berat. Apalagi harus beberapa hari meninggalkan Annisa, itupun hanya perkiraan Rain. Tergantung sejauh mana ia dan Reyhan menyelesaikan permasalahan ada perusahaannya.
" Taraaa..."
Rain terkejut begitu melihat Annisa yang ternyata sejak tadi belum tidur. Annisa hanya berpura-pura, sebenarnya ia masih setia menunggu Rain pulang.
" Apa Mas Rain terkejut ? " tanya Annisa, Annisa mendekat ke arah Rain dan berbaring di dada Rain. Rain menampu kepala Annisa dengan sebelah tangannya.
" Aku sudah meminta mu untuk tidak menunggu "
" Aku belum mengantuk Mas "
Annisa mendongakkan kepalanya , dan membulatkan kedua matanya sembari tersenyum agar Rain percaya bahwa ia belum mengantuk.
CUP...
Rain dengan cepat mengecup bibir manis Annisa.
" Mas sudah makan ? " tanya Annisa di sela-sela ciuman mereka.
" Aku hanya ingin memakanmu saat ini " jawab Rain sembari tersenyum. Annisa tertawa mendengar ucapan Rain.
Setelahnya mereka saling berpelukan.
" Sudah makan mangga nya ? " tanya Rain.
" Sudah, mangga dan jambunya aku buat manisan. Mas bisa mencobanya, aku taruh di kulkas "
" Baiklah, aku akan coba besok. Sebelumnya aku akan makan kamu dulu "
Rain mempererat pelukannya, dan kembali mencium bibir manis Annisa. Kedua insan yang saling mencintai itu pun saling terbuai dan bergelut sepanjang malam. Suasana dingin dalam kamar justru membuat mereka berdua semakin berkeringat.
*****
" Aku akan pergi keluar kota " ucap Rain.
Annisa sedang memasak, Rain datang dan langsung memeluk Annisa dari belakang.
__ADS_1
" Keluar kota ? ada masalah ? berapa hari Mas di sana ? " tanya Annisa.
" Mungkin tiga sampai 4 hari, atau bisa saja seminggu. Tapi aku akan menyelesaikan pekerjaan ku secepatnya agar aku bisa pulang lebih cepat "
Annisa merasa sedih karena ia harus di tinggal oleh Rain.
" Kamu tidak apa aku tinggal ? " Rain menangkup wajah Annisa.
" Ya Mas, aku baik-baik saja. Selesaikan saja dulu kerjaan Mas di sana " ucap Annisa dengan berat hati.
" Aku ingin membawamu ke sana, tapi perusahaan yang aku datangi cukup jauh. Aku tidak mau kamu lelah "
" Ya Mas, aku mengerti "
Rain kembali mengecup manis bibir Annisa.
" Kamu bisa tinggal di rumah bersama Tante Sarah, kalau kamu merasa kesepian di sini "
" Tidak perlu mas, mungkin beberapa hari ini aku juga ingin pulang kerumah ku. Sudah lama sekali aku tidak kesana , aku ingin membersihkan rumah , pasti sudah sangat berdebu dan kotor. Boleh Mas ? "
" Tentu boleh, nanti aku akan minta supir pribadi untuk menemani dan mengantarmu "
" Terima kasih Mas "
*****
Saat bangun dari tidurnya, karena sudah masuk waktu subuh. Annisa ingin segera beranjak dan pergi mengambil air wudhu.
" Aduh... "
Annisa kembali duduk , ia merasa kepalanya pusing dan berat.
" Kepala ku " Annisa memijit-mijit keningnya.
Dan tak lama Annisa merasa lambungnya sesak dan ingin segera muntah. Annisa pun berlari menuju kamar mandi. Benar saja, Annisa memuntahkan semua isi perutnya, dan setelah muntah pusing di kepala Annisa sedikit berkurang.
" Aku kenapa ya ? mungkin asam lambung aku kambuh "
Merasa sedikit nyaman, Annisa kembali ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan melaksanakan sholat subuh.
Dritt...Dritt..Dritt..
Seusai Sholat, Annisa bergegas mengambil ponselnya yang berdering.
__ADS_1
Annisa tersenyum melihat panggilan video dari suaminya Rain.
" Assalamualaikum, suamiku "
" Wa'alaikumussalam, istriku"
Rain begitu senang melihat Annisa walau hanya di balik layar ponsel. Rain tiba di hotel malam hari, dan ia baru bisa menghubungi Annisa pagi ini.
" Mas sudah sampai ? "
" Sudah, ini lagi di hotel "
Rain memperlihatkan isi hotelnya kepada Annisa.
" Alhamdulillah "
" Wajah kamu terlihat pucat Annisa, apa kamu sakit ? "
Rain melihat wajah Annisa yang pucat, dan hal itu membuat Rain sedikit khawatir.
" Pucat ? tidak Mas , perasaan Mas saja " ucap Annisa sembari terkekeh. Padahal wajah Annisa benar-benar pucat. Mungkin efek karena ia tadi muntah-muntah dan kepalanya yang masih sedikit pusing dan terasa berat. Hanya saja Annisa tidak menceritakannya kepada Rain karena tidak ingin membuat Rain khawatir.
" Jangan lewatkan sarapanmu. Oh ya , apa kamu jadi ke rumahmu hari ini ? "
" In syaa Allah Mas, nanti sekitar jam 9 "
" Baiklah, nanti akan ada supir yang menjemputmu "
" Iya Mas, Mas juga jangan lupa sarapan "
" Pasti, ada Reyhan yang mengurusku di sini " ucap Rain sembari terkekeh.
Rain dan Annisa mengobrol sekitar satu jam lebih, sambungan telepon mereka berakhir setelah Reyhan datang dan mengatakan kalau Rain harus bersiap.
Sekitar pukul 9, bel apartemen berbunyi. Annisa membuka pintu dan seorang wanita dengan memakai jas hitam berdiri di depannya.
" Selamat pagi, Bu Annisa. Perkenalkan saya Shopie. Saya adalah supir pribadi ibu yang di utus oleh Pak Rain "
Annisa tersenyum melihat Shopie yang tampak sangat kaku dan penampilannya yang begitu formal.
Walaupun sedang jauh dari Annisa, Rain tidak ingin terjadi sesuatu kepada Annisa. Ia ingin melindungi Annisa sebaik mungkin. Hingga Rain harus mencari supir yang khusus wanita untuk menemani Annisa.
Dengan di antar Shopie, Annisa pergi kerumah nya terdahulu. Rumah peninggalan kedua orangtuanya.
__ADS_1