
Rain menceritakan semua yang terjadi kepadanya hingga akhirnya ia di selamatkan oleh penduduk desa di daerah itu dan di bawa ke pondok pesantren milik Abah Rahman. Namun Rain tidak menceritakan mengenai Annisa dan Arkana kepada Reyhan.
Rain hanya bercerita bahwa selama ini ia bersalah karena tidak mempercayai Annisa.
" Aku sudah menduga itu Rain, bahkan aku lebih mempercayai Annisa dari pada foto itu. Hanya saja kau tetap tidak mempercayai nya, dan jujur mengenai kebakaran yang terjadi pada rumah Annisa aku sudah lebih dahulu mengetahuinya daripada mu Rain "
Rain membulatkan kedua matanya mendengar ucapan Reyhan.
" Apa maksudmu Rey ? kenapa kamu tidak memberitahuku "
" Bagaimana aku memberi tahu mu Rain, mendengar aku mengucap nama Annisa saja kau marah "
Rain terdiam, apa yang di katakan oleh Reyhan benar dan ia kembali menyesali perbuatannya.
" Sejak kamu mengusir Annisa, aku terus menyelidiki foto itu hingga sekarang, aku juga meminta beberapa anak buah kita untuk mencari Annisa, dan kabar terakhir aku dengar bahwa Rumah Annisa terbakar dan saat itu Annisa benar-benar menghilang. Aku pun sampai sekarang masih meminta bantuan anak buah kita untuk mencari keberadaan Annisa "
Rain menutup kedua matanya, ia mencoba menahan dirinya untuk tidak menangis.
" Maafkan aku Rey, aku..aku memang sangat bodoh " ucap Rain.
Reyhan menepuk - nepuk pundak Rain, ia berusaha menenangkan Rain.
" Sudahlah Rain, yang terpenting sekarang kamu sudah tahu semuanya , sekarang saatnya kita mencari Annisa , dan saatnya untuk kamu memperbaiki semuanya . Aku akan bantu kamu Rain, aku akan berusaha terus mencari keberadaan Annisa "
Rain menyeka air matanya yang sempat menetes, lalu setelahnya Rain kembali terlihat kuat.
" Tidak perlu Rey, masalah Annisa biar aku saja yang mencarinya . Aku ingin kamu fokus untuk mencari dalang dari semua ini, orang-orang yang ingin membunuhku itu "
__ADS_1
" Baiklah Rain, aku berjanji akan berusaha sebaik mungkin. Aku akan mengabarimu nanti nya jika sudah ada perkembangan "
" Aku serahkan semua nya kepadamu Rey, aku akan kembali setelah semuanya terbongkar "
" Bagaimana dengan Kayla, apa aku perlu memberi tahu mengenai dirimu "
" Tidak, jangan sekarang Rey. Aku juga ingin kamu menjaga adikku Kayla "
" Tenanglah, aku berjanji akan menjaga Kayla. Dan mengenai dirimu, aku bisa mencarikan mu tempat untuk tinggal Rain. Kamu yakin akan tetap tinggal di dalam desa terpencil ini, di dalam hutan "
Rain tersenyum, bagaimana bisa ia pergi kalau anak dan istrinya ada di desa itu.
" Aku akan baik-baik saja di sana Rey , oh ya apa kamu membawa semua yang aku punya "
" Mengenai itu, ya aku membawa semuanya, di dalam ransel mu ini ada uang tunai, ATM, ponsel , beberapa lembar pakaian mu, dan juga ini "
Reyhan menunjukkan sebuah paper bag yang berisi beberapa mainan anak-anak , buku cerita dan lainnya. Rain tersenyum melihat isi paperbag itu, Rain yakin Arkana akan sangat menyukai nya.
Rain tidak menjawab pertanyaan Reyhan , ia hanya menjawab nya dengan senyuman.
" Baiklah, aku pergi Rey. Aku akan menghubungi mu lagi nanti. Jangan lupa untuk menjaga dirimu sendiri Reyhan "
" Baik Rain "
Rain dan Reyhan kembali berpelukan , setelahnya Rain kembali memakai masker dan topinya lalu keluar dari mobil Reyhan. Reyhan hanya bisa memperhatikan Rain dari balik kaca spion mobilnya, dan tak lama Rain menghilang dari balik pepohonan.
****
__ADS_1
Sudah beberapa hari ini Annisa mengurung dirinya di rumah, dan rencananya hari ini Annisa akan kembali mengajar para santriwati karena para santriwati sudah mencarinya dan meminta nya untuk mengajari mereka.
Saat melewati tempat tinggal Amir, Annisa mempercepat langkahnya, Annisa tahu bahwa Rain tinggal bersama Amir dan Annisa tidak ingin bertemu dengan Rain.
" Annisa.... " teriak Amir.
Annisa pun terpaksa menghentikan langkahnya saat Amir memanggilnya.
Dengan senyum bahagia nya, Amir bergegas menutup pintu rumahnya dan berjalan menemui Annisa.
" Kamu sudah mengajar hari ini ? " tanya Amir.
" Iya " jawab Annisa singkat dengan menundukkan kepalanya.
" Annisa, aku boleh bertanya sesuatu? " tanya Amir dengan wajah seriusnya.
" Silahkan kak, aku tidak bisa berlama-lama "
" Apa benar Rain itu suamimu, jika benar berarti dia adalah ayahnya Arkana ? "
Amir pun dengan memberanikan diri untuk bertanya kepada Annisa, pasalnya ia ingin mendengar langsung penjelasan dari Annisa.
Annisa tampak bingung, apa yang harus ia katakan kepada Amir.
" Maaf kak, aku rasa hal itu tidak perlu aku jelaskan kepada kak Amir. Permisi kak Amir, Assalamualaikum "
" Wa'alaikumussalam "
__ADS_1
Annisa pun pergi meninggalkan Amir . Amir pun kembali patah hati , awalnya ia berusaha menganggap bahwa semua itu tidak benar, namun dari apa yang di katakan Annisa, Amir bisa menebak bahwa semuanya benar.
" Apakah semuanya akan berakhir, apa aku tidak akan punya kesempatan memilikimu Annisa " batin Amir sembari memperhatikan Annisa dari kejauhan.