
Rain merasakan nyeri pada punggungnya, hal itu terjadi karena bekas luka di punggungnya yang semula sudah mulai mengering kembali berdarah karena gesekan yang saat ia menggendong Arkana.
Rain melepas bajunya lalu mengambil obat herbal yang terbuat dari berbagai tanaman yang di buat langsung oleh ummi shofiah. Yang sudah Ummi shofiah tumbuk untuk di oles pada luka Rain.
Rain mencoba kembali mengobati lukanya namun terlihat kesusahan karena ia tidak bisa menjangkau luka yang ada di punggungnya.
Arkana yang sudah tidur tiba-tiba terbangun dan melihat apa yang sedang di lakukan Rain.
" Apa yang sedang paman lakukan ? " tanya Arkana.
" Aku hanya ingin mengobati luka ku Arkana, kembali lah tidur !! " pinta Rain.
Arkana bangun dan beranjak dari tempatnya.
" Duduklah Paman, biar arkana bantu " pinta Arkana lalu menarik tangan Rain.
" Tidak perlu Arkana, ini sudah larut malam. Tidurlah !! "
" Arkana tidak suka penolakan , Paman "
Rain sontak saja terdiam terpaku sembari menatap ke arah Arkana. Apa yang Arkana ucapkan, mirip sekali dengan apa yang sering ia ucapkan apabila Annisa menolak permintaanya.
Arkana membawa Rain dan meminta Rain duduk, Rain seperti terhipnotis dan terus menatap Arkana.
" Paman, apa yang Paman lihat. Ayo hadap ke sana, biar Arkana bisa oleskan obat ini ke luka nya paman " pinta Arkana.
Rain lalu membalik badannya membelakangi Arkana, Arkana pun dengan lembut mengoles obat yang berbentuk seperti lulur ke luka Rain yang berdarah.
" Arkana "
" Ya Paman ? "
" Dari mana kamu..kamu mendapat kata-kata seperti tadi "
" Seperti apa Paman ? Arkana tidak mengerti "
" Kamu bilang, kalau kamu tidak suka penolakan "
" Oh..itu kata-kata Abi , Abi selalu berkata seperti " ucap Arkana sembari tersenyum.
Rain menutup kedua matanya, mencoba berpikir dan menerka - nerka.
Bukan hanya wajah yang mirip, tapi ucapan Arkana. Bagaimana bisa mirip dengan apa yang sering ia ucapkan, dan kata-kata itu, hanya kepada Annisa lah Rain sering mengucapkan nya. Tapi kalau saja Rain berpikir bahwa Arkana adalah anaknya, tapi menurut Rain itu tidak mungkin karena Annisa tidak hamil anaknya.
" Sudah selesai , Paman bisa berbaring sekarang. Arkana ingin mencuci tangan "
Arkana beranjak keluar kamarnya, dan saat Arkana keluar dari kamarnya, Rain juga beranjak untuk mencari sesuatu yang ada di lemari arkana, tas, dan meja belajar Arkana untuk menemukan jawaban atas rasa penasaran nya. Terutama rasa penasaran Rain mengenai kedua orangtua Arkana.
Rain mencoba mencari apa yang ia inginkan namun tidak menemukan satu jejak pun. Mendengar suara langkah Arkana, Rain kembali ke tempat tidurnya dan berbaring.
Arkana ikut berbaring di samping Rain.
" Maaf ya Paman, karena aku , luka Paman kembali berdarah " ucap Arkana.
Rain yang semula berpura-pura tidur, membuka kedua matanya.
" Ini bukan salahmu Arkana, ini karena tadi aku menyandarkan badanku ke dinding dan tak sengaja luka ku tergores" ucap Rain berbohong.
" Jangan berbohong , Paman. Berbohong itu berdosa "
Rain tersenyum mendengar apa yang Arkana ucapkan, Arkana memang terlewat pintar, sangat sulit berbohong di depan Arkana.
__ADS_1
" Ya baiklah, anggap saja Paman berbohong. Sekarang tidurlah , sudah larut malam " pinta Rain.
" Baiklah Paman "
Rasa penasaran Rain akan kedua orangtua Arkana membuat Rain tidak sabar untuk bertanya.
" Arkana, boleh aku bertanya sesuatu? "
" Apa itu Paman ? "
" Di mana kedua orangtuamu ? kenapa mereka tidak ada di sini ? "
" Abi sedang bekerja , dan Ummi juga sedang ada pekerjaan di kota " jawab Rain.
" Seperti apa kedua orangtuamu ? hmm...maksud ku apa mereka lebih tua dari ku ? "
" Abi adalah lelaki paling tampan , dan Ummi adalah wanita paling cantik yang Arkana miliki.
Wajah Abi mirip sekali dengan wajahku "
Glekk..
Rain menelan ludah mendengar ucapan Arkana.
" Bukankah wajah kita sama Arkana "
" Tidak Paman, wajah kita tidak lah sama. Wajah Abi bahkan lebih tampan dari pada paman "
Rain terkekeh mendengar jawaban Arkana, Rain menyadari bahwa ia sudah berpikir terlalu jauh. Arkana begitu yakin nya mengatakan kalau ayahnya sedang bekerja, itu berarti bukanlah Rain ayah dari Arkana. Lagipula tidak mungkin juga Rain bisa memiliki seorang anak.
