Rain & Annisa (Sakinah Bersamamu )

Rain & Annisa (Sakinah Bersamamu )
Part 111


__ADS_3

" Apa kau lapar Annisa ? "


" Tidak "


Kembali Annisa berbohong, Annisa sebenarnya merasa sangat lapar, namun ia merasa malu untuk mengatakannya kepada Rain.


" Baiklah, karena sudah larut malam, kembalilah tidur "


Rain merapikan selimut Annisa, dan meminta Annisa untuk kembali tidur. Setelahnya Rain masih saja berdiri di samping Annisa sembari terus memandangi Annisa.


" Bagaimana aku bisa tidur Mas, kalau kamu melihat ku terus " ucap Annisa.


Rain tersenyum, lalu ia ikut naik di atas ranjang rawat Annisa dan berbaring tepat di samping Annisa. Ranjang rawat Annisa yang cukup besar tentu muat untuk mereka berdua.


" Apa yang Mas Rain lakukan ? "


Jantung Annisa berdebar kencang saat melihat aksi Rain yang tiba - tiba sudah berbaring di sampingnya.


" Jika kamu perlu sesuatu, aku bisa langsung mendengarnya jika aku tidur di sini, kalau aku tidur di sana, aku tidak akan mendengar Annisa " tunjuk Rain pada sofa panjang yang ada di depan mereka.


Annisa tersenyum tipis, itu semua hanyalah akal-akalan Rain.


" Berbaringlah Annisa, aku tidak akan melakukan apapun kepadamu , tidak perlu khawatir "


Karena tidak memungkinkan Annisa untuk pergi, Annisa pun pasrah dan ikut berbaring di samping Rain.


" Tapi..setelah kamu sembuh, aku tidak janji akan menahannya lagi "


Annisa langsung membulatkan kedua matanya mendengar ucapan Rain, sedangkan Rain hanya tersenyum saja setelah mengatakan hal itu kepada Annisa.


Baru saja jantung Annisa merasa sedikit tenang, Annisa kembali di kejutkan oleh sikap Rain yang kemudian menarik tangannya dan menaruh tangannya di atas dada Rain.


Annisa bisa merasakan detak jantung Rain yang berdetak begitu cepat, sama halnya seperti yang Annisa rasakan saat ini.


" Kamu merasakannya Annisa ? " tanya Rain.


Rain menatap langit - langit kamar sembari menggenggam tangan Annisa yang ada di dadanya, begitu pula dengan Annisa yang juga menatap langit - langit kamar sembari merasakan detak jantung Rain yang detaknya begitu cepat.


" Rasanya masih sama Annisa, rasa yang sama saat aku jatuh cinta padamu " ucap Rain.


Annisa hanya diam mendengarkan ucapan Rain.

__ADS_1


" Dulu sebelum mengenalmu, aku pernah merasa di sakiti, hingga akhirnya rasa itu hilang saat aku bertemu dan jatuh cinta denganmu. Mungkin karena sebelumnya aku pernah merasa di sakiti dan di bohongi, hal itulah yang membuat akhirnya aku buta dan tidak mempercayai mu , padahal sebenarnya ada seseorang yang jahat yang ingin menghancurkan hubungan kita "


Dulu Annisa pernah mendengar hal ini dari Reyhan, bahwa Rain pernah di sakiti dan di tinggal oleh pacarnya begitu saja, dan baru kali ini Annisa mendengar sendiri cerita itu dari Rain.


" Abah dan Ummi bercerita kepadaku bahwa dulu saat kamu melahirkan Arkana, kamu mengalami pendarahan yang hebat, dan karena itulah hingga sekarang kamu masih mengalami Anemia dan terkadang harus mengonsumsi obat harian agar Anemia mu tidak kambuh "


Bercerita hal itu membuat air mata Rain mengalir, Rain bisa merasakan betapa susah dan sakitnya Annisa saat itu, yang dimana seharusnya dirinya ada di samping Annisa saat Annisa mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan anak mereka, darah daging Rain yaitu Arkana.


Annisa tersenyum begitu mendengar cerita Rain, moment melahirkan Arkana tentu tidak pernah terlupakan. Walaupun rasanya begitu sakit bahkan hampir berada di ujung kematian, Annisa tidak menyalahkan takdir , dan tidak pernah menyesal karena sudah melahirkan Annisa. Justru Annisa begitu senang dan bersyukur ia bisa melahirkan Arkana dengan selamat , Arkana juga lahir dengan sempurna dan sehat.


