
Sudah Dua Minggu berlalu Rain belum juga kembali menemui Annisa dan Arkana. Karena sudah cukup lama, Arkana pun mulai bertanya dan merengek kepada Annisa , bertanya kapan ayahnya itu akan kembali.
Sebenarnya Annisa merasa khawatir, khawatir jikalau Rain ternyata berbohong dan tidak kembali menemui mereka. Jika saja hal itu terjadi, maka Annisa tidak akan mengampuni Rain.
" Ummi.. "
" Ummi.."
" Ummi.."
" Ada apa Arkana ? Ummi ada di sampingmu, kenapa memanggil Ummi berulang seperti itu "
Arkana tertawa melihat ibunya marah kepadanya.
" Ummi, apa Ummi tidak merindukan Abi ? "
Uhukk..Uhukk..
Annisa tersedak saat sedang minum, ia tersedak karena terkejut mendengar pertanyaan Arkana.
" Cepat kembali ke kamar, ini sudah larut malam Arkana " pinta Annisa.
" Ummi belum jawab pertanyaan dari Arkana "
Annisa berjongkong menyamakan posisi tubuhnya dengan Arkana, Annisa tersenyum sembari mengelus lembut pucuk kepala Arkana.
" Jangan menggoda Ummi , cepat tidur !! "
" Baik Ummi, assalamualaikum, selamat malam Ummi "
CUP...
Arkana mencium pipi Annisa sebelum ia masuk ke dalam kamarnya.
Setelahnya Annisa juga kembali ke kamarnya untuk beristirahat, Annisa tersenyum sendiri mengingat pertanyaan dari Arkana.
" Kamu memang mirip sekali dengan ayahmu " batin Annisa.
Suara adzan subuh bergema di seluruh pondok pesantren, Annisa membuka kedua matanya perlahan dan berusaha untuk duduk.
Namun saat ingin duduk, Annisa meras kepala nya berputar dan pandangannya mulai gelap. Alhasil Annisa memilih untuk kembali berbaring.
" Ya Allah, aku kenapa ? jangan - jangan Anemia ku kambuh kembali "
Tok..tok..tok..
" Annisa.. Ini Ummi, Ummi masuk ya nak "
" Iya Ummi "
__ADS_1
" Annisa, kamu kenapa nak ? "
Ummi shofiah melihat Annisa yang masih berbaring dengan wajah yang terlihat pucat.
" Annisa merasa pusing Ummi "
" Anemia kamu kambuh lagi ? "
" Annisa tidak tahu Ummi, mungkin hanya kelelahan saja. Ummi sholat duluan saja ya, Annisa sholat di kamar saja Ummi, sebentar lagi Ummi "
Ummi beranjak membuka laci lemari Annisa , mencari obat yang sering Annisa minum jika Anemia Annisa mulai kambuh.
" Dimana kamu simpan obat mu nak ? "
" Astaghfirullah, Annisa lupa Ummi, obat Annisa sudah habis , Annisa lupa minta kembali ke balai desa "
" Baiklah kalau begitu kamu istirahat saja dulu, kalau hari sudah mulai terang, Ummi akan minta Amir untuk mengambilkan obatmu di balai desa "
" Terima kasih Ummi "
Setelah beristirahat lagi sejenak, Annisa mencoba untuk duduk , walaupun masih terasa pusing, Annisa tetap memaksakan dirinya untuk keluar mengambil air wudhu kemudian melaksanakan sholat.
Di Sujud terakhir Annisa, Annisa merasa sudah tidak tahan lagi. Pandangan Annisa mulai gelap dan akhir nya ia tidak sadarkan diri.
" Abah....!!!! "
Ummi shofiah tampak panik saat melihat Annisa yang sudah tidak sadarkan diri dengan mukena yang masih terpasang.
Melihat Annisa tak sadarkan diri tentu membuat semua orang panik, termasuk Arkana , baru kali ini ia melihat ibunya yang terbakar tak sadarkan diri dengan wajah yang sangat pucat.
" Subuh tadi Annisa mengeluh pusing , bah. Seperti nya Anemia nya kambuh, dan obat nya Annisa sudah habis bah "
" Abah akan panggil petugas kesehatan untuk datang memeriksa Annisa. Ummi minumkan saja dulu Annisa dengan obat - obatan herbal kita Ummi "
" Baik Abah "
Abah Rahman bergegas menemui Amir dan mencari bantuan ke balai desa, mereka ingin membawa seorang petugas kesehatan agar dapat memeriksa keadaan Annisa.
" Arkana, bantu Ummi ambilkan handuk kecil di dapur "
" Baik nek "
Arkana menangis sembari berjalan menuju dapur, ia sangat khawatir melihat kondisi sang ibu.