" Siapa nama kedua orangtuamu Arkana ? "
Pertanyaan terkahir Rain, agar Rain tidak lagi penasaran dengan apa yang ada di pikirannya sekarang.
" Arkana "
Rain mengulurkan tangannya untuk menyentuh dan mengelus lembut pucuk kepala Arkana, menatap Arkana hingga akhirnya Rain ikut tertidur.
******
Keesokan harinya Rain dengan berjalan kaki sendiri kembali mendatangi balai desa. Ia ingin mencoba menghubungi Reyhan. Hanya Reyhan lah yang bisa ia hubungi dan percaya, Rain berharap kali ini Reyhan menjawab telepon dari nya karena ia juga mengkhawatirkan adiknya Kayla. Rain ingin Reyhan melindungi Kayla, karena jika ada yang saat ini ingin membunuhnya, ada kemungkinan bahwa nyawa adik nya juga terancam.
Arkana sedang sibuk belajar di dalam kamarnya, padahal Rain mengajak Arkana untuk ikut bersama nya. Namun Arkana menolak karena tidak merepotkan Rain lagi, apalagi melihat luka Rain yang kembali berdarah.
Saat sedang belajar, Arkana teringat akan Ummi nya. Arkana pun beranjak untuk menemui Ummi shofiah.
" Nenek.....!! " panggil Arkana.
" Iya , Arkana sayang. Ada apa ? "
" Bukankah ini sudah satu Minggu, apa Ummi pulang hari ini ? " tanya Arkana dengan antusias.
" Ya, ini sudah satu Minggu. Berdoa saja ya Arkana, semoga ibumu pulang hari ini "
" Baik nek "
Arkana pun kembali ke kamarnya sembari menunggu kedatangan Annisa. Arkana menunggu hingga tertidur, ia bahkan terbangun sore hari, dan langsung keluar kamar untuk mencari ibu nya.
" Ummi sudah datang , nek ? " tanya Arkana.
" Belum sayang "
__ADS_1
" Paman Rain juga belum datang ? "
" Hmm..belum juga "
Arkana yang awalnya tampak antusias kini memanyunkan bibirnya. Ia sedih karena ibunya tidak ada.
Arkana lalu keluar dan duduk di teras rumah. Arkana berbaring sembar menutup kedua mata nya dengan tangan. Ia begitu merindukan ibunya dan ia ingin menangis saat ini.
" Assalamualaikum, anak Sholeh Ummi "
Arkana terdiam, ia seperti mendengar suara ibunya namun Arkana mencoba menepisnya karena Arkana merasa itu semua hanya perasaan nya saja. Arkana masih enggan membuka kedua matanya yang ia tutup dengan tangan ya sendiri.
" Anak Sholeh Ummi, assalamualaikum "
Arkana pun membuka kedua matanya, dan terkejut saat melihat Annisa yang sudah ada di depannya saat ini.
" Ummi......!! " teriak Arkana lalu memeluk Annisa.
Annisa tersenyum sembari memeluk erat tubuh mungil Arkana, selama seminggu ini Annisa tidak hentinya memikirkan Arkana, sama halnya dengan Arkana, Annisa begitu merindukan anaknya itu.
" Salam Ummi belum di jawab sayang, Assalamualaikum "
" Wa'alaikumussalam, Ummi " jawab Arkana lalu kembali memeluk Annisa.
" Arkana merindukan Ummi, hmmm...Ummi juga sayang "
" Iya Ummi, Arkana akan marah kalau Ummi tidak pulang hari ini "
" Marah, Arkana berani marah kepada Ummi "
" Tidak Ummi, Arkana hanya bercanda " ucap Arkana sembari terkekeh.
" Iya sayang, oh ya Nenek dimana ? " tanya Annisa.
" Annisa....." panggil Ummi shofiah saat melihat Annisa.
" Ummi "
Annisa bersalaman dan memeluk Ummi shofiah.
" Syukurlah kamu sudah pulang Annisa, Ummi sangat mengkhawatirkan mu "
" Iya Ummi "
" Ummi...!! " panggil Arkana.
" Iya sayang ? "
" Di rumah kita kedatangan tamu "
" Oh iya, benarkah ? dimana tamunya ? " tanya Annisa.
" Benar Ummi ada tamu ? " tanya Annisa kembali kepada Ummi shofiah dan di balas anggukan oleh Ummi.
" Paman sedang keluar Ummi "
" Paman ? " tanya Annisa.
" Siapa tamunya Ummi, seorang lelaki ? " tanya Annisa kepada Ummi shofiah.
" Iya Annisa, nanti Ummi ceritakan "
__ADS_1
" Ummi..Ummi..itu Paman sudah datang "
Mendengar panggilan Arkana, Annisa berbalik badan untuk melihat tamu yang Arkana maksud. Dan Annisa membulatkan kedua matanya saat ia melihat lelaki yang ada di depannya.