" Saat itu aku sudah merasa di ujung kematian, aku sudah merasa tidak sanggup, namun hanya Arkana yang aku punya saat ini, hanya Arkana yang tersisa dari dirimu Mas Rain , jadi aku harus kuat, aku menyemangati diriku sendiri agar aku bisa melahirkan Arkana "


Mendengar hal itu, Rain menoleh dan memandang Annisa. Begitu pula dengan Annisa, mereka berdua kini saling pandang.


" Maafkan aku Annisa, maafkan aku "


Rain menangis di hadapan Annisa, Rain tidak bisa menahan lagi air matanya di depan Annisa.


Dan Annisa, Annisa pun juga ikut menangis.


Annisa lalu mengelus - elus lengan Rain dengan sebelah tangannya, sedangkan sebelah tangannya lagi masih di genggam erat oleh Rain.


" Aku sudah lama memaafkan mu Mas, semua sudah berlalu "


Tanpa berkata apapun, Annisa yang juga menangis hanya menganggukkan kepalanya , pertanda bahwa ia menerima Rain kembali.


Rain tersenyum lalu membawa Annisa kedalam pelukannya.


" Terima kasih Annisa, terima kasih, aku mencintaimu Annisa "


Rain menciumi pucuk kepala Annisa, akhirnya Annisa mau menerima nya kembali dan memberinya kesempatan untuk kembali bersama. Annisa pun juga merasa bahagia sekali, dan berharap semoga setelah nya mereka akan bahagia selamanya.


Kruyukk..kruyukk...


Terdengar suara perut Annisa yang berbunyi, cacing - cacing dalam perutnya sudah menari - nari.


Rain melepas pelukannya lalu mereka berdua saling tatap dan setelahnya saling tertawa.


" Maaf Mas, aku..aku lapar " ucap Annisa sembari tertawa kecil.


Rain begitu bahagia akhirnya ia bisa melihat tawa Annisa kembali setelah bertahun - tahun.

__ADS_1


" Baiklah, tunggu sebentar "


Rain beranjak untuk mengambil makanan siap saji yang ada di dalam laci. Rain sengaja menyiapkannya untuk berjaga-jaga sewaktu waktu Annisa bangun dan lapar di malam hari seperti ini.


" Apa itu Mas ? " tanya Annisa.


" Tunggu saja di situ, aku akan menyajikannya untukmu "


Rain membuka bungkus bubur kemasan yang bisa di masak sendiri hanya dengan menyeduhnya dengan air panas. Rain juga membeli beberapa sosis untuk di tambahkan dalam bubur ayam tersebut.


Annisa bisa melihat kalau Rain sedikit kesusahan membuat makanan untuknya. Namun Annisa menunggu nya dengan sabar.


" Sudah selesai "


Dengan senangnya, Rain berhasil menyajikan bubur ayam untuk Annisa.


" Wahh...kelihatannya enak "


Rain mengaduk - aduk bubur nya agar cepat dingin, setelahnya mengambil sesendok bubur itu dan menyuapkannya kepada Annisa.


Walaupun merasa sedikit malu, Annisa menerima suapan bubur dari Rain, dan setelahnya mereka saling melempar senyum.


" Rasanya enak ? "


" Enak Mas, mungkin karena aku lapar berat "


Rain tertawa kecil mendengar ucapan Annisa.


" Bagaimana dengan kabar Kayla , Mas ? "


Walaupun sudah bertahun - tahun, tentu Annisa tidak lupa akan adik iparnya itu.


" Kabarnya baik Annisa, sekarang Kayla mendirikan sebuah butik di pusat kota "


" Wahh..akhirnya cita-cita Kayla terwujud "


" Kamu tahu apa yang di ciptakan nya ? "


" Ya Mas, dulu Kayla pernah bercerita kalau ia ingin sekali punya butik sendiri , karena hobinya tentang fashion "


Rain tidak menyangka bahwa Annisa masih mengingat tentang adiknya, bahkan Rain sendiri tidak tahu bahwa Kayla sejak dulu sangat suka akan dunia fashion.

__ADS_1


" Terima kasih Annisa "


__ADS_2