Tak lama Abah Rahman datang bersama Amir membawa petugas kesehatan untuk memeriksa Annisa.
" Bagaimana nak ? " tanya Ummi Shofiah kepada petugas kesehatan.
" Sepertinya, kak Annisa harus di bawa ke kota untuk di rawat lebih lanjut , Ummi "
__ADS_1
" Apa tidak bisa di rawat di sini saja ? " tanya Ummi Shofiah.
" Tidak bisa Ummi, seseorang yang mengalami Anemia kemudian ia mengalami pingsan, bisa dikatakan hal itu cukup berbahaya, dan untuk memastikannya , Kak Annisa harus di bawa ke rumah sakit , di balai desa tidak memilki alat yang memadai Ummi, kebetulan dokter juga sedang tidak ada, hanya ada saya "
" Bagaimana ini Abah ? " tanya Ummi Shofiah meminta pendapat Abah Rahman.
" Baiklah, kalau begitu kita harus membawa Annisa ke kota, Ummi "
" Ummi tinggal di sana saja, biar Abah dan Amir yang mengantar Annisa "
" Tidak Abah, Ummi juga ingin pergi bersama kalian dan Annisa "
" Arkana juga ikut kakek, nenek "
" Baiklah, kalau begitu cepatlah bersiap. Semua perlengkapan Annisa selama di rumah sakit jangan lupa di siapkan juga Ummi "
" Baik Abah "
Dengan mengendarai sebuah mobil pickup , Annisa di bawa menuju kota. Annisa berada di belakang bersama Ummi shofiah , Amir dan Arkana. Sedangkan Abah Rahman berada di depan bersama supir yang membawa mereka.
Keadaan Annisa belum membaik, saat ini saja ia masih sulit membuka kedua matanya, sebelum berangkat menuju kota, Annisa sudah terlebih dahulu di beri asupan lewat infusan yang di pasang oleh petugas kesehatan yang ada di desa, Annisa sudah mulai sadar namun masih sulit untuk duduk bahkan membuka matanya.
Setelah berjam-jam lamanya akhirnya mereka semua sampai di kota dan Annisa segera di larikan di rumah sakit.
Arkana melongo dan tampak takjub saat mereka sampai di kota melihat lampu yang gemerlapan dan gedung - gedung tinggi.
Annisa segera di tangani para petugas medis di sana , akhirnya Abah Rahman, Ummi shofiah, Arkana dan Amir dapat bernafas lega melihat Annisa sudah di tangani oleh mereka.
Setelah melakukan pemeriksaan, Annisa mengalami Anemia yang cukup hebat sehingga harus melakukan transfusi darah. Syukur aja Annisa datang dengan waktu yang tepat sehingga dengan cepat dapat di tangani.
" Amir, setelah beristirahat sebentar, kembalilah ke desa. Biarkan kami yang menunggu Annisa di sini " pinta Abah Rahman.
" Tapi Abah,, apakah kalian baik - baik saja, lebih baik saya di sini menemani kalian. Kita bisa mencari penginapan di dekat sini, tidak mungkin juga kalau kita semua bermalam di rumah sakit ini Abah "
" Tidak apa Amir, nanti biar Abah tidur di masjid saja , dan Ummi bersama Arkana menemani Annisa "
" Saya tetap saja tidak bisa bah, oh ya bagaimana kalau kita menghubungi Rain saja. Bukankah dia ada di kota ? "
Abah Rahman, Ummi shofiah dan Arkana hanya bisa diam, benar saja Rain ada di kota, namun mereka tidak memilki ponsel, nomor ponsel Rain, alamat rumah, atau apapun yang bisa mereka pakai untuk menghubungi Rain.
" Rain pergi tanpa meninggalkan apapun , Amir. Kami tidak memilki alamat atau pun nomor ponsel nya "
Amir merasa kesal mendengar penjelasan Abah, karena menurutnya Rain sudah sangat keterlaluan, ia bahkan sudah merelakan Annisa untuk Rain. Namun Rain kembali mengabaikan Annisa dan Arkana.
" Rain benar - benar keterlaluan Abah, bagaimana bisa dia seperti itu, pergi begitu saja tanpa meninggalkan apapun , bagaimana kalau dia membohongi kalian ? "
" Jangan seperti itu Paman, ayahku orang yang baik " celetuk Arkana.
" Tenang Amir, kita tidak tahu apa yang terjadi kepada nak Rain, kami percaya dengan dia, yang terjadi dengan Annisa juga atas kehendak Allah, bukan kesalahan nak Rain "
__ADS_1
Amir hanya diam, ia masih kesal dengan Rain.