Rain & Annisa (Sakinah Bersamamu )

Rain & Annisa (Sakinah Bersamamu )
Part 70


__ADS_3

Rain menatap rembulan yang bersinar begitu terang malam ini, ia berdiri sendiri di balkon hotel. Menikmati hembusan angin malam yang membuat dirinya merasa tenang.


" Sudah tiga hari, rasanya begitu rindu Annisa " batin Rain.


Di tempat lain, Annisa juga melakukan hal yang sama seperti Rain. Ia berdiri di balkon apartemen, menatap rembulan malam yang bersinar, dan merasakan hembusan angin yang menerpa tubuh mungil Annisa.


" Rasanya begitu rindu "


Annisa tersenyum tatkala mengingat Rain, ia begitu merindukan suaminya.


*****


Annisa kembali mengalami mual dan muntah di setiap pagi hari. Padahal ia sudah mengonsumsi obat lambung, dan juga tidak pernah telat makan selama beberapa hari, namun mual dan muntah masih saja ia rasakan.


" Apa aku perlu periksa ke dokter. Kalau saja ke rumah sakit, aku pasti akan teringat Bu Ratna "


Annisa kembali mengingat Bu Ratna, mengingat bagaimana setiap harinya ia harus keluar masuk rumah sakit untuk menjaga Bu Ratna.


Annisa menatap seluruh ruangan kamarnya, terasa sangat membosankan, jika saja ada Rain. Mungkin tidak akan merasa kesepian seperti ini.


" Hari ini apa yang aku lakukan ya ? bosan sekali berada di sini , sendirian seperti ini "


Annisa beranjak lalu menuju dapur, ia membuka kulkas untuk mencari sesuatu yang bisa ia makan untuk sarapan. Di dalam kulkas Annisa kembali melihat manisan yang ia buat waktu itu.


" Apa manisan ini yang menyebabkan asam lambung ku kambuh ? bisa jadi ? tapi..aku menyukainya "


Annisa menaruh manisan yang ia buat di atas meja, mengambil sebuah sendok dan langsung memakannya. Sarapan Annisa hari ini hanya dengan semangkuk manisan.


Merasa bosan di dalam apartemen, Annisa memilih untuk keluar dan berjalan-jalan di sekitar area apartemen. Rain sudah mewanti-mewanti Annisa untuk tidak keluar dari apartemen kalau tidak ada hal yang mendesak. Karena hanya berkeliling sekitar area apartemen, jadi tidak masalah bagi Annisa.

__ADS_1


Minimarket yang berada tak jauh dari apartemen, menjadi tempat pertama yang Annisa kunjungi. Tentu saja melihat-melihat isi dalamnya dan mencari cemilan untuk ia makan.


Saat sedang mengantri untuk membayar belanjaannya, Annisa memperhatikan seorang wanita muda yang kira-kira umurnya tak jauh berbeda dari Annisa, wanita itu berdiri tepat di depan Annisa dengan seorang lelaki di sampingnya. Wanita itu terlihat sedang mengandung karena perutnya yang terlihat besar, tentu saja lelaki yang di sampingnya saat ini pastilah suami dari wanita tersebut.


" Kamu harus rutin minum ini biar gak mual dan muntah terus " ucap suami dari wanita itu.


Ucapan suami dari wanita tersebut membuat Annisa berpikir dan bertanya - tanya apakah mual dan muntah yang ia alami saat ini karena ia yang sedang mengandung.


" Mbak..mbak.. "


Pelayan kasir membangunkan Annisa dari lamunannya.


" Iya, maaf "


Annisa tersadar , lalu memberikan barang belanjaannya kepada pelayan kasir.


Annisa memutuskan kembali ke apartemen, ia menaruh barang-barang belanjaan di atas meja dan duduk manis di sofa tamu. Ia merogoh ponselnya, mencari informasi mengenai kehamilan.


Annisa menutup mulutnya dengan tangan, kedua matanya tampak berkaca-kaca, ia menyadari kalau ciri-ciri wanita yang sedang hamil sangat mirip dengan apa yang diterangkan dari informasi yang ia dapatkan lewat ponselnya.


" Apa aku harus memberi tahu Rain sekarang ? tidak...tidak..aku harus memastikan nya terlebih dahulu "


Annisa kembali bergegas keluar dari apartemen dan kembali menuju minimarket untuk membeli alat tes kehamilan.


" Lebih baik saat pagi hari setelah bangun tidur ? " ucap Annisa saat membaca keterangan mengenai cara pemakaian alat tes kehamilan tersebut.


" Besok pagi, baiklah aku akan melakukannya besok "


Keesokan harinya, begitu bangun tidur Annisa segera melakukan tes. Annisa membentangkan alat tes kehamilan itu di depan matanya, saat ini kedua mata Annisa tertutup. Dan perlahan ia mulai membuka kedua matanya, Annisa merasa begitu gugup.

__ADS_1


Ketika kedua matanya terbuka sempurna, dua garis merah terpampang jelas di alat tes kehamilan tersebut.


Tangis Annisa pun pecah, ia begitu bahagia setelah tahu kalau dirinya hamil.


" Maa syaa allah, malaikat kecil sedang tumbuh di dalam perutku " Annisa tersenyum sembari mengelus - elus perutnya.


Dritt..Dritt.. Dritt..


Ponsel Annisa berdering, Annisa bergegas keluar dari kamar mandi untuk mengambil ponselnya.


" Assalamualaikum suamiku " dengan rasa gembira Annisa menyambut telepon dari suaminya. Rain bisa merasakan kalau Annisa terdengar sangat bahagia hari ini.


" Wa'alaikumussalam, apa yang membuatmu begitu bahagia? "


Annisa tersenyum, " tidak ada , hanya merasa hari ini begitu indah " jawab Annisa.


" Sudah sarapan ? " tanya Rain.


" Sudah, Mas sendiri bagaimana? "


" Sudah juga, sebentar lagi aku akan keluar dan kembali bekerja "


" Iya Mas, hati-hati "


" Baiklah, kamu juga "


Sambungan telepon Rain dan Annisa terputus.


" Aku akan memberi tahu kabar bahagia ini nanti setelah Rain kembali "

__ADS_1


__ADS_2